Cinta Kania

Cinta Kania
Part 50


__ADS_3

Melihat wanita itu, Kania bergegas meninggalkannya, tapi tangannya lantas diraih oleh wanita itu. "Kamu mau kemana? Aku belum selesai denganmu." Wanita itu lantas berdiri dan menatap tajam ke arah Kania.


"Rina, lepaskan tanganku. Aku harus kembali bekerja."


"Tidak!! Aku tidak akan melepaskanmu. Kamu sudah merebut Arya dariku dan sekarang dia malah menceraikanmu. Kenapa? Apa kamu malu jika semua orang tahu kalau kamu bercerai karena selingkuh dengan adik iparmu sendiri?" Sontak, semua orang menatap ke arahnya. Pandangan mereka terlihat menyudutkan Kania. Bu Risna dan Ardi pun menatap ke arahnya.


"Lepaskan tanganku!!" Kania berusaha melepaskan tangannya dan beranjak pergi, tapi Rina mengejarnya dan menarik bahunya. Sontak, satu tamparan melayang ke arah Kania hingga membuat pipinya memerah.


"Dasar perempuan murahan!! Apa setelah mengkhianati Arya kamu bisa hidup bahagia dengan Ryan?" Kembali Rina mendekatinya dan ingin menamparnya, tapi dengan segera Ardi melerainya.


"Maaf, kalau ingin bertengkar sebaiknya jangan di restoran saya. Sebaiknya Anda pergi karena Anda sudah membuat semua pengunjung merasa tidak nyaman." Rina menatap Ardi yang kini berdiri di depannya dan menatap para pengunjung yang melihat ke arahnya. Dengan kesal, Rina akhirnya meninggalkan tempat itu.


Sambil menghapus air matanya, Kania bergegas menuju ruang istirahat. Pipinya memerah karena tamparan Rina yang cukup keras. Kania lantas mencuci wajahnya untuk menghilangkan sisa air mata yang nyatanya tak mampu untuk bisa dibendungnya. Air matanya seakan mencari jalan untuk keluar.


Ucapan Rina nyatanya begitu menyakitkan baginya. Entah apa yang akan dipikirkan orang-orang tentangnya. Padahal, mereka tidak tahu yang sebenarnya.


Perceraiannya dengan Arya, rupanya sudah diketahui oleh Rina. Bahkan, setelah tahu Arya telah bercerai, Rina sering datang ke rumahnya dan mencoba untuk mendekati Arya dan Tania. Namun, lagi-lagi tidak semudah itu baginya mendapatkan perhatian Arya. Hingga dia tahu kalau Arya bercerai karena Ryan yang ternyata mencintai Kania.


"Kania, kamu tidak apa-apa?" tanya Dina sambil mendekatinya.


Kania mengangguk sambil berusaha untuk tersenyum. Walau sulit, tapi dia berusaha untuk tetap bersikap profesional. Seakan tidak terjadi apa-apa, Kania melanjutkan tugasnya walau pandangan para pengunjung terlihat sinis ke arahnya.


"Kalau sudah punya suami, jangan lagi menggoda lelaki lain, apalagi adik ipar sendiri. Itu namanya perempuan gatal karena tidak puas dengan suaminya, makanya dia menggoda adik iparnya." Salah seorang wanita berucap sambil melirik ke arah Kania. Begitupun dengan beberapa orang temannya yang juga melirik sinis ke arahnya.


"Untung saja kita tidak bawa suami kita ke sini, bisa jadi suami kita akan dirayu oleh wanita iblis." Kania masih meletakan beberapa piring dan tak peduli dengan ocehan mereka, hingga dia pergi saat dia sudah selesai meletakkan semua pesanan wanita-wanita itu.


Kania menahan dadanya seakan mencoba menahan sakit yang baginya terlalu menyakitkan. Tanpa sadar, air matanya jatuh hingga membuatnya menundukan wajahnya. Walau begitu, Kania tetap melanjutkan tugasnya dan tak peduli dengan pandangan orang-orang terhadapnya. Jangankan pengunjung, bahkan teman-temannya sendiri mulai menatap sinis ke arahnya.


Saat menjelang sore, Kania bergegas untuk pulang. Rasanya, hatinya kini begitu tersiksa hingga memaksanya bersandar di dinding ruangan istirahat. Kania mencoba menata hatinya, walau itu terasa sulit. Mentari senja bersinar dengan indahnya saat pandangan Kania tertuju pada lautan lepas. Rasanya, hatinya begitu tenang.


Kania bergegas berjalan menuju pantai. Restoran yang berdiri di dekat pesisir itu memang mempunyai daya tarik tersendiri. Para pengunjung bisa menatap lautan lepas atau mencium aroma laut yang terbawa tiupan angin.


Kania melepaskan sepatunya dan berjalan menyusuri hamparan pasir dan duduk di atas sebuah batu. Pandangannya kini tertuju pada langit senja yang terlihat begitu indah. Matahari tampak mulai menguning dengan semburat warna jingga yang menghiasi langit. Burung-burung camar tampak terbang dan kembali ke sarang. Kania menatap keindahan yang terlukis indah di depan matanya, tapi sayang keindahan itu hanya membuatnya tersenyum dalam tangis. Kini, tangisnya kian menjadi hingga membuat seseorang menatap ke arahnya.


"Apa benar dia itu wanita yang diceraikan suaminya karena selingkuh dengan adik iparnya sendiri?" Ardi mengembuskan napasnya kasar saat Risna berdiri di sampingnya. Pertanyaan kakaknya itu juga pertanyaan yang ingin dia tanyakan.


"Ardi, apa tidak sebaiknya kita memecatnya saja? Sudah dua kali dia memancing keributan, padahal belum seminggu dia bekerja di restoran kita ini. Kalau seperti ini terus, restoran kita akan kehilangan pengunjung."


Ardi masih mencerna usul kakaknya itu dan itu memang benar, karena jika dia masih mempertahankan Kania, bisa saja restorannya akan kehilangan pelanggan.


"Ardi, segera ambil keputusan. Kakak tidak ingin restoran kita ini hancur hanya karena wanita itu." Risna meninggalkan Ardi yang masih berpikir. Dari jendela, dia melihat ke arah Kania yang masih duduk di atas batu, hingga dia melihat Kania berdiri dan bergegas untuk pergi.


Melihat Kania pergi, Ardi bergegas keluar dari restoran dan menghampiri Kania yang sudah berdiri di depannya. "Ikut aku."


"Maaf, Pak. Saya ... "


"Kenapa? Kalau kamu masih ingin bekerja, ikut perintahku. Sekarang, aku memerintahkanmu untuk ikut denganku, apa itu terlalu sulit untuk kamu lakukan?"

__ADS_1


"Maaf, Pak. Saya hanya tidak ingin orang-orang melihat kita seperti ini."


"Ah, peduli apa dengan orang-orang. Apa aku harus minta izin sama mereka untuk pergi belanja keperluan dapur denganmu? Sudahlah, cepat masuk." Ardi lantas membuka pintu mobilnya dan menyuruh Kania untuk masuk. "Cepatlah, kita tidak punya banyak waktu."


Walau ragu, Kania akhirnya menuruti perintah lelaki itu. Di dalam mobil, Kania hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata. Pandangannya hanya tertuju keluar jendela. Melihat suasana malam yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Hingga mobil itu berhenti di salah satu pasar tradisional.


"Ayo, turun. Kita akan belanja di sini."


Kania menuruti perintah Ardi dan turun dari mobil itu. Suasana pasar tradisional memang jauh berbeda dengan suasana di mall. Walau begitu, Kania tampak menikmati susana pasar yang sudah lama tak dilihatnya. Pasar tradisional bukanlah tempat baru bagi Kania. Dulu, saat dia masih kecil bahkan saat dia beranjak remaja, ibunya sering mengajaknya belanja ke pasar tradisional. Aneka jajanan kue tak luput dari pandangannya, hingga satu kantong plastik menjadi buah tangan setiap pulang dari pasar bersama ibunya.


Ardi berjalan di sampingnya dan melihat Kania yang tampak antusias melihat aneka sayur segar yang dijajakan para pedagang. Di saat malam, pasar tradisional terlihat lebih ramai karena para petani baru saja membawa hasil kebun mereka untuk dijual.


Ardi yang sepertinya tampak akrab dengan beberapa orang penjual sedang asyik melihat dan memilih sayur untuk dibelinya. Kania hanya berdiri memandanginya hingga penjual itu menatap ke arahnya. "Apa wanita itu istrimu? Ah, rupanya istrimu itu sangat cantik." Wanita paruh baya itu tersenyum dan menatap ke arah Kania yang terlihat salah tingkah. Sementara Ardi, hanya tersenyum tanpa menyangkal atau membantah ucapan wanita itu.


Setelah membeli beberapa sayur dan juga bumbu dapur, mereka akhirnya meninggalkan pasar tradisional itu. Di dalam mobil, Kania kembali terdiam dan hanya memandang keluar jendela.


"Apa kamu sering belanja di pasar seperti tadi?" Pertanyaan Ardi mengalihkan perhatiannya. Sekilas, Kania tersenyum karena mengingat kebersamaannya bersama ibunya di masa lalu.


"Dulu, saat aku masih kecil, tapi kini sudah jarang aku ke sana." Kania tersenyum kecut dan kembali melihat keluar jendela hingga perhatiannya kembali terusik saat ponselnya tiba-tiba berdering. Melihat nama yang terpampang, Kania menjadi ragu untuk mengangkatnya.


"Angkat saja, siapa tahu itu penting," ucap Ardi tanpa melihat ke arahnya.


Dengan malas, Kania menerima panggilan itu. "Ada apa?" tanya Kania datar.


"Kania, kamu ada di mana? Aku ingin bertemu denganmu." Suara itu tak asing di telinga Kania.


"Tidak, aku sekarang sudah ada di depan kostanmu. Aku akan menunggu hingga kamu datang."


"Ryan, aku mohon, jangan seperti itu. Pulanglah, besok aku janji akan menemuimu." Kania tampak kesal dengan sikap Ryan padanya. Sejak kejadian tadi, rasanya Kania ingin pergi dari kehidupan Ryan dan menghilang darinya.


"Kania, aku ingin malam ini kamu menemaniku seperti dulu. Bukankah, setiap malam ulang tahunku kamu selalu ada di sisiku?"


Sontak, Kania tertegun dan mengingat besok adalah hari ulang tahun Ryan. Di masa lalu, Kania selalu menemani lelaki itu melewati pergantian tanggal lahir bersama. Sejenak, Kania terdiam dan tidak tahu harus berkata apa.


"Kania, aku akan menunggumu." Ryan tiba-tiba memutus sambungan teleponnya. Kania hanya terdiam hingga membuat Ardi melihat ke arahnya.


"Aku akan mengantarmu pulang."


"Tidak perlu, Pak. Aku turun di depan saja." Kania terlihat murung hingga membuat Ardi mengurungkan niatnya untuk menurunkan Kania di tempat yang ditunjuk oleh gadis itu.


"Di mana alamatmu, biar aku mengantarmu."


"Maaf, Pak. Ini sudah malam dan saya tidak bisa pulang diantar oleh Bapak. Saya tidak ingin orang-orang beranggapan kalau saya ... " Kania terdiam dan tidak melanjutkan kalimatnya.


"Beranggapan apa? Katakan saja, memangnya orang-orang akan beranggapan apa tentangmu? Apa karena perkataan wanita itu?" Ardi perlahan menghentikan laju mobilnya dan berhenti di sisi jalan.


Kania terdiam dan perlahan, air matanya jatuh. Rasanya, dia tidak sanggup untuk mengangkat kepalanya dan menentang dunia yang mulai menyudutkannya.

__ADS_1


"Kalau itu tidak benar, kenapa harus kamu risaukan? Aku tidak tahu masalah yang sedang kamu hadapi, tapi apa kamu tahu kalau masalahmu itu sudah menggangguku?"


Kania menatap Ardi yang kini menatap ke arahnya.


"Baru beberapa hari kerja, kamu sudah membuat keributan dan aku bisa saja memecatmu, tapi aku tidak sekejam itu. Apa kamu pikir, aku mengajakmu tanpa alasan?" Ardi masih menatap Kania yang kini menundukan wajahnya.


"Aku hanya ingin membuktikan apa kamu itu benar seperti apa yang dikatakan oleh wanita itu. Aku ingin tahu, apa kamu itu seorang wanita penggoda yang ... "


"Aku bukan wanita seperti itu!! Aku hanya terjebak dalam permainan takdir yang nyatanya begitu kejam padaku. Aku hanya ingin bahagia bersama orang yang aku cintai, tapi takdir tak menginginkan itu. Aku hanya ingin bahagia bersamanya karena aku ... "


"Karena kamu masih mencintainya?"


Kania kembali menundukan wajahnya seakan ingin menutupi air matanya.


"Tidak bisakah kamu berusaha tegar dan tegas pada takdirmu itu? Ubahlah takdirmu sendiri agar takdirmu itu tunduk padamu. Ah, sudahlah, aku tidak ingin membuatmu menangis seperti ini. Keluarlah dan besok, kembalilah bekerja seperti biasa."


Kania lantas keluar dari mobil dan menatap mobil itu yang perlahan meninggalkannya. Kembali, Kania merenungkan ucapan Ardi padanya. "Apa aku harus melakukannya?" Kania membatin.


Sementara Ardi, kembali teringat akan masa lalunya. Di mana, dia pernah melepaskan cintanya demi seorang sahabat. Bagaimana dia harus menanggung kecewa, saat tahu wanita yang dicintainya ternyata dicintai oleh sahabat baiknya itu. Sahabat yang sudah memberikan kehidupan padanya hingga membuatnya rela melepaskan cintanya.


Di depan kostan, Ryan masih berdiri di samping motornya hingga dia bergegas mendekati Kania yang berjalan ke arahnya. "Kenapa kamu tidak memintaku untuk menjemputmu?" tanya Ryan sambil meraih tangan Kania dan digenggamnya.


"Ryan, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Kania menghentikan langkahnya dan menatap Ryan yang kini menatapnya.


"Ada apa? Apa yang ingin kamu katakan padaku?" Ryan tersenyum sambil membelai lembut rambut gadis itu.


Melihat Ryan yang kini tersenyum padanya, membuat Kania kembali menata hatinya. Namun, perlahan Kania membalas senyumnya itu. "Aku akan menemanimu melewati pergantian malam dan kita akan merayakan ulang tahunmu, sama seperti dulu." Mendengar ucapan Kania membuat Ryan memeluk gadis itu.


"Terima kasih, ayo kita pergi."


Dengan motornya, mereka kemudian pergi dan berhenti di halaman rumah yang pernah mereka singgahi. Mendengar suara motor, Bi Mar keluar dan menyambut kedatangan mereka.


"Bagaimana, Bi? Apa semuanya sudah siap?" tanya Ryan sambil menggenggam tangan Kania yang enggan untuk dia lepaskan.


"Sudah, Tuan. Semuanya sudah siap."


Mereka kemudian masuk ke dalam rumah. Dan Kania terkejut saat melihat makanan dan kue ulang tahun yang sudah disiapkan di atas meja. Tanpa bertanya, Kania hanya duduk dan ditemani Ryan yang kini duduk di sampingnya. Sambil menggenggam tangan Kania, Ryan tersenyum dan mendaratkan kecupan di punggung tangan gadis itu. "Terima kasih, karena aku bisa merasakan kembali ulang tahun yang begitu berarti karena kehadiranmu. Aku mencintaimu."


Sebuah kecupan mesra mendarat di dahi Kania dan diikuti dengan pelukan hangat yang mendekap begitu erat hingga suara pengingat di ponsel Ryan berbunyi yang menandakan pukul 12 malam.


"Selamat ulang tahun dan semoga kamu bahagia selalu." Kania mengecup pipi Ryan dan mengambil sepotong kue dan memberikannya untuk lelaki itu.


"Kue ini lebih pantas untukmu karena hidupku akan aku serahkan untukmu. Ayo, buka mulutmu." Kania tersenyum dan menggigit potongan kue itu.


Di kursi sofa, mereka duduk berdampingan sambil menonton televisi. Lampu di ruangan itu sengaja dipadamkan, hingga cahaya televisi samar-samar menerangi ruangan itu.


Kania duduk dan menyandarkan kepalanya di lengan Ryan sambil menggenggam tangan lelaki itu. Perlahan, air matanya jatuh hingga membuatnya memejamkan matanya hingga dia benar-benar tertidur.

__ADS_1


Melihat Kania yang kini tertidur, Ryan tersenyum dan mengecup lembut puncak kepala gadis itu dengan diiringi sebait doa agar mereka selamanya akan tetap bersama.


__ADS_2