Cinta Kania

Cinta Kania
Part 38


__ADS_3

Keberadaan Bastian di bandara bukan tanpa sebab. Selly yang baru saja pergi ke Italia untuk mengurus pekerjaan di sana merasa khawatir pada Kania. Gadis itu sangat peduli pada Kania hingga membuat Bastian semakin salut dengannya. Walau pergi hanya beberapa hari, tapi gadis itu begitu khawatir akan sahabatnya itu. "Jangan khawatir, selama tidak ada yang tahu kalau pernikahan mereka adalah pernikahan kontrak, Kania akan baik-baik saja. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan Kania."


Kata-kata itulah yang tak sengaja didengar oleh Ryan saat mengikuti Bastian dari belakang dan kata-kata itulah yang membuat Ryan mengambil keputusan untuk segera kembali dan membatalkan penerbangannya.


Dengan semangat, pemuda itu kembali pulang. Rasanya, dia begitu bahagia ketika tahu kalau gadis yang dicintainya hanya melakukan pernikahan kontrak dengan kakaknya. Walau tidak tahu alasan gadis itu melakukan pernikahan kontrak, tapi setidaknya dia masih mempunyai peluang untuk bisa mendapatkan cinta Kania lagi.


Setibanya di halaman rumahnya, Ryan keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Matanya liar mencari sosok Kania, tapi tidak dia temukan. Yang ada hanya Bi Suri yang terkejut saat melihat majikannya itu. "Nak Ryan sudah kembali? Syukurlah." Tiba-tiba wanita paruh baya itu menangis.


"Bi Suri, ada apa? Kenapa Bibi menangis?" Ryan begitu penasaran saat melihat wanita paruh baya yang sudah bekerja sejak dia masih kecil itu menangis di depannya.


"Tuan Wicaksana sekarang ada di rumah sakit. Tadi, tiba-tiba Tuan pingsan. Wajahnya sangat pucat. Nyonya Kania langsung membawanya ke rumah sakit."


Mendengar penjelasan Bi Suri, Ryan begitu terkejut. "Aku akan ke rumah sakit sekarang." Ryan lantas menuju sepeda motornya yang sedang terparkir dan pergi ke rumah sakit. Setibanya di sana, dia begitu terkejut mendapati ayahnya yang kini terbaring dengan alat-alat yang sudah menempel di tubuhnya. Seketika, Ryan menitikkan air mata. "Apa yang terjadi dengan ayah?" tanya pemuda itu pada Kania yang begitu terkejut saat melihat kedatangannya.


"Ryan, kenapa kamu bisa ada di sini? Bukankah, kamu sudah pergi ke Amerika?" Kania mendekati pemuda itu yang kini tengah menahan tangis.


"Ayah kenapa? Aku ingin menemuinya." Kania segera mencegah pemuda itu saat dirinya memaksa untuk masuk ke dalam ruangan ayahnya itu.


"Kamu tidak bisa masuk ke sana karena ayah masih dalam perawatan dan tidak boleh dijenguk untuk sementara. Kita hanya bisa melihatnya dari sini." Kania mencegahnya dan mencoba menenangkan pemuda itu, hingga dia terkejut saat Ryan tiba-tiba memeluknya dan menangis dalam pelukannya.


Melihat Ryan menangis di pelukannya, Kania diam terpaku dan tidak bisa berbuat apa-apa. Rasanya, tidak mungkin baginya mengelak atau menolak karena saat ini, pemuda itu pasti sangat sedih. "Kita doakan saja semoga ayah secepatnya sadar. Sudahlah, jangan menangis lagi." Kania mengelus lembut punggung pemuda itu yang kini memeluknya erat hingga Kania terkejut saat Arya tiba-tiba datang. Seketika, Kania menjadi bingung hingga hampir membuatnya melepaskan diri dari pelukan Ryan. Namun, Arya perlahan mendekati mereka dan menepuk punggung adiknya itu pelan.


"Jangan menangis, kita harus tabah. Kita harus yakin kalau ayah akan baik-baik saja." Melihat kakaknya, Ryan melepaskan pelukan dari Kania dan memeluk kakaknya itu. "Syukurlah kalau kamu tidak jadi pergi karena itu yang Kakak harapkan. Kakak senang karena kita berdua ada di saat ayah memerlukan kita." Arya mengelus punggung adiknya itu dan mencoba menenangkannya walau dia sendiri merasakan kesedihan, tapi tak mungkin bisa untuk dia tunjukkan.


Melihat mereka yang begitu saling menyayangi, Kania jadi merasa bersalah karena dia telah hadir di antara mereka. Kania akhirnya memutuskan untuk meninggalkan mereka dan memilih duduk di kursi depan koridor. "Mereka begitu saling menyayangi, tapi kenapa aku merasa sangat tidak pantas ada di antara mereka?" Kania kini menjadi bimbang. Entah apa yang kini dia rasakan. Dari pelukan Ryan, dia bisa tahu kalau ada sesuatu yang lain dari pemuda itu.


Kania duduk sambil menundukkan wajahnya seakan ada beban yang kini tengah dipikulnya. Hingga tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya. "Terima kasih, karena kamu sudah menjaga ayah. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada ayah." Kania melihat kearah suara itu dan mendapati suaminya yang kini tengah menahan tangisnya.


Saat itu, Kania hendak membawakan segelas teh madu yang biasa dia buat untuk ayah mertuanya itu. Karena sudah menunggu terlalu lama di ruang tengah, akhirnya Kania memutuskan untuk membawanya ke kamar. Setelah beberapa kali mengetuk pintu dan tidak ada jawaban, Kania akhirnya memberanikan diri untuk membuka pintu dan dia terkejut saat melihat tubuh lelaki paruh baya itu sudah terbaring tak sadarkan diri di lantai kamar.


Walau begitu, Kania tidak panik. Dengan segera dia menghubungi rumah sakit dan meminta ambulance untuk datang. Tak butuh waktu lama, mobil ambulance itu akhirnya membawa ayah mertuanya itu ke rumah sakit.

__ADS_1


"Aku harap kamu dan Ryan bisa tabah. Aku tahu ini berat buat kalian, tapi yakinlah kalau semuanya pasti akan baik-baik saja." Kania berusaha menenangkan suaminya itu walau dia tahu apa yang diucapkannya itu adalah hal yang tidak mungkin, karena dia sudah tahu penyakit yang kini diderita oleh ayah mertuanya dan dia juga tahu kalau umur lelaki itu sudah tidak lama lagi.


Mendengar penuturan Kania, Arya tersenyum, tapi dengan air mata yang perlahan jatuh. "Sekarang, aku baru tahu rasanya takut kehilangan dan itu juga yang dulu kamu rasakan. Aku tahu penyakit ayah dan aku juga tahu kalau ayah tidak akan bertahan lebih lama karena ayah ... " Arya menghentikan kalimatnya karena dia tidak sanggup untuk membayangkan jika dia kehilangan sosok orang tua yang sangat berarti baginya itu.


Melihatnya menangis, Kania lantas memeluknya sambil menggenggam tangannya. "Bersabarlah, kita doakan yang terbaik buat ayah." Kania menitikkan air mata karena dia teringat akan ibunya. Dia tahu bagaimana rasanya melihat orang yang di sayang berada di ambang kematian. Dia tahu, saat ini Arya pasti begitu tertekan karena kapan saja ayahnya akan pergi untuk selamanya.


"Aku mohon, jangan katakan apapun pada Ryan tentang penyakit ayah. Biar kita berdua saja yang tahu. Kania, kali ini aku mohon untuk tetap ada di sisiku karena aku tidak tahu apa jadinya jika aku tanpamu. Aku ... " Arya mengeratkan pelukannya dan Kania mengangguk pelan sambil mengelus lembut punggung pemuda itu.


"Tenanglah, aku akan selalu ada di sisimu. Aku akan membantumu merawat ayah. Bukankah, ayahmu juga adalah ayahku?" Kania berusaha tersenyum di antara air matanya yang jatuh.


Sementara di balik pintu, Ryan melihat mereka saling memeluk. Walau dia tahu mereka hanya menikah kontrak, tapi ada sedikit rasa cemburu yang menggores hatinya. Ya, Ryan merasakan cemburu. Cemburu melihat kedekatan mereka, tapi dia berusaha menahan gejolak kecemburuannya itu karena saat ini dia ingin fokus pada kesembuhan sang ayah. Dengan langkah malas, Ryan kembali masuk ke dalam.


Sudah hampir tiga jam Wicaksana terbaring tanpa reaksi sedikitpun hingga membuat Arya semakin gelisah. Bukan hanya pemuda itu saja, tapi Ryan juga merasakan hal yang sama. "Kakak, apa yang terjadi pada ayah? Kenapa ayah belum juga sadar?"


"Tenanglah, itu hanya efek dari obat yang diberikan dokter pada ayah. Kita tunggu saja. Jika kamu lelah, kamu boleh pulang biar Kakak yang akan menjaga Ayah." Arya mencoba untuk membuat adiknya itu tenang.


"Tidak, Kak. Aku akan menunggu hingga ayah kembali sadar." Ryan menolak untuk pulang dan kembali duduk di kursi sambil memandangi ayahnya.


"Baiklah kalau begitu. Untuk siang ini, kamu di sini temani ayah, Kakak pulang dulu untuk menyiapkan baju-baju ayah. Nanti malam, Kakak akan menginap di sini dan kamu pulang dan istirahat. Jika ayah sadar, kita saling menghubungi. Bagaimana menurutmu?" tanya Arya pada adiknya itu.


Arya akhirnya kembali ke rumah bersama Kania. Walau terlihat tegar, tapi Kania tahu kalau Arya sangat terpukul mendengar berita tentang hidup ayahnya yang sudah tidak lama lagi. "Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Kania saat mereka baru saja meninggalkan rumah sakit.


"Aku tidak apa-apa." Arya berusaha tegar di depan Kania, tapi Kania tahu kalau pemuda itu tidak sedang baik-baik saja.


Selama perjalanan pulang, Arya banyak diam. Dia terlihat menahan kesedihan yang teramat dalam. Melihatnya, Kania hanya pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa untuknya.


Setibanya di rumah, Arya lantas masuk ke kamar ayahnya dan mengambil beberapa potong baju milik ayahnya itu. Di bawah tumpukan baju, Arya menemukan map coklat yang sengaja disembunyikan ayahnya. Dengan tangan gemetar, Arya mulai membuka map coklat itu dan membaca tiap kata yang tertulis hingga tangisnya tak bisa lagi dia tahan. "Ayah, kenapa ayah tidak berterus terang dan menceritakan penyakit ayah padaku? Kenapa ayah hanya menyimpannya seorang diri?" Arya menangis sambil memeluk map coklat itu.


Mendengar tangisannya, Kania segera masuk dan mendapati pemuda itu tengah menangis sesenggukan. "Tenanglah." Kania berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya sambil mengelus lembut punggungnya.


"Aku takut jika ayah akan benar-benar pergi." Kania menatap wajah pemuda itu yang telah basah dengan air mata. Ada rasa iba yang tiba-tiba muncul karena melihatnya menangis hingga tanpa sadar, Kania menghapus air mata pemuda itu.

__ADS_1


"Aku tahu kamu sedih, tapi jika ayah melihatmu sedih seperti ini, pasti ayah sangat sedih. Aku tahu, aku tidak bisa menghiburmu, tapi aku hanya ingin pastikan kalau aku akan selalu berada di sampingmu. Kita akan hadapi semua ini bersama-sama." Kania berucap dengan tulus hingga Arya memeluknya.


"Terima kasih." Arya kembali menangis dalam pelukannya dan Kania hanya bisa membiarkan tubuhnya menjadi sandaran bagi pemuda itu untuk menangis. Hingga Tania datang, Arya lantas menghapus air matanya.


"Papa kenapa menangis?" tanya gadis kecil itu polos.


Kania lantas tersenyum dan menggendongnya. "Papa tidak menangis kok sayang. Tania bisa bantu Mama tidak?"


"Bantu apa, Ma?"


"Beberapa hari ini, Papa dan Mama akan jarang ada di rumah karena kakek sedang sakit. Karena itu, Mama dan Papa harus menemani kakek di rumah sakit. Jadi, Mama minta sama Tania untuk bermain di rumah bersama Mbak Surti. Kalau kakek sudah sembuh, Mama janji kita akan main lagi. Bisa, kan?"


Gadis kecil itu mengangguk dan memeluk Kania. "Iya, Ma. Bisa, kok."


Melihat putrinya yang begitu pengertian, Arya kemudian bangkit dan memeluk Kania dan juga putrinya itu. "Papa menyayangi kalian. Kalian adalah kehidupan Papa."


Mendengar ucapan Arya, Kania terhentak. Dia terkejut saat pemuda itu mengatakan kalimat yang membuat jantungnya berdebar hebat. Melihat ekspresi Kania, Arya tersenyum dan mengangguk padanya. "Apakah kita bisa tetap selamanya seperti ini? Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi aku ingin kamu tetap menjadi istriku dan menjadi ibu dari putriku." Kania menatap wajah pemuda itu, tanpa sadar Kania menitikkan air mata. Dengan wajah yang menunduk, Kania mengangguk hingga membuat Arya semakin mengeratkan pelukannya.


Entah apa yang kini sedang dirasakan oleh Kania. Gadis itu begitu bahagia saat Arya memintanya untuk tetap ada di sisinya. Bukan lagi menjadi istri yang hanya sementara, tapi menjadi istri untuk selamanya.


"Tania main dulu sama Mbak Surti karena Papa ingin bicara dulu sama Mama."


"Iya, Pa." Gadis kecil itu kemudian pergi.


"Maaf, jika apa yang aku minta padamu tadi membuatmu terkejut, tapi itu memang benar. Aku ingin kamu tetap menjadi istriku karena aku ... " Arya menghentikan kalimatnya dan memandangi wajah gadis yang kini berdiri di depannya. "Karena aku menyayangimu."


Kania yang sedari tadi menunduk perlahan mengangkat wajahnya dan manatap lurus ke arah pemuda itu. "Kamu tidak bercanda, kan?"


Arya lantas meraih tangan Kania dan menggenggamnya erat. "Aku tidak bercanda dan aku tidak pernah main-main dengan perasaanku. Aku sungguh menyayangimu dan aku tidak tahu sejak kapan aku merasakan itu. Yang aku tahu, aku tidak ingin melepasmu." Kembali Kania terkejut hingga membuatnya menangis.


"Untuk saat ini, aku merasa tenang karena aku sudah mengungkapkan perasaanku. Aku tahu secara agama kita adalah suami istri, tapi aku tidak akan menyentuhmu selama kamu tidak mengizinkanku. Aku akan menunggu hingga kamu benar-benar mau menerimaku dan mencintaiku. Untuk saat ini, kita fokus pada ayah dan kita jalani saja hubungan ini selayaknya pasangan kekasih. Dan bantu aku untuk menjalani cobaan ini, aku mohon."

__ADS_1


Mendengar ungkapan hati pemuda itu, Kania tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, kita jalani saja hubungan ini. Aku janji akan selalu ada di sampingmu dan juga Tania."


Arya tersenyum dan mendekap tubuh istrinya itu sambil mengecup keningnya. Rasanya, dia begitu bahagia karena wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta itu ternyata juga merasakan hal yang sama padanya. Bersama Kania, Arya sudah bertekad untuk menjalani kehidupan pernikahan tanpa kepura-puraan, karena cinta yang dia rasakan benar-benar tulus. Dan bersama gadis itu, dia ingin hidup bahagia bersama putrinya dan membangun sebuah keluarga kecil yang utuh dan penuh kebahagiaan.


__ADS_2