
Arya berdiri memandangi Kania yang tengah memandangi sekeliling kamar. Wajah lelaki itu terlihat sendu dengan air mata yang coba dia tahan. Sambil melangkah perlahan, Arya mendekati Kania dan berdiri tepat di depannya. "Maafkan aku."
Kania melihat seraut wajah yang berusaha menahan tangis. Entah, apa yang bisa dia lakukan karena perpisahan adalah jalan yang harus mereka tempuh. "Untuk apa meminta maaf, karena tidak ada yang perlu di maafkan. Aku tahu, kamu melakukannya demi adikmu dan aku tidak bisa memaksamu untuk memilih karena adikmu adalah pilihanmu." Kania lantas berjalan mendekatinya dan menghapus air mata di wajah lelaki itu.
"Tidak ada yang perlu di tangisi karena ini adalah takdir kita. Aku mencintaimu dan juga Tania, tapi aku tidak bisa egois karena nyatanya aku tidak kalian harapkan. Aku hanya wanita yang singgah sesaat di hatimu dan sudah saatnya untuk aku pergi." Kania menundukkan wajahnya dan menghapus air matanya.
"Selepas kepergianku, aku mohon untuk tetap jaga kesehatanmu. Jangan lagi tidur terlalu malam karena kamu harus bekerja. Ingat Tania, dia masih memerlukanmu. Aku akan minta Bi Suri untuk membuatkanmu teh madu seperti biasa aku buatkan untukmu karena itu bisa menjaga staminamu." Kania berusaha tersenyum di antara air matanya yang jatuh.
"Terima kasih untuk semua yang telah kamu beri untukku. Aku harap, kalian selalu bahagia." Kania lantas mengambil tasnya dan melangkah menuju pintu kamar, namun langkahnya terhenti saat tangannya di raih oleh Arya dan kini mereka saling memandang.
Di depannya, Kania melihat Arya yang kini menatapnya dengan matanya yang memerah. Air bening itu masih menggantung dan perlahan jatuh di wajah tampannya.
"Kenapa kamu menangis? Hapus air matamu itu, nanti Tania juga akan menangis." Perlahan, Arya meraih tubuh Kania ke dalam pelukannya. Tubuhnya dipeluk dengan erat oleh lelaki itu. Suara tangisnya bisa Kania dengar memburu di telinganya. Pelukannya terasa begitu hangat hingga membuat Kania membalas memeluknya.
"Aku mohon, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak bisa memilikimu. Aku akan korbankan rasa cinta ini karena aku harus memenuhi janjiku pada ayah. Kebahagiaan Ryan ada padamu dan aku tidak bisa merebut kebahagiaannya itu. Aku mohon maafkan aku." Arya memeluk Kania dengan erat dan memohon maaf padanya.
Mendengar ucapan Arya, Kania memeluk lelaki itu dengan erat. Kini, perasaannya kembali dipermainkan oleh takdir. Cinta mereka harus mereka korbankan demi seseorang yang tak mungkin untuk mereka kecewakan. "Jika kamu bisa berkorban, aku juga akan lakukan hal yang sama. Jika Ryan begitu berarti bagimu, aku akan ada di sisinya. Aku akan membuatnya bahagia seperti yang kamu harapkan, tapi apakah kamu siap dengan itu semua?"
Arya melepaskan pelukannya dan memandangi Kania yang menatap ke arahnya. "Aku akan siap walau aku harus menahan derita. Aku hanya seorang kakak yang menginginkan kebahagiaan bagi adiknya walau aku harus mengorbankan kebahagiaanku, aku akan rela."
Kania tersenyum dan menggenggam tangan Arya sambil mengecupnya. "Ini adalah kecupan terakhirku sebagai istrimu dan kini izinkan aku untuk melepas status itu."
Kedua tangan lelaki itu lantas dia letakkan di kedua pipi Kania dan perlahan, Arya mengecup dahi Kania. Sambil memejamkan mata, Arya mengecupnya. "Kania, hari ini aku resmi menceraikanmu." Tak terasa air matanya jatuh, begitupun dengan Kania yang tak sanggup menahan air matanya.
Arya melepaskan tangannya dan melangkah keluar. Diraihnya Tania dan masuk ke dalam kamar gadis kecil itu. Sementara Kania, masih berdiri terpaku sambil menangis terisak. Kakinya yang sedari tadi menopang tubuhnya, tiba-tiba terduduk dengan tangis yang tidak bisa dia tahan. Melihat Kania, Ryan bergegas ke arahnya. Dengan lembut, lelaki itu menyentuh pundak Kania dan memeluknya. "Maafkan aku."
Sesaat, ada rasa marah yang tiba-tiba muncul saat melihat Ryan yang kini duduk di depannya, namun saat melihatnya yang kini menangis di depannya membuat Kania menjadi luluh. Bagaimana bisa dia membenci lelaki itu sedangkan lelaki itu teramat mencintainya. Bagaimana bisa dia membenci kalau Arya teramat sayang padanya.
"Ryan, bawa aku pergi dari sini, aku mohon." Ryan mengangguk dan membantu Kania untuk bangkit. Sebelum pergi, Kania masih sempat memandangi rumah itu. Rasanya, dia akan merindukan suasana rumah yang menyimpan sejuta kenangan yang sulit untuk dia lupakan.
Tanpa pamit, Kania bergegas pergi dan pasrah kemana Ryan akan membawanya. Di atas motor, Kania menyandarkan tubuhnya di punggung Ryan dengan kedua tangan yang memeluknya erat. Sementara Ryan, hanya bisa mendengar isakan tangis Kania. Perlahan, tangan kanannya menyentuh tangan Kania dan meremasnya dengan lembut. "Aku akan membahagiakanmu, aku janji." Ryan tersenyum di antara air mata bahagia yang kini jatuh.
Sementara itu, Arya sedang membujuk Tania yang kini menangis karena kepergian Kania. Walau sudah dibujuk, namun gadis kecil itu masih saja merengek hingga membuat Arya menitikkan air mata. "Sayang, jangan seperti itu. Bukankah, Tania sudah berjanji pada mama untuk tidak menangis lagi?"
"Tania ingin bertemu mama, Pa. Tania ingin memeluk mama." Rengek Tania yang masih menangis. Walau sudah dibujuk, Tania masih menangis hingga gadis kecil itu terdiam karena sudah lelah menangis. Arya memandangi putrinya itu yang kini tertidur dengan isakan yang masih terdengar. Dengan lembutnya, Arya membelai rambut putrinya itu dan menyeka keringat yang menempel di dahinya.
__ADS_1
"Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa." Kembali Arya menitikan air mata dan duduk terpaku sambil bersandar di sisi tempat tidur. Harapan dan hayalan yang pernah terbayang kini melintas di depannya. Betapa dia pernah membayangkan akan hidup bahagia bersama Kania. Betapa dia bahagia jika Kania menjadi istri dan ibu bagi putrinya, tapi hayalan itu hanya tinggal kenangan karena Kania kini bukan lagi menjadi miliknya.
*****
Ryan masih melajukan motornya hingga motor itu berhenti di sisi jalan. Kania yang masih bersandar, perlahan mengangkat kepalanya saat mendengar suara deburan ombak yang berkejaran. Sontak, pandangannya tertuju pada hamparan laut yang berada di depannya. "Ayo, kita turun."
Kania lantas turun dan berdiri memandangi lautan lepas yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri. Dengan perlahan, Kania berjalan menapaki hamparan pasir putih dan memilih duduk di atas sebuah batu. Sambil menopang wajahnya di atas lutut yang kini di tekuknya, Kania memandangi deburan ombak yang saling berkejaran. Sejenak, hatinya begitu damai. Dengan memejamkan matanya, Kania duduk sambil mendengar suara deburan ombak yang ternyata begitu terdengar syahdu di telinganya.
Melihatnya, Ryan lantas duduk di sampingnya dan menatap Kania yang kini terpejam. "Apa suasana ini masih kamu rindukan?" tanya Ryan yang membuat Kania perlahan membuka matanya.
Suasana pantai sangat di sukai oleh Kania sejak Ryan mengajaknya ke pantai di saat dulu. Dari situlah, Kania mulai menyukai pantai hingga membuatnya bisa melupakan rasa gundah dan sedihnya jika dia berada di pantai. "Kenapa masih bertanya jika kamu tahu apa yang aku sukai? Karena itu, kamu membawaku ke sini, iya, kan?"
Ryan tersenyum. "Jika kamu sedih, katakan saja padaku biar aku membawamu ke sini. Lihatlah, bukankah tempat ini sangat indah?" Ryan menatap sekeliling tempat itu yang masih asri dengan pohon-pohon kelapa yang tumbuh di pesisir pantai dengan hamparan pasir putih yang membentang luas.
Kania turut melihat ke arah pandangan lelaki itu dan Kania akui, tempat itu sangat indah.
"Sekarang, apa aku bisa memiliki hatimu seperti dulu?" Pertanyaan Ryan sontak mengalihkan perhatian Kania yang sedari tadi melihat lautan lepas. Tatapannya kini tertuju pada lelaki yang kini menatap ke arahnya.
"Apa kamu serius dengan perasaanmu padaku? Apa kamu benar-benar masih mencintaiku?"
Kania terdiam dan memandangi Ryan yang kini tersenyum padanya. "Aku tahu, tidak semudah itu membuatmu kembali mencintaiku, tapi aku tidak akan menyerah karena aku tahu, rasa itu masih tersimpan di hatimu walau hanya sedikit, iya, kan?"
Dengan percaya dirinya Ryan mengucapkan itu hingga membuat Kania tersenyum kecut. "Sebaiknya aku pergi." Kania bangkit dan menenteng tasnya itu.
"Kamu akan pergi ke mana? Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu, karena aku sendiri tidak tahu akan pergi kemana. Aku tidak punya rumah untuk aku kembali. Aku tidak punya saudara untuk aku kunjungi. Ah, sebaiknya aku menginap di rumah Bastian saja." Kania tersenyum walau itu bukanlah tujuannya.
"Tidak perlu. Sebaiknya, kamu ikut aku saja." Ryan mengambil tas yang di tenteng oleh Kania sambil meraih tangan gadis itu. Kania yang tidak paham hanya mengikuti kemana Ryan akan membawanya.
Di depan sebuah rumah yang terbilang mewah, motor mereka berhenti. Rumah yang terletak di pinggiran kota dan jauh dari keramaian itu tampak terawat dengan baik. Halaman rumah itu sangat luas dengan aneka bunga yang ditanam dengan rapi. Rumah yang di dominasi dengan ornamen kayu itu terlihat mewah namun sederhana. Dari luar, rumah itu seperti bangunan rumah tua yang sudah direnovasi ulang.
"Kamu akan tinggal di sini." Ryan membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam. Begitupun dengan Kania yang mengikuti langkah Ryan yang kini berhenti di depan sebuah pintu kamar. "Tidurlah di kamar ini. Jangan khawatir karena kamu tidak sendiri karena Bi Mar dan anaknya akan menemanimu."
Ryan membuka pintu kamar dan meletakkan tas di atas meja yang terletak di samping tempat tidur. Melihat sekeliling kamar, Kania merasa nyaman. Suasana yang mulai temaram, membuat suasana di tempat itu terlihat sangat damai.
__ADS_1
"Ryan, ini rumah siapa? Kenapa kamu mengajakku ke sini?" tanya Kania yang penasaran dengan rumah itu.
"Ini rumahku, tepatnya rumah kita."
Kania terkejut dan memandang ke arah lelaki itu. "Jangan bercanda, aku tidak suka dengan candaanmu." Kania terlihat kesal dengan ucapan Ryan hingga membuatnya memilih keluar dari kamar itu.
"Aku tidak bercanda karena ini adalah rumah yang diwariskan ayah padaku. Dan, aku benar kan jika rumah ini akan menjadi rumahmu jika kita menikah nanti."
Kania duduk di terasa rumah yang ternyata cukup luas. Satu set kursi kayu tertata rapi di teras itu. Sambil menyandarkan punggungnya, Kania bersandar di kursi kayu itu dan memandangi langit yang mulai senja. "Apa kamu pikir aku mau menikah denganmu?" tanya Kania yang membuat Ryan duduk di depannya.
"Apa kamu tidak ingin menjadi istri dari Ryan Wicaksana? Apa aku harus membujukmu hingga kamu mau? Atau, kamu mau aku menunggumu hingga kamu kembali mencintaiku? Baik, aku akan menunggu jika itu maumu." Ryan menatap lurus ke arah Kania yang kini menatapnya.
"Ryan, tidakkah itu terlalu cepat dan aku baru saja bercerai dari kakakmu, apa yang akan dipikirkan orang-orang tentang kita? Apa kamu tidak malu menikah dengan mantan istri kakakmu sendiri?"
Ryan tersenyum dan meraih tangan Kania dan menggenggamnya erat. "Aku tidak peduli dengan pandangan orang tentang kita karena aku tahu siapa yang aku nikahi. Bukankah, kalian hanya menikah kontrak dan aku tidak perlu merasa bersalah karena tidak ada rasa cinta di antara kalian. Itu benar, kan?"
Kania tersenyum kecut sambil mengalihkan pandangannya ke halaman yang ditumbuhi aneka bunga. "Andai kamu tahu kalau kakakmu mencintaiku dan mengorbankan perasaannya untukmu, apa kamu masih bisa bicara seperti itu?" batin Kania sambil mengembuskan napasnya dengan kasar.
Sambil menggenggam tangan Kania, Ryan duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Ryan terlihat begitu manja hingga pandangannya teralihkan pada seorang wanita yang berusia sekitar 40an yang datang bersama seorang gadis kecil yang berusia sekitar 5 tahun ke arah mereka.
"Selamat malam, Tuan Muda." Wanita itu tampak memberi hormat pada Ryan dan juga Kania sambil menundukan separuh badannya.
"Malam, Bi Mar. Apa Bi Mar sudah siap untuk tinggal di sini?" tanya Ryan yang sudah berdiri di depan mereka.
"Sudah, Tuan. Bibi dan anak Bibi, Nina akan tinggal dan bekerja di sini. Apa sekarang Bibi sudah bisa mulai bekerja?" tanya wanita itu yang terlihat antusias.
"Sudah, Bi. Untuk malam ini, tolong buatkan kami makan malam. Oh iya, Bi, ini calon istri saya yang akan tinggal di sini. Saya minta untuk Bibi menjaganya dan membantunya jika dia perlu sesuatu."
Mendengar ucapan Ryan membuat Kania meremas tangan lelaki itu yang sedari tadi menggenggam tangannya.
"Saya Kania, Bi. Kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam, kasihan adeknya pasti kedinginan di luar." Kania lantas meraih tangan gadis kecil itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Melihat sikap Kania, Ryan tersenyum dan mengikuti gadis itu di belakangnya. Malam itu, sejenak Kania bisa melupakan rasa sedihnya karena perpisahannya dengan Arya dan Tania. Untuk sesaat, Kania merasa terhibur dengan tingkah lucu Nina yang membuat dia teringat kepada Tania.
Dari dapur, Kania bisa melihat Ryan yang sedari tadi melirik ke arahnya. Sambil tersenyum, Ryan terus memandanginya seakan dia begitu bahagia karena Kania kini bersamanya. Melihat tingkahnya, Kania pura-pura acuh dan tak peduli hingga dia terkejut saat Ryan meraih tangannya dan membawanya ke teras rumah sambil memandang langit hitam yang bertaburan bintang. "Aku mencintaimu dan aku akan membahagiakanmu. Aku janji." Sambil memeluk Kania dari belakang, Ryan mengecup pipi Kania dan memandang langit hitam yang bertabur cahaya bintang. Kania diam terpaku dan ikut melihat ke langit hitam dan berharap akan menemukan kebahagiaan di sana.
__ADS_1