
Melihat Kania yang menyuapi kakaknya, membuat Ryan termakan rasa cemburu. Pemuda itu tampak mulai gerah dengan perasaannya yang mulai tak tenang. Walau mencoba untuk menepis rasa itu, tapi nyatanya dia masih tak mampu.
Dengan langkah yang dipercepat, Ryan berjalan menuruni anak tangga dan berdiri tepat di depan Arya dan juga Kania. "Biar aku yang menyuapi Kakak." Ryan meraih piring dari tangan Kania, tapi melihat makanan di piring itu telah habis membuat Ryan mendengus kesal.
"Maaf, kami sudah selesai makan. Kalau kamu masih lapar, silakan makan saja, kebetulan lauk pauknya masih ada." Kania lantas bangkit dari tempat duduknya dan membereskan piring yang sudah kosong.
"Makanlah, Kakak masuk dulu." Arya menepuk pundak adiknya itu.
"Tangan Kakak kenapa?"
Arya hanya tersenyum sambil melihat tangannya itu. "Hanya luka kecil, jangan khawatir."
"Aku tahu luka itu tidak akan membuat Kakak kehilangan nyawa, tapi kenapa bisa terluka seperti itu?" Ryan tampak penasaran.
"Kakak berkelahi dengan pria mesum yang menggoda kakak iparmu." Arya berbisik pelan di dekat telinga adiknya itu.
"Pria mesum?" Arya mengangguk.
"Pria mesum itu berani menggoda kakak iparmu, karena itu, Kakak menghajarnya. Ah, sudahlah, sekarang pergilah tidur." Arya lantas berjalan menuju ke kamarnya.
"Pria mesum menggoda Kania?" batin Ryan yang masih tidak percaya. Melihat Kania masih di dapur, Ryan segera menemuinya. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Ryan sambil memperhatikan Kania dari kepala sampai kaki.
"Apa maksudmu? Aku tidak kenapa-napa." Selesai mencuci piring, Kania berniat meninggalkan ruangan itu, tapi tangannya segera diraih oleh Ryan.
"Apa karena itu tangan kakakku berdarah?"
"Kamu kenapa? Bukankah, wajar bagi seorang suami untuk melindungi istrinya?"
Mendengar jawaban Kania membuat Ryan melepaskan tangannya dari lengan gadis itu. "Ah, kenapa juga aku harus bertanya jika jawaban yang aku terima terasa sangat menyakitkan." Batin pemuda itu dengan wajah memelas.
Ryan lantas meninggalkan Kania yang kini menatapnya heran. Entah mengapa, Ryan merasa sudah kalah. Sudah waktunya bagi dirinya untuk mengalah dan menerima kenyataan kalau wanita yang masih dicintainya itu sudah menjadi milik sang kakak.
Di dalam kamar, Ryan mulai mengemasi barang-barangnya. Besok, dia akan kembali ke Amerika dan melupakan semua yang sudah menimpanya. Dia sudah bertekad untuk mengubur semua kenangan dan masa lalunya bersama Kania. "Aku harus bisa melupakan dia. Aku harus pergi agar tidak tersiksa karena setiap hari melihatnya. Kania, kenapa wajahmu tidak bisa hilang dari kepalaku." Ryan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Walau sudah bertekad untuk menerima kenyataan, tapi nyatanya sulit baginya untuk bisa mengikhlaskannya.
Karena terus memikirkan Kania, Ryan semalam suntuk tidak bisa tertidur. Matanya masih kuat terjaga hingga pagi menjelang. Dengan langkah malas, Ryan berjalan menuju meja makan.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Apa semalam kamu tidak bisa tidur?" tanya Wicaksana sambil menyeruput teh madu yang disuguhkan menantunya.
Ryan tidak menjawab, hanya wajahnya yang terlihat cemberut sambil meneguk segelas air putih.
__ADS_1
"Apa kamu tetap ingin pergi? Belum terlambat jika kamu tidak mau pergi." Arya mencoba membujuk adiknya itu, tapi Ryan tidak bergeming. Keputusannya sudah bulat, dia harus tetap pergi.
"Ya sudah, jika sudah sampai, jangan lupa kasih kabar."
Melihat Kania duduk di sebelah kakaknya, Ryan kembali terusik hingga membuatnya bangkit dari tempat duduknya.
"Ryan, kamu mau kemana? Kamu tidak sarapan?" tanya Wicaksana saat melihat putranya itu pergi, tapi lagi-lagi Ryan memilih diam.
"Sudahlah, Ayah. Mungkin dia masih bimbang untuk pergi atau tetap di sini, makanya dia aneh seperti itu."
Wicaksana hanya mengangguk walau sebenarnya dia tahu kegelisahan di hati putra bungsunya itu.
"Siapkan sarapan buat Ryan, biar aku bawa ke kamarnya," ucap Arya pada Kania. Gadis itu mengangguk dan menyiapkan sesuai permintaan Arya.
Sambil membawa segelas susu dan beberapa lembar roti bakar, Arya mengetuk pintu kamar adiknya itu. "Ryan, buka pintunya." Tak lama, pintu kamar itu terbuka.
"Kakak bawakan sarapan untukmu. Sebentar lagi kan kamu akan pergi, karena itu kamu harus sarapan dulu." Arya meletakkan piring dan gelas di atas meja dan duduk di samping adiknya itu. "Kamu kenapa? Kakak perhatikan, kamu sepertinya gelisah? Jika kamu tidak mau pergi, sebaiknya tidak usah pergi."
Melihat sang kakak yang peduli padanya, Ryan tersentuh. Kakak yang baginya sangatlah sempurna, kini terlihat bahagia bersama wanita yang dia cinta. Rasanya, dia terlalu kejam jika menghancurkan kebahagiaan mereka. "Apakah, Kakak bahagia?"
"Kenapa kamu selalu bertanya tentang kebahagiaan Kakak? Bukankah, Kakak sudah pernah bilang kalau Kakak sangat bahagia? Ryan, jangan khawatirkan Kakak karena Kakak sudah menemukan kebahagiaan Kakak. Dan sekarang, kamu juga harus meraih kebahagianmu agar ayah tidak terlalu mencemaskanmu."
Arya tersenyum mendengar pertanyaan adiknya itu. "Kenapa? Apa kamu masih tidak percaya kalau Kakak sangat bahagia karena sudah menikahi wanita seperti kakak iparmu itu?"
Ryan tersenyum getir saat mendengar ungkapan hati kakaknya itu. Entah apa yang kini dirasakannya, karena dia sendiri tidak mampu mengartikan kegundahannya itu. Andai waktu bisa kembali, dia ingin kembali ke masa lalu dan menjadi kekasih yang bisa dipercaya oleh Kania. Dia ingin menjadi kekasih yang bisa diandalkan dan selalu ada di sisi Kania di saat dia membutuhkan, tapi itu tak mungkin bisa terjadi karena kesempatannya telah musnah bersama kenangan mereka yang perlahan mulai sirna.
"Kakak, tetaplah bahagia, walau aku harus menanggung luka. Jika dia bisa membuatmu bahagia, aku akan rela dan melepaskan dia. Aku akan pergi dan tak tahu kapan aku akan kembali. Rasanya, aku tak pantas ada di antara kalian, karena aku pasti tidak akan sanggup melihat kebersamaan kalian." Batin Ryan yang tanpa sadar sudah membuatnya menitikkan air mata.
Melihat adiknya menangis, Arya memeluknya. "Kakak tahu kamu sedih karena harus pergi meninggalkan kami, tapi jika itu memberatkanmu, tetaplah tinggal di sini dan jangan pergi." Arya masih mencoba membujuk adiknya itu, tapi sekali lagi dia tidak berhasil.
"Aku tetap harus pergi, Kak. Lagipula, Dafina pasti sudah menungguku." Ryan berusaha terlihat tegar.
Mendengar nama gadis itu, Arya tersenyum. "Jadi, kamu sudah membuat anak gadis orang menunggu? Kalau begitu, Kakak tidak akan lagi membujukmu untuk tetap tinggal. Pergilah, dia pasti sudah merindukanmu. Kalau sudah merasa cocok, jangan membuatnya menunggu. Segera halalkan dia dan berbahagialah." Arya kemudian bangkit dan meninggalkan adiknya itu yang hanya bisa tersenyum di balik kesedihan yang teramat dalam.
"Andai kakak tahu kalau wanita yang aku cintai sedari dulu adalah Kania, apa kakak masih bisa bahagia?" batin Ryan sambil melihat kepergian kakaknya itu.
"Apa tidak sebaiknya kamu jangan ke kantor dulu? Tanganmu itu kan masih belum sembuh." Kania tampak khawatir saat melihat Arya sudah bersiap-siap pergi ke kantornya.
"Tanganku tidak apa-apa. Lagipula yang luka hanya tanganku bukan kakiku." Arya tersenyum, tapi tidak bagi Kania yang terlihat kecewa dengan jawaban suaminya itu.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Kalau kamu masih khawatir, aku akan pulang lebih awal." Melihat Kania masih mengkhawatirkannya, Arya hanya tersenyum walau dia tahu, Kania khawatir padanya karena gadis itu merasa bersalah sudah membuatnya terluka.
Setelah Arya pergi, Kania lantas melakukan aktifitasnya seperti biasa. Gadis itu hanya bertugas menjaga Tania dan sesekali membantu Bi Suri dan Surti di dapur walau terkadang dia mendapat penolakan mereka karena bagaimanapun juga, dia adalah Nyonya di rumah itu. "Nyonya, biar kami saja yang kerja di dapur, Nyonya temani saja sama Non Tania. Lagipula, Tuan Arya sudah berpesan untuk tidak membiarkan Nyonya memasak di dapur." Bi Suri menolak Kania secara halus, walau begitu, Kania sama sekali tidak tersinggung.
"Baiklah, Bi. Aku mengerti dan tidak akan mengganggu Bibi lagi." Kania tersenyum dan pergi meninggalkan dapur. Di saat bersamaan, Kania melihat Ryan yang sudah bersiap dengan koper di tangannya. "Kamu sudah mau pergi?" tanya Kania yang sudah berdiri di depannya.
Ryan mengangguk. "Aku akan pergi. Aku minta maaf, karena aku sudah menyakitimu. Aku tahu, kamu sudah bahagia bersama Kak Arya, jadi, aku sebaiknya pergi karena aku tidak sanggup melihat kalian bersama." Ryan berucap dengan perasaan hancur. Cinta yang perlahan mulai mengusik, akhirnya hanya bisa menguap tanpa bekas. Cinta yang dulu pernah hilang dan kembali hadir, nyatanya tak mampu membuat dia bahagia, karena hanya kecemburuan yang dia dapatkan.
Mendengar penuturan pemuda itu, Kania bisa merasakan kesedihan di tiap kata yang dia ucapkan. "Maafkan aku, karena sudah membuatmu kecewa, tapi ini mungkin jalan yang terbaik untuk kita. Aku doakan agar kamu selalu bahagia." Entah mengapa, Kania merasa sedih melihat pemuda itu. Pemuda yang sempat membuat hatinya kembali luluh, tapi kini tak lagi karena perlahan cinta itu sudah tersimpan untuk Arya.
Kelembutan dan perhatian Arya, telah membuat Kania jatuh cinta. Walau dia sadar, statusnya hanya istri di atas lembaran kertas kontrak, tapi setidaknya dia tulus mencintai lelaki itu.
"Apa boleh aku memelukmu?" Ryan memandangi Kania yang kini berdiri di depannya.
Kania mengangguk dan memeluk pemuda itu. Sambil memeluk Kania, Ryan menitikkan air mata. Cinta pertamanya, wanita yang dicintainya, dan semua kenangannya akan dia lupakan seiring dengan pelukan terakhir dari gadis itu. "Apa aku masih punya kesempatan untuk bisa memilikimu lagi?" tanya pemuda itu yang masih memeluk Kania. Mendengar pertanyaannya, Kania ingin melepaskan pelukannya, tapi Ryan tak bergeming. "Apa masih ada sedikit saja cintamu padaku?" Kembali Ryan bertanya, tapi kali ini Kania tidak tinggal diam.
"Maaf, semua yang pernah aku rasakan ke kamu sudah musnah. Kita hanya mantan kekasih dan itu tidak akan pernah berubah. Aku tidak mencintaimu lagi karena aku mencintai suamiku."
Ryan melepaskan pelukannya dan Kania bisa melihat air bening yang menggantung di pelupuk mata pemuda itu. "Aku tahu, karena itu aku lebih baik pergi. Aku mohon, tolong jaga keluargaku dan aku harap kamu dan kakakku hidup bahagia." Ryan menghapus air matanya dan bergegas menemui ayahnya yang sudah menunggu di halaman.
"Paman, Tania pasti rindu sama Paman." Melihat keponakannya digendongan ayahnya, Ryan tersenyum dan mendekatiya.
"Paman juga pasti merindukan Tania. Nanti, Paman sering-sering menelepon Tania. Tania masih ingat pesan Paman, kan?" Tania mengangguk dan memeluk pamannya itu.
"Ayah, aku pergi." Ryan menatap ayahnya dan hanya senyum yang diberikan lelaki paruh baya itu untuknya. "Jaga kesehatan Ayah. Aku akan sering-sering menghubungi Ayah."
"Jaga kesehatanmu juga, Nak. Jangan khawatirkan Ayah." Wicaksana memeluk putranya itu sambil menepuk punggungnya.
Setelah berpamitan, Ryan lantas bergegas menuju taksi yang sudah menunggunya di halaman. Sambil melambaikan tangan, Ryan akhirnya pergi. Melihat Kania, Ryan menitikkan air mata. Rasa penyesalan tiba-tiba menyeruak karena rasa benci yang tak sepantasnya dia tujukan untuk Kania. Nyatanya, kebencian itu telah berubah menjadi rasa cinta yang hampir membunuhnya.
Melihat pemuda itu pergi, Kania berusaha menahan tangis. Entah mengapa, saat melihat Ryan pergi, Kania merasakan kesedihan yang tiba-tiba mengganggunya. "Mungkin, ini adalah jalan yang terbaik bagi kita. Dulu, bahkan beberapa waktu yang lalu, aku masih mencintaimu, tapi aku tidak bisa melanjutkan rasa cintaku itu karena aku sudah mencintainya."
Kania telah mencintai Arya, lelaki yang sudah dinikahinya walau hanya pernikahan kontrak. Dia mencintai lelaki itu karena perhatian dan juga kedewasaannya. Lelaki itu rupanya telah berhasil mengambil hati Kania, hingga membuatnya bimbang di antara keduanya. Akhirnya, Kania memutuskan menyimpan cintanya itu untuk Arya, walau dia sendiri tidak tahu kapan cintanya akan terungkap atau mungkin saja dia akan memendam cintanya.
Di bandara, Ryan tengah duduk dan menunggu waktu penerbangannya yang tinggal setengah jam lagi. Di antara kegalauan hatinya, dia melihat Bastian yang tengah melintas tak jauh dari tempatnya duduk. Ryan lantas bangkit dan berniat menemui mantan sahabatnya itu sekadar untuk meminta maaf atas kesalahpahaman yang selama ini terjadi.
Ryan berjalan mengikutinya dari belakang hingga tanpa sadar, Ryan mendengar ucapan Bastian dengan seseorang di telepon. "Jangan khawatirkan Kania. Selama tidak ada yang tahu kalau pernikahan mereka pernikahan kontrak, dia akan baik-baik saja. Terima kasih, karena kamu begitu mengkhawatirkan Kania."
Sontak, Ryan terkejut mendengar ucapan Bastian. Antara percaya dan tidak, tapi itu membuatnya merasa punya harapan. "Jika Kania hanya menikah kontrak dengan Kak Arya, berarti mereka tidak saling mencintai. Apa itu berarti aku masih punya kesempatan untuk kembali pada Kania?"
__ADS_1
Setelah melalui pergolakan batin, Ryan akhirnya memutuskan untuk kembali. Dia tidak akan kembali ke Amerika dan tetap tinggal bersama keluarganya dan dia telah memutuskan untuk melupakan Dafina dan memilih untuk kembali mendapatkan cinta Kania.