Cinta Kania

Cinta Kania
Part 35


__ADS_3

Kania tampak cantik dengan balutan gaun berwarna peach yang kini dipakainya. Sementara Arya, terlihat tampan dengan setelan jas warna hitam yang membuatnya terlihat gagah.


Tania yang melihat kedua orang tuanya yang sudah terlihat rapi hanya tersenyum, seakan gadis kecil itu paham kalau kedua orang tuanya akan pergi.


"Tania di rumah temani Kakek, Papa dan Mama pergi dulu." Arya memeluk putrinya itu dan Kania melakukan hal yang sama.


"Ayah, kami titip Tania, ya."


"Pergilah, Tania akan Ayah jaga." Wicaksana tampak tersenyum saat melihat putra dan menantunya itu kemudian pergi. Melihat mereka, dia sangat bahagia, tapi tiba-tiba saja wajahnya berubah dan terlihat raut kesedihan di wajah rentanya itu.


Di dalam mobil, Kania duduk sambil mendengarkan alunan musik yang didengarnya dari siaran radio yang baru saja disetel oleh Arya.


"Aku minta maaf, jika rencana makan malam kita terganggu. Aku tidak menyangka kalau temanku itu akan mengundangku ke acara ulang tahun pernikahannya." Arya terlihat menyesal, tapi Kania hanya membalasnya dengan sebuah senyuman.


"Kenapa harus minta maaf, toh kita ke sana juga untuk makan malam, kan?" Arya tersenyum mendengar ucapan Kania.


"Benar juga, toh kita ke sana juga untuk makan." Arya tertawa kecil hingga giginya yang putih dan tersusun rapi itu terlihat. Kania melihatnya dengan rasa kagum, karena lelaki itu terlihat tampan dengan kharismanya yang membuat Kania mengaguminya.


"Setibanya di sana, bersikaplah seperti biasa. Aku tahu kamu pasti canggung dengan teman-temanku. Karena itu, jangan pedulikan dengan tatapan mereka karena aku akan selalu ada di sampingmu." Kania mengangguk dan sekali lagi, dia takjub dengan pembawaan lelaki di sampingnya itu.


Di depan sebuah resort, mobil mereka berhenti. Resort yang terlihat mewah itu berdiri di depan hamparan laut. Dari tempatnya berdiri, sayup-sayup Kania mendengar suara deburan ombak yang memukul bebatuan.


"Ayo, kita masuk." Arya mengulurkan tangannya dan Kania menyambutnya dengan melingkarkan tangan kanannya di lengan lelaki itu. Mereka berdua kemudian berjalan memasuki area resort yang mulai ramai dengan tamu undangan.


Di sebuah taman yang cukup luas, Kania bisa melihat sekumpulan orang-orang dengan penampilan mereka yang terlihat mewah dan glamour. Walau terlihat gugup, tapi genggaman tangan Arya yang menggenggamnya seakan menguatkan dirinya. "Santai saja, aku tidak akan meninggalkanmu." Arya menatapnya dan melayangkan senyum padanya. Kania mengangguk dan mengikuti ke mana lelaki itu akan membawanya.


"Selamat kawan, semoga pernikahan kalian selamanya bahagia." Arya menjabat tangan seorang lelaki yang kini berdiri di depannya. Lelaki yang terlihat glamour itu tersenyum sambil menggenggam erat tangan sahabatnya itu.


"Terima kasih, kawan. Aku senang kamu datang bersama istrimu."


Kania lantas menjabat tangannya dan seorang wanita cantik yang berdiri di sampingnya. "Selamat atas ulang tahun pernikahan kalian." Kania berusaha terlihat akrab, walau baru pertama kali mereka bertemu. Wanita itu tampak tersenyum dan menatap Kania dengan penuh rasa kagum.


"Istrimu sangat cantik. Aku bersyukur akhirnya kamu bisa menemukan kebahagiaanmu." Wanita cantik itu menatap ke arah Kania hingga membuatnya tersenyum.


"Ayo, silakan duduk. Sebentar lagi, kita akan memulai acaranya." Wanita itu lantas mengajak Arya dan Kania duduk di satu meja.


"Terima kasih," ucap Kania dengan ramah dan wanita itu mengangguk dan meninggalkan mereka.


Dari tempat duduknya, Kania bisa melihat hamparan laut lepas dengan lampu-lampu kapal yang terihat bagaikan bintang di langit hitam. Kania mengarahkan pandangannya hanya ke hamparan laut dan tidak menyadari kalau Arya sedari tadi menatapnya dengan sebuah senyuman.


"Kamu suka tempat ini?" Pertanyaan Arya sontak mengalihkan perhatiannya dan menatap wajah lelaki itu. Kania mengangguk dan kembali pandangannya tertuju pada hamparan laut di depannya itu.


"Aku juga menyukai pantai sama sepertimu. Melihat hamparan laut lepas, bukankah kamu merasa damai?" Kania mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Arya padanya.

__ADS_1


"Aku suka aroma laut. Aku suka mendengar suaran deburan ombak. Aku suka bermain di pesisir pantai. Aku suka semua tentang laut." Kania berucap sambil memejamkan matanya dan menghirup aroma laut yang sedari tadi menggelitik hidungnya.


Arya tersenyum melihat tingkah Kania yang terlihat menggemaskan. Kembali dia tersenyum saat melihat wajah cantik Kania dengan matanya yang terpejam.


"Kamu kenapa tersenyum?" tanya seseorang sambil duduk di sebelahnya.


Kania lantas membuka matanya dan malihat Selly yang sudah duduk di dekatnya. Tak hanya gadis itu, ternyata Bastian juga datang bersamanya. "Kalian?" tanya Arya dan Kania hampir bersamaan.


"Kenapa? Apa hanya kamu saja yang berteman dengan Rizky? Aku juga berteman dengannya, apa kamu lupa?" tanya Selly sambil melihat ke arah Arya.


"Iya, aku tahu kamu juga berteman dengannya." Arya tersenyum melihat wajah Selly yang kesal padanya.


"Bastian, kamu juga ikut?" tanya Kania hingga membuat pemuda itu menggaruk kepalanya sambil melirik ke arah Selly.


"Aku yang mengajaknya. Lagipula, aku tidak mungkin kan datang ke acara ini sendirian?" Selly tersenyum sambil memandangi Bastian yang duduk di samping Arya.


Melihat mereka, Kania tersenyum. Setidaknya, mereka berdua terlihat sangat serasi. Wajah Selly yang cantik ternyata sangat serasi dengan ketampanan Bastian yang setahun lebih muda darinya.


Kania tampak menikmati suasana yang terlihat romantis dengan alunan musik dari dentingan piano yang dimainkan tak jauh dari tempatnya duduk. Hiasan lampu-lampu kecil menambah indah suasana dengan aneka hiasan bunga yang terlihat cantik. Ditambah dengan pemandangan hamparan laut yang membuat Kania betah berlama-lama ada di tempat itu.


Tiba-tiba, Selly tampak terganggu dengan pandangan beberapa orang pria yang melihat ke arah Kania. Pandangan mereka membuat gadis itu merasa terganggu hingga membuatnya bangkit dari tempat duduk dan berjalan mendekati mereka. "Selly, kamu mau ke mana?" tanya Bastian saat melihat Selly bangkit dari tempat duduknya. Selly hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan pemuda itu.


"Apa yang kalian lihat?" tanya Selly sambil mentap tajam ke arah pria-pria itu.


"Kenapa aku marah? Itu karena dia adalah sahabatku. Dan kenapa aku sampai mendekati kalian? Itu karena aku tidak ingin kalian dihajar oleh suaminya. Apa kalian mengerti?"


"Sudahlah, aku tahu siapa sahabatmu itu. Dia itu hanya gadis murahan yang berhasil menggoda pria-pria kaya untuk dijadikan tumbalnya. Itu benar, kan?"


Selly mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah karena menahan amarah. "Kalau bukan karena ini adalah pesta sahabat baikku, maka kalian sudah aku buat babak belur. Kalian tidak pantas ada di sini. Lebih baik, tarik ucapanmu itu sebelum aku menampar wajahmu." Selly berucap dengan sungguh-sungguh, tapi lelaki itu hanya tersenyum sinis dan tidak peduli dengan ucapannya itu.


"Pergilah, aku tidak ingin meladeni gadis sepertimu." Lelaki itu mendorong Selly hingga termundur ke belakang. Selly tersandar pada Bastian yang sudah berdiri di belakangnya.


"Ada apa ini?" Bastian menahan bahu Selly dengan kedua tangannya sambil memandangi pria-pria itu.


"Bawa saja wanitamu itu dan pergilah. Dia sudah lancang mengganggu kesenangan kami." Pria itu terlihat tak peduli pada Bastian.


"Selly, ayo, kita tinggalkan mereka." Bastian berusaha membujuk gadis itu untuk duduk, tapi Selly menolak, hingga dia melihat Selly menitikkan air mata.


"Kamu menangis?" tanya Bastian sambil memandangi wajah gadis itu yang sudah basah dengan air mata.


Selly lantas melepaskan tangan Bastian dari pundaknya dan bergegas menuju ke dalam resort.


"Bas, Selly kenapa?" tanya Kania saat melihat Selly pergi meninggalkan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja dia menangis. Tadi, aku melihatnya bertengkar dengan pria-pria itu."


"Tenanglah, aku akan melihatnya." Kania lantas bangkit dan mengejar Selly yang perlahan masuk ke dalam toilet.


"Selly, kamu kenapa?" tanya Kania sambil mengetuk pintu perlahan.


Dari luar, Kania bisa mendengar isak tangis Selly yang membuatnya kembali mengetuk pintu. "Selly, ada apa? Ayo, keluarlah dan ceritakan padaku."


Perlahan, pintu itu terbuka. Selly lantas memeluk Kania dengan isakan tangis yang terdengar memilukan.


Kania mengelus lembut punggung gadis itu seraya membujuknya. "Tenanglah, jangan menangis lagi."


Selly mengangkat wajahnya. Perlahan, Kania menghapus air mata yang membasahi wajah gadis itu. "Apa kamu marah sama mereka karena terus melihatku?" Selly menatap Kania dengan heran.


"Terima kasih, karena kamu sudah membelaku di depan mereka." Selly kembali mengernyitkan keningnya. "Kenapa kamu bisa tahu?"


Kania tersenyum dan mengajak Selly duduk di deretan bangku yang ada di depan sebuah taman kecil. "Aku tahu pria yang bicara denganmu tadi. Dia adalah lelaki yang hampir saja mendapatkan kesucianku. Waktu itu, aku merasa putus asa hingga membuat otakku buntu dan akhirnya aku memutuskan untuk menjual tubuhku. Untung saja Arya dan Bastian datang menghentikanku, kalau tidak, aku mungkin sudah berada dalam dunia hitam yang penuh nista." Kania tersenyum getir hingga Selly memeluknya.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku tahu, itu pasti saat yang sangat sulit buatmu, tapi aku bersyukur karena kini kamu sudah aman bersama dengan Arya. Aku tahu, kalian menikah karena terpaksa, tapi aku tidak menyesal memintamu untuk menikah dengannya karena aku yakin, Arya adalah lelaki yang pantas untukmu."


Mendengar ucapan Selly, Kania hanya tersenyum. Dia sadar, dia begitu mengagumi Arya hingga membuatnya ingin menepis rasa cinta yang perlahan mengusik karena kehadiran Ryan. Dia ingin menepis rasa itu dan mencoba menjadi istri yang baik bagi Arya, walau dia sadar status pernikahan mereka hanya sementara.


"Hapus air matamu itu, jangan buat Bastian dan Arya mencemaskanmu." Selly mengangguk dan menghapus air matanya. Wajah cantiknya kembali dipoles dengan bedak tipis sekadar untuk menutupi sisa air mata yang sempat jatuh membasahi wajah cantiknya itu.


Kedua gadis itu lantas kembali menuju ke tempat pesta, tapi langkah mereka terhenti saat beberapa orang pria berdiri di depan mereka. "Mau apa kalian?" tanya Selly sambil menatap tajam ke arah mereka.


"Ternyata kamu cantik juga. Hei, bukankah kamu gadis yang waktu itu ingin menjual perawanmu untukku?" Pria itu memandangi Kania dengan tatapan penuh nafsu. Matanya tampak liar memandangi tubuh Kania yang kini berdiri di depannya.


"Kania, jangan pedulikan mereka. Ayo, kita pergi dari sini." Selly menggenggam tangan Kania dan berniat pergi dari tempat itu, tapi tiba-tiba saja tangan pria itu menarik pergelangan Kania hingga mengarah padanya.


"Lepaskan tanganku!!" Kania berusaha untuk melepaskan tangannya, tapi pria itu hanya tertawa.


"Aku ingin melakukannya denganmu. Sepertinya, kamu sekarang terlihat lebih cantik dari sebelumnya." Tatapan pria itu mengarah pada sekujur tubuh Kania.


"Aku akan membayar berapapun yang kamu minta, asalkan kita lakukan apa yang seharusnya kita lakukan waktu itu. Ah, ternyata tidak percuma aku datang ke sini. Ngomong-ngomong, suamimu itu membayarmu berapa agar bisa menikahimu?" Selly tampak marah hingga ingin menampar pria itu, tapi dia dicegah oleh teman-teman pria itu yang mencengkram lengannya.


"Brengsek kamu. Lihat saja, mulutmu yang kotor itu akan babak belur jika Arya sampai tahu kamu sudah menghina istrinya. Lepaskan aku!!" Selly berusaha berontak dan berteriak, tapi tempat mereka berdiri ternyata cukup jauh dari keramaian. Orang-orang tampak fokus di acara pesta hingga tidak melihat keadaan mereka.


Sementara Arya, tampak cemas karena kedua gadis itu belum juga kembali. "Bas, kenapa mereka sangat lama? Ini sudah hampir setengah jam, tapi mereka belum juga kembali."


"Itu sudah biasa bagi wanita, tidak usah khawatir, paling mereka sedang berdandan di toilet." Bastian tampak tidak mencurigai apapun, hingga tiba-tiba dia mengalihkan pandangannya ke arah pria-pria yang tadi didatangi oleh Selly. Sontak, dia berdiri. "Ayo, kita cari mereka." Kedua lelaki itu lantas berjalan menuju ke arah toilet dan pandangan mereka kini tertuju pada beberapa orang pria.


Kedua pemuda itu lantas berlari dan mendekati mereka. Melihat Kania yang disentuh oleh pria itu, Arya meradang. Begitupun dengan Bastian yang melihat sahabat dan juga wanita yang perlahan membuatnya jatuh cinta diperlakukan seperti itu, Bastian naik darah.

__ADS_1


"Lepaskan mereka berdua." Melihat mereka, pria itu tidak bergeming, malah dia tertawa seakan meremehkan kedua pemuda itu. Arya yang melihat Kania kesakitan, lantas mendekati pria itu. Tak menunggu lama, sebuah bogem mentah meluncur keras ke arah wajah pria itu hingga membuat tangannya terlepas dari tangan Kania. Arya lantas meraih tangan Kania dan meraihnya ke dalam pelukannya. "Kamu tidak apa-apa?"


__ADS_2