
Di depan halaman sebuah rumah, mobil itu berhenti. Rumah yang berdiri di pesisir pantai itu terlihat sederhana. Walau begitu, rumah itu terlihat bersih dan rapi dengan pemandangan pantai yang tentu saja membuat Kania merasa takjub. "Untuk sementara, kamu tinggal saja di sini. Ini adalah rumahku, tempat aku menghabiskan waktu jika aku sedang merasa jenuh dan lelah setelah bekerja," ucap lelaki itu sambil membuka pintu rumah.
"Pak, saya sangat berterima kasih karena Bapak sudah membantu saya."
"Kania, bukankah aku sudah bilang jangan panggil aku Bapak, panggi saja namaku, Ardi. Itu terdengar lebih enak di telingaku." Ya, lelaki itu adalah Ardi. Lelaki yang belum lama ini di kenal oleh Kania sebagai bosnya di restoran tempatnya bekerja.
"Maafkan aku karena sudah melibatkanmu dalam masalahku. Aku sangat berhutang budi padamu." Kania duduk di salah satu kursi kayu yang ada di teras rumah dan di temani Ardi yang duduk di sampingnya.
"Sudahlah, lagipula aku hanya membantumu untuk mengubah takdirmu. Aku tidak punya maksud apa-apa, karena aku memang tulus berniat untuk membantumu."
"Aku tahu itu, bahkan hingga kini aku masih tidak percaya kalau kita bisa sedekat ini. Kita hanya dua orang yang belum lama saling mengenal, tapi kamu mau membantuku. Aku sangat berterima kasih padamu. Setelah seminggu, aku akan pergi dari sini dan melanjutkan hidupku tanpa harus memikirkan mereka. Aku harap, setelah kepergianku dari kehidupan mereka, mereka akan segera melupakanku." Kania menatap hamparan laut yang kini ada di depannya. Air matanya perlahan jatuh karena terpaksa dia harus pergi karena baginya itu adalah jalan yang terbaik.
Malam itu, saat masih di rumah Ryan, Kania menghubungi Ardi dan mengatakan kalau dia akan berhenti bekerja. Dan Ardi begitu terkejut dengan keputusannya itu. "Apa alasanmu untuk berhenti bekerja? Apa kamu marah karena aku menyuruhmu membayar makanan yang jatuh waktu itu?" tanya Ardi yang meminta alasan Kania karena meminta untuk berhenti bekerja.
"Maaf, Pak. Aku hanya punya masalah pribadi yang tidak mungkin bisa aku jelaskan pada Bapak. Aku hanya ingin menyelesaikannya dan pergi dari kehidupan mereka. Aku hanya ingin mengubah takdirku seperti yang pernah Bapak ucapkan padaku. Terima kasih, karena Bapak sudah membuka mataku. Aku memang harus mengubah takdirku sendiri. Terima kasih, Pak." Kania lantas ingin mengakhiri panggilan teleponnya, tapi Ardi menahannya.
"Kania, tunggu sebentar. Setelah kamu selesaikan urusanmu dengan mereka, kamu akan pergi ke mana? Aku ingin menawarkan pekerjaan untukmu, tapi bukan di kota ini, tapi di tempat yang jauh dari sini. Jika kamu berkenan, jangan sungkan untuk menghubungiku. Kamu tahu, kamu itu karyawan yang sangat rajin dan aku tidak ingin kehilangan karyawan yang rajin dan ulet sepertimu. Aku harap, kamu bisa mempertimbangkannya."
"Terima kasih, Pak. Aku akan memikirkannya. Sekali lagi, terima kasih."
Malam itu, dia sudah bertekad untuk menyudahi penderitaan hatinya yang tersiksa karena berdiri di antara dua hati yang membuatnya tidak bisa memilih. Dan kini, pilihannya adalah meninggalkan mereka dan menjauh dari kehidupan mereka. Walau sulit, dia harus bisa melakukannya agar dia tidak lagi terluka.
Dan benar saja, kini Kania telah pergi dari kehidupan mereka dan memilih berdiam di rumah yang ditawarkan Ardi padanya. Rumah itu adalah rumah yang jarang didatangi oleh Ardi. Rumah itu hanya akan di datanginya saat hatinya tengah lelah setelah sumpek dengan segala macam urusan yang membuatnya jengah.
"Tinggalah di sini untuk sementara waktu. Tenanglah, mereka pasti tidak akan berpikir kalau kamu ada di sini. Tunggulah di sini, aku akan pergi ke pasar terdekat untuk membeli keperluan dapur selama seminggu. Istirahatlah, aku pergi dulu."
"Ardi, tunggu." Ardi menghentikan langkahnya dan menatap Kania yang berjalan ke arahnya.
"Terima kasih, aku ucapkan banyak terima kasih. Aku akan membalas kebaikanmu padaku."
"Sudahlah, santai saja. Aku senang karena kamu sudah mempercayaiku untuk membantumu. Ah, sebaiknya aku pergi." Ardi kemudian pergi dengan mobilnya menuju pasar yang tidak terlalu jauh dari rumahnya itu.
Melihat lelaki itu, Kania tersenyum karena masih ada orang baik yang mau menerimanya bahkan membantunya. Entah mengapa, dengan mudahnya Kania mencurahkan isi hatinya pada lelaki itu hingga membuat Ardi membantunya dan dia tak menolak saat lelaki itu menawarkan bantuan padanya.
Di dalam rumah, Kania menatap sekitar. Rumah yang hanya mempunyai dua kamar tidur itu terlihat nyaman. Walau tidak terlalu besar, tapi berada di dalamnya membuat hatinya merasa damai. Suasana yang hening dengan suara deburan ombak yang terdengar samar-samar, membuat Kania sejenak melupakan kesedihannya.
__ADS_1
Sambil menunggu kedatangan Ardi, Kania mulai membereskan rumah. Walau jarang ditempati, tapi rumah itu terlihat bersih dengan barang-barang yang tersusun rapi. Sepertinya, Ardi sangat memperhatikan kebersihan rumahnya itu.
Setelah selesai membereskan rumah, Kania duduk di teras sambil memandangi hamparan laut yang tidak jauh dari rumah itu. Ardi ternyata sangat menyukai suasana pantai, terbukti dari rumah dan restorannya yang berdiri tak jauh dari pesisir pantai.
Sambil menatap layar ponselnya, Kania tersenyum. Foto-foto kebersamaannya dengan Arya dan Tania, masih tersimpan di ponselnya. Namun, tidak dengan nomor Arya yang sudah dihapus olehnya dan nomornya yang kini sudah di nonaktifkan. Itu semua dia lakukan, agar mereka tidak bisa lagi menghubunginya dan tidak bisa menemukannya.
Terbukti, saat ini, Ryan begitu gelisah saat menghubungi Kania dan mendapati kalau nomor ponsel kekasihnya itu sudah tidak aktif lagi. Rasanya, dia begitu tidak tenang karena sudah sedari tadi dia menghubungi Kania, tapi selalu tidak aktif. Karena itu, di saat pulang kerja, Ryan memutuskan untuk pergi ke tempat Kania bekerja.
"Maaf, Pak. Kania mulai hari ini sudah tidak bekerja lagi. Dia sudah mengundurkan diri," ucap seorang karyawan saat ditanya oleh Ryan.
"Mengundurkan diri?"
"Iya, Pak. Maaf, saya harus kembali bekerja." Karyawan itu kemudian pergi setelah melihat Ardi berjalan mendekati mereka.
"Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ardi saat melihat Ryan yang terlihat bingung.
"Apa saya boleh tahu, apa benar Kania tidak lagi bekerja di sini?"
"Oh, Kania? Iya benar, semalam dia menghubungi saya kalau dia tidak akan bekerja lagi di sini. Memangnya, Anda siapanya Kania?"
"Kalau tidak ada keperluan lagi, maaf, saya masuk ke dalam dulu."
"Iya, silakan." Ryan berjalan keluar dari pelataran halaman restoran itu dan bergegas menuju tempat kost Kania. Dan lagi-lagi, dia terkejut saat tahu kalau Kania sudah tidak lagi tinggal di tempat itu.
"Apa Kania tidak mengatakan kalau dia akan pergi kemana, Bu?" tanya Ryan pada ibu kost.
"Tidak, Nak. Kania hanya bilang kalau dia akan pergi ke suatu tempat dan dia tidak bilang di mana itu. Maaf, Nak, Ibu masuk dulu." Lagi-lagi, Ryan dibuat bingung dengan hilangnya Kania yang hilang seperti di telan bumi.
"Kania, kamu ada di mana? Kenapa ponsel kamu tidak aktif lagi?" Ryan terlihat gelisah hingga membuatnya tidak fokus dengan jalan yang saat itu dilaluinya. Hampir saja, dia ditabrak sepeda motor yang melintas di tempat itu. Andai tidak di klakson, mungkin saja tubuhnya sudah ditabrak oleh sepeda motor itu.
"Kalau jalan itu lihat-lihat, jangan melamun. Mau mati, ya!!" Hardik pengendara motor yang marah, tapi Ryan tidak peduli dan memilih pergi dari tempat itu.
Dengan wajah yang terlihat sedih, Ryan masuk ke dalam rumah. Melihat wajah adiknya yang murung membuat Arya berjalan mendekatinya. "Ryan, kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Arya, namun Ryan hanya diam dan menghempaskan tubuhnya di atas kursi sofa.
"Ada apa? Cerita saja sama Kakak, siapa tahu Kakak bisa bantu." Arya perlahan duduk di samping adiknya itu dan menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Kania, Kak."
"Kania? Memanganya, ada apa dengan Kania?" tanya Arya yang mulai penasaran.
"Dia sudah tidak bekerja lagi di restoran itu. Dia sudah tidak tinggal lagi di tempat kostnya, bahkan aku sudah tidak bisa lagi menghubunginya karena nomor ponselnya sudah tidak aktif lagi. Kakak, apa yang harus aku lakukan?" Ryan terlihat menitikan air mata. Rasanya, kehilangan Kania bagaikan pukulan terberat baginya.
Tak hanya Ryan, Arya yang mendengar kabar tentang perginya Kania secara tiba-tiba itu cukup membuat dia terkejut dan juga terpukul. Bagaimana tidak, baru tadi siang mereka menghabiskan waktu bersama dan kini tiba-tiba gadis itu pergi tanpa mengucapkan apa-apa padanya.
Walau begitu, Arya tidak ingin cepat mengambil kesimpulan atas kepergian Kania yang tiba-tiba itu. "Jangan khawatir, mungkin saja saat ini ponselnya sedang mati. Ryan, kita tunggu saja, pasti dia akan menghubungimu." Arya berusaha menenangkan hati adiknya itu, walau sebenarnya dia sendiri mulai merasa kalau Kania kini telah benar-benar pergi.
Dan untuk memastikan kebenaran itu, Arya kemudian menghubungi Bastian. "Halo, Bas. Apa Kania bersamamu?"
"Kania? Tidak ada, bukankah dia ada di tempat kostnya?"
"Dia tidak tinggal di situ lagi dan dia juga sudah tidak bekerja. Aku kasihan sama Ryan karena dia sekarang sedih karena Kania tiba-tiba hilang."
"Kenapa kamu kasihan pada Ryan? Apa kamu tidak berpikir kalau bisa saja Kania melakukan ini karena kecewa pada kalian? Kamu terlalu egois karena lebih memikirkan perasaan adikmu, tapi apa kamu pernah tahu bagaimana perasaan Kania? Jujur, aku pikir mungkin ini jalan yang terbaik bagi Kania agar kalian tahu kalau Kania bukanlah barang yang bisa kalian tarik ulur. Sudahlah, aku sangat kecewa denganmu." Bastian mengakhiri panggilan telepon dan duduk bersandar di tempat tidurnya. "Kania, aku tahu kamu terpaksa melakukan ini dan aku akan mendukungmu walau aku sendiri tidak tahu keberadaanmu. Aku akan menunggumu dan datang membawa kabar bahagia padaku karena aku tahu, di luar sana kamu pasti baik-baik saja."
Mendengar ucapan Bastian, Arya terduduk lesu. Dia tidak menyangka, keputusan yang dipilihnya hanya membuat Kania terluka dan dia tidak menginginkan hal itu terjadi. "Apa aku egois jika menginginkan kebahagiaan untuk Ryan? Aku melakukannya karena aku pikir, kalian bisa bersatu lagi karena kalian dulu pernah saling mencintai, tapi kenapa saat ini aku merasa sangat berdosa padamu, Kania??!!" Arya terduduk di atas sofa dengan tangis yang coba dia tahan. Dia tidak menyangka, kalau Kania akan pergi meninggalkan mereka.
Sementara Kania, saat ini tengah menata hatinya agar tidak goyah. Dia harus bisa melewati ujian takdir yang kini coba ditempuhnya.
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan saat ini?" tanya Ardi yang duduk menemani Kania.
"Aku yakin. Apapun yang terjadi, aku harus bisa kuat. Aku akan membuat mereka melupakanku." Kania berusaha tegar, walau dihatinya ada sedikit rasa penyesalan karena dia harus memaksa untuk melupakan Arya dan juga Tania.
"Tadi, pacarmu itu datang mencarimu, tapi aku tidak mengatakan apapun. Sepertinya, dia mulai kebingungan karena hilang kontak denganmu."
"Dia bukan pacarku, dia hanya masa laluku. Aku hanya terjebak dalam cinta segitiga yang membuat aku harus mengambil sikap. Lebih baik, aku yang pergi daripada melihat mereka terluka karena aku." Tatapan mata Kania tersirat kesedihan hingga membuat Ardi paham, kalau apa yang kini dilakukan Kania, hanyalah bentuk pelarian semata.
"Apa kamu tidak merasa sedih karena meninggalkan mereka? Bagaimana dengan mantan suamimu yang masih kamu cintai itu? Apa kamu tidak berpikir kalau saat ini dia mungkin sedang memikirkanmu?"
Mendengar pertanyaan Ardi, Kania hanya bisa tersenyum kecut. "Jika dia masih mengharapkanku, dia pasti akan mencariku. Aku akan menunggu hingga dia menemukanku. Namun, jika dalam setahun ini dia tidak menemukanku, maka aku akan melupakannya dan melepaskannya dan aku akan memulai hidup yang baru," ucap Kania yang sudah memantapkan hatinya. Sementara Ardi hanya terdiam dan mencoba mengartikan ucapan gadis itu.
Dan benar saja karena saat ini, Arya sedang berusaha untuk mencarinya. Berbagai macam cara sudah dia lakukan, namun tidak membuahkan hasil. Yang ada, dia harus menanggung kekecewaan yang lagi-lagi menghampirinya. Kekecewaan yang membuatnya menyesal dan menangis dalam penyesalan.
__ADS_1