
Dengan langkah gontai, Ryan memasuki halaman rumah. Rasanya, dia tidak sanggup menatap sang kakak yang harus terluka karena dirinya. Dengan menahan rasa penyesalan di dalam dada, lelaki itu masuk perlahan dan mendapati Arya yang duduk di ruang tengah.
"Ryan, kamu kemana saja? Kenapa tengah malam begini kamu baru pulang?" tanya Arya sambil melangkah menuju ke arahnya.
"Kenapa Kakak belum tidur? Apa insomnia Kakak kambuh lagi?" tanya Ryan sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Jawab pertanyaan Kakak dulu, kamu dari mana jam begini baru pulang?" Arya lantas duduk di samping adiknya itu dan menatap tajam ke arahnya.
Selama ini, Ryan tidak pernah pulang hingga larut malam, tapi malam itu, Ryan pulang hampir jam 1 malam hingga membuat Arya khawatir padanya.
"Aku hanya jenuh, Kak. Sekali-kali aku juga butuh hiburan."
"Apa kamu pergi ke klub malam?" Pertanyaan Arya sontak membuat Ryan tersenyum.
"Tidaklah, Kak. Aku hanya duduk di kafe dengan Davina. Apa Kakak tahu kalau aku dan Davina sudah pacaran lagi?"
Arya menatap Ryan sekadar mencari kebenaran di balik ucapannya itu. "Apa kamu sudah melupakan Kania? Apa kamu tidak ingin lagi menemukannya hingga kamu kembali pada Davina?"
"Untuk apa aku mencarinya, Kak. Dia yang telah pergi meninggalkanku, bahkan sekuat apapun aku mencari, dia sukar untuk aku temui. Lantas, untuk apa aku harus bertahan jika hanya membuatku terluka. Lagipula, Davina masih mencintaiku, Kak."
Arya menatap adiknya dengan tatapan penuh kekecewaan. Dia tidak menyangka, semudah itu Ryan melupakan Kania dan kembali pada Davina.
"Kakak, kenapa Kakak melamun? Apa yang aku ucapkan itu salah?"
"Apa kamu tidak lagi mencintainya? Bukankah, kamu sangat mencintainya?" tanya Arya dengan wajahnya yang terlihat sayu. Ryan menatap wajah Arya dan dia dapat melihat ada segurat kekecewaan di wajah kakaknya itu.
"Apa Kakak kecewa saat aku mengatakan kalau aku tak lagi mencintainya? Kakak, tidak bisakah Kakak berterus terang padaku tentang perasaan Kakak?" batin Ryan yang perlahan menahan air matanya.
"Tidak lagi, Kak. Untuk apa aku mempertahankan cintaku jika ternyata dia sendiri mencampakanku. Ah, sudahlah, Kak. Aku tidak ingin lagi memikirkan Kania. Mungkin dia pergi karena dia tidak mencintaiku, tapi mungkin juga dia mencintai orang lain."
"Tidak mungkin!! Kania sangat mencintaimu, Kakak tahu itu. Bukankah, kalian berdua saling mencintai?"
"Kalau dia mencintaiku, dia pasti tetap ada di sisiku dan tidak akan pergi meninggalkanku. Namun, apa yang terjadi? Dia pergi tanpa ucapkan apapun dan itu artinya dia sama sekali tidak mencintaiku. Aku hanya jadi beban baginya, bahkan aku jadi penghalang cintanya. Tidakkah Kakak berpikir kalau dia sebenarnya mencintai orang lain?" Ryan menatap Arya yang kini menundukan wajahnya. Tanpa terasa, air mata lelaki itu jatuh hingga membuat Ryan tersenyum di balik tangis yang coba dia tahan.
"Kalau dia mencintai orang lain, kenapa dia tidak katakan saja padaku? Aku juga tidak mungkin akan menahannya karena aku tidak ingin mencintai wanita yang mencintai orang lain. Kenapa dia begitu tega dan membohongiku? Ah, ternyata Kania tidak sebaik yang aku bayangkan. Dia hanya wanita yang suka mempermainkan perasaan orang."
"Cukup, Ryan!! Jangan lanjutkan ucapanmu itu!!" Arya terlihat marah saat Ryan mulai membicarakan hal buruk tentang Kania dan itu membuat Ryan tersenyum tipis.
"Kenapa Kakak harus marah, bukankah itu kenyataannya? Ayolah, Kak. Apa Kakak tidak kasihan padaku karena Kania ternyata telah membohongiku? Apa yang aku katakan itu benar, kan, Kak? Kania tak lebih dari wanita pembohong!!" Ucapan Ryan terdengar tegas hingga membuat Arya mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Ryan, Kakak bilang hentikan!! Jangan lagi kamu mengatakan Kania seperti itu. Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia. Jadi, Kakak mohon, jangan katakan hal yang buruk lagi tentangnya. Dia sudah terlalu menderita dan jangan memperburuk keadaannya dengan ucapanmu itu. Kania bukan wanita seperti itu." Arya begitu terluka saat mendengar Ryan berucap buruk tentang Kania. Rasanya, telinganya panas saat mendengar hal buruk tentang wanita yang masih dicintainya itu.
"Kenapa Kakak membelanya? Tidakkah Kakak harus membelaku? Ayolah, Kak. Kania tidak pantas untuk dibela. Kalaupun aku menemukannya, aku tidak akan lagi peduli padanya karena dia tidak pantas untuk aku cintai. Kania itu gadis munafik dan dia ... " Ryan menghentikan ucapannya karena Arya tiba-tiba menamparnya. Seketika, Ryan tersenyum dan menyadari kalau kakaknya itu memang sangat mencintai Kania.
"Maafkan Kakak, Ryan. Maafkan Kakak." Arya mendekati Ryan dan mengelus pipi adiknya yang baru saja ditamparnya. "Ryan, maafkan Kakak. Kakak tidak bermaksud menamparmu. Kakak hanya ... "
"Tidak, Kak. Kakak berhak menamparku bahkan memukuliku. Aku sudah sangat keterlaluan pada Kakak. Aku tahu bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh wanita yang aku cintai, tapi aku juga tahu bagaimana rasanya melihat wanita yang aku cintai ternyata mencintai orang lain. Kakak, tampar aku dan sadarkan aku, karena diriku Kakak harus melepaskan wanita yang Kakak cintai. Kenapa Kakak harus membohongi perasaan Kakak hanya karena aku? Demi Kakak, aku rela melakukan apapun termasuk melepaskan Kania, tapi kenapa Kakak tak pernah berkata jujur padaku? Kakak, pukul aku, Kak. Pukul aku dan sadarkan aku karena aku sudah menghancurkan kebahagiaan Kakak." Ryan menangis terisak. Air matanya tak sanggup lagi dibendungnya. Rasa sayangnya pada sang kakak ternyata lebih besar dari cintanya pada Kania.
"Ryan, maafkan Kakak. Kakak tidak bermaksud membohongimu karena Kakak tahu kamu sangat mencintai Kania. Kakak rela melepaskan kebahagiaan Kakak demi dirimu karena hanya dirimu satu-satunya keluargaku. Kakak menyayangimu melebihi diri Kakak sendiri dan Kakak sudah berjanji pada ayah untuk membuatmu bahagia dan Kakak tahu kebahagiaanmu adalah Kania. Jadi, bagaimana mungkin Kakak bisa mengambil kebahagiaanmu itu?" Arya memeluk adiknya itu dan menangis. Begitupun dengan Ryan yang kini memeluk Arya dengan erat. Kedua kakak beradik itu kini menangis.
"Maafkan Kakak karena Kakak mencintainya. Kakak sangat mencintainya walau Kakak tahu dia juga mencintai Kakak, tapi karena keegoisan Kakak, Kakak terpaksa melepaskan cintanya dan membuat dia terluka. Mungkin, ini adalah hukuman buat Kakak karena sudah membuat dia kecewa. Sekarang, Kakak sudah pasrah karena nyatanya dia sudah tidak lagi ingin bertemu dengan Kakak."
"Tidak, Kak. Jangan menyerah. Aku yakin, di suatu tempat, Kania pasti sedang menunggu Kakak untuk mencarinya. Dia mencintai Kakak dan Kakak juga mencintai dia dan itu cukup untuk menyatukan cinta kalian. Aku akan menebus kesalahanku pada Kakak dan juga Kania. Aku akan berusaha untuk menemukannya, aku janji pada Kakak." Ryan terlihat bersungguh-sungguh hingga membuat Arya menatapnya dengan senyuman.
"Terima kasih, Ryan. Kamu adalah adik yang paling Kakak sayangi. Terima kasih, karena kamu harus terluka karena kakakmu ini."
"Jangan bicara seperti itu, Kak. Demi Kakak, aku akan melakukan apa saja. Apa Kakak pikir aku akan bahagia jika aku tahu ternyata Kakak dan Kania saling mencintai dan mengalah demi aku? Demi Tuhan, Kak. Jangan membuatku menyesal seumur hidupku. Aku sudah menganggap Kakak sebagai pengganti ayah, karena itu jangan buat aku menanggung rasa penyesalan yang bisa membuat aku mati."
Kembali, kakak beradik itu saling berpelukan dan melepaskan segala kegundahan dan penyesalan atas suratan takdir yang mereka alami. Dan kini, mereka akan mengubah suratan takdir itu dan kembali menemukan kebahagiaan yang tertunda.
Sementara jauh di sana, Kania tampak terjaga. Entah mengapa, matanya masih menatap sebuah foto yang baru saja dikirim Ardi padanya. Foto yang harus membuatnya menepati janjinya kepada lelaki itu.
Kania kemudian berbaring sambil memeluk bantal guling yang menjadi tempat dia mencurahkan kesedihannya. Kania menangis hingga membuat bantal guling itu basah dengan air matanya dan perlahan matanya tak sanggup menahan rasa lelah yang sedari tadi memaksa untuk menangis. Dengan isakan yang masih tersisa, Kania terpejam dan membuatnya tertidur dalam kesedihan.
*****
Menjelang pagi, Kania terbangun dan bergegas membereskan rumah. Tak hanya itu, dia juga harus membereskan pakaiannya dan mengisinya di dalam koper karena sebentar lagi Ardi akan datang menjemputnya.
Saat matahari mulai meninggi, Kania sudah duduk bersiap di depan teras rumah dengan koper yang sudah tergeletak di sampingnya. Sambil menatap hamparan laut, Kania mencoba menata hatinya karena dia harus kembali dan menerima suratan takdir yang akan dilaluinya. Entah mengapa, ada rasa enggan yang mengganggu hatinya seakan dia belum siap untuk kembali.
Sebuah mobil terlihat memasuki halaman rumah. Melihat kedatangan mobil itu, Kania bangkit sambil mengangkat kopernya dan berjalan mendekati Ardi yang keluar dari dalam mobil. "Biar aku yang bawa." Kania tersenyum saat Ardi menawarkan diri untuk membawa kopernya itu. "Kania, apa kamu sudah siap?" tanya Ardi saat membuka pintu mobil untuknya.
"Aku siap," ucap Kania yang tampak yakin dengan keputusannya itu, tapi siapa sangka itu bukanlah jawaban yang sebenarnya.
"Baiklah, kalau begitu. Ayo, kita pergi dan jalani kehidupanmu yang baru." Ardi tersenyum sambil menghidupkan mesin mobilnya dan perlahan meninggalkan pelataran rumah.
Setelah menempuh hampir satu jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di depan sebuah restoran. Melihat kedatangan mereka, Risna segera menghampiri dan memeluk Kania. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Risna yang mulai akrab dengan Kania.
"Alhamdulillah, keadaanku baik, Kak." Kania tersenyum pada wanita itu sembari melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Ayo, kita masuk dan hari ini juga kamu sudah bisa menempati restoran ini."
"Terima kasih, Kak."
"Untuk apa berterima kasih, bukankah restoran ini sekarang sudah menjadi milikmu?"
Kania kembali tersenyum dan melangkah masuk ke dalam restoran. Melihat dirinya, beberapa orang karyawan tampak terkejut bahkan menatap sinis ke arahnya. Sementara Dina, berjalan mendekati Kania dan tersenyum padanya. "Aku senang kalau kamu akan bekerja lagi di sini," ucap gadis itu sambil meraih tangan Kania.
"Aku juga senang karena bisa bertemu denganmu lagi." Kania lantas memeluk gadis itu.
"Dina, segera kumpulkan semua karyawan. Kami akan menunggu di ruang rapat." Gadis itu mengangguk dan melaksanakan perintah bosnya itu.
"Ayo, aku antar ke ruanganmu." Kania berjalan mengikuti Ardi dan Risna yang berjalan di depannya hingga mereka tiba di sebuah ruangan yang sudah direnovasi ulang. "Ini adalah ruangan pribadimu. Karena kamu belum punya rumah, aku sengaja membuat ruangan ini untukmu. Untuk sementara, kamu tempati ruangan ini dulu."
Kania melihat sekeliling dan sangat menyukai ruangannya itu. Dari balik jendela, dia bisa melihat hamparan laut lepas dengan semilir angin yang berembus dan masuk ke dalam ruangan itu.
"Bagaimana, apa kamu suka?" tanya Ardi yang kini berdiri di sampingnya.
"Aku sangat menyukainya, sangat menyukainya. Terima kasih, Ardi." Kania tersenyum di depan lelaki itu. Sejenak, Ardi begitu terpikat dengan senyuman yang sudah membuatnya menyimpan rasa. Rasa yang entah akan tersimpan sampai kapan. Rasa yang tak mudah untuk dia ucapkan.
"Baiklah, sekarang kita pergi temui semua karyawanmu. Mereka pasti sudah menunggu," ucap Risna sambil meninggalkan ruangan itu. Melihat sikap Ardi pada Kania, Risna jadi tahu kalau adiknya itu telah jatuh cinta pada Kania.
Di ruangan rapat, semua karyawan sudah menunggu. Mereka terlihat berbisik-bisik sambil membicarakan Kania yang terlihat dekat dengan bos mereka. Hingga bisik-bisik itu perlahan tak terdengar saat Kania, Ardi, dan Risna memasuki ruangan itu.
Ardi menatap karyawan satu persatu dan dia tahu kalau semua karyawannya itu masih menatap sinis ke arah Kania. "Kenapa? Apa ada yang salah dengan Kami?" tanya Ardi membuka kata.
"Tidak, Pak." Mereka menjawab dengan serempak.
"Kalian pasti bertanya-tanya karena melihat Kania datang bersama saya. Jadi, langsung saja pada intinya. Mulai hari ini, Kania akan menjadi bos kalian."
Sontak saja semua karyawan saling memandang, seakan tidak percaya dengan ucapan bos mereka itu. Melihat reaksi mereka, Ardi tersenyum. "Kania sudah membeli restoran ini dari saya sejak 3 bulan lalu. Jadi, selama 3 bulan kemarin gaji kalian dibayar oleh Kania. Saya dan Bu Risna hanya membantunya saja. Kalian mungkin berpikir kalau Kania berusaha mendekati saya atau bahkan merayu saya. Iya, kan? Jika kalian berpikir seperti itu, itu tidak salah karena kami memang dekat, tapi hanya sebatas sahabat. Restoran ini saya jual karena saya sudah membuka cabang di daerah lain dan sekadar untuk membantu sahabat saya ini. Jika kalian bertanya dari mana Kania mempunyai uang untuk bisa membeli restoran ini, maka kalian pasti lebih tahu tentang Kania yang merupakan seorang janda dari pengusaha muda yang cukup kaya. Jadi, apa masih ada yang ingin kalian tanyakan?" Suasana menjadi hening. Tidak ada lagi bisik-bisik yang terdengar.
"Kalau tidak ada pertanyaan, kalian boleh bubar. Dan ingat, jika kalian masih ingin bekerja di sini maka hormati Kania dan jangan ada desas desus yang membuat kalian bisa saja dipecat, mengerti!"
"Mengerti, Pak." Semua karyawan akhirnya bubar dan kembali bekerja. Walau terkejut dengan penjesan Ardi, mereka masih tidak menyangka kalau bos mereka saat ini adalah wanita yang pernah menjadi buah bibir mereka.
"Kania, jangan khawatir tentang mereka. Aku sudah mempunyai beberapa orang kandidat yang bisa membantumu menjalani restoran ini, tapi aku tidak ingin mengambil keputusan sendiri karena kamu juga harus menyetujuinya. Setelah semua selesai, aku akan kembali ke restoranku yang baru dan meninggalkanmu di sini. Namun, sebelum aku pergi, aku akan membantumu hingga kamu mampu."
Kania mengangguk dan tersenyum pada lelaki itu. Sekali lagi, Ardi membantu Kania tanpa pamrih. Semua itu dia lakukan karena Kania mengingatkannya pada seorang wanita yang sudah bekerja keras membesarkannya dan juga kakaknya. Walau telah kehilangan suami, wanita itu tetap menjadi ibu yang tangguh. Ibu yang tetap menyayangi mereka walau mereka berdua bukanlah anak kandungnya.
__ADS_1