
Para pelayat mulai berdatangan. Dari sahabat, kolega dan keluarga datang untuk memberikan penghormatan terakhir bagi Wicaksana. Begitupun dengan Selly dan Bastian yang turut hadir saat Kania menyampaikan kabar duka itu pada mereka. Dafina yang belum kembali ke Amerika juga turut hadir dan tampak duduk di samping Ryan yang terlihat sedih.
Kania duduk sambil memangku Tania. Gadis kecil itu memeluknya erat dengan sesekali terdengar isakan tangisnya. "Jangan menangis lagi. Kakek sekarang sudah bahagia dan Tania harus sering-sering mengirimkan doa buat Kakek. Kakek akan selalu hidup di hati Tania. Jangan menangis lagi, ya?" Tania mengangguk sambil memeluk Kania. Walau tidak ingin menangis, tapi melihat ayah dan pamannya yang sedih membuat Tania ikut merasakan hal yang sama.
Setelah selesai salat jenazah, keranda mulai diangkat dan dibawa keluar dari dalam rumah. Arya tampak memikul di bagian keranda depan dan Bastian di sampingnya. Sementara Ryan berusaha untuk bangkit dan berjalan di samping keranda ayahnya.
Iring-iringan pelayat mengikuti keranda yang sudah dimasukkan ke dalam mobil jenazah dan perlahan meninggalkan pelataran halaman rumah menuju tempat pemakaman.
Di depan liang lahat yang menganga, jenazah Wicaksana perlahan diturunkan dengan diiringi lantunan doa. Kania menitikkan air mata saat jenazah itu diturunkan. Begitupun dengan Ryan yang tampak menangis saat melihat jenazah ayahnya mulai ditutupi dengan tanah. Arya terlihat lebih tegar walau sebenarnya, hatinya merasakan sedih yang teramat dalam.
Di depan gundukan tanah, Ryan masih duduk memandangi pusara ayahnya yang masih basah. Para pelayat satu persatu mulai meninggalkan area pemakaman. Begitupun dengan Bastian dan Selly yang sudah pergi setelah berpamitan pada Arya dan Kania. Sementara Dafina masih setia menemani Ryan dan duduk di sampingnya.
"Aku tahu kamu sedih, tapi jangan seperti ini. Ayahmu pasti sedih jika melihatmu seperti ini. Ayolah, mereka sudah menunggumu." Dafina menoleh ke arah Arya dan Kania yang sudah menunggu di dalam mobil. Walau Arya sudah membujuknya untuk kembali, tapi Ryan masih enggan dan memilih untuk duduk di depan makam ayahnya.
"Pulanglah, dan terima kasih karena sudah menemaniku." Ryan berucap dengan datar tanpa menoleh ke arah Dafina. Walau kecewa, Dafina akhirnya bangkit dan meninggalkan Ryan yang masih duduk terpaku di depan pusara ayahnya. Dafina lantas meminta undur diri pada Arya dan Kania. Gadis itu lantas pergi dengan rasa kecewa.
"Sebaiknya, aku temani Ryan," ucap Arya yang berniat menemani adiknya itu, tapi Kania mencegahnya.
"Biar aku saja. Aku akan membujuknya untuk pulang. Kamu jangan khawatir." Kania lantas menemui Ryan dan duduk di sampingnya.
"Sampai kapan kamu akan duduk di sini? Apa kamu saja yang sedih atas kepergian Ayah? Lihat Arya, dia juga sedih dan lihat aku, walau bukan ayahku, tapi aku menyayangi ayahmu dan aku juga sedih." Kania memandangi batu nisan dan perlahan dia menitikkan air mata.
"Aku tahu kamu sedih, tapi kamu harus bisa menerima semuanya. Sampai kapan kamu akan larut dalam kesedihan karena kehidupan harus terus berjalan. Ryan, angkat wajahmu dan lanjutkan hidupmu. Kamu harus ... " Kania menghentikan kalimatnya karena tiba-tiba saja Ryan memeluknya.
"Aku akan melanjutkan hidupku, tapi denganmu. Aku ingin hidup bersamamu." Kania terkejut saat Ryan memeluknya. Sementara Arya, tanpa curiga sedikitpun hanya memandangi mereka. Pikirnya, mungkin Ryan hanya butuh tempat untuk bersandar akan kesedihan yang kini dialaminya.
"Ryan, jangan seperti ini. Aku mohon, pikirkan perasaan kakakmu. Tidakkah kamu akan melukainya jika kamu berbuat seperti ini?"
Ryan melepaskan pelukannya dan bangkit meninggalkan Kania yang hanya memandanginya dengan heran. Tanpa berkata apapun, Ryan masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh Kania yang duduk di depan menemani Arya.
__ADS_1
Suasana di dalam mobil hening tanpa suara. Tak ada sepatah kata yang terucap walau di dalam hati mereka begitu banyak kegundahan dan kesedihan yang ingin diucapkan. Namun, mereka memilih diam hingga mereka tiba di rumah.
Ryan lantas turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Tanpa peduli pada Kania dan Arya, pemuda itu masuk ke kamarnya dan mengunci diri di sana.
Arya yang melihat sikapnya itu hanya bisa pasrah karena dia tahu, Ryan pasti terpukul atas kematian ayah mereka. Suasana rumah terasa sepi. Arya yang terlihat lebih tabah, nyatanya tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dengan menahan tangis, lelaki itu masuk ke dalam kamar ayahnya. Melihat suasana di kamar itu, dia menangis dalam diam. Tangis yang ditahannya sejak tadi kini pecah dalam isakan yang terdengar memilukan. Melihatnya, Kania masuk menemuinya. Dengan lembut, Kania mengelus punggung suaminya itu yang kini menangis dalam pelukannya.
Kania diam tanpa suara. Entah apa yang harus dia ucapkan untuk menenangkan suaminya itu. Hanya pelukan yang bisa dia berikan walau dia sendiri tidak tahu, apakah dia masih bisa ada di sampingnya jika Arya tahu tentang masa lalunya. "Maafkan aku, saat ini aku belum bisa jujur padamu. Kamu pasti sedih dan aku tidak ingin menambah kesedihanmu. Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk berterus terang padamu," batin Kania sambil mengelus lembut punggung suaminya itu.
Menjelang malam, Ryan belum juga menampakkan diri. Pemuda itu masih berdiam diri di dalam kamarnya. Karena khawatir, Arya mencoba menemuinya. "Ryan, keluarlah. Ayo kita makan malam." Arya mengetuk pintu yang terkunci dari dalam. Walau sudah diketuk, pintu kamarnya belum juga terbuka.
"Sudahlah, jangan dipaksakan. Ayo, kita makan lebih dulu setelah itu beristirahatlah. Kamu juga pasti lelah setelah seharian mengurus pemakaman ayah." Mendengar suara Kania di depan pintu kamarnya, Ryan membuka pintu. Pemuda itu keluar dan berjalan menuju meja makan.
Kembali, suasana begitu hening. Yang terdengar hanya dentingan sendok yang sesekali terdengar. Entah mengapa, suasana terasa begitu asing. Suasana meja makan yang biasa ramai dengan pertanyaan Wicaksana pada anak-anaknya, kini tak lagi terdengar.
Hingga suasana berubah saat Ryan tiba-tiba menangis. Sontak, Arya mendekati adiknya itu dan memeluknya. Sungguh, kedua pemuda itu begitu saling menyayangi hingga membuat Kania ikut menitikkan air mata. Arya yang paham dengan kesedihan Ryan, nyatanya mampu memberikan keteduhan pada adiknya itu. Melihat kasih sayang di antara mereka membuat Kania semakin sulit untuk mengambil keputusan.
*****
"Saya akan membacakan poin-poin yang sudah diwasiatkan oleh ayah kalian. Dan apapun itu, ayah kalian berharap kalian bisa menerimanya dan saling menyayangi selepas kepergian beliau. Adapun poin-poin itu diharapkan untuk kebaikan dan masa depan kalian."
Pengacara itu lantas mengeluarkan beberapa lembar kertas dan masing-masing diserahkan pada Arya dan juga Ryan. "Apakah istri Anda bernama Kania?" tanya pengacara itu pada Arya.
"Benar, Pak."
"Silakan panggil istri Anda karena ayah Anda juga mewariskan untuknya."
Kania terkejut saat tahu kalau ayah mertuanya itu telah menyisihkan warisan untuknya. Walau enggan, tapi Arya memaksanya untuk menerima. "Kania, bukankah ayahku adalah ayahmu juga? Itukan yang sering kamu bilang padaku. Jadi, terima saja apa yang akan ayah berikan padamu." Arya tampak membujuk Kania untuk menerima warisan itu dan Kania terpaksa menurutinya.
Sambil menahan tangis, Kania menerima satu ATM dan buku tabungan yang bertuliskan atas namanya. Nominal di dalam tabungan itu cukup bagi Kania untuk membeli sebuah rumah mewah. Karena rasa sayangnya pada Kania, Wicaksana memberikan tabungan untuk menantunya itu.
__ADS_1
Sedangkan untuk Arya dan Ryan, mereka juga mendapatkan hak yang sama. Beberapa tanah dan juga rumah, dibagi rata untuk mereka. Walau Arya adalah anak angkat, tapi dia juga mendapat bagian yang sama dengan apa yang didapatkan oleh Ryan.
Setelah menjalankan tugasnya, pengacara itupun pergi.
"Kak Arya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Kakak." Ryan terlihat serius hingga membuat Kania menjadi khawatir. Dia takut jika Ryan akan menceritakan semuanya pada kakaknya itu.
"Ada apa? Katakan saja, Kakak akan mendengarkan." Kedua kakak beradik itu kini duduk berhadapan, sementara Kania terlihat gelisah di dalam dapur. Dengan perasaan was-was, Kania membuatkan dua gelas air madu yang biasa dibuatkan untuk Arya.
"Aku mencintai seorang gadis dan dia adalah gadis yang dulu pernah aku cintai. Kakak masih ingatkan waktu aku ingin memperkenalkan dia pada Kakak dulu? Kini, aku telah tahu alasan dia meninggalkanku dan aku telah memaafkannya, bahkan aku masih mencintainya dan ingin menikahinya." Ryan menghentikan kalimatnya.
"Jadi, kalian sudah bertemu kembali? Kalau begitu, perkenalkan dia pada Kakak dan bila perlu Kakak akan melamarnya untukmu." Arya tersenyum saat mendengar wanita yang pernah membuat adiknya itu bahagia kini telah hadir kembali dalam kehidupan adiknya.
Dulu, Ryan begitu membanggakan sosok wanita yang sudah membuat dia bahagia pada kakaknya itu. Arya tahu bagaimana rasa cinta yang dirasakan adiknya untuk wanita itu. Setiap saat, Ryan selalu menceritakan kebaikan bahkan kelembutan wanita itu padanya. Hanya saja, Arya belum sempat bertemu dengan wanita itu karena Ryan sudah terlanjur terluka hingga membuatnya melepaskan kekasihnya itu.
"Tapi, dia tidak akan membuatmu terluka lagi, kan?" tanya Arya yang tampak khawatir jika adiknya itu disakiti lagi.
Ryan terdiam. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba muncul, tapi dia berusaha menepis rasa itu. Dia tidak ingin kehilangan Kania lagi walau dia sadar, kakaknya itu mungkin akan terkejut atau terluka atas apa yang akan disampaikan olehnya. Ryan sudah bertekad untuk meminta kakaknya itu melepas Kania karena dia berpikir mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena sesuatu yang dia sendiri tidak tahu.
"Aku ingin Kakak melepaskannya karena dia adalah ... " Tiba-tiba saja terdengar suara gelas yang terjatuh di lantai dengan suara Kania yang merintih kesakitan. Sontak saja Ryan berlari ke arah dapur dan mendapati Kania yang memegang tangan kirinya yang memerah karena tersiram air panas dari dalam gelas.
Karena memikirkan kedua kakak beradik itu, Kania tidak fokus dengan pekerjaannya hingga tak sengaja tangannya menjatuhkan gelas yang berisi air madu yang masih panas itu.
Melihat Kania merintih kesakitan, Ryan menjadi panik. Tangan Kania yang memerah lantas di rendam di dalam air es. Arya yang melihat kepanikan di wajah adiknya itu hanya bisa melihatnya tanpa berkata apapun, walau sebenarnya Arya sangat khawatir dengan keadaan Kania. Ingin rasanya dia yang berada di posisi itu, di mana dia sebagai suami yang merawat istrinya. Namun, dia tidak mungkin melarang adiknya itu untuk mengobati Kania.
"Kak Arya, tolong ambilkan obat salep di atas lemariku," ucap Ryan sambil memegang tangan Kania yang telah memerah.
Arya lantas menuju ke kamar adiknya itu. Di atas lemari, Arya mencari obat salep yang di maksud oleh adiknya itu, tapi tidak dia temukan. Laci di lemari itupun tak luput dibuka dan dicarinya, tapi masih tidak dia temukan. "Apa jangan-jangan ada di laci mejanya?" Arya lantas menuju meja yang tergeletak di samping tempat tidur dan membuka laci kecil di meja itu. Dan benar saja, obat salep itu ada di sana. Arya lantas mengambilnya, namun pandangannya kini terusik saat melihat selembar foto yang tergeletak di dalam laci itu.
Arya lantas mengambil foto itu dan melihat seraut wajah yang tak asing baginya. Di foto itu, Ryan tampak tersenyum bahagia dengan seorang gadis yang berdiri di depannya. Gadis itu tersenyum saat Ryan memeluknya dari belakang. Sontak, Arya menitikkan air mata saat dia melihat gadis yang bersama dengan Ryan di foto itu adalah Kania. Sejenak, Arya terduduk lesu di sisi tempat tidur. Air matanya menggantung di pelupuk matanya. Rasanya, hatinya hancur saat mengetahui wanita yang di makaud Ryan adalah Kania. Wanita yang kini telah membuatnya jatuh cinta.
__ADS_1
Perlahan, Arya menghapus air matanya dan beranjak keluar dari kamar itu. Dengan hati yang terluka, Arya pergi menuju dapur dan melihat pemandangan yang kembali menyakitkan baginya. Bagaimana Ryan begitu khawatir pada Kania. Bagaimana Ryan memperlakukan Kania dengan lembutnya. Sejenak, Arya menundukan pandangannya, namun tak lama. "Ryan, ini salepnya." Arya memberikan salep itu pada Ryan dan melangkah pergi meninggalkan mereka. Kania yang melihatnya pergi, hanya bisa menatap kepergiannya seakan dia tahu kalau lelaki itu tengah terluka.