Cinta Kania

Cinta Kania
Part 26


__ADS_3

"Kenapa kalian semua terkejut?" tanya Wicaksana sambil menatap mereka dengan heran.


"Tidak, Kok, Yah." Elak Arya dengan senyum yang terlihat dipaksakan.


"Kamu mau kan, Kania? Oh, iya. Sebelumnya, Ayah ingin bertemu dengan orang tuamu. Ayah ingin bertemu dengan besan Ayah."


Kania terkejut. Entah apa yang harus dia jawab.


"Kania sudah tidak memiliki orang tua, Yah. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dan ibunya belum lama ini meninggal karena sakit."


"Apa itu benar, Kania?" tanya Wicaksana seakan tidak percaya.


"Benar, Ayah." Kania mengangguk hingga membuat Ryan melihat ke arahnya.


"Kamu rupanya sangat hebat menyembunyikan identitasmu," batin Ryan terlihat kesal dan segera bangkit menuju ke kamarnya.


"Ryan, kamu mau ke mana?"


"Aku mengantuk, Yah. Aku mau tidur," jawab Ryan sambil terus berjalan menuju ke kamarnya tanpa peduli pada mereka yang menatap kepergiannya itu.


Dengan kesal, Ryan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. "Mengapa aku harus kesal dengan rencana ayah? Hah, gara-gara dia, aku bisa gila!!" Ryan menutup kepalanya dengan bantal, tapi suara dering ponselnya membuatnya segera menatap ke arah ponselnya itu. Seketika, dia tersenyum saat melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.


"Hallo, sayang." Sapanya yang terdengar begitu manja.


"Ryan, apa kamu tidak akan balik lagi ke sini?" tanya suara itu yang tidak lain adalah Davina.


"Kenapa bertanya seperti itu? Aku akan kembali, tapi belum sekarang."


"Ryan, kamu tidak bohong, kan?"


"Kenapa aku harus bohong padamu? Aku pasti akan kembali padamu."


"Tapi, kenapa rumahmu sudah dijual? Perusahaan ayahmu juga sudah dijual pada perusahan tempatku bekerja. Yang aku dengar, ayahmu hanya menyisakan sahamnya di perusahan ini dan menjual semua asetnya, karena ayahmu tidak akan tinggal di sini lagi." Ryan terkejut saat mendengar ucapan kekasihnya itu.


"Kamu tidak bercanda, kan?"


"Untuk apa aku bercanda? Malah, aku khawatir dan takut jika kita tidak akan bertemu lagi." Gadis itu tampak menangis.


Ryan terdiam. Dadanya terasa sesak saat mendengar tangisan kekasihnya itu. Belum lagi dengan kabar yang baru saja di dengarnya yang membuat rasa ingin tahunya semakin menjadi.


"Davina, tenanglah. Aku akan bertanya pada ayahku. Jangan menangis lagi, aku pastikan kita akan baik-baik saja." Ryan berusaha membujuk kekasihnya itu dan gadis itu pun terdiam.


"Aku akan menghubungimu lagi. Berikan aku waktu untuk mendengar penjelasan dari ayahku. Istirahatlah."


Ryan mengakhiri panggilan itu. Hatinya tampak gusar. Pemuda itu kemudiam keluar dan berjalan menuju ruang tengah, di mana ayah dan kakaknya sedang duduk.


"Ayah, apa Ayah bisa jelaskan kenapa Ayah menjual rumah dan perusahaan Ayah di Amerika? Kenapa Ayah melakukannya tanpa bertanya dulu pada kami?"


Arya terkejut saat mendengr pertanyaan adiknya itu. Sedangkan Wicaksana, hanya terdiam melihat sikap anak lelakinya yang terlihat marah.


"Tenanglah, Ayah bisa jelaskan." Wicaksana terlihat santai walau tatapan kedua anaknya itu mengarah padanya.


"Duduklah dulu."


Ryan kemudian duduk di samping kakaknya dan mereka berdua terlihat fokus dan menunggu penjelasan sang ayah.


"Maafkan Ayah jika keputusan Ayah mengecewakan kalian. Namun, itu sudah menjadi keputusan Ayah." Wicaksana terdiam dan mencoba menata perasaannya yang sedih karena menyimpan rahasia penyakitnya seorang diri.


"Walau Ayah menjual semua aset di sana, tapi Ayah sudah menyimpan semua harta Ayah untuk kalian beedua. Semua hasil penjualan sudah Ayah bagi atas nama kalian."


"Ayah, apa ada masalah yang kami tidak ketahui?" tanya Arya sambil memandang wajah renta ayahnya itu.


Wicaksana tersenyum dan menggeleng. "Tidak ada masalah, Nak. Ayah hanya ingin tinggal dan menghabiskan masa tua Ayah bersama kalian. Ayah juga sudah lelah mencari uang. Kini, saatnya untuk kalian yang melanjutkan usaha Ayah. Ayah ingin bermain dan bercanda dengan cucu-cucu Ayah."

__ADS_1


"Apa itu berarti, aku tidak bisa kembali lagi ke sana?" tanya Ryan dengan wajahnya yang menahan marah.


"Siapa bilang kamu tidak bisa pergi ke sana? Dengan uang pemberian Ayah, kamu bahkan bisa membeli sebuah rumah di sana. Kapanpun kamu mau pergi, Ayah akan membiayaimu."


Ryan terdiam. Pemuda itu sama sekali tidak menyangka kalau kemewahan dan kesenangan yang dia rasakan di Amerika takkan lagi bisa dia rasakan. Mobil sport, rumah mewah dan tentu saja kekasihnya, takkan lagi bisa ditemuinya.


Ryan kemudian bangkit dan menuju ke kamarnya. Tak lama, dia keluar dengan helm di tangannya.


"Ryan, kamu mau ke mana?" tanya Arya saat melihat adiknya yang bersiap untuk pergi. Ryan tak berkata apa-apa seakan tak peduli dengan pertanyaan kakaknya itu.


"Sudahlah, biarkan saja dia. Kalau sudah bosan, dia pasti akan pulang." Wicaksana tampak tak peduli. Lelaki itu kemudian menyeruput kopinya dengan santai walau di dasar hatinya, dia tahu kekecewaan yang sedang dirasakan anak-anaknya itu.


"Ayah, aku akan mendukung apapun keputusan Ayah. Jika itu yang terbaik buat Ayah, aku akan menerimanya." Wicaksana tersenyum mendengar penuturan anaknya itu.


Sementara Kania, hanya terdiam tanpa bisa berkata-kata. Dia sadar, dia tidak punya hak untuk mencampuri urusan keluarga itu. Melihat kepergian Ryan, Kania terlihat begitu khawatir. Gadis itu kemudian mengikuti Ryan dan berusaha menghentikannya.


"Ryan, apa kamu akan pergi dengan perasaanmu yang kacau itu? Jika masih marah, maka berdiamlah di dalam kamarmu. Jangan buat ayah dan kakakmu khawatir."


"Sudahlah, jangan berlagak peduli padaku. Lagipula, kamu tahu apa tentang perasaanku? Sana, lebih baik dekati kakakku agar kamu bisa mendapatkan separuh hartanya. Bersenang-senanglah dengannya selama aku masih memberimu waktu, karena jika aku mulai bosan, maka kamu harus bersiap-siap meninggalkan kakakku dan rumah ini." Ryan kemudian pergi meninggalkan Kania yang memandanginya dengan perasaan hancur.


Kania kembali masuk ke dalam rumah dan duduk di samping Arya. Melihat pemuda itu, Kania lebih merasa nyaman. Wajahnya begitu teduh dan berkharisma. Tatapan matanya begitu menenangkan. Berbeda dengan tatapan Ryan yang terlihat penuh kemarahan.


"Ayah sudah memutuskan untuk mengadakan acara resepsi pernikahan kalian. Kalian berdua harus bahagia dan memberikan cucu lagi buat Ayah. Rasanya, Tania juga sudah menginginkan kehadiran seorang adik." Wicaksana terlihat bahagia hingga Arya tak mengelak atau membantah setiap ucapan ayahnya itu. Bahkan, dia terlihat mengangguk tanda mengiyakan walau Kania yang duduk di sampingnya hanya menunduk karena merasa malu di depan mereka.


"Ayah akan menyiapkan semuanya. Kalian berdua sebaiknya beristirahat karena dalam minggu ini, Ayah akan menggelar resepsi pernikahan kalian." Lelaki itu kemudian pergi ke kamarnya. Dia terlihat sibuk menghubungi teman-temannya sekadar untuk menyampaikan kabar perihal pernikahan anaknya itu.


"Apa kamu masih mau melanjutkan pernikahan ini?" tanya Arya tiba-tiba hingga membuat Kania menatapnya.


"Apa maksudmu? Apa kamu ... "


"Aku akan membayarmu jika kamu masih mau melangkah lebih jauh. Aku akan memberikan apapun agar kamu tetap ada di sini. Aku tidak pernah melihat ayah sebahagia itu. Dan aku tidak ingin membuatnya terluka karena pernikahan kita yang ... "


"Jangan khawatir, aku akan tetap ada di sini. Bukankah, aku yang sudah memintamu untuk membiarkan aku ada di sini?" Kania tersenyum sambil memandangi wajah Arya yang terlihat sedih karena memikirkan ayahnya itu.


"Sudahlah, sebaiknya kamu beristirahat. Masuklah ke kamar, aku akan membawakanmu teh madu hangat." Arya mengangguk dan kemudian pergi ke kamarnya. Tak lama kemudian, Kania datang dan membawa segelas teh madu hangat kepadanya.


"Istirahatlah, aku akan menemani Tania di kamarnya." Kania kemudian keluar dan pergi ke kamar putrinya itu.


*****


Di sebuah taman kota, Ryan tampak duduk sambil memandangi sekeliling taman yang terlihat sepi. Suasana hatinya begitu buruk hingga membuat pikirannya menjadi kacau. Keputusan sepihak ayahnya rupanya membuatnya kecewa.


"Semuanya menjadi kacau semenjak aku bertemu dengan Kania. Gadis itu ternyata membuat hidupku selalu tertekan." Ryan mengepalkan kedua tangannya. Tatapan matanya penuh kebencian. Hingga dia terkejut saat melihat seseorang yang di kenalnya melintas di depannya.


Ryan kemudian berlari ke arah motornya dan mengejar orang itu yang juga melintas dengan sepeda motornya. Suara klakson yang terus berbunyi di belakangnya membuat orang itu berhenti di sisi jalan. "Ada apa dengannya? Kenapa dia terus membunyikan klaksonnya padaku?"


Ryan yang sudah berhenti di depannya lantas mendekatinya sambil membuka helmnya.


"Ryan?" tanya orang itu yang begitu terkejut.


"Apa kabarmu, Bastian." Ya, orang itu adalah Bastian, sahabatnya di masa lalu.


"Ba.. baik." Bastian begitu terkejut saat melihat Ryan berdiri di depannya.


"Apa kamu tidak ingin memeluk sahabatmu ini?" tanya Bastian sambil tersenyum. Walau ragu, Bastian akhirnya memeluk sahabat lamanya itu.


"Wah, kamu sudah banyak berubah. Kamu terlihat lebih tampan." Puji Ryan saat mereka berdua duduk di sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari tempat pertemuan mereka tadi.


Bastian tersenyum walau sedikit di paksakan. "Ah, biasa saja. Malah, kamu yang terlihat semakin tampan dan gagah. Oh iya, bukankah selama ini kamu ada di Amerika?"


Ryan tersenyum. "Iya, tapi setelah melihat seseorang, aku akhirnya memutuskan untuk kembali."


"Seseorang?" Ryan mengangguk. "Ya, seseorang. Seseorang yang pernah mengkhianatiku." Ryan tersenyum kecut sambil menyeruput minuman dingin di tangannya.

__ADS_1


"Apa kamu tahu kalau Kania sudah menikah?" tanya Ryan yang sontak membuat Bastian terkejut.


"Tentu saja kamu pasti tahu karena kalian adalah sahabat dekat, tapi apa kamu tahu dia menikah dengan siapa?"


Bastian terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Dia menikah dengan kakakku." Sontak, Bastian terkejut bahkan tersedak saat sedang menyeruput minuman dinginnya.


"Apa? Kakakmu?"


"Kenapa terkejut? Bukankah Arya Wicaksana dan Ryan Wicaksana adalah kakak beradik?"


Mimik wajah Bastian tiba-tiba berubah. Dia tidak menyangka kalau Arya adalah kakak sahabatnya itu.


"Jadi, kamu sudah bertemu dengannya?"


Ryan mengangguk sambil meneguk minumannya. "Apa kalian berdua bersekongkol untuk mendekati kakakku?"


Spontan Bastian menatapnya. Wajahnya terlihat menahan marah saat mendengar pertanyaan Ryan. "Apa kamu pikir, Kania serendah itu? Apa karena dia pernah menyakitimu, lantas kamu berpikir kalau dia bisa sekejam itu?"


Ryan tersenyum kecut. "Aku tidak tahu maksudnya menikahi kakakku, tapi aku akan pastikan kalau dia tidak akan bisa menyakiti kakakku. Cukup aku yang dia sakiti dan aku tidak akan pernah memaafkannya jika sampai kakakku terluka. Aku akan pastikan dia keluar dari rumah kakakku karena sampai kapanpun aku tidak rela dia menjadi anggota keluargaku."


Ryan kemudian bangkit dan bermaksud meninggalkan Bastian, tapi langkahnya terhenti saat Bastian mencekal lengannya.


"Apa kamu pikir Kania yang mengejar kakakmu? Sebelum kamu menyakitinya, kamu akan terlebih dulu menyakiti kakak dan keponakanmu. Tanyakan pada kakakmu alasan dia menikahi Kania, setelah itu kamu akan tahu dan menyadari kesalahanmu." Bastian kemudian pergi meninggalkan Ryan yang menatap heran ke arahnya. Ucapan Bastian rupanya membuat Ryan semakain penasaran.


"Bastian, tunggu!!" Ryan mengejarnya, namun Bastian terus berjalan dam tak peduli dengannya.


"Jelaskan padaku tentang ucapanmu itu. Bastian, apa kamu juga ingin menutup mulut seperti dulu?"


"Ya, aku akan tetap menutup mulut, karena aku tidak punya hak untuk menjelaskan. Lebih baik, urungkan niatmu untuk menyakiti Kania. Kalau sampai itu terjadi, aku sendiri yang akan menghabisimu." Bastian menatap Ryan dengan tajam. Baru kali ini, Ryan melihat Bastian yang terlihat marah.


Bastian kemudian pergi. Ryan yang semakin penasaran kemudian kembali ke rumah. Suasana rumah terlihat sepi. "Bi Suri, mana Kak Arya?"


"Tuan Arya di dalam kamarnya sedang istirahat."


"Lalu, di mana Kania?"


"Nyonya di dalam kamar Non Tania."


Ryan kemudian pergi ke kamar Tania. Tanpa mengetuk, Ryan kemudian masuk dan mendapati Kania yang sedang berbaring di samping Tania.


Melihat Ryan yang datang ke arahnya membuat Kania segera bangkit. "Ryan, apa yang kamu lakukan? Cepat, keluar dari kamar ini!!" Kania terlihat panik sambil meraih tangan pemuda itu dan menariknya menuju pintu.


Ryan melepaskan tangannya dan menatap Kania dengan tajam. "Jelaskan padaku kenapa kamu menikah dengan kakakku? Apa yang membuatmu menerima kakakku? Kania, jawab pertanyaanku."


"Aku tidak akan menjawab. Keluarlah dari kamar sebelum ada yang melihatmu di sini."


"Aku tidak akan keluar sebelum kamu mengatakannya. Apa kamu mencintai kakakku?" Tatapan mata Ryan begitu tajam.


"Pergilah dan jangan lagi menggangguku."


Ryan terlihat marah. Diraihnya tubuh Kania di dalam dekapannya. Mata mereka saling menatap. "Apa kamu mencintainya?" tanya Ryan sekali lagi.


"Ya, aku mencintainya, sangat mencintainya. Aku ... " Tiba-tiba saja Ryan meraih bibir ranum Kania dan mengecupnya dengan paksa. Kania berusaha berontak di dalam dekapan pemuda itu, tapi Kania tak kuasa karena dekapan Ryan yang begitu erat.


Kania menitikkan air mata saat Ryan melakukan hal memalukan itu padanya. Setelah puas, Ryan menghempas tubuh Kania begitu saja. Kania terlihat menghapus air matanya dan memandangi Ryan dengan tatapan penuh kepedihan.


"Aku membencimu, sangat membencimu. Aku tahu aku salah, tapi kamu terlalu kejam memperlakukanku seperti ini. Aku bukan wanita murahan seperti yang kamu bayangkan. Aku masih punya rasa malu dan hati nurani." Kania menghapus air matanya.


"Aku akan menjadi duri dalam daging buatmu. Aku tahu, di sudut hatimu, kamu masih mencintaiku. Itulah sebabnya kamu tega menyakitiku. Baik, aku akan menerima perlakuanmu, tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak lagi mencintaimu karena aku telah mencintai kakakmu. Berusahalah untuk membuatku terlihat buruk di depannya, karena dia tahu siapa aku. Dia tahu masa laluku. Dia lebih peduli padaku dan lebih lembut di banding dirimu." Kania kemudian membuka pintu. "Keluarlah, aku sudah muak denganmu." Kania mengucapkan itu dengan perasaan hancur.


Ryan kemudian pergi dan meninggalkan Kania yang menangis sesenggukkan di balik pintu. Semua ucapan itu terlontar begitu saja hingga membuat Kania merasakan kepedihan yang teramat dalam.

__ADS_1


"Kamu begitu kejam padaku. Apa diriku terlalu hina hingga membuatmu berbuat sekejam itu padaku?"


__ADS_2