
Ryan Wicaksana, sosok pemuda dengan wajahnya yang tampan. Dia adalah anak bungsu dari Wicaksana yang berarti adalah adik Arya Wicaksana. Sejak 4 tahun yang lalu, Ryan memutuskan untuk tinggal di Amerika mengikuti ayahnya. Tepatnya, setelah dia memutuskan hubungannya dengan Kania.
Mimik wajah pemuda itu tampak berubah saat melihat sosok wanita yang kini tengah bersanding dengan kakaknya. Seakan tak percaya, Ryan mengucek matanya untuk memastikan wajah yang sangat di kenalnya itu, tapi wajah itu tetap sama. Wajah wanita yang pernah membuatnya jatuh cinta dan juga sakit hati. Pemuda itu lantas bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamarnya.
"Ryan, kamu mau kemana?"
Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan ayahnya dan tetap berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya. Wajahnya tampak menahan marah karena wanita yang dianggapnya sebagai wanita murahan itu kini telah menikah dengan kakaknya. "Sialan! Apa dia ingin menjadikan Kak Arya sebagai mangsa selanjutnya? Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti Kak Arya." Ryan terlihat marah hingga membuatnya memukuli samsak yang tergantung di langit-langit kamarnya.
Ryan kemudian keluar dari kamarnya dan menemui sang ayah yang masih antusias menyaksikan akad nikah yang baru saja selesai.
"Ayah, aku akan ikut Ayah pulang ke Indonesia." Ucapan Ryan membuat ayahnya memandanginya dengan heran.
"Kenapa sekarang kamu berubah pikiran? Bukannya, kemarin kamu bilang tidak ingin pulang ke Indonesia?"
"Aku sudah memutuskan untuk ikut pulang bersama Ayah, lagipula sudah hampir 3 tahun aku tidak bertemu Kak Arya dan juga keponakanku."
"Ya sudah, kalau begitu kamu siap-siap saja. Lusa kita sudah berangkat." Ayahnya kembali menatap layar laptopnya dan wajahnya tampak tersenyum saat melihat Arya dan menantunya itu duduk bersanding dengan cucu perempuannya yang terlihat tersenyum di pangkuan sang menantu.
"Ryan, istri kakakmu itu sangat cantik dan lihat Tania yang sepertinya sangat akrab dengannya. Ah, Ayah sangat bahagia karena kakakmu kini sudah menemukan wanita yang menyayangi Tania." Pemuda itu tak menjawab dan pergi begitu saja meninggalkan ayahnya.
"Hei, kamu mau kemana? Sini, kakakmu ingin melihatmu." Panggil ayahnya saat Ryan baru saja membuka pintu kamar.
"Aku bukan anak kecil lagi Ayah. Bilang pada Kak Arya untuk menungguku saja di rumah karena aku punya kejutan untuknya." Ryan kemudian masuk ke kamarnya dan mengambil kunci mobilnya.
"Kamu mau kemana lagi?"
"Biasa, Yah. Aku mau jalan-jalam sebentar." Ryan kemudian menuju mobil sport berwarna hitam dan masuk ke dalam mobil itu. Tak lama kemudian, pemuda tampan itu terlihat meninggalkan halaman parkiran.
"Ayah, mana Ryan?" tanya Arya saat melihat ayahnya yang duduk seorang diri.
"Adikmu itu baru saja pergi. Tenang saja, dia akan ikut Ayah pulang ke Indonesia. Katanya, dia punya kejutan untukmu."
Arya tersenyum. "Kejutan? Ah, paling dia hanya ingin meminta uang jajan dariku." Ayahnya tertawa mendengar ucapan anaknya itu. Ryan memang selalu manja pada Arya. Sejak ibu mereka meninggal, kakak beradik itu mulai akrab karena hanya mereka berdua saja yang dimiliki ayahnya saat ini. Mereka berdua begitu saling menyayangi. Walau jarak memisahkan, tapi kakak beradik itu selalu mengabari kabar mereka masing-masing.
Di sebuah kafe, Ryan terlihat duduk sembari menikmati secangkir coffe latte. Alunan suara merdu Richard Marks yang diputar di kafe itu membuat Ryan semakin larut dalam kesedihannya. Samar-samar, ingatan di masa lalunya mulai mengganggu pikirannya. Masa indah yang pernah terukir bersama gadis pujaannya yang begitu dicintainya. Pertemuan pertama yang menjadi awal kisah cinta mereka.
Saat itu, Kania baru saja datang bersama Bastian di kantin kampus mereka. Sebagai anak baru, Kania cukup terkenal karena wajahnya yang cantik dan sikapnya yang baik. Walau begitu, ada saja orang-orang yang iri padanya.
Di kampus, Kania tidak terlalu punya banyak teman. Teman yang selalu menemaninya hanyalah Bastian. Hingga suatu hari, kejadian tak mengenakkan itu terjadi. Di depan umum, Bastian diolok-olok karena kemiskinannya. Tak hanya itu, Bastian bahkan dibully oleh beberapa orang pemuda yang rupanya tidak suka melihatnya dekat dengan Kania.
Di depan banyak orang, Bastian dipermalukan. Kania yang tidak tahan dengan sikap mereka, dengan lantangnya membela sahabatnya itu. "Memangnya kenapa jika dia miskin? Apa hak kalian untuk mengatainya seperti itu? Kalianlah sebenarnya yang miskin karena hati kalian lebih kotor dari sampah." Ucapan Kania membuat beberapa orang dari mereka tak terima. Wajah mereka memerah saat dia melontarkan kalimat itu.
__ADS_1
"Ternyata gadis kaya dan cantik sepertimu mempunyai selera yang sangat buruk. Coba lihat dia, apa yang kamu suka darinya?"
Kania tersenyum dan memandangi Bastian. "Aku mengaguminya. Setidaknya, dia bisa membiayai ibu dan ketiga adiknya dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri. Kalian begitu bangga dengan kekayaan orang tua kalian, tapi dia harus bekerja keras untuk membiayai kuliah dan keluarganya. Lantas, apa yang harus aku sukai dari kalian? Jika belum mampu untuk menghasilkan uang sendiri, maka jangan meremehkan orang lain. Seharusnya, kalian merasa malu padanya karena dia bisa menghasilkan uang dengan hasil keringatnya." Kania tak peduli dengan tatapan orang-orang yang mengarah padanya.
Merasa tak terima dipermalukan oleh Kania, dua orang pemuda perlahan mendekatinya. Wajah mereka tampak marah dengan tangan yang mengepal. Melihat Kania yang dihampiri dua pemuda, membuat Bastian berdiri di depan sahabatnya itu. "Jika kalian menyentuhnya, aku akan membunuh kalian!" Tatapan matanya begitu tajam. Wajahnya yang polos perlahan terlihat sangar. Matanya liar mengarah pada dua pemuda itu.
"Kenapa? Apa kamu berani melawan kami? Kamu pikir kamu siapa?"
"Aku adalah sahabatnya. Jika kalian menyentuh ujung rambutnya saja, kalian akan habis di tanganku!!" Bastian kembali mengancam. Kali ini dia terlihat sungguh-sungguh hingga membuat dua pemuda itu menjadi ciut.
"Dasar orang tidak tahu di untung!" Salah seorang pemuda lantas mengarahkan pukulan ke arah wajah Bastian, tapi lelaki itu dengan sigap menghindar hingga pukulannya mengenai ruang kosong. Karena gagal menghajar wajahnya, kedua pemuda itu mulai mengeroyok Bastian, tapi tiba-tiba Ryan datang dan membantunya. Melihat Ryan datang membantu Bastian membuat ke dua orang itu segera mundur.
"Kenapa berhenti? Ayo, maju!" Ryan yang mempunyai postur tubuh atletis cukup membuat nyali kedua pemuda itu menciut. Ryan bukanlah pemuda biasa. Di kampus, dia cukup disegani karena prestasinya di bidang olah raga bela diri. Dia adalah salah satu atlit taekwondo yang cukup berprestasi. Tak hanya itu, orang tua Ryan juga mempunyai andil di kampus itu.
"Pergilah, kami tidak punya urusan denganmu!"
"Siapa bilang aku tidak punya urusan dengan kalian. Mereka sekarang adalah teman-temanku, jadi sekarang masalah mereka juga menjadi masalahku. Jika kalian tidak terima, kalian semua boleh maju." Ryan yang tak kenal takut itu kemudian memasang kuda-kuda. Pemuda yang sudah meraih medali emas dalam kejuaraan Taekwondo antar kampus itu rupanya tak main-main. Sedari tadi dia berusaha menahan diri agar tidak ikut campur, tapi melihat tingkah kedua pemuda yang sudah keterlaluan itu akhirnya membuatnya turun tangan.
Karena segan dan takut, kedua pemuda itu akhirnya pergi. Melihat Ryan yang tampak serius menantang mereka cukup membuat keduanya berpikir ribuan kali untuk tetap melawan.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Ryan saat melihat Bastian yang menyeka bibirnya yang berdarah.
"Aku tidak apa-apa, terima kasih." Bastian tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan Ryan membalas dengan menerima uluran tangannya itu.
"Hei, jangan menangis, aku baik-baik saja." Bastian mengusap air bening itu dan mengulum senyum di bibirnya.
"Kania, jangan khawatir. Sekarang sudah ada orang yang akan menjaga kita karena sekarang kita sudah punya teman baru. Iya, kan teman?" Bastian memandangi Ryan yang tampak memperhatikan Kania yang menunduk menahan tangisnya.
"Iya, tenang saja. Selama ada aku, tidak akan ada orang di kampus ini yang akan mengganggu kalian."
Kania lantas mengangkat wajah dan memandangi Ryan. Sontak, Ryan begitu kagum dengan pesonanya. Bukan hanya karena kecantikan, tapi sikap yang baik dan tak pandang status sosial dalam berteman membuat Ryan kagum padanya. Apalagi saat Ryan melihatnya yang begitu membela sahabatnya, membuat Ryan menjadi penasaran dengan gadis itu.
Sejak kejadian itu, mereka bertiga mulai bersahabat. Kemana-mana, mereka selalu bersama. Hingga perasaan yang dirasakan Ryan pada Kania tak mampu lagi dia tahan. Apalagi saat melihat Kania yang beberapa kali didekati oleh beberapa pemuda.
"Kamu suka sama Kania?" Ryan terkejut saat Bastian bertanya tentang perasaannya pada Kania. Ryan tampak malu untuk mengakui perasaannya pada sahabatnya itu.
"Kalau kamu suka padanya, cepat katakan saja padanya. Kalau tidak, kamu bisa menyesal karena Kania akan direbut pemuda lain."
Ryan terlihat bingung. Dia takut jika Kania menolaknya, maka dia tidak bisa lagi berteman dengan gadis itu. Namun, jika dia tidak mengungkapkan perasaannya itu, maka selamanya perasaannya itu akan terus menyiksanya.
"Apa menurutmu dia akan menerimaku?"
__ADS_1
Bastian mengangguk dan tersenyum. "Katakan saja perasaanmu itu padanya, aku yakin dia pasti akan menerimamu." Bastian berusaha meyakinkan sahabatnya itu dan akhirnya, Ryan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
Sore itu, mereka bertiga berjanji untuk bertemu di salah satu kafe yang cukup digandrungi anak muda saat itu. Kafe yang menyajikan menu rumahan dengan suasana rumah menjadi tempat yang asyik untuk mereka berkumpul.
Kania terlihat duduk dengan santai sambil mendengarkan tembang lawas mancanegara yang diputarkan di dalam kafe. Begitupun dengan Ryan yang sudah duduk di sampingnya.
"Bastian kenapa lama sekali? Janjinya jam 4, tapi sekarang sudah jam 5 kenapa dia belum muncul juga?" Kania tampak khawatir dan segera mengambil ponsel di dalam tasnya. Baru saja dia akan menghubungi sahabatnya itu, ponselnya berdering dan itu dari Bastian.
Bastian rupanya tak bisa datang karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya dan dia memaklumi itu.
"Apa katanya?"
"Dia tidak bisa datang karena masih bekerja."
"Kalau begitu, apa kita berdua saja yang pergi nonton?" Kania mengangguk, tapi wajahnya terlihat tak bersemangat.
"Kania, apa kamu menyukai Bastian?" Kania memandangi Ryan yang begitu penasaran dengan hubungan kedua sahabatnya itu.
"Aku menyukainya, sangat menyukainya karena dia adalah sahabat terbaikku. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri dan aku tidak bisa merubah perasaan itu. Dia hanya sahabatku, tak lebih." Jawaban Kania membuat wajah Ryan tersenyum lepas. Setidaknya, dia sekarang tahu kalau hubungan kedua sahabatnya itu hanya sebatas teman, tak lebih.
"Kania, apa aku punya kesempatan untuk meminta lebih?" Kania memandangi pemuda itu dengan seksama.
"Apa maksudmu?"
"Aku menyukaimu." Ryan dengan spontan mengungkap perasaannya. Kania terkejut, tapi tak lama dia tersenyum.
"Kamu bercanda, kan?"
"Aku tidak bercanda. Aku serius, Kania. Aku sungguh mencintaimu." Wajah Kania tiba-tiba memerah. Dia merasa malu hingga membuat wajahnya menunduk.
"Maafkan aku, karena membuatmu terkejut, tapi itu adalah perasaanku. Aku mencintaimu dan aku ingin menjagamu. Kania, izinkan aku untuk menjadi pacarmu. Aku berjanji, akan selalu mencintai dan menjagamu." Ryan berucap dengan sungguh-sungguh. Tatapan matanya tersirat pengharapan yang begitu besar. Sore itu, hujan perlahan jatuh. Rintik air hujan terdengar begitu syahdu seiring ucapan janji dari Ryan yang tak hentinya meminta pengharapan darinya.
Kania masih terdiam, tapi rinai air hujan yang jatuh perlahan membuatnya begitu menikmati saat indah itu hingga membuatnya menerima perasaan Ryan padanya tanpa ragu sedikitpun.
Ryan terlihat begitu bahagia saat Kania menerima cintanya. Entah sejak kapan, Kania merasakan perasaannya yang sama. Namun yang pasti, mereka terlihat bahagia saat memulai hubungan dengan status yang baru. Status sebagai pasangan kekasih.
Sejak saat itu, mereka mulai menjalin kasih. Tak sedikit ujian cinta yang datang menghampiri, namun masih bisa mereka berdua hadapi. Hingga 2 tahun kemudian, ujian cinta benar-benar menguji saat Ryan mendapati Kania berjalan bergandeng mesra dengan pemuda lain. Hatinya hancur melihat perubahan Kania yang tiba-tiba. Walau sudah meminta penjelasan, Kania enggan menjelaskan. Kesempatan kedua yang diberikan Ryan untuknya, sama sekali tak indahkan. Bahkan, Bastian pun tutup mulut saat Ryan meminta penjelasan.
Ryan yang kecewa karena merasa dikhianati, akhirnya dengan berat hati mengambil keputusan, yaitu perpisahan. Dan, kembali dia harus kecewa karena Kania menerima perpisahan itu tanpa berkata apapun, seakan dia memang tak ingin lagi mempertahankan hubungan mereka.
Tak menunggu waktu lama, Ryan akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan melanjutkan kuliah di luar negeri. Hingga hatinya kembali terusik saat melihat wajah itu lagi.
__ADS_1
"Hei, kenapa melamun?" Ryan terkejut saat di depannya berdiri seorang wanita cantik yang memandanginya. Lamunan masa lalunya tiba-tiba buyar seiring senyuman wanita itu yang mengarah padanya. Senyuman yang membuat dirinya melupakan akan cinta di masa lalunya. Senyuman yang akhir-akhir ini mulai mengisi kesunyian hatinya.