Cinta Kania

Cinta Kania
Part 29


__ADS_3

"Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang?" tanya Wicaksana pada putra bungsunya itu.


"Sudah, Ayah. Aku akan kembali ke sana. Salah satu temanku mengajakku untuk bekerja di perusahaannya. Aku akan tinggal di apartemennya." Ryan terlihat mantap dengan keputusan yang mendadak itu. Ya, keputusannya itu memang terlontar begitu saja. Mendengar permintaan ayahnya pada kakaknya, melihat kebersamaan Kania dan kakaknya, membuat Ryan tiba-tiba mengucapkan kalimat itu.


"Ryan, kalau soal pekerjaan, kamu bisa bekerja di perusahaan Kakak, untuk apa kamu harus bekerja jauh-jauh?"


"Terima kasih, Kak, tapi aku ingin mencari pengalaman di luar. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja." Ryan tersenyum sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


Sementara Kania, hanya mendengar perbincangan mereka tanpa berkata apa-apa. Walau sebenarnya, dia begitu terkejut dengan keputusan mantan kekasihnya itu. "Ya, sebaiknya kamu pergi agar kamu tidak lagi tersiksa dan aku tidak akan terus merasa bersalah," batin Kania.


"Ya sudah, jika itu sudah keputusanmu, Ayah tidak akan melarang, tapi Ryan, kakakmu sekarang sudah menikah dan Ayah juga ingin kamu mengikuti jejak kakakmu. Jadi, apa sudah ada calon yang ingin kamu kenalkan pada Ayah?" Wicaksana memandangi putranya itu hingga membuat Ryan menjadi gugup.


"Apa maksud, Ayah?"


"Kenapa? Apa kamu ingin mengatakan kalau kamu tidak punya pacar? Atau, kamu masih belum bisa melupakan mantan pacar kamu yang dulu?" Sontak, Kania terkejut hingga membuatnya tersedak.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Arya sembari memberikannya segelas air.


"Aku tidak apa-apa." Kania mengambil air pemberian suaminya itu dan mulai meneguknya.


Melihat reaksi Kania, Ryan tersenyum kecut. "Tidaklah, Yah. Kenapa aku harus memikirkan dia jika sekarang aku sudah mempunyai kekasih. Lagipula, dia mungkin sudah bahagia dan aku tidak ingin mengingatnya lagi."


"Bagus kalau begitu. Ya, sebaiknya kamu jangan terus memikirkan masa lalu. Jadi, kapan kamu akan memperkenalkan pacarmu itu pada Ayah?"


"Secepatnya, Ayah." Ryan tersenyum sambil melirik ke arah Kania.


"Ayah akan sangat bahagia jika kedua putra Ayah sudah mendapatkan pasangan hidup. Ryan, carilah pasangan hidup seperti kakak iparmu ini. Tak hanya cantik, tapi kakak iparmu ini juga sangat penyayang. Menantuku, terima kasih karena sudah bersedia menjadi bagian dari keluarga ini. Ayah bahagia karena bisa mendaptkan menantu yang baik sepertimu." Wicaksana tersenyum sambil menatap ke arah Kania. Gadis itu hanya membalas tersenyum sambil menundukan wajahnya. Sungguh, ucapan Wicaksana begitu membuat Kania tersentuh. Dia merasa begitu diterima di keluarga itu, walau dia sadar, kehadirannya di keluarga itu hanyalah untuk sementara.


"Jangan khawatir, Ayah. Kekasihku pasti akan jauh lebih hebat dari kakak ipar. Aku yakin, jika kalian melihatnya nanti, kalian pasti akan menyuruhku untuk cepat-cepat menikahinya." Ryan tertawa saat mengucapkan itu, walau tawanya itu hanyalah suatu keterpaksaan.


"Iya, Ayah percaya, kok. Oh iya, setelah ini, Ayah ingin bicara dengan kalian berdua. Ada yang ingin Ayah sampaikan buat kalian." Tiba-tiba, suasana menjadi hening. Kakak beradik itu kemudian menatap ke arah ayah mereka secara bersamaan. "Apa ada sesuatu hal yang buruk, Yah?" tanya Arya yang terlihat cemas.


"Hei, apa yang kalian berdua pikirkan? Ayah hanya ingin membicarakan tentang hasil penjualan perusahaan kita." Arya mengembuskan nafas lega karena dia sempat berpikir kalau ayahnya akan menyampaikan sesuatu hal yang buruk.


Di ruang tengah, Wicaksana sudah duduk berhadapan dengan kedua putranya itu. Sementara di tangannya, ada sebuah map berwarna biru.

__ADS_1


"Ini adalah hasil dari penjualan perusahaan kita dan semua asetnya, termasuk rumah kita di sana. Ayah tahu, kalian pasti bertanya-tanya kenapa Ayah melakukan semua." Lelaki yang tampak renta itu perlahan mengembuskan nafas sekadar untuk menata hatinya yang mulai merasa sedih.


"Sebelumnya, Ayah ingin meminta maaf pada kalian, karena sudah melakukan hal ini tanpa persetujuan dari kalian. Ayah hanya ingin menghabiskan masa tua Ayah bersama kalian." Wicaksana tampak menahan air mata, karena dia sadar masa hidupnya tidak akan lama lagi dan dia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama anak dan juga cucunya itu.


"Ayah, kami berdua akan menerima keputusan Ayah. Kami senang Ayah akan tinggal di sini lagi. Jadi, Ayah tidak usah menyalahkan diri Ayah. Aku dan Ryan akan menjaga Ayah. Istriku dan juga kelak istri Ryan, pasti akan menjaga Ayah." Arya terlihat begitu bijaksana. Apapun keputusan ayahnya, dia tidak pernah membantah. Asalkan wajah renta itu tersenyum bahagia, Arya rela melakukan apapun walau dia harus terluka.


"Benar, Ayah. Kami akan menjaga Ayah. Aku tidak marah walau Ayah sudah menjual mobil sport milikku, karena aku pasti bisa membelinya dengan uang hasil kerja kerasku nanti. Ayah, asalkan Ayah sehat dan bahagia, aku dan Kak Arya akan melakukan apapun. Iya, kan, Kak?" Arya mengangguk membenarkan ucapan adiknya. Wicaksana tersenyum saat mendengar perkataan putra bungsunya itu. Dia begitu bangga dengan kedua putranya.


Ryan yang selalu manja, ternyata bisa bersikap dewasa. Arya yang lebih banyak diam dan mengalah, ternyata sangat peduli dan terlihat bijaksana. Melihat kedua putranya yang sudah bisa mandiri dalam mengambil sikap, Wicaksana tersenyum bangga. Setidaknya, tugasnya sebagai orang tua untuk menjaga dan membimbing mereka menjadi orang yang lebih baik ternyata tak sia-sia. Melihat kedua putranya yang saling menyayangi dan melindungi, sudah cukup membuatnya tenang jika suatu saat nanti dia akan dipanggil menghadap Sang Khalik.


Map berwarna biru kemudian dibuka. Dua ATM dan beberapa lembar kertas yang ada di dalam map diletakkan di atas meja. "Ini adalah hasil dari penjualan perusahaan kita dan semua uang yang Ayah miliki. Ayah serahkan pada kalian berdua, masing-masing ATM mempunyai nominal yang sama. Dan ini adalah beberapa dokumen penting terkait saham kita di perusahaan yang baru. Kalian berdua boleh memilikinya." Wicaksana menyodorkan ATM dan berkas-berkas itu pada kedua putranya itu.


"Ayah, tidakkah ini terlalu cepat? Kenapa Ayah ..."


"Sudahlah, bukankah sudah kewajiban Ayah untuk memberi kalian semua ini? Ayah bangga pada kalian dan Ayah sangat menyayangi kalian. Jadi, ambillah dan pergunakan dengan sebijak mungkin." Wicaksana tersenyum pada kedua putranya itu. Rasanya, dia ingin menangis, tapi dia coba menahan agar air matanya tak jatuh.


"Terima kasih, Ayah. Kami akan menerimanya." Arya yang paham dengan sikap ayahnya itu hanya bisa menerimanya, walau saat ini dia tahu kalau ada sesuatu yang tidak biasa pada ayahnya itu. Arya kemudian memeluk ayahnya, begitupun dengan Ryan yang juga memeluknya. "Kami menyayangimu, Ayah." Arya berucap dengan menahan tangis. Sang ayah mengangguk dan mengelus punggung kedua putranya yang terlihat gagah. Rasanya, dia sangat bangga dengan kedua putranya itu.


Wicaksana kemudian masuk ke kamarnya dan menangis di sana. Rasanya, dia masih ingin hidup lebih lama bersama kedua putranya itu. Dia ingin melihat putra bungsunya menikah, bahkan memberikannya seorang cucu. Begitu banyak khayalan yang belum bisa dia wujudkan dan dia takut jika khayalannya itu benar-benar tidak bisa diwujudkannya karena penyakitnya yang semakin membuatnya melemah.


"Tidak apa-apa. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Bukankah, ayah sudah mengatakan kalau dia ingin mengisi hari tuanya bersama kita? Mulai sekarang, kita harus lebih banyak meluangkan waktu bersama ayah. Biar Kakak dan kakak iparmu yang akan menjaga ayah. Fokuslah pada pekerjaanmu nanti dan jangan mengkhawatirkan ayah. Ryan, pergunakanlah pemberian ayah ini dengan sebaik mungkin dan jangan buat ayah kecewa. Kamu paham, kan?" Ryan mengangguk. Melihat kakaknya, Ryan merasa sangat berdosa karena kakak yang baginya sangat baik dan berwibawa itu harus mendapatkan seorang istri yang baginya tidak pantas. Istri yang baginya tak lebih dari seorang wanita munafik dan penuh kepalsuan.


"Kakak, apa Kakak bahagia dengan pernikahan Kakak?" Spontan Ryan bertanya hingga membuat Arya tersenyum padanya.


"Kakak sangat bahagia. Kakak iparmu itu wanita yang sangat baik. Kakak tidak menyesal menikah dengannya." Arya mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh, karena memang itu yang kini dia rasakan. Walau pernikahan mereka hanya pernikahan kontrak, tapi dia begitu menikmati pernikahan itu.


Ryan melihat senyuman yang terukir di wajah kakaknya itu. "Apa mungkin Kania telah berubah? Apa kakakku tidak tahu siapa sebenarnya Kania?" batin Ryan yang kini hanya bisa terdiam.


"Kenapa? Apa kamu tidak percaya?"


Ryan menggeleng. "Tidak, Kak. Aku hanya ingin memastikan kalau Kakak bahagia. Kalau Kakak bahagia bersama kakak ipar, maka aku bisa tenang meninggalkan ayah di sini. Setidaknya, ada kakak ipar yang bisa menjaga ayah."


"Jangan khawatir, ayah akan baik-baik saja. Istirahatlah, Kakak harus pergi ke kantor sebentar." Arya menepuk lembut pundak adiknya itu dan bergegas masuk ke kamarnya.


Ryan menatap punggung kakaknya yang menghilang di balik pintu. "Aku akan pergi, Kak. Dan aku tidak tahu, kapan aku akan kembali lagi. Aku tidak ingin tersiksa melihat Kania berada di sisi Kakak, karena hatiku marah dan juga cemburu. Aku ingin mengungkapkan siapa sebenarnya Kania pada Kakak, tapi aku tidak mampu dan aku tidak ingin membuat Kakak terluka. Biar aku yang menanggung semuanya dan aku akan berusaha melupakan semua rasa sakit yang pernah ditorehkan Kania padaku." Ryan menitikkan air mata.

__ADS_1


Kini, dia sudah memutuskan untuk pergi. Dia ingin meninggalkan dan melupakan semua rasa sakit yang pernah ditorehkan Kania padanya. Dia ingin kakaknya bahagia, walau dia tahu, dia begitu tersiksa.


Ryan yang awalnya begitu membenci Kania, kini memilih untuk melupakannya, walau dia tidak bisa untuk memaafkan kesalahan gadis itu padanya. Dia memilih untuk menjauh, dan melihat mereka dari jauh. Dia ingin melupakan, walau sebenarnya, dia tidak mampu untuk melupakan. Dia begitu membenci Kania, walau sebenarnya rasa benci itu tampak tak nyata karena rasa cinta mulai menggoyahkan hatinya.


"Lebih baik aku pergi daripada aku tersiksa. Aku membencimu, tapi aku juga masih mencintaimu. Aku akan membiarkanmu selama kamu bisa membuat kakak dan keponakanku bahagia." Ryan tampak yakin dengan keputusannya itu.


"Ryan, apa Kakak bisa minta bantuanmu?" tanya Arya yang terlihat keluar dari kamarnya. Lelaki itu tampak gagah dengan setelan jas hitam yang melekat di tubuhnya.


"Bantuan apa, Kak?"


"Tolong jaga Tania sebentar. Kami akan ke kantor, karena semua karyawan di perusahan ingin merayakan pernikahan kami di sana. Mereka ingin mengenal kakak iparmu." Arya tersenyum sambil duduk di sofa dan menunggu Kania yang sementara berias.


"Baik, Kak. Serahkan Tania padaku." Ryan kemudian bergegas menuju ke kamar keponakannya itu, tapi langkahnya terhenti saat melihat pintu kamar kakaknya tiba-tiba terbuka. Sontak, dia begitu terkejut saat melihat Kania muncul dan melangkah ke arah kakaknya.


Melihat gadis itu, Ryan terpaku, namun dia segera mengalihkan pandangannya. Begitupun dengan Arya, yang tampak kagum dengan penampilan Kania yang kini sudah berdiri di depannya.


Kania terlihat begitu cantik dengan balutan gaun berwarna putih yang kini melekat indah di tubuh langsingnya. Rambut panjangnya diikat kuncir hingga memperlihatkan keindahan leher jenjangnya itu. Dengan dipadukan sepasang sepatu high hils berwarna putih dengan manik-manik halus berwarna hitam, membuat Kania terlihat bak seorang putri dalam sebuah cerita dongeng.


"Apa kita harus pergi sekarang?" tanya Kania yang membuat Arya mengangguk pelan.


"Sebentar, aku pamit dulu pada Tania. Boleh, kan?" Arya kembali mengangguk dan membiarkan Kania pamit pada putrinya. Arya tersenyum saat melihat Kania yang begitu perhatian pada putrinya itu.


"Tania di rumah dulu sama Paman. Mama dan papa pergi sebentar. Bisa, kan?" Gadis kecil itu mengangguk dan memeluk Kania.


"Mama dan papa pergi dulu. Ingat, jangan nakal, ya?" Kembali gadis kecil itu mengangguk sambil berlari kecil ke arah sang ayah dan memeluknya.


"Anak Papa sangat pintar. Tania main sama kakek dan Paman, nanti Papa akan bawakan es krim buat Tania."


"Iya, Pa."


Di dalam gendongan Ryan, Tania melambaikan tangannya saat mobil yang dikendarai sang ayah perlahan meninggalkan halaman rumah. Gadis itu seakan paham dan tidak menangis saat dia ditinggal pergi.


"Paman, mamaku cantik, kan?" tanya gadis kecil itu yang begitu membanggakan sang bunda.


"Iya, mama kamu cantik, sangat cantik," jawab Ryan sambil masuk ke dalam rumah. Sesaat, dia begitu kagum dengan mantan kekasihnya itu. Wajah cantiknya tak berubah. Hanya saja, Kania terlihat sedikit lebih dewasa. Kania yang dulu selalu tersenyum padanya, kini hanya menatapnya datar. Entah apa yang kini dia rasakan, namun yang pasti, dia mulai merasakan debaran yang sama. Debaran yang pernah dia rasakan saat pertama kali merasakan jatuh cinta pada Kania.

__ADS_1


__ADS_2