Cinta Kania

Cinta Kania
Part 56


__ADS_3

Ucapan Ardi sontak membuat mereka terkejut, tak terkecuali Kania yang kini memandangnya dengan heran. "Ardi, apa yang baru saja kamu katakan?" tanya Kania sambil menatap lelaki itu.


"Kenapa? Bukankah, aku sudah mengatakan apa yang seharusnya aku katakan? Kania, menikahlah denganku." Kembali Kania terkejut hingga membuatnya melepaskan pelukan dari lelaki itu.


"Kania, itu tidak benar, kan? Kamu tidak akan meninggalkan kakakku dan menikah dengannya, kan?" tanya Ryan yang begitu terpukul dengan ucapan Ardi tadi.


"Sudahlah, sebaiknya kalian pergi. Apa kalian tidak berpikir kalau kehadiran kalian sudah membuat Kania tersakiti? Kalian hanya membawa luka bagi Kania."


Ucapan Ardi sontak membuat Bastian menjadi geram. "Kamu siapa? Kenapa kamu bisa bicara seperti itu? Aku lebih tahu siapa Kania dari pada kamu. Aku sudah mengenal dia sejak dulu, dan sekarang kamu seperti pangeran kesiangan yang mencoba mendekatinya. Sudahlah, jangan ikut campur urusan kami!"


"Bas, tenanglah. Maafkan aku, tapi sebaiknya kalian pergi saja dulu. Aku tidak ingin kita bertemu dengan cara seperti ini. Maafkan aku." Kania hendak berbalik, tapi langkahnya terhenti saat melihat Arya yang kini menatap ke arahnya.


"Apa kamu juga tidak ingin bertemu denganku?" tanya Arya sambil berjalan mendekatinya. Sejenak, Kania menatap lelaki itu hingga membuatnya menitikan air mata.


"Apa kamu masih marah karena aku sudah membuatmu kecewa?" tanya Arya sekali lagi hingga membuat Kania menundukan wajahnya.


Melihat kedatangan Arya, teman-temannya lantas meninggalkan Arya dan Kania. Mereka ingin memberikan waktu bagi keduanya untuk menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka.


Di ruangan Kania, Arya berdiri sambil menatap Kania yang sedang memandangi lautan dari jendelanya. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arya membuka kata.


Kania menundukan wajahnya seakan ingin menutupi kesedihannya dan berbalik perlahan menghadap Arya. "Apa kamu dan Tania baik-baik saja?" tanya Kania tanpa menjawab pertanyaan Arya padanya.


"Apa menurutmu, kami akan baik-baik saja tanpamu? Tidakkah kamu bisa melihat penyesalan dan kerinduan di mataku?" Kania kembali menundukan wajahnya hingga membuat Arya berjalan mendekatinya. "Kania, aku merindukanmu dan aku mohon tolong maafkan aku. Aku telah membuatmu terluka dan menunggu terlalu lama. Kehilanganmu sudah membuka mataku kalau aku tidak bisa melepasmu." Perlahan, Arya meraih tangan Kania dan menggenggamnya erat.


"Kenapa kamu baru datang mencariku? Tidakkah dunia ini terlalu kecil untukku bersembunyi? Kamu tahu, aku terlalu kecewa hingga membuatku pergi. Aku menangis saat harus meninggalkanmu, apa kamu tahu itu?" Kania menangis dan memukul dada bidang Arya dan lelaki itu hanya pasrah dan membiarkan dadanya dipukul oleh Kania, hingga perlahan Arya meraih tubuh Kania dalam pelukannya.


"Pukul saja aku jika itu bisa membuatmu kembali padaku. Pukul saja aku, tapi biarkan aku melepaskan kerinduanku padamu. Kania, aku sangat merindukanmu." Arya memeluk tubuh Kania dengan erat. Begitupun dengan Kania yang kini membalas memeluknya dan melingkarkan kedua tangannya di leher lelaki itu.


Rasanya, bagaikan sebuah mimpi karena mereka kini telah bertemu kembali. Rasa cinta dan rindu begitu membuncah di hati keduanya hingga membuat mereka enggan untuk melepaskan pelukan. Berkali-kali Arya mengecup puncak kepala Kania dengan air mata yang enggan untuk berhenti, hingga sebuah kecupan mesra mendarat di bibir Kania yang ranum. Sambil memejamkan matanya, Kania membiarkan Arya mengecup bibirnya itu dan perlahan membuka matanya saat lelaki itu membelai sudut bibir Kania yang basah.


"Apakah ini artinya kita akan kembali bersama seperti dulu?" tanya Arya dengan tatapan penuh cinta ke arah Kania.


"Apa kamu tidak marah padaku karena aku telah mengingkari janjiku untuk bersama Ryan?"


Arya tersenyum dan mengusap lembut pipi Kania sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak marah karena aku tahu aku yang salah. Jika kamu tidak pergi, mungkin selamanya aku akan menanggung rasa kecewa dan penyesalan karena telah melepaskan cintaku pergi begitu saja. Kania, menikahlah kembali denganku dan jadilah ibu dari anak-anakku. Aku janji, selamanya akan selalu menjaga dan mencintaimu hingga akhir hidupku." Arya masih menatap Kania yang kini menangis bahagia di depannya. Dengan lembut, Arya menghapus air mata Kania dan mengecup lembut kelopak matanya itu. "Jangan pernah menangis lagi, karena aku tidak ingin air matamu jatuh. Kania, aku sangat mencintaimu." Kembali, Arya memeluk tubuh Kania dengan erat seakan tak ingin lagi dia lepaskan.


Setelah puas melepaskan kerinduan dan menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka, Arya dan Kania lantas keluar dan menemui sahabat-sahabat yang sudah menunggu mereka dengan perasaan was-was. Sambil berpegangan tangan, mereka keluar dan mendapati sahabat-sahabat mereka yang tersenyum saat melihat mereka yang terlihat mesra.


Sontak, Selly lantas mendekati keduanya dengan senyum yang mengembang di wajahnya. "Aku tahu, kedua sahabatku ini memang saling mencintai. Kania, aku sangat bahagia." Selly lantas memeluk Kania dengan air mata yang sudah menggantung di pelupuk matanya. Kania tersenyum dan mengelus lembut punggung sahabatnya itu.


"Terima kasih, aku sangat bahagia karena mempunyai sahabat yang baik seperti kalian. Selly, tidakkah kamu juga harus bahagia? Aku tahu, kamu mencintainya, kan?" Mendengar pertanyaan Kania, sontak Selly melepaskan pelukannya dan wajah cantiknya terlihat bersemu merah.


"Kania, apa yang kamu katakan? Aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapanmu itu." Selly tampak menghindar, tapi Kania hanya tersenyum melihat sikap sahabatnya itu.


Kania lantas berjalan mendekati Bastian dan menatap wajah sahabatnya itu. Melihatnya, Kania tersenyum dan segera memeluknya. "Bas, terima kasih. Aku tahu, kalian berdua sangat berjasa dalam hubunganku dengan Arya. Dan aku juga tahu, kamu mencintai Selly. Iya, kan?" bisik Kania yang membuat wajah lelaki itu memerah. "Jangan lakukan kesalahan sepertiku, cepat ungkapkan perasaanmu karena Selly juga mencintaimu."

__ADS_1


"Apa itu benar?" tanya Bastian spontan. Perlahan, Bastian tersenyum malu karena sikapnya itu.


"Benar, ungkapkan saja. Percaya padaku, dia juga mencintaimu." Bastian mengangguk dan kembali memeluk sahabatnya.


"Kamu juga harus bahagia. Apapun yang terjadi, aku akan selalu mendukung kalian," ucap Bastian yang membuat Kania mengangguk sambil melepaskan pelukannya dan pandangannya kini tertuju pada Ryan dan Davina.


"Maafkan aku." Kania menatap ke arah Ryan.


"Seharusnya, aku yang minta maaf, karena aku, kalian harus terluka dan saling melepaskan. Aku bersyukur karena tidak sampai melakukan kesalahan yang akan membuatku menyesal seumur hidupku. Dan kini, aku sudah menemukan kebahagiaanku dan kamu juga harus bahagia bersama kakakku." Ryan tersenyum sambil menggenggam tangan Davina dengan erat.


"Terima kasih, Ryan. Terima kasih." Kania lantas memeluk Ryan dan Davina bersamaan. Dia bersyukur karena Ryan telah menemukan kebahagiaannya.


Sejurus, pandangan Kania tertuju pada Ardi yang kini menatapnya. Lelaki itu perlahan tersenyum hingga membuat Kania berjalan mendekatinya. "Aku tahu kamu sengaja mengucapkan hal itu karena ingin melindungiku. Aku hargai itu dan aku harap, suatu saat nanti kamu menemukan wanita yang bisa membuatmu bahagia. Ardi, terima kasih atas semua yang sudah kamu beri untukku. Terima kasih untuk persahabatan kita."


"Kania, apa boleh aku memelukmu?" tanya Ardi yang perlahan menitikan air mata. Kania lantas mengangguk dan memeluk sahabatnya itu. "Bahagialah bersamanya dan doakan aku agar aku bisa melupakan rasa cintaku padamu. Kamu tahu, apa yang aku ucapkan tadi bukanlah kebohongan, namun aku sadar aku tidak bisa meraih hatimu karena di hatimu sudah ada dia. Ah, walau begitu, aku sangat bahagia karena bisa mencintai wanita hebat sepertimu," bisik Ardi pelan di telinga Kania. Mendengar ucapan Ardi, Kania tersenyum.


"Terima kasih, Ardi. Aku doakan semoga hidupmu selalu bahagia." Ardi melepaskan pelukannya dan mengganggam tangan Kania dan berjalan mendekati Arya.


"Aku serahkan Kania padamu dan jagalah dia. Apapun yang terjadi, jangan pernah menyakitinya. Jika aku mendengar kamu menyakitinya, aku akan datang dan merebutnya dari tanganmu, paham!"


Arya tersenyum dan memeluk Ardi sebagai seorang teman. "Aku janji, karena aku hanya ingin Kania menjadi milikku, hanya milikku."


Ardi lantas menyatukan tangan Kania dan Arya sambil tersenyum. "Sekarang, pergilah dan raih kebahagiaan kalian." Melihatnya, Kania kembali memeluknya. Di matanya, Ardi sudah seperti kakaknya sendiri dan dia berharap, lelaki itu akan menemukan kebahagiaannya.


"Sebaiknya, kami harus menyampaikan kabar bahagia ini pada Tania. Dia sangat ingin bertemu dengan Kania. Aku minta maaf, tapi kami harus pergi," ucap Arya sambil menggenggam tangan Kania.


"Iya, pergilah. Aku dan Bastian juga harus melakukan sesuatu. Aku akan berkunjung ke rumah Bastian dan menemui ibu dan adik-adik Bastian. Kania, doakan aku, ya, semoga aku diterima oleh keluarga Bastian," ucap Selly dengan wajah penuh pengharapan.


"Jangan khawatir, doaku selalu menyertai kalian. Kalau begitu, kami pergi dulu."


Kania dan Arya lantas keluar menuju halaman parkir restoran dan menuju sebuah mobil yang terparkir di sana. Mereka berdua tampak bahagia dan berjalan bersama sambil berpegangan tangan. Namun, hal tak terduga tiba-tiba terjadi. Seorang wanita yang terlihat marah berlari ke arah mereka dengan sebuah balok kayu di tangannya. Wanita itu dengan wajah menyeringai mengarahkan balok kayu itu ke kepala Kania.


"Kania, awas!" teriak Bastain dan yang lainnya secara bersamaan saat melihat wanita itu mengarah pada Kania. Sontak, Arya secara refleks mendorong tubuh Kania dan menjadikan dirinya sebagai tameng untuk melindungi Kania.


"Arya!!" Pekik Kania saat melihat lelaki itu jatuh perlahan dengan darah segar yang mengalir dari kepalanya. Sambil menangis, Kania memeluk tubuh Arya yang kini terbaring tak sadarkan diri.


Melihat Kania yang tidak kenapa-napa membuat wanita itu semakin marah dan berniat menghantamkan kayu itu kembali ke kepala Kania, tapi Bastian segera mengambil balok kayu itu setelah Ardi meraih tubuh wanita itu dan menyilangkan kedua tangannya ke belakang.


Selly yang geram lantas menampar wajah wanita itu berkali-kali. "Apa kamu puas setelah melukai Arya? Rina, aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi apa-apa pada Arya. Kamu akan selamanya membusuk di penjara. Ingat itu!!"


Melihat Arya yang berlumuran darah membuat Rina menangis. Sambil berontak, dia terus melihat ke arah kakak iparnya itu saat petugas kepolisian menggiringnya. "Lepaskan aku! Biarkan aku melihat Arya. Arya, aku mohon maafkan aku. Arya!!" teriak Rina saat dirinya di bawa dengan mobil patroli.


Sementara Arya sudah dibawa dengan mobil ambulance. Di dalam mobil, Kania tak henti menangis sambil menggenggam tangan kekasihnya itu yang telah dingin. "Arya, aku mohon bertahanlah. Aku tidak ingin kehilanganmu." Tangis Kania makin menjadi saat seorang perawat memintanya untuk mundur karena kondisi Arya yang tiba-tiba drop.


Kania menatap wajah Arya yang kini telah pucat. Bau anyir darah tercium menyengat karena darah yang keluar dari luka pukulan balok kayu itu cukup banyak hingga membasahi kemeja lelaki itu.

__ADS_1


Di depan halaman rumah sakit, mobil ambulance itu berhenti. Terlihat, beberapa orang perawat sudah berjaga di depan pintu dengan meja brankar. Pintu ambulance perlahan terbuka. Tubuh Arya yang tak berdaya kemudian diangkat dan diletakan di atas meja brankar dan didorong menuju ruang ICU. Sambil berlari kecil, Kania mengikuti meja brankar hingga tiba di pintu ruang ICU, Kania berhenti.


"Maaf, sebaiknya Ibu tunggu saja di sini. Biar dokter yang menangani pasien," ucap seorang perawat pada Kania. Setelah itu, perawat itu kemudian masuk ke ruang ICU meninggalkan Kania yang kini menangis dalam pelukan Selly.


"Selly, bagaimana ini? Apa yang akan terjadi pada Arya? Aku tidak ingin kehilangan dia." Kania menangis hingga membuat semua yang ada di tempat itu ikut menangis.


"Kania, tenanglah. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Arya akan baik-baik saja dan doakan yang terbaik baginya. Jangan menangis karena Arya pasti akan sedih jika melihatmu menangis." Selly mengelus lembut punggung Kania, begitupun dengan Bastian yang perlahan memeluk kedua wanita itu.


"Tenanglah, Arya pasti akan baik-baik saja."


Ardi yang juga ada di tempat itu turut menitikan air mata saat melihat Kania menangis untuk lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya itu. "Ah, Arya, kamu sangat beruntung karena dicintai oleh wanita seperti Kania. Aku akan doakan semoga kalian berdua akan selalu bersama dan takkan pernah untuk berpisah," batin Ardi yang hanya bisa melihat kesedihan di wajah Kania.


Tak lama kemudian, pintu ruang ICU terbuka. Kania dengan panik menghampiri dokter yang baru saja keluar. "Dok, bagaimana keadaan Arya?"


"Apa Anda keluarganya?" tanya dokter itu.


"Iya, dok. Dia adalah istrinya," sela Ryan menjawab pertanyaan dokter itu.


"Sepertinya, kami butuh donor darah karena pasien kehilangan banyak darah dan kebetulan juga persediaan darah di rumah sakit ini sementara habis."


"Biar saya saja, dok. Saya adiknya." Ryan menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya.


"Baiklah, ayo ikut saya." Ryan lantas mengikuti dokter itu, tapi tak lama kemudian mereka telah kembali dan Ryan terlihat kecewa.


"Maaf, ternyata darah mereka tidak sama. Apa ada di antara kalian yang mempunyai golongan darah B?" tanya dokter itu.


"Saya, dok." Ardi mengangkat tangannya. Sekilas lelaki itu memandangi Kania seakan ingin mengisyaratkan kalau Arya pasti akan baik-baik saja dan bergegas masuk ke dalam ruangan mengikuti dokter itu.


**********


Alhamdulillah, novel ini akhirnya menuju ending. Sebelumnya, saya selaku author novel ini ingin mengucapkan terima kasih buat pembaca setia yang selalu menunggu novel ini up. Awalnya, saya tidak ingin menulis apa yang akan saya sampaikan ini, tapi rasa gerah di dalam hati mulai mengaduk emosi di dalam dada ini.


Ada beberapa komentar jahat yang membuat saya senyum sendiri. Buat kalian yang baca dari awal, pasti tidak akan melakukan hal itu karena saya tahu kapasitas novel yang saya buat. Ada segelintir orang yang hanya membaca setengah-setengah dan dengan lantangnya mengatakan hal-hal yang tentu saja membuat saya meradang. Saya akan sangat berterima kasih jika kalian berkomentar, tapi berkomentarlah yang sesuai. Saya tidak akan marah atau tersinggung jika di kritik, tapi kritikan itu harus bisa dipertanggung jawabkan dan dijelaskan di mana kesalahan saya. Dengan segala kerendahan hati, saya akan memperbaiki diri.


Saya bukan marah untuk kalian berkomentar, tapi ingat komentarlah dengan bijak dan pintar, karena satu tulisan kalian saja bisa membuat orang lain akan berpikir ulang untuk membaca novel saya. Contoh, ada komentar yang tidak suka dengan karakter yang saya buat, lantas dia bilang kalau saya kebanyakan halu hingga membuat dia bosan membaca novel saya. Komentar seperti ini secara tidak langsung sudah mengajak orang untuk tidak membaca novel saya karena sudah dicap tidak bagus karena novelnya membosankan. Padahal, dia sendiri belum tentu baca dari awal.


Saran saya, sebaiknya hindari komentar seperti itu karena akan menjatuhkan mental author itu sendiri. Kalau saya pribadi, saya tidak ambil pusing, tapi jika dibiarkan orang-orang seperti ini akan besar kepala. Bayangkan, jika di setiap novel dia berkomentar seperti itu, sudah berapa author yang dia hancurkan?


Ayolah para readers, apa kalian pernah berpikir satu part yang kalian baca yang tak butuh waktu 2 menit itu diperlukan berapa jam bagi author untuk menulisnya? Cobalah untuk menghargai kami yang butuh waktu berjam-jam untuk menghasilkan satu part yang hanya dibaca 2 menit itu. Janganlah ada ungkapan kalau tanpa pembaca, penulis tidak bisa apa-apa. Kalau saya balik bertanya tanpa penulis kalian bisa apa? Seorang penulis sudah tentu seorang pembaca, tapi seorang pembaca belum tentu bisa jadi seorang penulis.


Intinya, sebelum berkomentar, sebelum jari-jari kalian menghentikan jari-jari penulis untuk berkarya, tolong untuk memastikan apa yang kalian komentari itu tidak akan menjatuhkan mental si penulisnya. Dan saya juga ingin berterima kasih buat para pembaca yang cerdas, pembaca yang tidak asal berkomentar, terima kasih. Tanpa dukungan kalian, kami bukanlah apa-apa.


Jika ada yang tersinggung, ayo kita saling kenal. Dan kita sama-sama belajar menulis agar kedepannya, tulisan kalian tidak akan lagi jadi mudhorat buat orang lain.


Sekian dan terim kasih.

__ADS_1


embun_senja.


__ADS_2