
Kania terkejut saat melihat tatapan Arya yang mengarah padanya. Tatapan lelaki itu terlihat begitu dekat hingga membuat Kania menundukkan wajahnya. "Kamu tidak apa-apa?" Kania mengangguk walau dia merasa canggung karena tubuhnya kini begitu dekat dengan lelaki itu.
"Apa tanganmu sakit?" Arya meraih pergelangan tangan Kania dan melihat tanda merah di tangan gadis itu. Sontak, wajahnya memerah. Dia begitu marah karena pria itu telah menyakiti Kania. "Mundurlah ke belakang." Perintahnya pada Kania
"Apa yang akan kamu lakukan?" Kania menatap Arya yang sepertinya sudah terlihat emosi.
"Jangan lakukan itu. Aku tidak apa-apa." Kania mencoba menenangkan lelaki itu sambil meraih tangannya untuk beranjak dari tempat itu. "Ayo, kita pergi dari sini." Kania meraih tangannya, tapi langkah mereka terhenti saat pria itu mengucapkan kalimat yang menyulut kemarahan Arya.
"Jadi, kamu sudah menikahinya? Berapa yang kamu bayar untuk mendapatkan kehangatan tubuhnya? Ah, andai waktu itu kamu tidak mengganggu kesenanganku, mungkin saja dia sudah menjadi pelampiasan hasratku." Pria itu terkekeh hingga membuat Arya naik darah.
Seketika, Arya memalingkan wajahnya dan menatap pria itu. Wajahnya tampak emosi hingga perlahan dia berjalan mendekati pria itu. Kania yang berusaha menenangkannya tidak bisa berbuat apa-apa saat Selly menarik tangannya. "Selly, apa yang kamu lakukan? Apa kamu ingin mereka berkelahi?"
"Biarkan saja, pria brengsek itu memang pantas untuk dihajar." Selly masih memandangi dua lelaki yang berjalan mengarah pada pria itu. Bastian yang juga tidak terima sahabatnya di hina tidak bisa tinggal diam. Bersama Arya, Bastian mulai menghajar pria itu dan teman-temannya.
Walau hanya berdua, mereka cukup tangguh hingga berhasil membuat 4 orang pria itu babak belur. Wajah keempat orang itu tampak berdarah di sudut bibir mereka. Tulang pipi mereka terlihat memar karena dihantam bogem mentah oleh kedua pemuda itu.
Merasa tidak terima dihajar oleh Arya dan Bastian, pria itu lantas melapor ke pihak berwajib. Petugas keamanan akhirnya membawa mereka ke kantor polisi.
Di ruangan kantor polisi, Bastian dan Arya duduk dengan tenangnya. Tak terlihat sedikitpun rasa khawatir di wajah mereka. Sementara Kania, tampak mulai cemas hingga membuatnya menahan tangis.
"Apa benar kalian berdua sudah menghajar mereka?" Seorang polisi bertanya sambil memandangi Arya dan Bastian yang duduk di depannya.
"Benar." Arya menjawab lantang.
"Apa Anda tahu kalau perbuatan Anda bisa saja membuat Anda dihukum?"
"Aku tahu, tapi sebelum itu tanyakan pada mereka apa yang sudah mereka lakukan pada istriku."
Polisi itu lantas mengalihkan pandangannya pada keempat pria yang juga duduk di depannya. "Apa yang sudah kalian lakukan pada istrinya?"
Keempat pria itu terdiam. Mereka tidak tahu harus menjawab apa.
"Apa kalian dengar pertanyaan saya? Apa yang sudah kalian lakukan pada istrinya?"
"Kami tidak melakukan apa-apa. Istrinya yang sudah menggoda kami. Karena melihat istrinya bersama kami dia marah dan menghajar kami." Pria itu mengucapkan kebohongan untuk menutupi ketakutannya itu.
"Apa? Menggoda kalian? Bukannya kalian yang sudah menggoda mereka?" Bastian tampak marah hingga membuat bangkit dari tempat duduknya.
"Bas, tenanglah." Arya mencoba menenangkan temannya itu.
"Pak, aku sudah meminta security di resort itu untuk melihat cctv yang terpasang di tempat kejadian. Sebentar lagi, security akan membawakannya ke sini." Mendengar ucapan Arya, keempat pria itu menjadi ciut. Wajah mereka tiba-tiba ketakutan.
Tak lama, seorang polisi datang membawa hasil dari tayangan cctv hingga membuat keempat pria itu tidak bisa lagi berkutik.
"Baiklah, karena buktinya sudah ada, Bapak berdua boleh meninggalkan tempat ini, biar kami yang akan menyelesaikan masalah ini." Keempat pria itu lantas dibawa ke ruang prodeo untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.
Setelah menyelesaikan semuanya, Arya dan Bastian lantas keluar dari kantor polisi dan menemui Kania dan Selly yang menunggu di luar.
Melihat mereka, Kania berlari dan memeluk Arya dan menangis di dalam pelukannya. "Sudah, jangan menangis lagi. Mereka tidak akan mengganggumu lagi." Arya mengelus lembut punggung Kania dan berusaha menenangkannya. Namun, rasa takut dan trauma di masa lalu membuat Kania tidak bisa menahan tangisnya.
__ADS_1
"Sebaiknya, bawa Kania pulang. Aku juga akan mengantar Selly pulang." Arya mengangguk. Bastian lantas meraih tangan Selly dan beranjak pergi dari tempat itu.
"Bas, apa tidak sebaiknya kita menemani Kania?"
"Tidak perlu. Saat ini sudah ada Arya di sisinya. Biarkan saja mereka." Bastian terlihat tenang karena dia sudah bisa berlega hati karena Kania sudah menemukan seseorang yang bisa membuatnya nyaman dan orang itu adalah Arya.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" Kania tampak khawatir saat melihat Arya berdiri di depannya.
"Aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan pergelangan tanganmu?" Arya meraih pergelangan tangan Kania dan melihat pergelangan tangan gadis itu yang masih memerah. Sontak, gigi gerahamnya beradu hingga menimbulkan suara gemeretak. Kania yang menyadari itu perlahan menarik tangannya dan betapa dia terkejut saat melihat kepalan tangan lelaki itu yang memar dan berdarah.
Kania lantas meraih tangan pemuda itu dan perlahan dia menitikkan air mata. "Maafkan aku. Karena aku, tanganmu menjadi memar seperti ini."
"Jangan khawatir, ini hanya memar biasa. Beberapa hari lagi pasti sudah sembuh." Arya tersenyum saat melihat raut kecemasan di wajah gadis itu. Apalagi, air mata gadis itu jatuh saat melihat luka memarnya itu. Sesaat, Arya merasakan sesuatu di hatinya. Dia merasa, Kania telah membuatnya jatuh cinta. Ya, gadis itu mampu meluluhkan hatinya.
"Ayo, aku obati lukamu itu." Kania meraih tangan lelaki itu dan naik ke dalam mobil. Kotak P3K yang terselip di jok lantas diambilnya. Dengan telaten, Kania mulai mengobati luka memar di tangan Arya.
Tangannya yang lembut menyentuh tangan Arya yang kekar. Walau perih saat lukanya di olesi alkohol, Arya tak sedikitpun merasa sakit karena di depannya kini, dia bisa melihat seraut wajah cantik yang sudah berhasil meluluhkan hatinya. Arya begitu kagum dengan gadis yang kini ada di depannya, hingga pandangannya dia alihkan saat Kania sudah selesai membalut lukanya itu dengan perban.
"Apa masih sakit?" Kania menatap ke arah lelaki itu dan Arya hanya tersenyum sambil menggeleng.
"Apa kamu bisa menyetir mobil dengan luka di tanganmu itu? Kalau masih sakit, sebaiknya kamu menghubungi Ryan, biar dia datang ke sini dan menggantikanmu menyetir mobilnya."
"Tidak perlu. Tanganku baik-baik saja." Arya lantas menyalakan mesin mobilnya dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba saja mobil itu berhenti dengan suara gas yang melengking tinggi. Sontak saja Kania terkejut hingga membuatnya memejamkan matanya.
"Aku minta maaf," ucap Arya saat melihat ekspresi Kania yang terlihat ketakutan.
Kania perlahan membuka matanya dan menatap ke arah lelaki itu. "Sebaiknya, kita naik taksi saja." Kania lantas berniat untuk keluar dari mobil, tapi Arya segera menahannya.
"Tapi tanganmu itu pasti sakit. Ayolah, jangan buat aku khawatir."
Melihat sikapnya itu, Arya tersenyum. "Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja. Kamu percaya, kan sama aku?" Walau cemas, tapi Kania mengangguk pelan.
"Aku minta maaf, karena malam ini rencana makan malam kita jadi gagal total. Apa tidak sebaiknya kita pergi makan di restoran saja?" tanya Arya sambil memegang kemudi.
"Tidak perlu, kita pulang saja. Kalau kamu tidak keberatan, aku akan memasak untukmu di rumah."
Arya tersenyum melihat Kania yang begitu mencemaskannya. Rasanya, dia tidak ingin cepat-cepat kembali agar dia bisa menikmati raut kecemasan di wajah gadis itu yang tertuju padanya. "Terima kasih, karena kamu ternyata mencemaskanku. Apa kamu tahu, kalau aku tidak suka saat melihatmu di sakiti dan dilirik pria lain? Ah, apakah aku benar-benar telah jatuh cinta padamu?" Arya kembali tersenyum kala mengingat perasaannya yang kini telah berubah untuk Kania. Dia kini telah jatuh cinta.
Mobil itu perlahan memasuki halaman rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam saat mereka masuk ke dalam rumah.
"Kalian sudah pulang?" tanya Wicaksana saat melihat anak dan menantunya yang baru saja datang.
"Iya, Ayah. Apa Tania sudah tidur?"
"Sudah." Melihat kepalan tangan anaknya yang dibalut perban membuat lelaki paruh baya itu terkejut. "Arya, tanganmu terluka?"
Arya mengangguk pelan sembari tersenyum. "Iya, Ayah."
"Kenapa tanganmu bisa terluka seperti itu? Apa kamu berkelahi?"
__ADS_1
Pertanyaan Wicaksana membuat wajah Kania berubah. Mendadak, dia merasa bersalah karena dirinya, tangan Arya terluka. "Maafkan aku, Ayah. Karena aku ... "
"Sudahlah, ayo kita temui Tania." Tiba-tiba, Arya meraih tangan Kania dan mengajaknya ke kamar putrinya itu.
"Sudahlah, jangan merasa bersalah seperti itu. Kalau kamu bersikap seperti itu, aku merasa kalau apa yang aku lakukan adalah salah. Kania, ini bukan salahmu, tapi salahku karena aku tidak mampu untuk melindungimu dari pria-pria itu. Bukankah sudah kewajiban seorang suami untuk menjaga istrinya?" Mendengar ucapan Arya, Kania terdiam. Ada sesuatu dari ucapan lelaki itu yang membuat jantungnya berdetak hebat. Suatu kalimat yang pantas diucapkan seorang suami untuk istrinya, tapi bukankah mereka hanya pasangan suami istri yang hanya tertulis di atas lembaran kertas?
Kania berjalan mendekati tempat tidur di mana Tania sedang tertidur pulas. Dengan lembut, Kania mengecup pipi gadis kecil itu dan membelai rambutnya. "Bermimpilah yang indah." Kania tersenyum, begitupun dengan Arya yang kini berdiri di sampingnya.
Perlahan, Arya melakukan hal yang sama seperti yang Kania lakukan. Sambil tersenyum, Arya menatap wajah mungil yang kini terbuai mimpi. "Putriku, Papa akan mewujudkan impianmu untuk memiliki seorang ibu. Dia akan menjadi ibumu untuk selamanya karena Papa tidak ingin melepaskan dia. Papa janji, akan memberikanmu kebahagiaan dan Papa bahagia karena dia telah membuat Papamu ini jatuh cinta." Sejurus, Arya kembali tersenyum dan memandangi Kania yang perlahan keluar dari kamar.
"Ayo, bergegaslah. Aku akan memasak itu kita makan malam."
Di dapur, Kania tampak sibuk. Melihat majikannya yang sementara sibuk di dapur, Surti bergegas membantu.
"Surti, pergilah tidur dan istirahatlah. Kamu pasti lelah bekerja seharian, biar aku saja yang memasak."
"Nyonya, biar aku bantu agar cepat selesai."
"Tidak usah, pergilah tidur. Lagipula, sebentar lagi sudah selesai."
Gadis muda itu akhirnya kembali ke kamarnya. Sementara Kania, masih melanjutkan memasak.
Tak lama kemudian, hidangan sudah dia siapkan di atas meja.
"Ayo, kita makan." Ajak Kania pada Arya yang sementara menunggu di dalam kamar. Mereka berdua lantas menuju meja makan dan Arya terkejut melihat hasil masakan istrinya itu.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka tumis kangkung?" tanya Kania sambil memperhatikan wajah lelaki itu.
Arya tidak menjawab melainkan dia langsung duduk di meja makan karena tergiur dengan aroma tumis kangkung yang menggugah selera makannya. Dengan semangat, Arya mengambil piring, tapi tiba-tiba dia meringis kesakitan.
"Kamu kenapa? Apa tanganmu masih sakit?" Kania berjalan mendekatinya. "Sudah, biar aku mengambilnya untukmu." Kania lantas mengambil piring dan menyendok nasi dan tumis kangkung dan beberapa potong ikan.
"Biar aku menyuapimu." Kania sudah duduk berhadapan dengan lelaki itu dan bersiap menyuapinya. "Ayo, buka mulutmu."
"Tidak usah, aku bisa makan sendiri." Arya berusaha mengambil piring itu dari tangan Kania, tapi Kania menolak.
"Ayolah, jangan membantah. Apa kamu pikir kamu bisa makan dengan tangan seperti itu?"
"Buka saja mulutmu, atau kamu mau Ayah yang menyuapimu?" Wicaksana tiba-tiba muncul hingga membuat Arya terkejut.
"Menantuku, suapi saja dia. Kalau melawan, cubit saja telinganya." Lelaki paruh baya itu kemudian pergi sambil tersenyum geli melihat wajah anaknya itu.
"Baik, baik." Arya akhirnya mengalah dan membiarkan Kania menyuapainya. Dengan wajah yang memerah karena menahan rasa malu, Arya mengunyah makanan yang diberikan Kania padanya. Rasanya, makanan itu adalah makanan terlezat baginya.
"Kalau kamu menyuapiku, kapan kamu akan makan?"
"Sudahlah, setelah kamu makan, baru aku makan." Kania menyodorkan kembali sesendok untuknya, tapi sendok itu kemudian Arya arahkan untuk Kania.
"Makanlah, jika kamu tidak makan, aku juga tidak akan makan." Kania menatap wajah lelaki itu dan dia tersenyum. Kania lantas mengangguk dan memakannya.
__ADS_1
Tanpa ragu sedikitpun, mereka makan sepiring berdua. Arya tampak menikmati momen yang baginya penuh arti dan itupun yang kini dirasakan oleh Kania. Entah mengapa, dia merasa nyaman dan tanpa beban saat makan sepiring dengan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
Tanpa mereka sadari, kebersamaan mereka sudah membuat seseorang menatap mereka dengan perasaan hancur. Dari atas lantai dua, Ryan melihat kebersamaan wanita yang masih dicintainya itu bersama sang kakak. Ada rasa kecewa dan cemburu yang tiba-tiba membuncah, hingga dia memutuskan untuk turun menemui mereka.