Cinta Kania

Cinta Kania
Part 25


__ADS_3

Hari menjelang siang saat mobil yang dikendarai Ryan masuk ke pelataran halaman rumah. Dari dalam mobil, keluar lelaki paruh baya dengan penampilannya yang terlihat sederhana. Hanya dengan balutan celana panjang kain dan baju kaus ala kadarnya, lelaki itu perlahan masuk ke dalam rumah.


Di depan pintu, Kania sudah berdiri bersama Tania dalam gendongannya. Melihat mereka, lelaki itu tersenyum. "Menantuku." Lelaki itu tersenyum saat Kania menjabat tangannya sambil mencium punggung tangannya itu. Wajahnya terlihat bahagia saat melihat cucu dan menantunya yang berdiri menyambutnya.


"Tania, Kakek sangat merindukanmu." Lelaki itu mengambil Tania dari gendongan Kania. Walau awalnya gadis kecil itu merasa enggan, tapi saat melihat Kania yang mengangguk untuknya, gadis kecil itu akhirnya tak mengelak saat kakeknya itu menggendongnya.


"Cucu Kakek sudah tambah besar. Kakek sangat merindukanmu." Lelaki paruh baya itu mencium pipi cucunya itu hingga membuat Tania tertawa geli.


"Ayah, sebaiknya Ayah istirahat saja dulu. Biar istriku yang menjaga Tania."


"Tidak apa-apa. Ayah kemari karena merindukan cucuku ini. Menantuku, ayo sini, duduk temani aku di sini." Lelaki itu memandangi Kania yang sedari tadi hanya berdiri. Kania kemudian duduk tak jauh darinya. Sementara kedua kakak beradik itu tampak sibuk memasukkan koper-koper ayah mereka ke dalam kamar.


Bi Suri datang membawa segelas kopi kesukaan majikannya itu. Dengan tersenyum, lelaki itu mulai menyeruput kopi yang baru saja diletakkan Bi Suri di atas meja. "Hmm, kopi buatan Bi Suri memang yang paling enak." Pujinya sambil tersenyum. Bi Suri hanya tersenyum dan kembali ke dapur.


"Menantuku, apa kedua anakku itu merepotkanmu?"


Kania tersenyum dan memandangi wajah renta yang terlihat bijaksana itu. "Tidak, Ayah. Mereka tidak merepotkanku. Aku senang karena rumah ini ramai dengan kehadiran Ayah dan juga adik ipar."


Lelaki itu kembali tersenyum. "Syukurlah kalau begitu."


Setelah selesai meletakkan barang-barang milik ayah mereka, kedua kakak beradik itu lantas duduk di dekat ayah mereka. "Ayah, apa urusan Ayah di sana sudah selesai?" tanya Arya mencoba mencari tahu.


"Sudah, Ayah sudah menyelesaikannya. Oh, iya, Ayah tidak akan kembali lagi ke sana. Ayah ingin tinggal di sini bersama kalian." Sontak, Arya terkejut saat mendengar penuturan ayahnya itu.


"Kenapa kalian diam? Apa kalian tidak suka Ayah tinggal bersama kalian?"


"Tidak, Ayah. Tinggallah di sini sampai kapanpun. Aku dan suamiku sangat senang karena Ayah bisa tinggal bersama kami." Kania tersenyum saat mengucapkan kalimat itu. Entah mengapa, dia mengiyakan permintaan mertuanya itu. Melihatnya, Kania sangat senang karena sosoknya mengingatkannya pada sang ayah.


"Apa maksud ucapan Ayah? Kenapa Ayah tidak ingin kembali lagi ke sana? Lalu, bagaimana dengan perusahaan dan rumah kita yang ada di sana?" Ryan begitu terkejut saat mendengar penjelasan ayahnya itu.


"Jangan khawatir, semua baik-baik saja. Sebaiknya, Ayah istirahat dulu. Nanti setelah itu, Ayah akan jelaskan pada kalian." Lelaki itu menyerahkan cucunya pada Kania dan melangkah pergi menuju ke kamarnya. Terlihat, wajah rentanya tampak lelah.


"Kakak, apa maksud ucapan ayah? Kenapa ayah mengatakan hal seperti itu?"


"Sudahlah, kita tunggu saja hingga ayah menjelaskannya. Saat ini, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak dulu."


Dari raut wajahnya, Ryan terlihat begitu cemas. Jika ayahnya tak lagi kembali ke Amerika, otomatis dia juga tidak akan kembali ke sana. Dengan kesal, pemuda itu berjalan menuju ke kamarnya.


"Kania, aku ingin bicara denganmu." Arya berjalan menuju ke kamar dan Kania mengikutinya dari belakang.


"Duduklah." Arya duduk di kursi sofa dan Kania pun duduk di sampingnya.


"Kamu sudah dengar dari Ayah kalau dia akan tinggal di sini dan tidak akan kembali lagi ke Amerika. Kamu tahu, kan, jika itu benar, maka kita akan selamanya tetap bersandiwara. Dan tadi, kamu tidak keberatan saat ayah mengatakan untuk tinggal di sini. Jujur, aku tidak mengerti dengan jalan pemikiranmu. Apa kamu mau selamanya kita ada dalam sandiwara ini?"


Kania mengerti dengan kekhawatiran lelaki itu. Dia juga sadar, apa yang diucapkannya tadi akan membuatnya terus berada di rumah itu dan akan terus menjalani sandiwara pernikahan yang entah berakhir sampai kapan.


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengambil keputusan itu secara sepihak. Aku hanya spontan mengucapkan tanpa maksud apapun. Jujur, aku senang saat melihat ayahmu, tapi jika kamu keberatan dengan apa yang aku ucapkan tadi, aku minta maaf." Kania menundukkan wajahnya dan terlihat penyesalan di wajah cantiknya itu.

__ADS_1


"Aku tidak marah padamu, tapi aku khawatir padamu. Aku tidak keberatan ayah tinggal di sini, tapi aku tidak berpikir kalau kamu masih mau tinggal di sini. Kania, apa kamu sadar dengan ucapanmu tadi? Apa kamu mau bersandiwara selama ayah ada di sini?"


"Aku tidak keberatan!" Kania mengangkat wajahnya dan menatap Arya dengan sorot matanya yang berbinar.


"Kamu tidak keberatan? Apa kamu sudah memikirkannya? Kania, apa kamu sadar kalau keputusanmu itu tidak akan membuatmu menyesal? Apa kamu mau bersandiwara selama hidupmu?"


"Kenapa? Apa kamu sudah tidak ingin melanjutkan sandiwara ini?" Wajah Kania tiba-tiba berubah. Wajahnya terlihat sedih.


Arya memandangi Kania yang tampak berubah. Sorot matanya tiba-tiba berubah sendu. "Aku suka ada di sini. Saat melihat ayahmu, aku ingat pada ayahku yang dulu. Saat ada di meja makan, aku teringat dengan keluargaku saat bercanda sambil sarapan. Melihat Tania, aku seperti melihat bayangan diriku sendiri. Aku ... aku ingin berada di tengah keluargamu karena aku ... " Kania terdiam. Air matanya perlahan jatuh. Kerinduan pada keluarga, kerinduan pada kehangatan dan kebersamaan sebuah keluarga membuat Kania merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka.


"Aku bahagia ada sini. Walau pernikahan kita adalah sebuah sandiwara, tapi semua yang aku berikan dan yang aku rasakan bukanlah sebuah sandiwara. Aku tidak ingin bersandiwara di depan mereka. Arya, berikan aku sedikit waktu bersama mereka. Aku akan pergi jika suatu saat nanti kamu menemukan seorang wanita yang bisa memberikan kasih sayang pada Tania dan keluargamu. Aku janji, aku akan pergi, tapi sebelum itu terjadi, aku mohon biarkan aku tetap di sini." Kania tampak memohon.


"Baiklah, jika kamu masih mau bertahan, aku tidak akan melarang. Jika kamu bisa mencintai mereka seperti keluargamu sendiri, aku juga tidak bisa melarang. Kalau itu keputusanmu, aku akan ikuti."


"Benarkah? Aku masih boleh tinggal di sini? Kamu tidak keberatan, kan?" Arya mengangguk dan tersenyum padanya. Sontak, Kania segera memeluk lelaki itu. "Terima kasih. Aku senang jika kamu tidak keberatan, aku senang." Kania tersenyum bahagia sambil memeluk Arya. Lelaki itu diam terpaku saat Kania memeluknya. Sepintas, dia tersenyum saat Kania melepaskan pelukannya dan berjalan keluar dari dalam kamar dengan senyum riangnya.


"Ah, aku bisa gila jika dia terus melakukan ini padaku. Apa dia memang sepolos itu? Ah, Kania. Kamu bisa membuat aku gila dengan sikapmu itu." Arya tersenyum membayangkan kembali tingkah Kania yang baginya sangat menggemaskan.


Di dalam kamar Tania, gadis itu tersenyum sambil memeluk putri kecilnya itu. "Mama kenapa?"


"Mama sedang bahagia. Kita akan bersama lebih lama. Mama sayang sama kamu." Kania mengecup pipi gadis kecil itu sambil tersenyum. Tania yang melihat ibunya itu tersenyum bahagia membuatnya ikut tersenyum dan membalas mengecup pipi ibunya itu.


Di dalam kamar, Wicaksana tampak berbaring sambil memandang langit-langit kamar. Wajah rentanya terlihat sayu. Lelaki itu kemudian duduk dan mengambil sebuah koper yang ada di lantai. Koper yang tidak terlalu besar itu kemudian dibukanya dan mengambil sebuah map coklat yang tergeletak di atas tumpukan baju.


Dengan tangannya yang gemetar, Wicaksana membuka map itu. Lembaran tiap lembaran dibukanya. Sontak, air matanya jatuh membasahi pipi keriputnya. "Maafkan ayah. Ayah tidak bisa berterus terang pada kalian. Ayah ingin menghabiskan sisa hidup ayah dengan kalian. Ayah bahagia jika akhir hidup ayah bisa berada di tengah-tengah kalian." Air bening perlahan dihapusnya. Map coklat itu lantas disimpannya kembali.


Map itu adalah hasil pemeriksaan kesehatannya. Sesaat menjelang kedatangannya ke Indonesia, Wicaksana melakukan tes kesehatan. Karena itulah, kedatangannya meleset dari jadwal sebelumnya. Karena tidak ingin anak bungsunya itu curiga, Wicaksana akhirnya meminta anaknya itu datang terlebih dulu.


Wicaksana perlahan menghapus air matanya. Wajah renta itu terlihat begitu sedih. Bagaimana tidak, dokter ternyata telah memvonis hidupnya yang hanya bisa bertahan selama dua tahun. Rasanya, bagaikan tersambar petir saat dokter mengatakan itu. Lelaki paruh baya itu tak kuasa menahan tangis. Walau begitu, dia tidak ingin larut dalam kesedihannya dan harus memperlihatkan wajah cerianya di depan keluarganya. Dia tidak ingin, mereka sedih saat mendengar perihal penyakitnya.


"Ah, tak mengapa jika Tuhan memberikanku waktu secepat itu. Asalkan bersama keluargaku, aku akan ikhlas menerima takdirku."


Wicaksana tersenyum di antara air mata. Sebuah foto usang ditatapnya dengan wajah yang tersenyum bahagia. "Istriku, tunggu aku. Tak lama lagi, kita pasti akan bertemu. Maafkan aku, karena aku masih ingin bersama dengan anak, cucu dan menantu kita. Aku ingin membuat mereka bahagia. Setelah itu, aku pasti akan menemuimu."


Kembali, lelaki itu menghapus air matanya. Walau sedih, dia harus berpura-pura tegar di depan keluarganya. Walau sakit, dia harus berpura-pura sehat dan kuat di depan mereka.


"Ayah, apa Ayah sudah tidur?" Suara Arya mengagetkannya. Sambil menghapus air matanya, Wicaksana bangkit dan membuka pintu kamarnya.


"Ada apa, Nak?"


"Sudah waktunya kita makan siang, Yah."


"Baiklah." Wicaksana keluar dan menutup pintu kamarnya. Di ruang makan, Ryan dan Tania sudah menunggu. Sementara Kania, masih membantu Bi Suri untuk menyiapakan makanan.


"Mana istrimu?"


"Di dapur, Yah. Dia sedang membantu Bi Suri."

__ADS_1


"Arya, jangan buat istrimu mengurus dapur lagi. Kasihan dia karena harus menjaga Tania dan juga mengurusmu. Pokoknya, kamu harus mencari seorang asisten rumah tangga untuk membantu Bi Suri. Ayah tidak ingin menantu Ayah kelelahan. Mengerti?"


"Iya, Yah. Mungkin sebentar keponakan Bi Suri datang untuk bekerja di sini."


"Bagus kalau begitu."


Kania datang dari dapur sambil membawa dua piring berisikan lauk dan meletakkannya di atas meja.


"Menantuku, duduklah."


"Baik, Yah." Kania kemudian duduk di samping Arya.


"Mulai sekarang, kamu jangan lagi mengurus dapur. Tugasmu hanya menjaga cucuku dan juga suamimu. Ayah tidak ingin kamu kelelahan."


Saat Kania ingin menjawab, tangannya tiba-tiba digenggam oleh Arya, seakan dia ingin memberi tanda pada Kania agar menuruti ucapan ayahnya itu.


"Baik, Ayah."


Lelaki itu tersenyum. "Ayo, kita makan," ucapnya sambil menyendok nasi ke dalam piringnya.


Suasana makan siang terlihat lebih ramai dari biasanya. Kehadiran ayahnya membuat suasana rumah lebih berwarna. Tania, tampak akrab dengan kakeknya itu. Walau lama tak bertemu, tapi Tania tidak sungkan saat diajak bermain olehnya.


Di ruang tengah, mereka duduk sambil bercengkerama. Arya tampak duduk sambil berdiskusi dengan ayahnya. Sementara Ryan, tampak berbaring di kursi sofa sambil menatap ponselnya.


"Ryan, panggil kakak iparmu." Pemuda itu lantas bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke kamar Tania, di mana Kania sedang menidurkan gadis kecil itu.


Ryan mengetuk pintu pelan dan tak lama pintu kamar terbuka. Melihat Kania, Ryan menerobos masuk dan segera menutup pintu itu kembali.


"Kamu mau apa?" tanya Kania dengan suara yang dipelankan.


Ryan tidak menjawab, tapi wajahnya terlihat datar dengan tatapan yang menjurus ke wajah cantik gadis itu. "Kenapa? Apa kamu takut?"


"Keluarlah, aku tidak ingin ada fitnah."


"Jangan khawatir, saat ini aku tidak akan macam-macam denganmu. Aku hanya ingin bertanya, apa kamu menikmati setiap malammu bersama kakakku?"


"Apa yang kamu bicarakan? Apa kamu tidak malu bertanya hal itu pada kakak iparmu?"


Ryan terkekeh dan menatap Kania sambil tangannya menyentuh wajah gadis itu. "Kenapa harus malu? Ah, andai saja kakakku tahu kelakuan istrinya dulu seperti apa, aku yakin dia pasti akan meninggalkanmu."


"Terserah, aku tidak takut dengan ancamanmu." Kania kemudian membuka pintu, tapi tangan kekar Ryan segera menarik tangan Kania hingga tubuh mereka begitu dekat. Kania terkejut saat tatapan mata Ryan mengarah padanya dan perlahan Kania bisa merasakan embusan nafas pemuda itu yang tiba-tiba mendekat ke wajahnya.


"Keluarlah, ayahku ingin bicara denganmu." Ryan berbisik di telinga Kania dan kemudian pergi meninggalkan Kania yang menahan getaran di dadanya.


Jantung Kania berdetak hebat saat melihat wajah pemuda yang pernah membuatnya jatuh cinta. Ah, wajah itu tampak mempesona hingga membuat Kania segera memejamkan matanya.


Setelah menata hatinya, Kania kemudian pergi ke ruang tengah di mana Wicaksana tersenyum saat melihat kedatangannya. "Duduklah."

__ADS_1


Kania kemudian duduk di depan lelaki itu. Di sampingnya, Arya duduk. Melihat mereka, Wicaksana tersenyum. "Bersiaplah, Ayah akan mengadakan resepsi pernikahan kalian dan setelah itu kalian akan segera pergi bulan madu."


Sontak, Kania dan Arya terkejut. Tak hanya mereka saja, Ryan yang tampak asyik dengan ponselnya tak kalah terkejut hingga membuatnya segera duduk dan memandangi Kania. "Apa? Bulan madu?"


__ADS_2