Cinta Kania

Cinta Kania
Part 41


__ADS_3

Sudah empat hari Wicaksana terbaring di rumah sakit. Wajah rentanya tak sedikitpun menunjukan perubahan karena wajahnya itu tampak pucat dan lemah. Namun, pada hari ke lima, wajahnya tiba-tiba terlihat berubah. Wajah rentanya terlihat bersemangat, bahkan terlihat bertenaga. Segurat senyum terukir saat melihat kedua putranya dan menantu yang selalu setia menjaganya. "Arya, Ayah ingin pulang." Mendengar ucapan ayahnya, Arya mendekatinya.


"Tapi kondisi Ayah belum bisa memungkinkan untuk pulang. Lagipula, dokter belum mengizinkan Ayah untuk pulang."


"Ayolah, Nak. Ayah sudah rindu dengan rumah dan juga cucu Ayah. Ayah sudah agak baikan dan Ayah ingin menghabiskan waktu di rumah bersama kalian." Wajah rentanya terlihat memohon hingga membuat Arya menjadi iba.


"Kalau begitu, Arya coba tanya dulu sama dokter Fahry, jika diizinkan maka Ayah akan pulang." Wicaksana menggangguk dengan senyum di sudut bibirnya.


Arya lantas bergegas menuju ke ruangan dokter Fahry, sementara Ryan duduk di samping ayahnya.


Melihat putranya, Wicaksana tersenyum dan meraih tangan putranya itu. "Ryan, kapan kamu akan memperkenalkan calon istrimu pada Ayah? Jangan kamu berlama-lama, kenalkan dia pada Ayah dan Ayah akan melamarnya untukmu."


"Tenanglah, Ayah. Aku pasti akan memperkenalkannya pada Ayah dan segera menikahinya, tapi untuk saat ini aku belum bisa karena masih ada suatu urusan yang harus dia selesaikan. Jika urusannya itu sudah selesai, aku janji akan memperkenalkannya pada Ayah." Ryan tersenyum sembari pandangannya mengarah pada Kania yang pura-pura tak mendengar ucapannya itu.


Melihat sikapnya, Wicaksana tampak gusar. Tanpa sengaja, dia pernah melihat perdebatan putranya itu bersama menantunya hingga membuat dia akhirnya tahu kalau menantunya itu adalah wanita yang dulu pernah membuat putranya patah hati.


"Ryan, Ayah ingin agar kamu melupakan masa lalu. Biarkan yang lalu pergi dan mulailah dengan yang baru. Ayah tidak ingin kamu terpaku pada masa lalumu karena dia bukan lagi menjadi milikmu." Ryan menatap ayahnya dengan heran. Ucapan ayahnya itu seakan dia tahu kalau Kania adalah masa lalunya.


"Apa maksud Ayah?"


"Ayah tahu, Nak. Namun, dia bukan seperti dulu lagi karena dia sudah menjadi ... "


"Tidak, Ayah. Itu semua tidak benar karena dia ... " Tiba-tiba ucapannya terhenti karena Arya datang bersama dokter Fahry. Sementara Kania terlihat gelisah saat Ryan hampir saja membuat kesalahan yang sangat fatal.


"Apa benar Abang sudah ingin pulang?" tanya dokter Fahry yang terlihat akrab dengan Wicaksana.


"Kamu tahu kan aku orangnya seperti apa? Ayolah, Fahry, izinkan aku pulang karena aku sudah bosan dengan tempat ini."


"Baik, baik, tapi Abang harus janji untuk rutin meminum obat yang aku berikan. Jika masih melawan juga, aku akan membawa Abang kembali ke sini."


"Baik, dokter. Ah, sudahlah, ayo, bawa aku pulang." Seperti mendapat kekuatan, Wicaksana segera turun dari tempat tidurnya. Arya segera mendekatinya dan memapahnya keluar dari kamar.


"Aku akan membawa Ayah ke mobil, kalian berdua bisa kan membereskan barang-barang dan membawanya ke mobil?"


"Jangan khawatir, Kak. Aku dan kakak ipar akan membereskan semuanya." Ryan tersenyum mengiringi kepergian mereka. Setelah mereka pergi, pandangannya langsung tertuju pada Kania yang sementara membereskan beberapa barang.


"Akhirnya kita bisa punya waktu untuk bersama." Ryan mendekap tubuh Kania dari belakang hingga membuat Kania terkejut.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!!" Kania berusaha melepaskan diri, tapi lengan kekar pemuda itu begitu erat memeluknya.


"Ayolah, aku hanya memelukmu, tak lebih. Lagipula, aku akan menjadi suamimu jika pernikahanmu berakhir. Ah, rasanya aku tidak sabar untuk segera memilikimu." Ryan mengecup mesra kepala Kania hingga membuat gadis itu menjadi risih.


"Ryan, lepaskan aku. Jangan seperti ini, bagaimana jika ada orang yang melihat kita?"


"Jangan khawatir, aku sudah mengunci pintunya dan tidak ada yang akan melihat kita. Lagipula, aku tidak ingin orang-orang melihatmu dengan pandangan buruk karena dekat denganku. Karena itu, aku akan berhati-hati setiap kita sedang bersama." Ryan tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


"Ryan, aku mohon, jangan lakukan ini padaku. Bagaimana bisa kita seperti ini sementara aku masih berstatus istri kakakmu. Jangan membuatku membencimu karena sikap berlebihanmu ini." Kania melepaskan diri dari pelukan Ryan. Dengan kesal, Kania mengangkat beberapa barang yang sudah dia bereskan dan berniat meninggalkan ruangan itu, tapi tangannya tiba-tiba diraih oleh Ryan yang kini menatapnya dengan air mata yang menggantung di pelupuk matanya.


"Apa kamu membenciku karena aku mencintaimu? Aku melakukan ini karena aku mencintaimu dan aku ingin menebus kesalahanku di masa lalu, tapi kamu bilang kamu membenciku?" Tatapan Ryan begitu tajam hingga membuat Kania merasa bersalah. Melihat air mata di pelupuk mata pemuda itu, Kania tersentuh.


"Bukan begitu maksudku, aku hanya ... " Kania menghentikan kalimatnya karena tiba-tiba saja Ryan mendekatinya dan mengecup lembut bibirnya. Kania tersentak dan ingin menghindar, tapi kedua tangan pemuda itu mendekap punggung dan kepala Kania dengan erat.


"Jangan pernah menghindar dariku lagi jika kamu tidak ingin melihatku berbuat lebih dari ini. Aku tidak ingin menyakitimu asalkan kamu tidak lagi menghindar dariku. Aku tulus mencintaimu dan aku sungguh menyayangimu. Maafkan aku atas kelancanganku, tapi itu karena aku tidak ingin kehilanganmu." Ryan memeluk Kania sambil menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Kania terdiam dan tidak bisa melakukan apa-apa. Yang didengarnya kini hanyalah embusan nafas pemuda itu yang mengalun lembut di telinganya. Sesaat, Kania hanyut dalam pelukan Ryan yang membuat dia teringat di masa lalu. Hingga ingatannya itu buyar saat suara dering ponsel milik Ryan berbunyi.


"Ryan, angkat ponselmu."


"Aku tidak mau. Aku tidak ingin diganggu saat kita sedang bersama."


"Ryan, ayolah. Mungkin itu dari Arya karena kita sudah terlalu lama di sini." Dengan malas, Ryan mengambil ponsel di sakunya dan benar saja itu panggilan dari Arya. Tanpa melepas pelukannya, Ryan menerima panggilan telepon itu. "Iya, Kak."


"Iya, Kak. Kita sudah turun, kok."


"Ya sudah, cepatlah, Ayah sudah bosan menunggu kalian."


"Baik, Kak." Sambungan telepon terputus. Dengan malas, Ryan melepaskan pelukannya dari Kania dan bergegas mengambil beberapa barang yang sudah dibereskan oleh Kania dan ditentengnya. "Turunlah lebih dulu, biar aku yang membawa semua barang-barang ini."


Kania menatap Ryan yang terlihat kecewa. Wajah pemuda itu seakan tak suka jika kebersamaannya dengan Kania terganggu. "Biar aku bawa separuhnya, kamu pasti kesulitan membawa semuanya sendirian."


"Tidak perlu. Pergilah karena Kak Arya sudah menunggumu."


Kania memandangi Ryan yang sementara mengatur barang-barang yang akan dibawanya. Melihat pemuda itu kesulitan, Kania lantas mengambil separuh barang yang dibawanya itu. "Biar aku membantumu."


"Sudahlah, pergilah dan temui suamimu itu. Biar aku yang membawanya sendiri." Ryan terlihat kesal hingga membuatnya membentak Kania. Sontak, Kania meletakkan barang-barang itu kembali dan memilih keluar dari ruangan itu. Melihat Kania yang bergegas pergi, Ryan mengejarnya dan memeluknya dari belakang. "Maafkan aku."


Kania terdiam. Entah mengapa, ada rasa sesak di dadanya saat Ryan membentaknya.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku cemburu karena aku tidak ingin melihatmu bersama Kak Arya. Aku tidak mampu lagi melihat kalian bersama. Kania, maafkan aku." Ryan masih memeluk Kania dan berusaha meminta maaf.


"Sebaiknya kita pergi. Kita sudah terlalu lama di sini. Aku tidak ingin Arya curiga pada kita. Cepatlah, aku akan turun terlebih dulu." Kania lantas mengambil barang yang tadi sempat diletakkannya dan berjalan meninggalkan Ryan yang masih menatap kepergiannya.


Kania berjalan dengan perasaan campur aduk. Sungguh, melihat sikap Ryan padanya membuat Kania merasa bersalah. Bagaimana bisa dia dihadapkan dengan pemuda yang dulu sangat dicintainya dan membuatnya kembali bimbang dengan perasaannya kini. Entah apa yang akan dia lakukan jika sampai Arya tahu tentang masa lalu mereka.


Perlahan, pintu lift terbuka. Dengan gontai, Kania melangkah keluar dengan pandangannya yang menunduk seakan dia sedang memikirkan sesuatu hingga membuatnya menabrak seseorang yang berdiri di depannya. "Maaf, aku tidak sengaja." Kania meminta maaf sambil mengangkat wajahnya.


"Kamu kenapa melamun? Apa yang kamu pikirkan?" Kania terkejut saat melihat orang yang ditabraknya itu. "Arya?"


Lelaki itu lantas mengambil barang yang dibawa oleh Kania. "Maafkan aku jika sudah membuatmu kesulitan dengan barang-barang ini. Apakah Ryan sudah membuatmu kesal?"


"Tidak, kok. Aku lama karena aku harus membereskan ruangan itu dulu. Sebentar lagi pasti Ryan sudah turun." Dan benar saja, pintu lift tiba-tiba terbuka. Ryan terlihat keluar dari dalam lift dengan beberapa barang yang membuatnya sedikit kesulitan.


Melihatnya, Arya segera mendekatinya dan mengambil beberapa barang yang dibawa oleh adiknya itu. "Seharusnya Kakak membantumu. Maafkan Kakak, ya."


"Tidak masalah, Kak. Ini tak seberapa, kok." Ryan tersenyum dan pandangannya tertuju pada Kania yang sudah berjalan terlebih dulu.


Kakak beradik itu dengan kompak berjalan menuju mobil yang sudah terparkir sedari tadi. Setelah meletakkan barang-barang di dalam bagasi, Ryan masuk dan duduk di kursi belakang bersebelahan dengan Kania. Arya duduk di kusi kemudi dan Wicaksana duduk di sampingnya.


"Akhirnya Ayah bisa kembali pulang. Ah, Ayah sudah merindukan tempat tidur Ayah." Wajah rentanya itu tersenyum sambil meneguk air mineral botolan yang baru saja dibeli oleh Arya.


Suasana mobil terdengar ramai dengan celotehan Wicaksana yang gamang karena sudah keluar dari rumah sakit. Sementara Kania hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata karena tiba-tiba dia terkejut saat tangannya digenggam oleh Ryan. Pemuda itu tanpa takut sedikitpun menggenggam tangan Kania yang tersembunyi di balik tas yang menutupinya dari pandangan Arya dan Wicaksana.


Walau ingin melepaskan tangannya, tapi genggaman tangan pemuda itu terlalu erat hingga Kania tidak bisa berkutik. Wajahnya dia palingkan dan memandang keluar jendela. Hingga pandangannya teralihkan saat Wicaksana berucap yang membuat Ryan semakin mengeratkan genggaman tangannya itu.


"Menantuku, kapan kalian akan memberikan Ayah seorang cucu lagi? Ah, rasanya Ayah tidak sabar mendengar suara bayi lagi." Sontak Kania terkejut hingga membuat dia memandangi ayah mertuanya itu. Dari balik kaca spion di depannya, Arya melihat kecemasan di wajah Kania hingga membuat lelaki itu tersenyum.


"Ayah, lihatlah wajah Kania yang memerah karena pertanyaan Ayah." Arya tertawa renyah saat melihat wajah Kania yang memerah, tapi itu tidak berlaku bagi Ryan yang tampak kesal dengan pertanyaan ayahnya itu.


Dengan eratnya, Ryan masih menggenggam tangan Kania, seakan dia ingin mengisyaratkan kalau dirinyalah yang berhak atas diri Kania dan dia tidak akan melepaskan Kania untuk dimiliki oleh lelaki lain termasuk kakaknya sendiri.


Dari balik kaca spion di depannya, Arya sesekali melihat ke belakang dimana Kania sedang memandangi keluar jendela. Melihat wajah Kania, Arya tersenyum karena membayangkan kebahagiaan yang akan diraihnya bersama istrinya itu.


Walau Kania sadar sedang diperhatikan oleh Arya, Kania berusaha menghindar dari tatapan lelaki itu dan memilih mengalihkan pandangannya. Bagaimana bisa di saat yang bersamaan, dia sedang diperhatikan oleh dua lelaki sekaligus. Melalui tatapan penuh cinta, Arya mencuri pandang padanya dan melalui genggaman tangan yang begitu erat, Ryan menggenggam tangannya seakan tak ingin melepaskannya.


Kania terpojok di antara keduanya. Hatinya gelisah dan bimbang dengan sikap keduanya yang teramat mencintainya. Kania bingung dengan situasi yang dialaminya kini. Dia bagaikan berdiri di antara dua lembah yang mengelilinginya. Kedua lembah itu menawarkan kesejukan dan keindahan yang tentunya tak bisa dimiliki olehnya.

__ADS_1


Kania menundukkan wajahnya karena menahan air bening yang perlahan menggantung di pelupuk matanya. Dia harus memutuskan untuk mengakhiri ketersiksaan yang diberikan kedua lelaki itu padanya. Walau terpaksa, Kania sudah memutuskan untuk segera mengakhiri semuanya dan berterus terang pada Arya dan menerima keputusan lelaki itu.


Mobil yang dikendarai Arya perlahan memasuki halaman rumah. Wicaksana kemudian turun dan diikuti oleh Arya yang memapah ayahnya itu. Kania yang ingin membuka pintu mobil perlahan tertahan karena tangannya masih tak dilepaskan oleh Ryan. "Jangan pernah berpikir untuk melakukan apa yang dikatakan ayahku. Kamu adalah milikku dan selamanya akan menjadi milikku." Ryan perlahan mengecup punggung tangan Kania dan melepaskan genggaman tangannya. Dengan tersenyum, Ryan membuka pintu mobil untuk Kania dan keluar dari mobil. Sambil membawa beberapa barang, Ryan masuk ke dalam rumah dan betapa terkejutnya dia saat melihat seseorang yang kini berdiri memandanginya dengan sebuah senyuman yang mengambang indah di sudut bibirnya.


__ADS_2