Cinta Kania

Cinta Kania
Part 21


__ADS_3

Kania begitu terkejut memandangi pemuda itu, tapi pemuda itu tak bereaksi apa-apa selain senyuman yang terukir di wajah tampannya. "Kak Arya, apa dia adalah kakak iparku?" tanya pemuda itu yang tak lain adalah Ryan.


"Iya, dia istriku. Kania, dia adalah adikku, Ryan Wicaksana." Arya berdiri di antara mereka berdua. Ryan yang masih menyunggingkan senyum kemudian mengulurkan tangannya ke arah Kania. Tangan Kania bergetar hebat saat melihat tangan Ryan yang ingin berjabat tangan dengannya. Walau begitu, Kania berusaha menahan kegelisahan di hatinya dan menerima uluran tangan pemuda itu.


"Kania," ucap Kania sambil mengulurkan tangannya. Ryan menyambut tangannya dengan genggaman yang begitu erat.


"Ryan Wicaksana." Pemuda itu tersenyum dan senyumannya itu membuat hati Kania bergetar. Rasa yang sebenarnya belum benar-benar hilang kini mulai terusik dengan kehadiran pemuda yang pernah mengisi hati dan hidupnya selama dua tahun di masa lalu.


"Aku minta maaf, jika kamu terkejut dengan kedatangan adikku ini. Dia ini memang suka membuat kejutan. Aku bahkan terkejut saat dia tiba-tiba muncul di depan pintu." Arya tersenyum sambil merangkul adiknya itu.


"Aku memang suka dengan kejutan. Hidupku bahkan penuh dengan kejutan. Dan aku juga ingin memberi kejutan pada Kak Arya, kejutan yang akan membuat Kak Arya terkejut nantinya." Ryan mengucapkan itu sambil melirik ke arah Kania, seakan itu adalah sebuah ancaman baginya.


Kania yang menyadari itu berusaha untuk tidak mempedulikan ucapan pemuda itu. "Duduklah, aku akan mengambilkan minum untukmu."


"Tidak usah, kakak ipar. Sepertinya, masih ada nasi goreng di meja makan. Aku akan makan nasi goreng saja karena sudah lama aku tidak makan nasi goreng." Ryan lantas berjalan ke meja makan. Dengan di temani Arya, pemuda itu mulai menyantap nasi goreng yang sudah lama tak disantapnya.


"Wah, nasi goreng buatan Bi Suri memang enak." Ryan tampak lahap menyantap nasi goreng di piringnya itu.


"Ini nasi goreng buatan istriku." Sontak, Ryan terkejut bahkan dia sempat tersedak.


Arya kemudian menuangkan segelas air untuknya. "Cepat minum."


Ryan lantas mengambil gelas berisikan air dan meneguknya. Wajahnya terlihat memerah. Sambil memukul pelan dadanya, Ryan meletakkan kembali sendok dan tak melanjutkan makannya.


"Kenapa? Apa kamu sudah kenyang?" tanya Arya saat melihat adiknya itu yang tidak melanjutkan makannya lagi.


"Tidak, Kak. Aku hanya iri saja pada Kakak. Rupanya, Kakak mendapatkan istri yang tak hanya cantik, tapi juga pintar masak. Memangnya, Kakak mengenalnya di mana?" Ryan sengaja bertanya untuk mencari tahu awal mula pertemuan kakaknya itu dengan Kania.


"Panjang ceritanya, Yan. Lain kali saja akan Kakak ceritakan. Oh iya, kenapa kamu datang sendiri? Mana ayah?"


"Sebenarnya, aku dan ayah akan datang besok, tapi karena ada urusan yang harus ayah kerjakan makanya ayah menunda kedatangannya. Ayah akan datang dua hari lagi karena itu, ayah menyuruhku untuk datang terlebih dulu."


"Oh, jadi begitu."


Ryan kembali melanjutkan makannya walau dia merasa sudah tidak berselera karena nasi goreng yang dilahapnya itu adalah nasi goreng dengan rasa yang sama dan dibuat oleh orang yang sama. Nasi goreng yang sempat menjadi makanan favoritnya karena dibuat dengan cinta oleh gadis yang pernah membuatnya jatuh cinta.


Selesai makan, Ryan duduk di ruang tengah menemani kakaknya sambil mengobrol. Sementara Kania, terlihat gelisah di dalam kamarnya. Dia sama sekali tidak menyangka akan kembali bertemu dengan pemuda yang dulu sangat di cintainya. Bahkan, hingga kini rasa itu masih ada.


"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa aku tidak menyadari kalau Arya adalah kakaknya? Ah, apa yang seharusnya aku lakukan?" Kania terlihat gelisah dan tidak bisa mengontrol perasaannya.


"Mama kenapa?" tanya Tania yang melihat ibunya itu tak seperti biasanya.


"Mama tidak apa-apa, Nak. Tania mau main apa?"

__ADS_1


"Tania tidak mau main, Ma. Tania takut sama om tadi." Gadis kecil itu kemudian duduk di atas pangkuan Kania.


"Kenapa harus takut? Dia itu kan adiknya Papa, jadi Tania harus memanggilnya Paman. Dia itu baik dan sayang sama Tania."


"Tapi, Ma, Tania takut kalau dia akan menyakiti Mama."


Kania tersenyum dan membelai rambut putrinya itu. "Dia tidak akan menyakiti Mama. Tania jangan khawatir, Paman itu baik dan tidak mungkin bisa menyakiti Mama." Kania tersenyum dan dia mengakui begitu baiknya Ryan padanya di saat lalu. Ryan adalah lelaki yang lembut dan tidak pernah sakalipun menyakitinya.


Pintu kamar tiba-tiba diketuk dari luar. Kania lantas membuka pintu kamar dan mendapati Arya yang berdiri di depan pintu. "Keluarlah bersama Tania. Ryan ingin melihat Tania."


"Baiklah, aku akan membawa Tania keluar." Kania lantas menggendong Tania dan keluar dari kamar. Di ruang tengah, Ryan sudah menunggu. Saat melihat Kania datang, pemuda itu kemudian bangkit dan ingin mengambil Tania dari gendongannya, tapi gadis kecil itu menolak dan memeluk Kania dengan erat.


"Tania, jangan takut. Ingat, kan apa kata Mama tadi? Paman ini baik, kok. Paman sayang sama Tania. Ayo, kasihan Paman menunggu." Bujuk Kania dengan lembut. Arya yang melihat kelembutan Kania pada putrinya itu tampak tersenyum, tapi tidak dengan Ryan yang menganggap kelembutan itu hanyalah sebuah sandiwara.


Setelah dibujuk oleh Kania, akhirnya Tania bersedia digendong oleh Ryan. Awalnya, gadis kecil itu tampak takut dan sungkan, tapi kelembutan Ryan padanya seketika membuatnya luluh. Bahkan, gadis kecil itu mulai akrab dengannya.


Tak butuh waktu lama bagi Ryan untuk dekat dengan keponakannya itu. Terbukti, Tania kini duduk manis dalam pangkuannya. "Paman, apa Paman adiknya Papa?"


"Iya, sayang. Paman ini adiknya Papa."


"Paman datang bukan untuk menyakiti Mama, kan?" Ryan terkejut saat Tania melontarkan pertanyaan itu.


"Tidak, kok, sayang. Memangnya kenapa Tania berpikiran seperti itu?"


Ryan kemudian menghapus air mata itu dan tersenyum padanya. "Apa Tania benar-benar sayang sama mama?" Gadis kecil itu mengangguk.


"Apa Tania juga sayang sama Paman?" Gadis kecil itu kembali mengangguk.


"Baiklah, karena Tania sayang sama Paman, maka Paman akan menjaga Tania dari orang jahat seperti tante itu."


"Terima kasih, Paman. Paman juga harus menjaga mama dari tante yang jahat itu."


Ryan tersenyum dan mengangguk walau di dasar hatinya, perasaan benci dan marah begitu membuncah untuk Kania. Dia tidak bisa melupakan perlakuan Kania padanya.


"Tania, biarkan Paman istirahat dulu. Sini, sama Mama." Tania kemudian turun dari pangkuan Ryan dan berlari ke arah Kania.


"Kamarmu sudah dibereskan oleh istriku. Aku sudah membawa kopermu di dalam kamar. Sebaiknya, kamu istirahat saja dulu."


"Tidak usah repot-repot, Kak. Aku bisa membersihkan kamarku sendiri. Kakak ipar, terima kasih karena sudah memperhatikan adik iparmu ini." Ryan terlihat tersenyum saat berjalan melintas di depan Kania, namun senyumannya itu menghilang saat dia membelakangi Kania.


Kamar yang di tempati Ryan ada di lantai dua. Sambil berjalan menuju kamarnya, Ryan melirik ke arah Kania yang sedang membereskan meja makan. Sementara Arya dan Tania sudah pergi ke ruang tengah. Ryan menghentikan langkahnya dan memandangi Kania. Pandangan matanya tertuju pada wajah cantik Kania yang terlihat polos dan tak berubah sejak terakhir dia melihatnya.


Ryan masih berdiri memandangi Kania yang belum menyadari kalau dirinya kini sedang ditatap oleh sepasang mata yang dulu menatapnya dengan penuh cinta. Namun, tatapan Ryan saat ini sangat jauh berbeda, karena tatapan cinta itu sudah musnah bersama kekecewaan yang pernah terukir di hatinya.

__ADS_1


Kini, yang ada hanya tatapan penuh kebencian hingga membuat dia mengepalkan tangannya dengan gemeretak gerahamnya yang beradu. "Aku akan membongkar sifat aslimu di depan semua orang. Kamu tak pantas untuk mendapatkan kakak dan juga keponakanku. Kamu tak pantas untuk mendapatkan kasih sayang mereka." Ryan kemudian melangkah pergi dan masuk ke kamarnya seiring pandangan Kania yang melihat ke arahnya.


Melihat Ryan, perasaan Kania kembali terusik. Tatapan pemuda itu padanya terasa sangat jauh berbeda. Tatapan yang dulu penuh dengan cinta, kini terlihat penuh kemarahan dan Kania sadari itu. Dia sadar, Ryan pasti belum memaafkannya karena perlakuannya yang buruk pada pemuda itu. "Kalau kamu membenciku, aku akan pasrah menerimanya, tapi aku mohon jangan pisahkan aku dari Tania," batin Kania yang menyadari kalau kedatangan Ryan untuk membuatnya terlihat buruk di depan Arya dan juga Tania.


Kania membawa piring-piring ke westafel untuk mencucinya. Di dapur yang cukup luas itu, Kania sendiri karena Bi Suri sedang pergi ke pasar untuk membeli beberapa keperluan dapur yang mulai habis. Dengan cekatan, Kania mencuci piring dan meletakkannya di atas rak piring.


Di saat dia baru saja meletakkan piring terakhir, Kania terkejut saat dia merasakan embusan nafas di belakang telinganya hingga membuatnya segera berbalik. "Kamu, kenapa kamu ada di sini?" Kania begitu terkejut saat melihat Ryan yang sudah berdiri di depannya.


"Kenapa terkejut? Seharusnya aku yang bertanya kenapa kamu bisa ada di sini?" Ryan tak bergeming saat Kania berusaha menghindar darinya. Bahkan, tangannya yang kekar meraih tangan Kania dan menarik tubuh Kania hingga mendekat ke arahnya.


"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" Kania berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ryan, tapi pemuda itu tak jua melepaskannya.


"Apa tujuanmu menikahi kakakku, hah? Apa pacarmu yang waktu itu sudah membuangmu? Atau, kamu sudah kehabisan uang hingga menjual diri dan berpura-pura menjadi wanita miskin agar di nikahi oleh kakakku?" Ryan tampak marah. Sorot matanya penuh dengan kebencian.


"Lepaskan tanganku!" Kania memohon, tapi Ryan tak peduli bahkan membentaknya.


"Jawab pertanyaanku!" Ryan terlihat begitu emosi hingga tangannya menggenggam pergelangan tangan Kania dengan erat. Rasa sakit di tangannya membuat Kania meringis kesakitan, tapi Ryan sama sekali tak peduli padanya.


"Ryan, aku mohon lepaskan tanganku. Kamu sudah menyakitiku." Kania menitikan air mata dan memegang pergelangan tangannya yang mulai memerah.


"Menyakitimu? Apa aku tidak salah dengar? Hanya karena ini kamu bilang aku menyakitimu? Lalu, bagaimana dengan perasaanku yang dulu kamu sakiti, apa kamu tidak peduli itu?" Ryan mengucapkan kalimat itu dengan mata yang memerah. Air bening yang coba dia tahan akhirnya jatuh karena mengingat rasa sakit yang pernah ditorehkan Kania di hatinya.


"Maafkan aku. Sungguh, aku minta maaf." Kania menundukan wajahnya seiring air mata yang jatuh di pipinya. Dia sadar, saat ini Ryan pasti sangat membencinya.


"Maaf? Tak semudah itu aku akan memaafkanmu. Lihat saja, kamu pasti akan menyesal karena sudah masuk dalam keluarga ini. Dengan tanganku sendiri, aku akan mempermalukanmu di depan semua orang. Kamu tidak akan bisa bertahan lama dengan kakakku karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengizinkanmu menjadi ibu dari keponakanku, tapi sebelum itu aku akan bersenang-senang terlebih dulu denganmu." Ryan lantas melepaskan genggaman tangannya itu dan kemudian pergi meninggalkan Kania yang duduk terisak sambil memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit.


Kania sama sekali tidak menyangka, rasa benci yang sengaja di torehkannya pada Ryan di saat lalu akan membuatnya di benci seperti itu. Tatapan kebencian begitu terlihat di sorot mata pemuda itu. Walau begitu, Kania tidak akan membencinya ataupun membantahnya, karena dia sadar semua itu sudah menjadi resiko yang harus di tanggungnya, yaitu kebencian dari pemuda itu.


Kania bangkit dan menghapus air matanya. Semua ancaman Ryan padanya kembali terlintas, namun dia hanya tersenyum di antara air mata. "Ternyata kamu masih membenciku walau kejadian itu sudah berlalu empat tahun yang lalu. Namun, tidakkah kamu tahu kalau aku masih menyimpan rasa cintaku ini untukmu?" Kania menundukkan wajahnya dan perlahan air bening kembali jatuh. Kania tidak sanggup menahan perasaannya hingga membuat hatinya begitu sakit.


Kania kemudian meninggalkan dapur dan berjalan menuju ke kamarnya, namun langkahnya terhenti saat Tania tiba-tiba berlari ke arahnya. "Mama."


Kania tersenyum dan meraih tubuh gadis kecil itu dalam pelukannya. "Ada apa? Kenapa Tania gembira sekali?"


"Paman mau mengajak Tania jalan-jalan, Ma." Celoteh gadis itu sambil tersenyum.


"Ya sudah, Tania pergi saja sama Paman, biar Mama tunggu di rumah."


"Tidak, Ma. Mama harus ikut, kalau Mama tidak ikut, Tania tidak mau pergi." Wajah gadis kecil itu seketika cemberut.


"Iya, Mama akan ikut. Sana, ganti baju dulu." Arya tiba-tiba mendekati mereka dan Tania kembali tersenyum saat ayahnya mengizinkan ibunya untuk ikut bersamanya.


"Pergilah, jangan buat Tania bersedih. Bukankah, sudah tugasmu untuk membuat Tania bahagia?" Arya kemudian pergi ke kamarnya dan meninggalkan Kania yang masih berdiri terpaku.

__ADS_1


"Ya, benar. Tugasku hanyalah untuk membuat Tania bahagia. Walau aku harus terluka, aku akan tetap membuat Tania bahagia." Kania lantas masuk ke kamarnya dan bersiap untuk pergi bersama seseorang yang kini begitu membencinya.


__ADS_2