Cinta Kania

Cinta Kania
Part 58 ( End )


__ADS_3

Di depan halaman sebuah rumah, mobil mereka berhenti. Pasangan pengantin itu lantas keluar dari mobil dan memandangi rumah yang kini ada di depan mereka. Seketika, aroma air laut menyeruak dengan embusan angin yang bertiup perlahan. Suasana sore di tempat itu begitu indah saat gurat jingga mulai terlihat menghiasi cakrawala.


"Apa kita akan bulan madu di sini?" tanya Arya sambil menatap wajah istrinya yang kini tersenyum seakan begitu bahagia karena berada di rumah itu. Melihatnya, Arya ikut tersenyum karena wajah cantik Kania membuatnya terggoda dengan bibir ranumnya yang merekah indah.


"Apa kamu sangat bahagia hingga tak mendengar pertanyaanku?" Arya lantas memeluk Kania sambil mengecup mesra pipi istrinya itu.


"Maafkan aku, aku hanya merindukan suasana di tempat ini. Di teras ini, aku sering duduk dan membayangakn pertemuan kita. Aku membayangkan suatu saat kita akan bahagia. Dan kini, khayalan itu telah menjadi nyata."


"Kalau begitu, ayo kita masuk dan aku akan mewujudkan khayalanmu itu." Arya lantas meraih tangan Kania dan masuk ke dalam rumah yang sudah didekorasi dengan aneka bunga. Di atas meja, sudah tersaji aneka kue dan makanan yang sudah disiapkan untuk makan malam mereka.


"Apa semua ini Ardi yang menyiapkannya?"


Kania mengangguk dan melangkah menuju depan pintu kamar yang dulu ditempatinya. Perlahan, Kania membuka pintu kamar itu dan mendapati kamar telah disulap menjadi kamar pengantin yang di dominasi hiasan bunga. Tempat tidur penuh dengan taburan bunga hingga semerbak harum serbuk sari begitu menggoda indera penciuman mereka. Di atas tempat tidur, terselip selembar kartu ucapan yang membuat Kania menahan air mata.


Di lembaran kartu itu, tertulis ucapan selamat berbahagia dan ucapan selamat karena rumah itu kini telah menjadi miliknya. Rumah itu adalah hadiah pernikahan yang diberikan Ardi padanya.


Melihat Kania menitikan air mata, Arya lantas memeluknya dari belakang dengan kedua tangan yang melingkar di pinggul istrinya. "Kenapa menangis? Ini malam pertama kita, bukankah kita harus bahagia?" Arya mengecup mesra pipi Kania dan perlahan meraih tubuh istrinya itu ke dalam bopongannya.


Kania hanya terdiam saat tubuhnya berada dalam bopongan Arya. Lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya itu kini menatapnya dengan penuh rasa cinta. Bahkan, Kania melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya itu dan menyembunyikan wajah di dada bidangnya.


Perlahan, Arya meletakkan tubuh Kania di atas ranjang yang sudah bertabur bunga mawar. Harum bunga mawar merah begitu semerbak hingga membuat keduanya terlena.


"Apa kamu sudah siap?" Arya menatap wajah Kania sambil membelai sudut bibirnya dengan lembut. Sambil memejamkan mata, Kania mengangguk hingga membuat Arya mengecup lembut bibir ranum yang begitu menggoda.


"Bukalah matamu dan lihatlah aku," pinta Arya sambil membelai wajah Kania. Kania lantas membuka matanya dan mendapati wajah tampan yang kini berada di depannya. Melihatnya, Kania tersenyum dengan pipi yang bersemu merah.


"Kania, aku mencintaimu dan izinkan aku melakukan tugasku sebagai suamimu. Bukankah, aku harus mendapatkan persetujuanmu sebelum kita melakukannya?" Kania mengangguk tanda setuju dan lagi-lagi wajahnya memerah saat satu kecupan mendarat di bibirnya.


Saat itu juga, mereka menunaikan kewajiban sebagai sepasang suami istri. Terlihat, aura kebahagiaan di wajah keduanya dengan peluh yang masih basah di dahi. Di balik selimut, Kania memeluk tubuh suaminya dengan senyum yang terukir di sudut bibirnya. Dengan lembut, Arya menyeka sisa peluh di dahi Kania dan mengecupnya dengan mesra.


"Apa kamu bahagia?" tanya Arya sambil membelai wajah Kania.


"Aku sangat bahagia." Arya tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Kembali, dia tergoda dan ingin merasakan kenikmatan dunia yang disuguhkan di depan matanya.


Genggaman tangan dan embusan napas yang memburu di telinga, membuat Kania menitikan air mata bahagia. Kini, dia merasa menjadi wanita sempurna karena telah memberikan mahkota yang paling berharga untuk lelaki yang sangat dicintainya. Lelaki yang kelak akan menjadi ayah bagi anak-anaknya.


Hingga beberapa bulan kemudian, Kania mendapatkan kabar yang membuatnya menjadi wanita sempurna. "Suamiku, aku punya hadiah untukmu." Kania menatap wajah suaminya yang kini tersenyum padanya.


"Hadiah? Hadiah apa?" tanya Arya sambil memeluk tubuh istrinya itu.


Kania lantas menyerahkan hasil USG dan lembaran foto hitam putih. Seorang janin, kini tumbuh di rahimnya.


Melihat hasil USG, Arya tak berkedip. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Ini bukanlah hadiah yang ingin dia dapat. Ini bukan kabar bahagia yang ingin dia dengar.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu? Apa kamu tidak menginginkannya?" Wajah Kania tampak sedih hingga membuat Arya memeluknya.


"Aku sangat menginginkannya, tapi aku takut jika kehadirannya akan membuatku kehilangan dirimu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku takut jika ... " Arya mengeratkan pelukannya seakan dia takut Kania akan meninggalkan dirinya sama seperti Rani yang pergi setelah memberikannya seorang putri yang cantik untuknya.


"Suamiku, apa kamu takut aku akan bernasib sama seperti Rani?"


"Jangan katakan itu, Kania. Aku tidak ingin mendengar apalagi membayangkan jika kamu juga akan meninggalkanku. Aku mohon, jangan lakukan itu." Arya memeluk Kania sambil menangis karena rasa takut jika dia akan ditinggalkan.


Kania menyadari kegelisahan dan ketakutan yang dialami suaminya itu. Kania lantas meraih tangannya dan meletakkan tangan suaminya itu di perutnya. "Suamiku, yakinlah kalau kehadirannya tidak akan membuatmu kehilanganku. Kehadirannya malah akan membawa kebahagiaan untuk kita. Rasakan kehadirannya dan yakinlah kalau semuanya akan baik-baik saja." Kania mencoba meyakinkan Arya kalau semuanya akan baik-baik saja. Walau masih berat, tapi Arya berusaha untuk menyakinkan hatinya kalau kekhawatirannya itu tidaklah beralasan.


Sejak kehamilan Kania, Arya selalu tampak cemas. Hingga pekerjaannya pun tak lagi diurusnya.


"Kak Arya, sudahlah. Kakak ipar di rumah baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir karena Kak Arya bisa saja sakit."


"Entahlah, Ryan. Rasanya, Kakak memang sudah sakit. Lihat saja, Kakak akhir-akhir ini sering merasa mual dan ingin makan yang asam-asam. Lidah Kakak seakan hambar, bahkan tanpa sadar Kakak sudah makan tiga bungkus rujak dan habis tak bersisa. Apa Kakak harus pergi ke dokter?"


"Tidak perlu." Selly dan Bastian tiba-tiba muncul. Pasangan yang baru sebulan menikah itu terlihat begitu mesra.


"Apa kalian tidak khawatir padaku? Bisa saja aku kini sedang sakit yang mematikan."


"Nih, aku tambah lagi dua bungkus rujak untukmu. Kamu harus habiskan karena itu keinginan bayimu." Selly meletakan dua bungkus rujak di atas meja tanpa peduli dengan ucapan sahabatnya itu. Melihat bungkusan rujak itu, Arya tersenyum dan segera meraihnya.


"Wah, sepertinya segar. Demi bayiku, aku akan menghabisakn rujak-rujak ini." Arya tersenyum dengan mata berbinar, tapi senyumnya itu memudar saat pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dan membawa aroma saus kepiting pedas yang mengganggu penciumannya. Sontak, dia merasa ingin muntah hingga membuatnya masuk ke dalam kamar mandi.


"Biasa, lagi ngidam dia, makanya dia mau muntah cium aroma makanan yang kamu bawa," ucap Bastian sambil meraih kotak makan dan diletakkan di atas meja.


"Ah, sudahlah, jangan pedulikan dia. Ayo, kita makan." Tanpa peduli dengan keadaan Arya yang kini muntah-muntah, mereka malah asyik menyantap makan siang.


Dengan kesal, Arya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang memerah. "Dasar tidak setia kawan! Kalian enak-enakan makan kepiting sementara aku makan rujak hingga mulas. Ah, kalau bukan karena istri dan calon bayiku, sudah aku usir kalian dari sini. Sudah tahu aku tidak suka aroma busuk itu, tapi masih saja bawa ke sini. Apa kalian tidak bisa makan di kantin saja?" Arya tampak kesal, namun mereka tak peduli padanya. Seakan mengejek, Selly bahkan mendekatinya sambil membawa cangkang kepiting ke arahnya.


"Bastian, bawa istrimu ini jauh dariku." Arya menutup hidungnya dan menghindar dari Selly.


"Lebih baik kamu yang pergi dari sini. Sana, jadilah suami siaga dan jaga Kania dengan baik," jawab Bastian yang terlihat acuh.


"Kalian! Awas saja kalau saja istrimu hamil nanti aku akan balas dendam pada kalian. Lagipula, ini kantorku, kenapa juga kalian makan di sini?"


"Kak Arya, jaga emosi, Kak. Lebih baik Kakak pulang, biar aku yang akan mengerjakan pekerjaan Kakak. Tadi, Tania meneleponku dan bilang kalau kakak ipar sekarang lagi bersih-bersih rumah. Apa Kak Arya akan membiarkan kakak ipar bekerja seperti itu?"


Mendengar ucapan adiknya, sontak mimik wajahnya berubah. "Kalau begitu, Kakak pulang dulu. Hey kalian, sebaiknya besok kalau datang lagi bawa aku rujak, jika tidak jangan coba-coba datang lagi ke sini, paham!"


"Iya, sana pergi. Kasihan Kania yang lagi beres rumah," ucap Selly yang membuat Arya menatapnya kesal.


Arya kemudian pergi dan menyisakan tawa sahabat-sahabatnya. Melihat sikap Arya sejak kehamilan Kania, mereka sering mengejeknya. Bagaimana tidak, Arya yang terkenal berkharisma dan pendiam, kini terlihat payah dengan tingkah manjanya. Walau begitu, mereka paham kalau perubahan sikapnya itu karena kondisi psikis di masa kehamilan sang istri.

__ADS_1


Setibanya di rumah, Arya lantas menemui Kania yang sementara mengepel lantai kamar. Dengan segera, gagang pel diraih dari tangan istrinya. Kancing kemeja di pergelangan tangan lantas dibuka dan digulung hingga lengannya. "Biar aku yang kerja, kamu duduk saja di situ. Jangan lakukan apapun." Kania tersenyum saat melihat tingkah suaminya itu.


Tania yang baru masuk ke kamar lantas mendekati Kania dan mengelus lembut perut ibunya. "Adik bayi jangan nakal, ya. Jangan buat Ibu kita lelah. Nanti kalau adik bayi lahir, Kakak yang akan menjaga adik bayi." Kania tersenyum sambil membelai lembut kepala putrinya itu.


"Iya, Tania akan segera menjadi kakak dan Tania harus menyayangi dan menjaga adiknya. Iya, kan, Pa?"


"Iya. Adik cewek atau cowok, Tania harus tetap sayang sama adik. Mama dan Papa juga sangat sayang sama Tania dan juga adik bayi karena kita harus saling menyayangi. Tania ingat, kan apa kata Papa?"


"Iya, Pa. Tania ingat, kok. Tania akan menyayangi adik bayi." Gadis kecil kembali mengelus perut Kania yang terlihat mulai membesar. Kania sangat bersyukur karena kini dia telah mempunyai keluarga kecil yang utuh. Dia berharap, akan selamanya bahagia bersama keluarga kecilnya itu.


Hingga di mana hari itu tiba. "Istriku, kamu harus kuat. Aku mohon bertahanlah." Arya tampak berjalan mengikuti Kania yang kini terbaring di meja brankar yang didorong beberapa orang perawat. Kania terlihat mengerang kesakitan karena akan segera melahirkan.


"Sebaiknya, Bapak ikut ke dalam untuk menemani istri Bapak. Dengan kehadiran Bapak di sisinya, setidaknya bisa memberi semangat padanya," ucap dokter wanita yang akan menangani persalinan Kania.


"Iya, Kak. Sebaiknya temani saja kakak ipar di dalam," ucap Ryan memberi dukungan.


Arya akhirnya masuk menemani Kania yang kini terbaring. Sambil menggenggam tangan dan menyeka peluh di dahinya, Arya bisa melihat bagaimana perjuangan istrinya dalam melahirkan buah cinta mereka. Sambil menahan air mata, Arya menggenggam tangan istrinya sembari mengecup seraya memanjatkan doa untuk keselamatan mereka.


Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, suara tangisan bayi akhirnya terdengat. Bayi mungil yang baru saja lahir ke dunia itu lantas diserahkan pada ayahnya yang menatapnya dengan perasaan bahagia.


"Selamat, Pak. Bayi Bapak sangat tampan." Arya meneteskan air mata bahagia saat menimang buah hatinya. Tatapannya kini mengarah pada Kania yang tampak lelah dengan peluh yang membasahi wajahnya.


"Istriku, terima kasih karena sudah melengkapi hidupku. Terima kasih karena kamu tidak pergi meninggalkanku." Arya menangis hingga membuat Kania ikut menitikan air mata.


"Aku tidak akan secepat itu meninggalkanmu. Aku ingin menikmati kebahagiaan bersamamu dan anak-anak kita hingga mereka dewasa."


Arya mengangguk dan mengecup dahi istrinya itu. "Istirahatlah, aku akan menunggumu di sini. Aku akan menjaga putra kita."


Kania akhirnya tertidur setelah perjuangan panjang yang dilaluinya. Sementara Arya masih menimang bayi mungil yang tak jemu dipandangnya.


Selang beberapa jam kemudian, Kania dipindahkan ke kamar inap bersama sang buah hati. Semua sahabatnya turut hadir memberikan ucapan selamat. Selly yang kini tengah berbadan dua begitu antusias melihat bayi mungil di dalam gendongannya.


"Putra kalian sangat tampan. Rasanya, aku tak sabar untuk segera melihat bayiku." Selly mengusap perutnya, begitupun dengan Bastian yang mengaminkan ucapan istrinya.


Lima hari pasca melahirkan, Kania sudah diperbolehkan pulang. Sambil menggendong bayinya, Kania masuk ke dalam rumah dan meletakkan bayinya itu di dalam box bayi yang ada di kamarnya.


Kania masih berdiri memandangi sang buah hati hingga Arya datang dan memeluknya. "Istriku, aku mencintaimu." Kania mengangguk dan melepaskan senyum. Sambil menggenggam tangan suaminya, Kania bersandar di dada bidang sang suami.


"Aku juga sangat mencintaimu." Arya mengeratkan pelukannya. Tania yang baru saja masuk tak luput dari pelukan mereka. Ah, keluarga kecil itu terlihat bahagia. Kehadiran sang buah hati menambah kebahagiaan yang sempat tertunda. Kebahagiaan yang harus mereka dapatkan dengan perjalanan cinta yang penuh liku dan cobaan. Karena Tuhan punya cara untuk menguji umatnya dan memberikan akhir ujian itu dengan tawa bahagia.


Tak hanya keluarga kecil itu yang kini berbahagia, Ryan dan Davina juga tengah merasakan kebahagiaan kerena mereka sebentar lagi akan menunju pelaminan. Bastian dan Selly juga tengah menunggu kelahiran buah cinta mereka, sedangkan Ardi kini mulai dekat dengan seorang wanita yang dikenalkan Selly padanya.


Cinta, terkadang membuat kecewa, tapi cinta juga butuh pengorbanan agar bisa bahagia. Dan cinta, akan menemukan jalannya, jalan yang menuju kebahagiaan bersama orang terkasih menuju ikatan janji suci. Janji suci yang terucap dan selamanya akan terpatri hingga maut menghampiri.

__ADS_1


END.


__ADS_2