Cinta Kania

Cinta Kania
Part 16


__ADS_3

Permintaan Selly untuk bertemu dengan Tania terpaksa dituruti oleh Arya. Dia tahu, Selly menyayangi Tania sebagai anak dari sahabatnya. Dan dia juga tahu kalau wanita itu sangat menyukainya walau sebenarnya Arya tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya.


Karena permintaan Selly, siang itu juga mereka meluncur ke rumah Arya. Wanita itu terlihat tersenyum sumringah karena dirinya bisa duduk berdua dengan lelaki pujaannya. "Arya, apa aku tidak bisa menjadi ibunya Tania? Kamu tahu kan aku sangat menyukaimu, tapi kenapa kamu selalu saja menganggapku sebagai sahabat?" Wajah cantiknya tampak cemberut saat menanyakan hal itu pada Arya yang sementara mengemudi.


"Aku hanya tidak ingin membuatmu menyesal. Selly, carilah laki-laki yang lebih baik dariku. Kamu itu sahabat mendiang istriku dan aku tidak berkeinginan untuk menjadikan sahabat istriku sebagai istriku. Aku harap kamu memahami keputusanku." Arya menjawab dengan santai agar tidak menyinggung perasaan Selly.


"Aku heran sama kamu, wanita seperti apa sih yang ingin kamu peristri? Arya, ingat, Tania butuh seorang ibu dan aku mau menjadi ibunya." Selly tak menyerah begitu saja. Wanita cantik itu berusaha meluluhkan hati Arya, tapi lelaki itu hanya tersenyum padanya.


"Sudahlah, Sel. Lebih baik kamu cari lelaki lain saja, karena kamu bukanlah tipe wanita yang aku suka." Wajah Selly kembali cemberut.


"Iya, aku tahu. Aku bukan wanita yang hanya bisa duduk berdiam di dalam rumah. Aku juga bukan wanita yang pandai memasak dan aku juga tidak pandai mengurus rumah. Itukan maksudmu?"


"Tuh, kamu sendiri paham, kan?"


Arya bukanlah tipe lelaki yang suka bila istrinya bekerja di luar. Baginya, istri yang baik, yaitu istri yang bisa menjaga keluarganya, bukan istri yang bisanya hanya keluar shoping dan menghabiskan uang suaminya.


Rani, adalah wanita rumahan yang hanya keluar jika ada suatu hal yang penting. Selama menikah dengan Arya, Rani tidak pernah keluar rumah kecuali Arya mengajaknya. Arya sangat mengagumi istrinya, karena begitu perhatian dan juga penurut padanya. Dan wanita seperti Rani, sangat sulit ditemuinya.


Di depan halaman rumahnya, mobil itu berhenti. Selly terlihat bersemangat dan segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. "Tania, Tante Selly datang." Selly berjalan menuju ke kamar Tania sambil memanggilnya.


"Tania." Selly mengetuk pintu kamar dan pintu itupun terbuka. "Kamu siapa?" tanya Selly saat melihat Kania yang membuka pintu.


"Aku ... "


"Dia Kania." Arya tiba-tiba berdiri di belakang Selly dan masuk ke kamar menemui Tania.


"Papa." Tania memeluk Arya dan segera digendong oleh ayahnya itu. "Papa sudah pulang?" Arya mengangguk sambil mengecup pipi putri kecilnya.


Tania kemudian memandangi Selly yang terlihat heran dengan wanita yang kini ada di depannya. Matanya tak lepas memandangi Kania. "Wanita ini, siapa dia sebenarnya? Wajahnya cukup cantik dan tubuhnya juga lumayan seksi. Ah, apa jangan-jangan dia ... ?" Lamunan Selly tiba-tiba terusik saat Arya mendekatinya.


"Katanya ingin bertemu Tania, tapi kenapa kamu hanya berdiri di situ?"


Sontak, pandangan Selly teralihkan dan memandangi Tania yang kini dalam gendongan Arya. Wajahnya seketika tersenyum saat melihat Tania. "Tania, Tante Selly gendong, ya?" Selly mengulurkan tangannya untuk meraih tubuh gadis kecil itu, tapi Tania segera memeluk ayahnya.


"Tania tidak mau." Dengan wajah kecewa, Selly menurunkan tangannya. "Tania mau digendong sama Mama." Tania memandangi ke arah Kania dan mengulurkan tangannya untuk minta digendong.


Mendengar ucapan Tania, Selly terkejut dan memandangi Arya seakan ingin meminta penjelasan darinya. Kania lantas menggendong Tania dan membawanya ke halaman dan bermain di sana.


"Arya, apa maksud ucapan Tania? Apa dia itu istrimu? Pantas saja kamu menolakku, ternyata kamu sudah beristri." Selly tampak kecewa dan juga penasaran hingga membuatnya terus memandangi Kania dari balik jendela kaca.


"Ceritanya panjang, Sel."


"Jadi, benar dia itu istrimu?" Selly kembali bertanya.


"Bukan, dia hanya wanita yang sangat disayangi oleh Tania." Mendengar jawaban Arya membuat Selly menjadi lega. Setidaknya, lelaki yang sangat dikaguminya itu masih sendiri.


"Bagaimana ceritanya sampai Tania begitu menyayanginya?"


"Itu karena Rina."


"Rina? Wanita brengsek itu?"

__ADS_1


"Waktu itu, dia membawa Tania ke mall dan tanpa sengaja Tania hilang. Untung saja ada Kania yang menemukan Tania dan menjaganya. Gadis itu sudah melaporkan ke ruang informasi, tapi Rina buru-buru menemuiku untuk memberitahukan perihal Tania yang hilang. Saat itu juga, aku langsung ke mall dan aku tahu kalau Kania sedang menjaganya. Melihat Tania yang bermain dan tertawa bersama wanita yang baru saja dikenalnya membuat aku cukup terkejut. Pasalnya, kita semua tahu kalau putriku itu tidak mudah dekat dengan orang lain selain denganku. Sebenarnya, dia pernah tinggal sehari di sini, tapi saat Tania tidak melihatnya, Tania menangis tak henti hingga membuatku terpaksa mencari dan memintanya untuk tinggal di sini lagi." Penjelasan Arya panjang lebar tentang Kania membuat wanita cantik itu menjadi iri pada gadis yang kini sedang dipandanginya.


Benar saja, di halaman rumah, Tania tampak bermain dan tertawa bersama Kania. Dia merasa iri karena tak sekalipun gadis kecil itu bersikap demikian terhadapnya. Walaupun dia sudah berusaha mengambil perhatian gadis kecil itu, tapi dia selalu gagal. Dan dia sadar, Arya tidak bisa menerima wanita yang tidak disukai oleh putrinya itu.


"Apa karena itu kamu membiarkan Tania memanggilnya mama?" Arya mengangguk dan tersenyum.


Suasana tiba-tiba menjadi hening. Perhatian keduanya kini tertuju pada Kania yang tampak tersenyum sambil bermain dengan Tania. Gadis kecil itu terlihat begitu manja padanys. Bahkan, Tania tak segan memeluk dan mencium pipi wanita itu seakan ingin menunjukan kalau dia sangat menyayanginya.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan padanya? Apa kamu akan membiarkan Tania terus memanggilnya mama? Sampai kapan kamu akan menipu dirimu sendiri dan juga Tania?" Pertanyaan Selly membuat Arya paham. Dia menyadari itu, tapi dia tidak sanggup jika melihat putrinya menangis lagi karena kehilangan Kania.


"Arya, kamu harus bisa mengambil keputusan. Apa kamu ingin selamanya Tania memanggilnya mama? Bagi Tania, dia seakan mendapatkan sosok ibu di diri Kania, tapi aku tahu kamu pasti tidak mendapatkan sosok istri dari wanita itu. Dia bisa saja menerima dan menyayangi Tania, tapi bagaimana denganmu? Apa kamu bisa menerimanya sebagai istri dan juga sebaliknya? Aku mengatakan ini sebagai sahabatmu dan juga sebagai wanita yang mencintaimu." Selly terlihat sedih karena dia memang masih mengharapkan Arya untuk bisa menerimanya.


Arya terdiam dan kembali memandangi putrinya yang tampak asyik bermain.


Melihat Arya yang hanya diam membuat Selly sedikit kecewa. "Apa kamu mulai menyukainya?"


Pertanyaan Selly sontak membuat Arya memandanginya.


"Arya, apa kamu mulai menyukainya?" tanya Selly sekali lagi, tapi Arya masih tetap terdiam. "Jadi, itu memang benar. Rupanya, kamu mulai menyukainya. Aku tidak salah ucap, kan?"


"Sudahlah, Sel. Tidak usah dibahas. Sudah siang, sebaiknya kita makan siang dan segera kembali ke kantor." Arya kemudian bangkit dan menuju ke meja makan dan diikuti Selly di belakangnya.


Bi Suri yang baru selesai menyiapkan makan siang dan meletakkannya di meja makan tampak tersenyum saat Selly menyapanya. "Hallo, Bi Suri. Sudah lama aku tidak merasakan masakan Bi Suri. Jadi, rasanya aku tidak sabar ingin mencicipi masakan Bi Suri lagi." Selly tampak semangat dan langsung menyendok nasi ke dalam piringnya dengan lauk pauk yang sudah tersedia di atas meja dan mencicipi sesendok ke mulutnya. "Hmm, enak, Bi." Selly tampak tersenyum.


"Itu bukan masakan Bibi, tapi masakan Non Kania." Sontak Selly terkejut dan terbatuk-batuk.


"Kamu kenapa, Sel?" tanya Arya sambil memberikannya segelas air.


Selly begitu terkejut hingga membuatnya tersedak. "Tidak apa-apa, kok." Elak Selly setelah meneguk segelas air.


"Baik, Tuan." Wanita paruh baya itu lantas memanggil Kania di halaman depan. Tak lama, mereka kemudian muncul.


Arya kemudian mengambil Tania dan memangkunya. "Biar Papa yang suapi Tania. Mama makan dulu, tidak apa-apa, kan?" Gadis kecil itu mengangguk.


Kania lantas menuju dapur, tapi Arya segera menahannya. "Kamu mau ke mana?"


"Aku akan menemani Bi Suri makan di dapur."


"Tidak usah. Kamu makan di sini saja, kalau tidak melihatmu, Tania pasti menangis."


"Tapi ... "


"Duduklah, jangan membantah apa yang Arya katakan padamu." Selly ikut menambahkan. Wajahnya terlihat cemberut, tapi mulutnya tak berhenti mengunyah. Kania lantas duduk. Walau ragu, tapi dia berusaha tenang.


"Ayo, makan," ucap Selly kembali dengan sorot matanya yang tajam.


Kania lantas menyendok nasi dan beberapa lauk pauk dan lantas disantapnya.


"Jadi, semua ini kamu yang masak?" tanya Selly seakan kurang yakin dengan kemampuan Kania.


"Iya, tapi Bi Suri juga membantuku. Kalau rasanya kurang pas, aku minta maaf."

__ADS_1


Selly menatap Kania yang masih menyantap makanannya. "Ah, rasanya aku akan gagal. Tak hanya cantik, rupanya gadis ini juga pandai memasak. Semua tipe yang diharapkan oleh Arya, ada padanya. Masakannya juga sangat lezat, pantas saja Arya begitu menikmati makan siangnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Selly yang kini mulai kurang percaya diri.


Arya hanya terdiam sambil sesekali melirik ke arah dua wanita yang juga mulai terdiam. Hingga keheningan mereka terusik saat Tania tiba-tiba tersedak hingga membuatnya terbatuk-batuk.


Spontan, Kania berlari ke arahnya dan mengelus punggungnya sembari meminumkan segelas air. "Tania tidak apa-apa, kan?" tanya Kania yang terlihat panik.


"Tidak apa-apa kok, Ma." Kania lantas memeluknya dan mengelus punggungnya dengan lembut.


"Mama suapi, ya?" Tania mengangguk. Kania lantas mengambil piring di tangan Arya dan menyuapi gadis kecil itu.


Selly yang melihat perhatian Kania pada Tania perlahan tersenyum. Wanita itu kemudian melanjutkan makannya yang hanya sisa sesendok dan kemudian bangkit dari meja makan dan diikuti oleh Arya. Mereka kemudian duduk di ruang tengah. "Arya, jangan lepaskan dia," ucap Selly yang membuat Arya memandanginya.


"Apa maksudmu?"


"Wanita itu, jangan pernah lepaskan dia. Melihat dia begitu perhatian pada Tania membuat aku sadar kalau dia memang pantas untuk Tania memanggilnya mama. Dia wanita yang cocok buatmu. Wajahnya juga cantik. Ah, akhirnya aku bisa patah hati juga, tapi tak apa asalkan kamu bersamanya, aku rela dan aku yakin Rani juga pasti akan bahagia di sana." Semua ucapan Selly membuat Arya memandanginya heran. Dan dia juga melihat air mata wanita itu yang perlahan jatuh membasahi pipinya.


"Selly?"


"Apa? Ah, kamu sudah membuatku menangis. Harapanku untuk menjadi istrimu akhirnya gagal juga. Ah, tapi tak apa, masih banyak lelaki di luar sana yang mengharapkanku menjadi istri mereka." Selly berusaha untuk tetap tersenyum walau kesedihan di hatinya tak bisa ditahannya. Sambil menghapus air matanya, Selly tersenyum dan memandangi Arya yang perlahan memeluknya.


"Maafkan aku, kamu adalah sahabatku yang paling baik. Rani pasti bangga padamu." Ucapan Arya sontak membuat Selly kembali menangis karena mengingat sahabat baiknya itu.


"Kembalilah ke kantor, aku masih mau main bersama Tania."


"Kamu tidak apa-apa, kan?"


"Kenapa? Apa kamu pikir aku akan menjahili Kania? Sudah, pergi sana. Aku ingin mengajak mereka jalan-jalan, boleh, kan?"


"Baiklah, aku akan pergi, tapi ingat, jangan berbuat macam-macam padanya."


"Iya, iya, paling aku akan menjambak rambutnya hingga botak." Canda Selly yang membuat Arya memandanginya.


"Bercanda, aku hanya ingin mengajak mereka menemaniku belanja, tidak apa, kan?"


"Ya sudah, aku balik ke kantor." Arya kemudian menuju ke Tania dan mengecup pipinya. "Papa ke kantor dulu, ya. Ingat, jangan nakal."


"Iya, Pa."


Arya memandangi Kania dan berjalan mendekatinya. "Sepertinya, Selly ingin mengajakmu dan Tania untuk menemaninya belanja. Dia itu gadis yang baik, jadi kamu tidak usah khawatir. Aku titip Tania, tolong jaga dia baik-baik karena aku tidak ingin hal buruk menimpanya seperti waktu itu."


"Baiklah, jangan khawatir, aku akan menjaganya." Kania meyakinkannya dan Arya pun mengangguk.


"Kalau begitu, Papa pergi dulu, ya," ucap Arya pada putrinya.


Arya kemudian kembali ke kantornya meninggalkan Selly yang sedang memperhatiakan Kania. Wanita cantik itu kemudian berjalan mendekatinya. "Bagaimana menurutmu? Apa Arya itu sangat tampan?" tanya Selly yang membuat Kania menatapnya..Kania tidak menjawab dan berjalan meninggalkannya sembari menggendong Tania.


"Hei, aku sedang bicara denganmu. Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku?" Selly berjalan mengikutinya, tapi Kania tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Maaf, aku di sini bukan untuk menjawab pertanyaanmu. Tugasku di sini hanya untuk menyayangi dan menjaga Tania, tidak lebih. Jika kamu berpikir aku menyukai papanya Tania, kamu salah besar." Selly terkejut dengan jawaban Kania padanya. Terbesit senyuman di bibir ranumnya.


"Jadi, kamu tidak menyukai Arya? Kalau kamu tidak menyukainya, kenapa kamu mau dipanggil mama oleh putrinya?"

__ADS_1


Pertanyaan Selly membuat Kania menatapnya dengan tatapan yang tajam hingga membuat Selly terkejut. "Itu karena aku menyayanginya. Aku menyayanginya karena Tania sudah aku anggap seperti putriku sendiri. Apa kamu puas?" Kania lantas meninggalkan Selly yang perlahan menyunggingkan senyuman.


"Baiklah, aku suka dengan caramu itu. Kita lihat saja nanti, apakah pesona Arya sanggup untuk meluluhkan hatimu?" batin Selly yang kemudian mengikuti Kania dari belakang.


__ADS_2