
Melihat Ryan berdiri di depan pintu membuat Kania ingin kembali menutup pintu kamarnya itu, tapi Arya perlahan berjalan mendekatinya karena melihat Ryan yang sudah berdiri di depan pintu.
"Ryan? Ada apa kamu kemari? Apa kamu perlu sesuatu?" tanya Arya dengan polosnya. Sementara Kania masih berdiri terpaku di antara kedua pemuda itu.
"Maaf, Kak, jika aku mengganggu Kakak. Sebenarnya, aku ingin bicara sama Kakak. Ada hal yang perlu aku bicarakan." Ryan terlihat serius hingga membuat Kania menatapnya.
"Kakak ipar, aku pinjam Kak Arya sebentar, boleh, kan?" tanya pemuda itu dengan wajahnya yang memelas manja.
Kania mengangguk dan memilih kembali masuk ke dalam kamar.
"Tunggu Kakak di ruang tengah, setelah ganti baju, Kakak akan menemuimu." Pemuda itu kemudian pergi ke ruang tengah, sementara Arya pergi ke kamar mandi dan mengganti baju di sana.
"Tidurlah, kamu pasti lelah, tapi jangan tidur di sofa, tidurlah di tempat tidurku, mengerti?" Arya kemudian keluar dari kamar, tapi sebelumnya dia memadamkan lampu dan menyalakan lampu kecil di atas meja.
Di atas tempat tidur, Kania duduk bersandar. Hatinya begitu gelisah mengingat tatapan Ryan padanya. Mendengar ucapan Ryan, Kania menjadi khawatir karena dia takut Ryan akan menceritakan masa lalu mereka pada Arya.
Sementara Kania begitu cemas hingga membuat dia tidak bisa tidur, di ruang tengah kakak beradik itu terlihat akrab dengan senyum dan canda yang terukir di wajah mereka.
"Kak Arya sangat beruntung karena mempunyai istri seperti kakak ipar. Ah, aku jadi iri." Ryan berucap dengan senyum, tapi itu bukanlah senyuman yang tulus.
"Kalau begitu, mulailah untuk serius dengan kekasihmu itu. Kapan kamu akan memperkenalkannya pada Kakak? Bukankah, kalian sudah berhubungan selama setahun ini?"
Ryan tersenyum kecut sambil meneguk kopi yang sedari tadi menemaninya. "Aku tidak ingin cepat-cepat menikah. Walau kami sudah berhubungan selama setahun, tapi aku belum ingin serius."
"Kenapa? Apa karena gadis itu?"
Ryan mengangkat wajahnya dan memandangi sang kakak. Kembali dia teringat di saat lalu. Di mana dia begitu antusias menceritakan hubungannya dengan Kania pada sang kakak. Bahkan, dia sudah mempersiapkan sebuah gaun untuk Kania pakai di saat pernikahan kakaknya itu. Namun, semuanya kandas hingga membuat hatinya terluka.
Dan kini, wanita yang dulu begitu dia banggakan pada kakaknya itu telah menjadi kakak iparnya sendiri. Kakaknya telah menikah dengan wanita yang membuatnya bahagia dan juga terluka.
Ryan berusaha tersenyum di antara perasaannya yang hancur dan tersiksa. Walau dia ingin melupakan, tapi nyatanya itu terlalu sulit. Dia belum bisa menerima kenyataan kalau wanita yang sangat di cintainya dulu kini telah menjadi kakak iparnya.
"Ah, sudahlah, Kak. Jangan bahas dia lagi. Aku ingin mendengar cerita Kakak tentang kakak ipar saja. Memangnya, Kakak bertemu kakak ipar di mana?"
"Kenapa? Apa kamu begitu penasaran?" Ryan mengangguk dan memandangi kakaknya. Dia begitu penasaran dengan awal pertemuan kakaknya itu dengan Kania.
"Baiklah, Kakak akan menceritakannya. Waktu itu, Kania tidak sengaja menemukan Tania di mall karena Rina kehilangan Tania saat mereka pergi ke mall. Karena panik, Kakak langsung pergi ke mall dan mendapati Tania sedang bermain bersama Kania. Kamu tahu kan, kalau keponakanmu itu tidak mudah dekat dengan orang asing, tapi dengan Kania, keponakanmu itu sangat patuh dan tidak ingin Kania pergi darinya, bahkan keponakanmu itu memangilnya mama."
"Apa karena itu Kakak menikahinya?" Arya mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Lalu, apa Kakak tahu tentang dirinya, keluarganya atau apapun tentang kakak ipar?"
"Kakak tahu semua tentang dia. Keluarganya, masa lalunya dan juga ... "
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Kania terlihat berjalan menuju ke arah mereka dan berdiri di depan Arya. "Maaf, aku lupa membuatkan susu hangat untukmu. Tunggu sebentar, aku akan segera buatkan untukmu." Kania lantas bergegas menuju dapur. Melihat tingkahnya, Arya tersenyum hingga membuat Ryan merasakan cemburu. Dia merasakan sesuatu yang lain di hatinya.
Tak lama, Kania datang dengan membawa segelas susu hangat di tangannya. "Minumlah dan segeralah tidur." Kania meletakkan gelas itu di atas meja.
"Sebaiknya kalian selesaikan obrolan kalian. Ini sudah larut malam, sudah waktunya untuk tidur." Kania kemudian masuk ke kamar dan tak mempedulikan tatapan kakak beradik itu padanya.
Arya kemudian meneguk susu hangat itu hingga habis. "Tidurlah, Kakak masuk dulu. Nanti obrolan ini kita lanjutkan besok saja." Arya kemudian bangkit dan berjalan menuju ke kamarnya. Sementara Ryan masih duduk dengan perasaan cemburu yang teramat menyiksa batinnya.
Kania berbaring di atas sofa dengan selimut yang sudah menutupi tubuhnya. Melihatnya, Arya segera mendektinya. "Bangunlah dan tidaurlah di tempat tidur. Biar aku yang tidur di sini."
"Tidak perlu. Sana, tidur di tempat tidurmu. Aku baik-baik saja. Bukankah, aku sudah bilang kalau kamu perlu beristirahat yang cukup karena kamu harus bekerja. Ayo, pergilah tidur." Kania kemudian membalikkan tubuhnya menghadap ke punggung sofa. Melihat Kania yang enggan untuk menuruti permintaannya membuat Arya segera meraih tubuh gadis itu. Dengan kedua tangannya, Arya membopong tubuh Kania dan membawanya ke tempat tidur.
"Arya, apa yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku." Kania begitu terkejut saat lelaki itu meraih tubuhnya ke dalam gendongannya.
"Diamlah. Bagiku, kamu lebih pantas untuk tidur di tempat tidur ini karena kamu butuh tempat istirahat yang baik agar bisa menjaga putriku nanti." Kania terdiam. Melihat wajah Arya yang begitu dekat di depan matanya membuat Kania menundukkan pandangannya. Wajah lelaki itu begitu tampan saat wajahnya di sinari cahaya remang lampu kecil di kamar itu. Dengan lembutnya, Arya meletakkan tubuh Kania di atas tempat tidur dan segera menutupi tubuhnya itu dengan selimut. "Tidurlah, aku tidak ingin kamu lelah." Arya kemudian berjalan menuju ke sofa dan segera berbaring di sana.
Kania diam seribu bahasa. Matanya kini tak bisa lagi terpejam. Walau dia memaksa untuk tidur, tapi dia tidak bisa memejamkan matanya. Sementara, Arya juga merasakan hal yang sama. Dia tidak bisa tidur hingga membuatnya gelisah. Entah sudah ke berapa kalinya dia membolak-balikkan tubuhnya. Kania menyadari itu dan segera bangkit dan berjalan ke arahnya. "Apa kamu tidak bisa tidur?" tanya Kania tiba-tiba hingga membuat Arya segera duduk.
"Kamu juga tidak bisa tidur?" Kania mengangguk dan duduk di samping lelaki itu.
"Aku tahu kita sama-sama enggan, tapi tak bisakah kita bersikap biasa saja? Aku tidak ingin rasa canggung di antara kita membuat kita gelisah karena aku tidak akan bisa. Aku ingin kita bersikap selayaknya teman. Kalau kamu punya masalah, kamu bisa ceritakan padaku dan aku juga akan begitu. Di depan semua orang, aku akan bersikap selayaknya seorang istri bagimu, tapi jika kita di kamar ini, aku akan bersikap sebagai temanmu. Jadi, bisakah aku menjadi temanmu?" Kania memandangi wajah lelaki itu yang sedari tadi mendengar ocehannya hingga membuat dia tersenyum.
"Baiklah, di kamar ini kita sebagai teman. Kalau begitu, apa temanku ini bisa segera tidur karena aku sudah mengantuk."
"Tidak, aku tidak akan tidur di situ jika kamu masih tidur di sini." Kania lantas mengangkat kedua kakinya dan menekuknya.
"Jadi, kamu mau menemani aku tidur di sofa ini?" Baiklah, aku tidak keberatan." Arya kemudian melakukan hal yang sama. Melihat Kania yang menopang kepala di atas lututnya, lelaki itu tersenyum karena mata gadis itu perlahan mulai terpejam.
Karena tak tega, Arya kemudian mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke tempat tidur. Setelah menutupi tubuhnya dengan selimut, Arya kembali menuju ke sofa dan berbaring di sana dengan senyum yang terpancar dari sudut bibirnya. "Aku akan menjadi temanmu. Untuk saat ini, kita akan berteman dan aku harap kita akan menjadi teman hidup untuk selamanya." Arya kemudian memejamkan matanya dan tak lama, lelaki itu sudah terbuai di alam mimpi.
Di saat mereka terlelap, Ryan tampak gelisah di kamarnya. Entah, apa yang kini dia rasakan. Di saat rasa benci membuncah di hatinya, di saat itu pula rasa cinta yang dulu pernah ada mulai mengganggu hatinya. Di satu sisi, dia begitu membenci Kania, tapi di sisi lain dia tidak bisa berbuat kejam padanya. "Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa melupakan dia?" Ryan menutup wajahnya dengan bantal dan berharap bayangan wajah Kania bisa hilang dari pikirannya, tapi percuma karena wajah cantik itu enggan untuk dia hempaskan.
*****
Suara hujan perlahan terdengar di saat matahari belum menampakkan sinarnya. Subuh itu, hujan jatuh membasahi bumi. Suara rinai hujan perlahan terdengar di telinga Kania, seiring hawa dingin yang tiba-tiba berembus dari balik tirai jendela.
__ADS_1
Kania perlahan membuka matanya sambil mencoba untuk duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya. Ponsel yang teronggok di atas meja kemudian diraihnya. "Baru jam 5." Kania meletakkan ponselnya kembali dan bergegas turun dari tempat tidurnya. Rambutnya yang terurai kemudian diikat asal.
Kania lantas berjalan menuju sofa dan melihat Arya yang tertidur pulas. Selimut yang jatuh kemudian diangkatnya dan menutupi tubuh lelaki itu. Melihatnya tertidur pulas, Kania tersenyum.
Setelah membersihkan wajahnya, Kania bergegas menuju dapur. Walau sudah ada Surti, keponakan Bi Suri yang sudah bekerja di rumah itu, tapi Kania tetap melakukan aktifitas di dapur sekadar membantu mereka.
"Nyonya, biar kami saja yang menyiapkan sarapan. Kalau Nyonya di sini dan dilihat sama Tuan Arya dan Tuan Wicaksana, kami berdua pasti dimarahi." Bi Suri terlihat khawatir jika majikannya marah karena melihat Kania di dapur.
"Ya, sudah. Kalau begitu, aku ke kamar Tania dulu. Surti, untuk Tuan Arya, buatkan air madu hangat seperti yang sudah aku ajarkan."
"Baik, Nyonya." Wanita muda itu mengangguk.
Kania lantas bergegas menuju ke kamar Tania, namun langkahnya terhenti saat Ryan tiba-tiba berdiri di depannya. "Apa kamu bahagia?" tanya Ryan dengan wajahnya yang terlihat lelah. Sejak semalam, dia belum sedetikpun memejamkan matanya.
"Pergilah, jangan ganggu aku lagi." Kania berusaha untuk tidak peduli dan melanjutkan langkahnya, tapi pemuda itu segera meraih pergelangan tangannya dan menatapnya dengan tatapan penuh rasa kebencian.
"Kenapa kamu harus menikah dengan kakakku? Apa kamu sengaja untuk menyakitiku? Apa kamu belum puas menghancurkan hatiku?" Ryan menatap Kania dengan air mata yang perlahan jatuh. "Aku membencimu, sangat membencimu. Aku ingin melupakanmu, tapi kenapa kamu harus hadir di tengah keluargaku?"
"Ryan, lepaskan tanganku!!" Kania menghempaskan tangan pemuda itu yang sedari tadi mencekal pergelangan tangannya. "Aku minta maaf, atas kesalahanku di masa lalu dan aku mohon jangan ganggu aku lagi karena aku kini sudah menjadi istri dari kakakmu. Sebaiknya, berlakulah yang sopan padaku." Kania lantas berbalik dan meninggalkan Ryan yang hanya bisa memandanginya dengan tangisan.
Di dalam kamar, Kania menangis saat mengingat kejadian tadi. Melihat Ryan menitikan air mata, membuat Kania tidak tahan. Dia sadar, keputusannya di masa lalu ternyata begitu menyakitkan bagi pemuda itu. Dia tidak menyangka, Ryan masih menyimpan rasa sakit yang sengaja ditorehkan olehnya. "Maafkan aku. Aku tidak menyangka apa yang aku lakukan di masa lalu begitu menyakitimu. Aku minta maaf." Kania menangis dan menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Rasanya, hatinya begitu sakit melihat pemuda itu menangis di depannya.
Kania perlahan menghapus air matanya saat putrinya itu terbangun dan menatap ke arahnya. "Mama kenapa menangis?"
"Mama tidak menangis, tapi mata Mama perih karena terkena debu," ucap Kania berbohong sambil berusaha tersenyum di depan putrinya itu.
"Ayo, sekarang Tania mandi, setelah itu kita sarapan." Gadis kecil itu mengangguk dan pergi menuju ke kamar mandi.
Setelah semua selelsai, ibu dan anak itu keluar dari kamar dan bergegas menuju meja makan untuk sarapan.
Melihat Tania, Wicaksana tersenyum dan mengajak cucunya itu duduk di dekatnya. "Sini, duduk dekat Kakek." Gadis kecil itu mengangguk dan berjalan ke arah kakeknya itu.
"Apa kalian suka dengan dekorasi kamar kalian?" tanya Wicaksana sembari menyendok nasi goreng ke piringnya.
"Suka, Ayah. Terima kasih, aku dan suamiku sangat menyukainya." Mendengar jawaban Kania, Wicaksana tersenyum, tapi tidak bagi Ryan yang tampak mengepalkan tangannya.
"Syukurlah, Ayah harap secepatnya kalian bisa memberikan cucu lagi buat Ayah."
Kania hanya tersenyum sambil mengangguk pelan. Entah apa arti senyumannya itu. Begitupun dengan Arya, yang melakukan hal serupa, tersenyum dan mengangguk di depan ayahnya.
__ADS_1
Sementara Ryan, hanya bisa mendengar ocehan yang baginya terasa menyakitkan. Rasanya, dia sudah lelah melihat kemesraan Kania dan kakaknya. Belum lagi dengan permintaan ayahnya yang baginya begitu memuakkan.
"Ayah, minggu depan aku akan kembali ke Amerika." Ryan berucap tiba-tiba, hingga membuat mereka semua menatap ke arahnya.