Cinta Kania

Cinta Kania
Part 31


__ADS_3

Kania menatap hamparan laut lepas dari atas sebuah jembatan kayu. Tatapannya mengarah pada burung-burung camar yang asyik terbang di atas permukaan air laut sekadar untuk mencari makan, berharap ada seekor ikan yang bisa ditangkap dan dibawa pulang pada anak-anaknya.


"Kamu tidak apa-apa?" Arya berdiri di samping Kania sambil memandangi camar-camar itu. Namun, dia segera mengalihkan pandangannya ke arah Kania. "Maafkan aku." Arya masih memandangi Kania yang perlahan memandanginya dengan senyum yang terukir di sudut bibirnya.


"Seharusnya, aku yang harus meminta maaf, karena aku sudah membuatmu malu di depan karyawanmu." Kania tampak tersenyum walau sebenarnya Arya tahu kalau itu hanyalah senyum yang dia paksakan.


"Untuk apa aku harus malu, toh mereka tidak tahu apa-apa tentangmu. Aku tahu siapa dirimu. Aku tahu siapa orang tuamu dan aku juga tahu kamu bukanlah orang seperti itu. Jadi, untuk apa aku harus merasa malu?" Arya kembali menatap hamparan laut lepas. Wajah tampannya terlihat tersenyum dengan matanya yang terpejam.


Embusan angin membawa aroma laut yang begitu menggelitik hidungnya hingga membuatnya menarik nafas seakan ingin menikmati aroma laut yang sudan lama tak dihirupnya. Ya, Arya begitu menyukai laut. Saat dia sedih, dia akan pergi ke pesisir pantai, berharap mendapatkan ketenangan setelah menghirup aroma laut dan mendengar deburan ombak yang terdengar syahdu. Namun, sudah 3 tahun ini dia tidak pernah menginjakkan kakinya kembali di hamparan pasir karena dia tidak ingin menghilangkan rasa sedihnya karena kehilangan istrinya.


Namun, saat ini, entah mengapa dia membawa Kania ke pesisir pantai. Seakan, dia ingin membuang semua rasa sedihnya di pantai itu. Rasa sedih yang selama ini menghantui hati dan pikirannya karena rasa kehilangan atas  kepergian sang istri.


Kania memandangi Arya yang masih memejamkan matanya. Wajah tampan itu tampak tersenyum hingga wajahnya terlihat mempesona. Kania menatap wajahnya dan melihat ketenangan dan keteduhan di balik sosok lelaki itu. Entah kenapa, setiap bersamanya, Kania merasa nyaman dengan perlakuan lembutnya.


Kania mengalihkan pandangannya dan kembali menatap lautan lepas. "Setelah orang-orang tahu siapa aku, apa kamu masih ingin melanjutkan pernikahan ini?"


Arya perlahan membuka matanya dan menatap Kania yang sementara menundukkan wajahnya. "Aku akan tetap melanjutkan pernikahan ini. Aku tak peduli dengan mereka karena aku memang tak peduli dengan mereka. Aku tahu, pernikahan kita ini hanya sandiwara, tapi selama kita masih ada dalam status pernikahan ini, aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu keluargaku dan kamu termasuk didalamnya karena kamu sekarang adalah istriku." Kania terhentak mendengar ucapan Arya yang begitu membuatnya tersentuh hingga tanpa sadar membuat dia menitikkan air mata.


Melihat Kania menangis, Arya perlahan mendekatinya dan meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. "Menangislah, jika itu bisa membuatmu tenang. Selama kamu menjadi istriku, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu," batin Arya sambil mengelus lembut punggung gadis itu.


Di dalam pelukan Arya, Kania merasa nyaman. Di dada bidang lelaki itu, Kania bersandar dan menangis di sana. Sejenak, ingatannya terusik dengan hadirnya bayangan Ryan yang bermain di ingatannya. Andai di saat lalu, dia berterus terang pada kekasihnya itu dan menerima keputusan  Ryan, mungkin kini dia tidak akan tersiksa. Dia tidak akan dibenci bahkan disakiti oleh pemuda itu dan dia tidak akan tersiksa dengan perasaan cinta yang kini mulai mengusik jiwanya.


Kania berdiri di antara dua hati yang membuatnya bimbang, tapi dia berusaha membuang perasaan itu karena dia sadar dia tak pantas untuk memiliki salah satu di antara keduanya. Ya, perasaan Kania kini bagaikan bahtera di atas samudera yang terombang ambing di lautan lepas. Dia ingin bertahan di bahtera pernikahan yang dibuatnya sendiri, tapi dia takut tidak akan mendapat tempat untuk bersandar. Dia ingin berenang meninggalkan bahtera, tapi dia takut dia akan mati karena tenggelam dalam kebencian hingga membuat jasadnya hanyut dan terbawa arus hingga jasadnya hilang disapu gelombang dan terlupakan. Itulah yang kini dia rasakan karena kelembuatan Arya padanya telah menarik hatinya, tapi cintanya pada Ryan tak bisa dia lupakan begitu saja.


Di taman, Selly duduk dan di temani Bastian di sampingnya. Wajah cantik Selly terlihat sedih dengan sisa air mata yang masih membasahi pipinya. Wajahnya menunduk seakan ingin menutupi kesedihan di wajahnya itu.


"Apa kamu baik-baik saja?" Bastin memberikan sapu tangannya pada gadis itu. Selly menerimanya dan menghapus sisa air mata di pipinya.


"Maafkan aku karena menangis seperti ini di depanmu. Jangan pedulikan aku jika kamu merasa malu duduk di sini denganku."


Bastian tersenyum mendengar ucapan gadis itu. "Malu? Apa kamu pikir aku malu duduk dengan wanita yang sedang menangis?" Bastian kemudian tertawa hingga Selly memandanginya.


"Kenapa kamu tertawa? Apa aku terlihat lucu?" Selly memukul lengan Bastian hingga membuat Bastian kembali tertawa.


"Ya, kamu lucu. Apa kamu tahu sudah berapa kali aku duduk dengan wanita yang sedang menangis?" Selly mengernyitkan alisnya dan memandangi Bastian dengan sinis.


"Hei, jangan berpikir yang bukan-bukan. Bukan itu yang aku maksud," elak Bastian yang paham dengan tagapan gadis itu padanya.


"Aku sudah biasa mendengar tangisan dari wanita, karena aku hidup dengan 4 orang wanita yang aku cintai. Aku sering mendengar ibuku menangis saat dia merasa tak mampu menjadi ibu yang baik. Aku sering mendengar tangisan ketiga adikku yang terkadang pulang menangis karena diejek miskin dan tak punya uang untuk jajan. Aku sering mendengar Kania menangis karena kesedihan atas cobaan hidup yang dia alami. Lantas, untuk apa aku harus malu saat mendengarmu menangis?"


Selly memandangi Bastian yang berusaha tersenyum di depannya. Wajah seorang pemuda yang terlihat lugu dan polos tanpa beban, walau sebenarnya hidupnya penuh dengan cobaan hidup yang selalu menderanya.


Mendengar ucapan Bastian, Selly lantas menghapus air matanya dan mengangkat wajahnya. "Apa aku bisa menemui 4 wanita yang kamu cintai itu?" tanya Selly dengan sebuah senyuman yang terukir di wajah cantiknya.

__ADS_1


"Untuk apa? Apa kamu tidak percaya dengan ucapanku tadi?"


Selly menggeleng. "Aku percaya, karena itu aku ingin mengenal mereka."


"Baiklah, tapi lain kali saja karena aku tidak ingin mereka melihatmu dengan dandananmu seperti ini. Aku bisa ditodong dengan segala pertanyaan mereka nanti."


Selly tersenyum karena menyadari ucapan Bastian. Penampilan Selly saat ini memang terlihat glamour dan mewah dan dia memahami itu.


"Jangan khawatir, saat aku ke rumahmu nanti aku akan berpenampilan biasa saja. Aku penasaran dengan wanita-wanita yang kamu cintai itu." Selly tersenyum hingga membuat Bastian menatapnya.


"Sebaiknya aku mengantarmu pulang, ayo." Bastian lantas meraih tangan gadis itu dan Selly hanya tersenyum saat pemuda itu meraih tangannya. Selly tak menolak bahkan dia mengeratkan genggaman tangannya dan mengikuti Bastian menuju sepeda motornya.


Rupanya, kebaikan, kesederhanaan dan kelembutan Bastian telah meluluhkan hatinya. Sambil tersenyum, Selly bersandar di punggung pemuda itu dan memeluknya dari belakang dengan deru sepeda motor yang perlahan meninggalkan taman itu.


Sementara Kania, tampak duduk di dalam mobil sambil menerima telepon dari Tania. "Hallo, Nak."


"Apa kamu senang jika aku kembali ke Amerika?" Kania terkejut saat mendengar Ryan yang meneleponnya.


"Mana Tania?"


"Tenanglah, dia sedang bermain. Kebetulan, aku lagi bosan karena itu aku menghubungimu."


"Aku akan menutup teleponnya." Kania ingin mengakhiri panggilan itu sebelum Arya datang karena lelaki itu sedang membeli es krim untuk Tania.


"Jika itu yang kamu inginkan, katakanlah, aku sudah siap. Jika itu bisa membuatmu senang karena berhasil membalaskan dendammu, aku takkan mengelak. Aku akan menerima apa yang ingin kamu lakukan untuk membalas sakit hatimu padaku. Lakukanlah, karena setelah itu aku akan merasa bebas dari rasa sakit ini." Kania menitikkan air mata. Suaranya bergetar. Kania lantas mengakhiri panggilan itu dan menghapus air matanya karena Arya sudah berjalan di samping mobil dan membuka pintu mobil itu.


"Minumlah, kamu pasti haus." Arya menyerahkan sebotol minuman dingin padanya. Kania mengambil botol itu dan mulai meneguknya.


"Sebaiknya kita pulang, Tania pasti sudah menunggu kita."


Baru saja Arya menyalakan mobil, ponselnya tiba-tiba berdering. "Hallo, Nak." Arya menerima panggilan video call dari Tania.


"Pa, mana Mama?" tanya Tania yang kini duduk di pangkuan Ryan. Arya lantas menyerahkan ponselnya pada gadis itu.


"Mama di sini. Sebentar lagi Mama dan Papa sudah sampai rumah." Kania tampak tersenyum walau itu terlihat dipaksakan karena Ryan sedari tadi memandanginya.


"Kenapa ponsel Mama tidak aktif, padahal Tania ingin bicara sama Mama." Setelah menutup telepon dari Ryan, Kania mengnonaktifkan ponselnya karena dia tidak ingin pemuda itu kembali menghubunginya.


"Maaf, ponselnya Mama mati karena lowbat. Tania tidak marah, kan?" Gadis kecil itu mengangguk dan tersenyum padanya. Sementara Ryan, hanya diam, tapi tatapan matanya terus mengarah pada Kania.


Ryan tidak mengalihkan pandangannya dari Kania. Tatapan matanya seakan mengisyaratkan kemarahan karena Kania telah berani menantangnya.


"Aku ingin bicara dengan kakakku." Ryan tiba-tiba meminta untuk berbicara dengan Arya. Sejenak, Kania terkejut dan takut jika benar Ryan akan menceritakan masa lalu mereka pada lelaki itu, tapi dia tidak mengelak, bahkan dia menyerahkan ponsel itu pada Arya.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Kak, tolong belikan aku sekotak pizza. Bisa, kan?"


"Pizza? Kamu kan bisa lewat pesan antar?"


"Iya, tapi aku ingin yang gratisan. Jika Kakak yang beli, otomatis kan aku tidak perlu keluar uang. Ayolah, Kak. Hanya sekotak saja."


"Iya, iya, akan Kakak belikan." Ryan terkekeh saat kakaknya itu mengiyakan permintaannya itu walau sebenarnya bukan itu tujuannya. Dia hanya ingin menguji Kania.


Sementara Kania, hanya terdiam saat mendengar percakapan mereka. Dia sudah siap mengambil resiko jika Ryan benar-benar mengatakan semua pada Arya.


"Apa kamu tidak keberatan jika kita menunggu sebentar?"


Kania mengangguk. "Tidak mengapa. Memangnya, kamu menunggu apa?"


"Pizza."


"Pizza?"


Arya mengangguk. "Ryan memintaku untuk membelikannya sekotak pizza. Anak itu selalu saja meminta yang aneh-aneh." Arya tertawa kecil memgingat tingkah adiknya itu.


Kania mengembuskan nafas lega. Setidaknya, untuk saat ini dia masih bisa tenang karena Ryan belum mengungkap kisah mereka pada Arya.


Tak lama kemudian, seorang driver pengantar pizza datang dan menyerahkan 2 kotak pizza. Setelah membayar, mereka kemudian kembali ke rumah.


Di depan rumah, Tania sudah menunggu. Saat melihat Kania, gadis kecil itu berlari dan memeluknya.


Sementara Ryan, mengambil 2 kotak pizza yang dibawa oleh Arya. "Terima kasih, Kak." Ryan tampak tersenyum dan berjalan melewati Kania seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Ini es krim buat anak Papa." Arya memberikan 2 kotak es krim pada putrinya itu. Tania tersenyum dan mengambil kotak es krim dan menyimpan satu kotak di dalam lemari es.


Di meja, Ryan tampak asyik menyantap pizza dan di sampingnya, Tania juga tampak asyik menyantap es krim coklat pemberian ayahnya.


"Paman dan keponakan ternyata sama saja." Wicaksana tersenyum saat melihat putra dan cucunya itu makan dengan lahap.


"Apa acaranya sudah selesai?" tanya Wicaksana pada putra sulungnya yang baru saja keluar dari kamar.


"Iya, Ayah."


"Menantuku pasti menjadi perhatian mereka. Iya, kan?" Arya mengangguk dan tersenyum.


"Tentu saja Kania menjadi perhatian karena menantuku itu sangat cantik. Ah, Ayah senang karena kamu sudah menikahi wanita sebaik Kania." Wicaksana begitu memuji kebaikan dan perhatian menantunya itu. Sementara Ryan yang terlihat acuh, ternyata diam-diam mendengar percakapan mereka. Pujian ayahnya ternyata membuat Ryan tersenyum sinis. "Lihat saja, Ayah. Kalau ayah tahu dia adalah gadis yang sudah membuat anakmu ini menderita, apa pujian itu masih bisa ayah lontarkan padanya?"

__ADS_1


Ryan kembali mengunyah pizza yang sudah habis setengah kotak hingga pandangannya tertuju pada Kania yang baru saja keluar dari kamarnya. Sontak, dia tertegun saat melihat senyuman yang terukir di wajah gadis itu. Senyum yang dia arahkan pada sang kakak. Seketika, Ryan mengalihkan pandangannya karena senyuman itu telah menggetarkan hatinya.


__ADS_2