Cinta Kania

Cinta Kania
Part 12


__ADS_3

Pasangan suami istri itu kemudian duduk di ruang tamu dan diikuti oleh Rina yang juga duduk di dekat mereka. "Nak Arya, mana cucuku?" Wanita yang sudah paruh baya itu kemudian bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke kamar Tania.


"Tania masih tidur, Bu."


Wanita itu kemudian masuk ke dalam kamar dan dia cukup terkejut melihat seorang wanita yang tampak akrab dengan cucunya itu.


Tania yang baru saja bangun kini berada dalam gendongan Kania. Wanita itu mendekatinya dan ingin mengambil Tania darinya, tapi Tania enggan dan memeluk Kania dengan erat.


"Apa kamu pengasuh anak yang dipekerjakan oleh menantuku untuk menjaga cucuku?" tanya wanita itu yang terlihat penasaran.


"Benar, Bu. Aku Kania, pengasuhnya Tania." Kania menjawab sambil mengangguk dan tersenyum.


"Berikan cucuku padaku." Wanita itu lantas mendekati Tania dan ingin meraih tubuh gadis kecil itu, tapi sekali lagi dia ditolak. "Tania, Nenek rindu ingin menggendongmu lagi. Sini, sama Nenek." Wanita itu mencoba membujuk, tapi lagi-lagi gadis kecil itu menolak.


Melihat kekecewaan di wajah wanita paruh baya itu membuat Kania menjadi iba. "Maaf, Bu. Untuk saat ini jangan dipaksa dulu, nanti aku akan membujuknya. Setelah itu, aku akan membawanya pada Ibu." Kania berusaha untuk menenangkan wanita itu dan wanita itu hanya mengangguk dan meninggalkan mereka dengan perasaan sedih.


Kania lantas memandikan Tania dan tak berapa lama kemudian, Kania keluar sambil menggendong Tania dan memberikannya pada Arya. Sontak, gadis kecil itu menangis saat Rina mencoba untuk menggendongnya. "Mama." Tania menangis sambil memanggil dan memandangi Kania yang belum beranjak dari tempat itu.


"Sayang, jangan begitu. Ayo, sama Tante." Wanita itu kembali mencoba untuk mengambil Tania, tapi gadis kecil malah merengek dan memanggil Kania.


"Aku mau sama Mama." Rengek Tania sontak membuat mereka memandangi Kania. Kania lantas menggendong gadis kecil itu kembali dan membawanya ke dalam kamar.


"Nak Arya, kenapa Tania memanggilnya Mama? Bukannya, dia itu hanya pengasuh yang kamu pekerjakan untuk menjaga Tania?" Wanita paruh baya itu mencoba meminta penjelasan dari menantunya itu.


"Iya, Bu. Namanya Kania."


"Apa kamu tidak marah Tania memanggilnya mama? Terus terang, Ibu tidak suka kalau Tania memanggil wanita itu mama." Wajah rentanya terlihat semakin berkerut karena ketidaksukaannya pada Kania.


"Nak Arya, sebaiknya kamu menikah lagi. Apa kamu mau selamanya hidup menduda tanpa seorang pendamping? Ayah dan Ibu tidak keberatan jika kamu menikah lagi. Nak Arya, mencari istri dan ibu untuk Tania tidak usah jauh-jauh. Bagaimana kalau Nak Arya menikah saja sama Rina. Toh, dia bukan orang lain, tapi adik iparmu sendiri. Lagipula, wajahnya kan mirip sama Rani, jadi Nak Arya tidak perlu lagi repot-repot menyesuaikan diri." Wanita paruh baya itu berbicara panjang lebar tanpa memberi waktu untuk Arya mengomentarinya.


Sementara Rina, hanya duduk mendengar penuturan ibunya yang mencoba menawarkan pilihan pada kakak iparnya itu.


"Terima kasih, Bu, tapi maaf, aku tidak bisa menerima Rina untuk menjadi istriku." Jawaban Arya membuat ibu dan anak itu memandanginya dengan kompak.


"Kenapa Mas? Mas tahu kan kalau aku suka sama Mas Arya? Aku sengaja mengajak Ayah dan Ibu ke sini agar Mas tahu kalau aku benar-benar serius. Apa karena kejadian itu Mas Arya benci padaku?"


"Bukan begitu maksudku, tapi aku tidak ingin memilih ibu yang salah bagi Tania. Aku harap kalian mengerti."


"Memangnya, Rina tidak pantas menjadi istrimu?" Wajah ibu mertuanya terlihat kesal.


"Bu, sudahlah. Kita datang ke sini untuk menengok menantu dan cucu kita. Untuk apa kalian berdua meributkan masalah yang tidak penting." Lelaki paruh baya yang sedari tadi diam mulai angkat bicara, namun istrinya itu malah tak peduli padanya.


"Tak penting? Anak kita, Rani meninggal karena melahirkan anaknya dan kamu bilang itu tidak penting? Apa salahnya aku meminta dia untuk menikahi adik iparnya sendiri? Itu bukan dosa karena aku tidak ingin cucuku jatuh pada wanita yang tak jelas dan bisa saja cucuku tidak mendapatkan kasih sayang dari ibu barunya kelak." Wanita itu terlihat emosi dengan wajahnya yang memerah karena marah.

__ADS_1


"Kalau tahu kalian akan bersikap seperti ini, lebih baik kita tidak usah datang kemari. Nak Arya, maafkan Ayah karena tidak bisa mendidik anak dan istriku. Jangan pedulikan ucapan mereka, karena Ayah tahu bagaimana perasaanmu. Ayah permisi pulang dulu dan sampaikan salam sayang Ayah buat cucu Ayah." Lelaki itu lantas meraih tangan istrinya dan menariknya secara paksa. "Ayo, pulang. Rina, kamu juga segera tinggalkan rumah ini. Cepat!" Lelaki itu terlihat marah hingga membuat istri dan anaknya itu sempat ketakutan.


"Kalian berdua bikin malu saja. Apa kalian bisa serendah itu? Apa kalian tidak malu pada Arya?" Di dalam mobil, lelaki itu tak hentinya memarahi mereka.


"Ayah, aku menyukai Mas Arya. Apa salahnya jika dia menikahiku, toh aku adalah adik iparnya sendiri."


"Salahnya itu karena dia tidak menyukaimu. Apa kamu ingin menikah dengan orang yang tidak mencintaimu? Kalian ingatkan dengan pesan Rani padanya dulu?"


Kedua wanita itu terdiam. Mereka sangat ingat betul dengan pesan Rani yang menginginkan Arya nantinya menikah dengan wanita yang benar-benar tulus dan menyayangi putri mereka. Karena itu, hingga saat ini Arya belum menikah karena janjinya itu pada Rani.


"Kalian lihat sendiri, kan bagaimana Tania begitu manja pada pengasuhnya itu? Belum lagi sikap pengasuhnya itu yang terlihat menyayangi Tania. Jadi, buang perasaanmu itu jauh-jauh, karena Ayah akan mendukung apapun keputusan Arya." Ucapan ayahnya sontak membuat Rina menjadi kesal, namun dia tidak pernah menyerah begitu saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia akan tetap mendekati Arya, bagaimanapun caranya.


Sementara Arya, mencoba untuk tidak peduli pada permintaan ibu mertuanya itu. Baginya, Rina hanyalah sebatas adik iparnya walau terkadang wanita itu sering membuatnya merasa tidak nyaman.


Arya kemudian menuju ke kamar putrinya di mana Kania sedang bermain dengan putrinya itu. Melihat ayahnya, Tania berlari dan memeluknya. "Sayang, kenapa tadi tidak mau digendong sama nenek?"


Tania tidak menjawab. Gadis kecil itu hanya terdiam sambil memeluknya. Sementara Kania, memilih pergi dari tempat itu, tapi Arya segera menahannya. "Kania, tunggu sebentar."


Kania menghentikan langkahnya dan berbalik memandangi Arya. "Apa kamu mendengar semua percakapan kami tadi?"


Kania mengangguk. "Maaf, aku tidak sengaja mendengarnya."


"Jadi, bagaimana menurutmu?"


Kania memandangi lelaki itu dengan heran. "Untuk apa tanya pendapatku? Apa aku punya hak untuk memberikan pendapatku?"


"Aku tidak mungkin melarang atau mengiyakan. Bagaimana kalau kamu tanya saja pada putrimu sendiri. Aku rasa, Tania yang lebih berhak untuk memilih."


"Lalu, jika ada wanita yang dipilih Tania, bagaimana dengan dirimu?"


Kania tersenyum. "Aku tahu aku punya banyak hutang padamu, karena itu aku pasti akan tetap ada di sini. Mungkin, aku bisa bekerja di sini membantu Bi Suri. Itupun kalau kamu tidak keberatan, karena hidupku akan aku berikan buat keluargamu. Aku bukan orang yang lupa balas budi, kebaikanmu akan selalu aku ingat dan aku pastikan aku akan tetap menjaga dan menyayangi Tania." Kania menjawab dengan tulus karena baginya, Arya seperti malaikat penyelamatnya. Lelaki itu rela mengeluarkan uang yang cukup banyak untuknya dan imbalannya hanya tetap menjaga dan menyayangi putrinya. Bagi Kania, balasan yang harus dia berikan itu tidaklah cukup, karena dia sudah berjanji untuk memberikan kasih sayangnya untuk Tania walau selamanya, dia harus terkurung di rumah itu.


Jawaban Kania cukup membuat Arya terkejut. "Wanita ini, apa dia tidak merasa kalau dialah satu-satunya wanita yang disayangi oleh Tania?"


"Sebaiknya kamu segera berangkat ke kantor. Sini, berikan Tania padaku." Kania lantas mengambil alih gadis kecil itu dan menggendongnya. Sesaat, Arya terpaku ketika melihat wajah Kania yang begitu dekat dengannya. Gadis itu terlihat menawan saat dirinya tersenyum dan tertawa tepat di depannya.


"Arya, apa yang coba kamu pikirkan? Ingat, dia itu hanya wanita yang bekerja untuk menjaga putrimu." Suara batinnya seakan menolak pemikirannya yang saat ini bersebrangan. Rasa kagum yang sesaat telah menggoyahkan hatinya walau akal sehatnya berusaha untuk menolak.


"Papa pergi dulu, ya. Jangan nakal sama Mama." Arya mengucapkan kalimat itu spontan hingga membuatnya merasa kikuk di depan Kania yang ternyata tidak bereaksi apa-apa dengan ucapannya itu.


Setelah mencium pipi Tania, Arya lantas pergi. "Ah, apa yang sudah aku lakukan? Kenapa mulut ini bisa mengucapkan kalimat itu?"


Di dalam mobil, Arya terus memikirkan semua kejadian yang pernah dilaluinya bersama Kania. Dia merasa, kehadiran gadis itu di rumahnya telah membuat suasana hatinya berubah. Dia merasa telah memiliki sebuah keluarga yang utuh, walau akhirnya dia sadar kalau Kania melakukannya karena hutang yang harus dibayar padanya.

__ADS_1


"Aku harus bisa menepis perasaan ini. Rani, apa yang seharusnya aku lakukan?"


Di meja makan, Kania tampak menyuapi Tania. Gadis kecil itu begitu lahap dan menikmati setiap suapan yang berikan Kania padanya. "Ma, Tania sudah kenyang."


"Ya sudah, sekarang Tania istirahat, ya. Mama bantu Bi Suri masak dulu." Gadis kecil itu mengangguk dan berlari menuju depan televisi dan menonton film kartun favoritnya.


"Tania rupanya sangat penurut di depan Non Kania. Padahal, Tania itu susah sekali dibujuk. Sekali menangis, maka butuh waktu berjam-jam untuk bisa mendiamkannya."


"Kok bisa begitu, Bi?"


"Entahlah, Bibi juga heran dengan sikap anak itu. Mungkin karena dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya. Kasihan Nyonya Rani, dia lebih memilih kehilangan nyawanya daripada harus kehilangan anaknya."


"Apa maksud, Bibi?" Wajah Bi Suri tiba-tiba terlihat sedih.


"Nyonya Rani, sebenarnya mengidap penyakit jantung dan Tuan Arya tidak tahu menahu tentang penyakit istrinya itu. Walau begitu, Nyonya Rani tidak mengatakan apapun saat dirinya dinyatakan hamil. Padahal, dokter sudah menyarankannya untuk menunda kehamilannya, tapi melihat Tuan Arya yang sangat bahagia dengan kehamilannya, Nyonya Rani terpaksa membiarkan janinnya tumbuh. Saat proses persalinan itulah, baru Tuan Arya tahu kalau istrinya rela mempertahankan bayinya karena dirinya. Walau sudah berusaha, tapi nyatanya Nyonya Rani tidak bisa bertahan dan akhirnya meninggal. Karena itulah, Tuan Arya sangat menyayangi Tania dan dia tidak ingin memilih wanita sembarangan untuk dijadikan sebagai istri karena dia takut, putrinya tidak akan bahagia." Bi Suri terlihat menghapus air matanya saat mengingat majikannya itu.


"Non Kania lihat wanita tadi, kan? Dia itu adik ipar Tuan Arya. Dia sangat terobsesi dengan Tuan Arya, tapi Tuan Arya sama sekali tidak peduli padanya. Walau dia adalah saudara kembar Nyonya Rani, tapi sifat mereka sangat jauh berbeda. Wanita itu sangat kasar dan pemarah. Hanya di depan Tuan Arya dia bersikap lembut dan satu lagi, Tania sangat tidak menyukainya." Bi Suri terlihat kesal dan memotong sayur dengan asal.


Mendengar penjelasan Bi Suri, terbesit rasa iba pada Arya dan juga Tania. Dia tidak menyangka, secepat itu mereka harus kehilangan orang yang mereka cintai.


Walau kini Kania sangat merindukan ibunya, tapi setidaknya dia bisa merasakan kasih sayang ibunya sejak dia kecil dulu, tapi Tania sejak lahir tak pernah merasakan kasih sayang bundanya. Kania mengedarkan pandangannya pada Tania yang sementara menonton televisi sambil tertawa. Sejenak, Kania ikut tersenyum melihat kepolosan gadis kecil itu. "Aku harap kamu menemukan seorang ibu yang tulus menyayangimu dan juga ayahmu. Dan jika saat itu tiba, aku mungkin akan pergi dari sini dan tidak bisa melihatmu lagi. Tania, walau aku bukan siapa-siapa bagimu, tapi bagiku kamu seperti putriku. Aku menyayangimu." Air bening perlahan jatuh dari pelupuk matanya. Rasa sayang yang dirasakannya pada gadis kecil itu terlihat begitu tulus hingga membuatnya menangis tanpa suara. Suara ponselnya seketika berdering dan membuyarkan lamunannya. "Hallo."


"Kania, cepatlah ke rumah sakit, ibumu mengamuk lagi." Seketika Kania menjadi panik.


"Baik, dok. Aku akan segera ke sana."


Kania lantas menemui Bi Suri dan meminta kesediaannya untuk menjaga Tania. "Pergilah, biar Bibi yang menjaganya."


Kania langsung pergi dan menemui dokter yang menangani ibunya. "Dok, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Sepertinya, kami harus menempatkan ibumu di ruangan tersendiri. Ibumu sering berteriak dan berontak jika ada perawat yang mendekatinya untuk memberikannya obat. Jika itu terus berlanjut, aku khawatir dengan proses pengobatannya nanti, karena sikapnya itu bisa menghambat pengobatannya sendiri."


Penjelasan dokter cukup membuat Kania paham. Tidak mudah memang menangani pasien dengan bawaan penyakit mental. Apalagi, penyakit ibunya saat ini memang butuh penanganan khusus.


Di dalam kamar, Kania melihat ibunya yang terbaring dengan dua tangan yang diikat di sisi ranjang. Ada perasaan sedih saat melihat kondisi ibunya yang semakin kurus. Ruangan yang mempunyai satu sisi dinding yang tembus pandang itu rupanya dijadikan tempat untuk pengobatan ibunya agar para perawat lebih mudah mengetahui keadaan pasien melalui luar ruangan.


Kania duduk di samping ibunya dan membelai lembut wajah wanita yang sudah cukup berumur itu. "Ibu, cepatlah sembuh. Aku merindukan pelukan Ibu." Kania menitikan air mata. Perlahan, wanita itu membuka matanya dan sontak dia mulai berteriak histeris dan ingin menyerang Kania. "Ibu, tenanglah, ini aku, Kania." Wanita itu seakan tak peduli dan ingin berusaha melepaskan ikatan dari tangannya dan benar saja salah satu ikatan di tangannya itu terlepas.


Dengan sangat cepat, tangan wanita itu lantas mencekik leher Kania hingga membuat lehernya berdarah. Kania berusaha melepaskan tangan ibunya, tapi kekuatan tangan ibunya sangat kuat seakan dia ingin membunuhnya.


Kania tampak menitikan air mata saat melihat bulir air bening mengalir perlahan di pelupuk mata ibunya, hingga membuatnya tak lagi ingin melepas diri dari cekikan tangan ibunya itu. Perlahan, dia tersadar saat tangan ibunya diraih oleh seorang pria yang tiba-tiba datang bersama beberapa orang perawat.


"Apa kamu sudah gila? Kenapa diam saja saat lehermu dicekik seperti itu?" Kania menatap wajah lelaki itu yang terlihat khawatir padanya. Air matanya masih jatuh dengan tatapannya yang kosong.

__ADS_1


"Aku merindukannya. Aku merindukan pelukannya. Aku hanya ingin merasakan sentuhan tangannya." Sontak Kania menangis hingga lelaki itu merasa iba padanya. Sungguh, kerinduan Kania pada ibunya sudah membuat gadis itu rela dicekik oleh tangan ibunya sendiri.


Lelaki itu lantas memeluknya dan membiarkan Kania menangis dalam pelukannya. "Kania, apakah kamu wanita yang di kirimkan Rani untukku dan juga Tania?" batinnya.


__ADS_2