Cinta Kania

Cinta Kania
Part 27


__ADS_3

"Apa kamu siap?" Selly menatap Kania yang terlihat cantik dan anggun dalam balutan gaun pengantin berwarna peach dengan bordiran benang emas.


"Aku siap." Kania mengangguk dengan mantap. Raut wajahnya tak sedikitpun menunjukan keraguan.


"Kania, apa kamu serius dan tidak akan menyesali keputusanmu ini?" tanya Selly sekali lagi seakan ingin memastikan keputusan sahabatnya itu.


"Aku serius dan aku pastikan tidak akan pernah menyesal." Kania kembali memantapkan hatinya karena dia sudah bertekad untuk membantu Arya. Walau harus berkorban perasaan, dia rela.


"Baiklah, sekarang kita pergi." Selly berjalan di samping Kania menuju sebuah pelataran panggung yang cukup luas. Di samping panggung, Arya sudah menunggu. Lelaki itu terlihat tampan. Jas berwarna peach tampak terlihat serasi di tubuhnya yang gagah. Sambil tersenyum, Arya mendekati Kania dan meraih tangannya.


Tanpa ragu, Kania menerima uluran tangan lelaki itu dengan senyum yang terpancar di sudut bibirnya. Dengan mesra, Arya menggandeng tangan Kania sambil berjalan perlahan menuju panggung pelaminan yang terlihat mewah.


Di atas pelaminan, mereka duduk bersanding. Tatapan para tamu undangan mengarah kepada mereka. Rasa takjub dan juga kagum terlihat dari tatapan mereka yang selalu tersenyum saat melihat pasangan pengantin itu. Apalagi, saat melihat gadis kecil yang duduk di antara mereka. Wajah cantik dan polos gadis kecil itu membuat orang-orang merasa terhibur dengan tingkahnya yang selalu tersenyum bak seorang model cilik.


Sementara di salah satu sudut ruangan, Ryan tampak duduk sambil memperhatikan Kania yang terlihat cantik dengan senyumnya yang menawan. Dengan senyum, Kania menyalami beberapa tamu yang berjabat tangan dengannya.


Ryan mengalihkan pandangannya dan menatap sang ayah yang terlihat bahagia. Lelaki itu tampak bangga saat teman-temannya memuji kecantikan menantunya. "Menantumu itu sangat cantik. Ternyata, anakmu mempunyai selera yang sangat bagus." Salah satu teman Wicaksana memuji hingga membuat lelaki itu tersenyum bangga.


Dengan kesal, Ryan bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari gedung itu. Suasana di malam itu tampak cerah dengan sinar bulan yang tampak merekah indah. Taburan cahaya bintang menambah keelokan langit malam yang terlihat bak berlian yang bertaburan.


Suasana malam yang indah terasa berbeda di pandangan mata pemuda itu yang nyatanya sedang kecewa. Wajahnya yang tampan terlihat murung dan penuh raut kesedihan. Di saat orang-orang tengah berbahagia, pemuda itu terlihat menahan kesedihan di dalam hatinya. Hatinya hancur saat melihat wanita yang pernah menjadi tambatan hatinya menikah dengan kakaknya sendiri. Rasa benci karena pengkhianatan, rupanya tak sebesar rasa cinta yang masih tersimpan.


"Kenapa aku harus sedih seperti ini? Ah, apa pantas aku menangisi gadis itu?" Ryan mengembuskan nafas panjang seakan ingin melepaskan beban di hatinya.


"Aku harus kuat. Aku tidak boleh larut dalam kesedihan yang tidak pantas ini karena dia memang tidak pantas untuk aku tangisi." Pemuda itu memantapkan hatinya dan menepis rasa yang pernah ada. Dengan langkah pasti, dia kembali masuk ke dalam gedung dan duduk di dekat ayahnya.


Di atas pelaminan, Kania tersenyum tanpa beban. Walau apa yang dia lakukan saat ini adalah sebuah sandiwara, tapi jauh di lubuk hatinya dia ikhlas. Ikhlas jika suatu saat nanti dia harus melepaskan mereka. Melepaskan lelaki yang kini duduk di sampingnya dan seorang bocah yang sudah membuatnya menjadi seorang ibu.


Dengan lembut, Kania membelai kepala gadis kecil itu. Perasaan sayang yang begitu tulus akan dia curahkan padanya. Walau tak mudah, dia harus bisa bertahan.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arya sembari menatap ke arahnya. Kania mengangguk dan tersenyum pada lelaki itu. "Aku baik-baik saja." 


Kania menatap lurus ke depan dan melihat Bastian yang duduk memandanginya. Sekilas, Kania melayangkan senyum untuknya dan pemuda itu hanya mengangguk dan membalas senyum seakan dia ingin mengatakan kalau dia akan selalu ada untuk sahabatnya itu.


"Apa kamu mencintainya?" tanya Selly ketika melihat Bastian yang tampak sedih saat melihat Kania.


Pemuda itu tertawa pelan saat mendengar pertanyaan gadis itu. "Jika aku mencintainya, apa kamu pikir aku akan membiarkannya menikah dengan lelaki lain?"


"Lalu, kenapa kamu sedih seperti itu?"


"Apa aku terlihat sedih? Apa setiap air mata itu menandakan kesedihan? Tidak, kan?"


Selly terlihat kesal dengan jawaban pemuda itu. "Kamu itu, aku kan bertanya sama kamu, tapi kenapa kamu balik melontarkan pertanyaan padaku?"


Bastian tersenyum saat melihat wajah cantik Selly yang cemberut karena kesal. "Baiklah, jangan marah lagi, aku minta maaf." Bastian tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk meminta maaf pada gadis itu. Walau kesal, Selly menerima permintaan maaf Bastian padanya.


"Apa kamu tidak marah saat melihat Kania melakukan semua ini?"

__ADS_1


Bastian menatap ke arah pasangan pengantin yang sedang tersenyum pada para tamu yang sedang berjabat tangan dengan mereka. "Aku tidak marah, tapi aku hanya cemas."


"Cemas? Kalau aku boleh tahu, apa yang sudah membuatmu cemas?"


"Aku cemas jika suatu saat nanti, Kania tidak bisa lepas dari pernikahan ini. Apa yang akan kita lakukan jika mereka selamanya akan terjebak dalam pernikahan ini?"


"Itu yang aku inginkan."


"Itu tidak mungkin."


Selly terlihat kesal. "Apa yang tidak mungkin? Bukankah, mereka berdua sangat cocok. Kania cantik dan Arya sangat tampan, lalu apa yang tidak mungkin?"


"Itu karena Kania mencintai orang lain." Selly begitu terkejut saat mendengar penuturan Bastian.


"Hei, omong kosong apa ini? Kamu tidak ingin bilang kalau dia mencintaimu, kan?"


"Bukan aku, tapi dia." Sontak, Selly terperanjat kaget saat melihat sosok yang di maksud oleh Bastian.


"Ryan?"


Bastian mengangguk. "Untuk saat ini, aku belum bisa menjelaskan padamu. Lain waktu, aku akan menceritakannya padamu. Lebih baik pura-puralah tidak tahu. Aku tidak ingin Arya mengetahuinya."


Walau tidak percaya dengan ucapan Bastian, tapi gadis itu mengangguk mengiyakan ucapan pemuda itu. Dia tidak menyangka kalau Kania mencintai Ryan, pemuda yang kini sudah menjadi adik iparnya.


Di atas pelaminan, Ryan berusaha tersenyum saat juru foto mulai melakukan tugasnya. Di depan banyak orang, pemuda itu bersikap seolah-olah dia bahagia dengan pernikahan kakaknya itu, tapi sebenarnya dia mulai bosan dengan hiruk pikuk dan sandiwara yang dia perankan sendiri.


Satu persatu tamu undangan mulai undur diri. Wicaksana tampak bahagia saat mengantar teman-temannya di depan pintu gedung. Melihat senyum dan tawa bahagia ayahnya, Arya ikut merasa bahagia.


"Sudahlah, aku senang jika melihat ayah bahagia. Mulai saat ini, ayahmu adalah ayahku karena aku sudah menganggapnya sebagai ayahku sendiri. Jadi, biarkan aku lakukan tugasku sebagai anak perempuannya." Kania mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh.


"Apa kamu serius dengan ucapanmu itu?" Ryan menatap ke arah Kania, seakan dia ragu dengan ucapan gadis itu.


"Ryan, kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Maafkan aku, Kak. Aku hanya bercanda. Aku tahu kok, kakak iparku ini sangat menyayangi ayah. Iya, kan, kakak ipar?"


Kania hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Dia memilih diam daripada meladeni kebencian pemuda itu padanya.


"Mama, aku mengantuk." Tania terlihat menguap sambil sesekali mengucek matanya.


"Sabar, ya, Nak. Sebentar lagi kita akan kembali ke rumah." Bujuk Kania sambil duduk di depan gadis kecil itu.


"Sini, biar Papa gendong." Arya kemudian meraih tubuh putrinya itu dan menggendongnya.


"Apa kalian berdua sudah mau pulang?" tanya Kania pada Bastian dan Selly yang sudah berdiri di depannya.


Bastian mengangguk. Melihat pemuda itu, Kania tersenyum dan memeluknya. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bastian saat Kania melepaskan pelukannya. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum pada sahabat baiknya itu.

__ADS_1


"Aku tahu, kamu pasti tertekan dengan kehadirannya, tapi apa kamu yakin bisa mengatasinya?" Kembali Kania mengangguk dengan senyum yang di paksakan. "Jangan khawatir, aku pasti bisa mengatasinya."


"Kalau kamu yakin, aku pasti akan mendukungmu. Bertahanlah, jika tidak mampu, baiknya menyerah agar hatimu tidak tersiksa."


Mendengar ucapan Bastian, Kania tersenyum dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya. Kania tahu, sahabatnya itu begitu mengkhawatirkannya. Namun, jalan yang sudah dia tempuh tak bisa lagi membuat dia berbalik arah. Dia harus tetap berjalan, walau mungkin jalannya itu penuh dengan duri.


Melihat persahabatan mereka, Selly begitu kagum. Sekilas, dia memandangi Ryan yang terlihat acuh. "Apa Kania baik-baik saja jika benar dia mencintai Ryan? Ah, kenapa dia harus terjebak dalam pernikahan ini jika akhirnya dia harus tersiksa?" Selly kembali memandangi Kania dan segera memeluknya.


"Bertahanlah, aku tahu itu sangat sulit. Andai dari awal aku tahu, aku tidak akan memintamu melakukan semua ini."


Kania memandangi Selly dengan heran. "Selly, apa yang kamu bicarakan?"


Gadis itu kemudian menatap ke arah Ryan hingga membuat Kania paham. "Apa Bastian yang sudah memberitahumu?"


"Maaf, kalau dari awal aku tahu, aku ... "


"Ini semua mauku bukan karenamu. Aku ikhlas melakukannya karena aku menyayangi Tania. Aku sadar resiko dari jalan yang sudah aku ambil, tapi aku yakin semua akan berakhir dengan baik tanpa harus ada yang terluka. Sudahlah, jangan khawatirkan aku. Kamu tahu, dia sudah aku lupakan." Kania berbisik di telinga gadis itu dengan seuntai senyum di bibirnya walau sebenarnya hatinya masih belum bisa melupakan pemuda itu.


"Bas, aku titip Selly. Tolong antar dia pulang." Bastian mengangguk dan kemudian pergi bersama Selly.


"Bastian, aku ingin mendengar penjelasanmu tentang Kania dan Ryan sekarang juga. Sebenarnya, mereka ada hubungan apa?" Selly yang begitu penasaran akhirnya meminta penjelasan dari pemuda itu.


"Tapi ... "


"Aku akan ikut denganmu." Selly akhirnya meminta supirnya untuk kembali. Tanpa ragu, Selly naik di atas motor pemuda itu dan pergi ke sebuah kafe.


Bastian tidak bisa mengelak. Hingga akhirnya, Selly tahu kisah perjalanan hidup Kania. Dari keluarga hingga kisah cinta gadis itu yang terpaksa harus kandas. Mendengar penjelasan Bastian, Selly menangis. Dia tidak menyangka kehidupan Kania begitu menyedihkan. Dan dia merasa bersalah karena sudah meminta Kania untuk melakukan pernikahan kontrak itu.


"Lalu, sekarang kita harus bagaimana? Sampai kapan Kania akan menyimpan rahasia itu dari Arya? Walau tidak ada cinta di antara mereka, tapi aku yakin Arya pasti akan terluka jika tahu Kania adalah mantan kekasih adiknya yang dulu pernah mengkhianati adiknya itu. Arya itu sangat sayang pada Ryan dan dia pasti akan mengorbankan perasaannya asalkan adiknya itu tidak terluka." Selly terlihat begitu cemas.


"Apa kita harus berterus terang saja pada Ryan tentang alasan Kania meninggalkannya dulu? Aku yakin, kalau dia tahu alasan Kania, dia pasti akan memaafkan Kania. Bagaimana menurutmu?" tanya Selly.


"Jika Ryan tahu, apa itu bisa mengubah keadaan? Yang ada masalahnya akan semakin kacau. Ah, aku sendiri bingung harus berbuat apa. Aku hanya takut Ryan menyakiti Kania karena dia sudah terlampau membenci Kania. Sebaiknya, kita biarkan saja, biar waktu yang akan menyelesaikan masalah ini. Sebagai sahabat, aku hanya bisa memberi dukungan pada Kania dan aku harap kamu bisa melakukan hal yang sama."


"Baiklah, aku akan diam, tapi aku akan selalu bersama Kania. Walau aku baru mengenalnya, tapi aku mengaguminya dan mulai saat ini aku akan menjadi sahabat baiknya."


Melihat Selly yang mendukung Kania, Bastian tersenyum. Dia tidak menyangka, gadis kaya yang terlihat sombong dan arogan itu ternyata memilki hati yang sangat baik.


"Ayo, sebaiknya aku mengantarmu pulang." Selly mengangguk dan berjalan di samping pemuda itu. Dengan motornya, Bastian mengantar Selly hingga tiba di rumahnya.


Sementara di dalam kamar, Kania tampak bingung karena melihat tempat tidur mereka yang sudah di satukan. Di depannya kini, terlihat tempat tidur yang sudah di hiasi dengan aneka bunga dan hiasan layaknya kamar pengantin baru.


"Aku minta maaf, karena sebelumnya tidak memberitahumu. Aku juga terkejut saat ayah tiba-tiba meminta beberapa orang untuk menghias kamar ini. Karena itu, aku segera menyingkirkan tempat tidurmu." Arya berusaha menjelaskan agar Kania tidak salah paham padanya.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku akan tidur di sofa dan kamu boleh tidur di tempat tidurku." Arya kemudian bergegas mengambil bantal dan selimutnya.


"Tidak perlu, biar aku saja yang tidur di sofa. Kamu harus bisa beristirahat dengan baik karena kamu harus bekerja. Jika tidurmu terganggu, maka kesehatanmu juga bisa terganggu. Lagipula, aku sudah biasa tidur di sofa." Kania tersenyum. Gadis itu kemudian mengambil selimut dan bantal dari tangan Arya dan meletakannya di atas sofa.

__ADS_1


Kania lantas bergegas menuju kamar mandi sekadar membersihkan tubuh dan riasannya. Tak lama, dia keluar dengan menggunakan daster.


"Mandilah, aku akan menyiapkan susu hangat untukmu." Kania kemudian keluar, tapi dia terkejut saat melihat Ryan sudah berdiri di depan pintu kamarnya itu.


__ADS_2