
Kania terbangun dan mendapati dirinya di atas tempat tidur. Sambil duduk, Kania menggulung asal rambutnya. Sejenak, dia teringat akan pesan singkat yang semalam masuk di ponselnya. Pesan singkat yang membuatnya bertekad untuk mengubah takdirnya seperti yang dikatakan Ardi padanya. "Aku harus bisa melakukannya. Lebih baik seperti itu daripada aku harus tersiksa."
Semalam, saat dia baru turun dari mobil Ardi, masuk sebuah pesan singkat dari Arya yang mengatakan kalau surat perceraian mereka sudah siap dan dia diharapkan untuk datang dan menandatangani surat perceraian itu. Saat itulah, dia sudah bertekad untuk mengubah takdirnya.
Setelah membersihkan diri, Kania keluar dari kamar dan mendapati Ryan yang sudah duduk di meja makan. "Ayo, kita sarapan dulu, setelah itu aku akan mengantarmu ke tempat kerjamu."
"Tidak perlu, hari ini aku izin karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan." Kania lantas duduk di meja makan dan melihat di atas meja yang penuh dengan makanan.
"Sebaiknya, kita cepat sarapan karena hari ini aku ingin kamu mengantarku ke rumahmu."
"Ke rumahku? Maksudmu, ke rumah Kak Arya?" tanya Ryan yang sedikit terkejut.
"Iya, aku harus menandatangani surat perceraian, sekaligus aku ingin menemui Tania. Kamu tidak keberatan, kan?"
Ryan memgangguk dan tersenyum. Setidaknya, itu yang dia harapkan, yaitu perceraian Kania secara hukum.
Setelah sarapan, mereka kemudian pergi dan tak lama kemudian, motor mereka sudah memasuki pekarangan rumah yang membuat dada Kania berdebar hebat. Ya, saat ini, dadanya berdebar karena akan bertemu dengan lelaki yang sangat dicintainya, lelaki yang masih diharapkannya. Hingga di depan pintu, Arya terkejut saat melihat Kania yang datang sambil mengarahkan senyum padanya.
"Kak Arya belum ke kantor?" tanya Ryan saat melihat kakaknya itu masih menggunakan baju santai.
"Belum, Kakak akan pergi setelah jam makan siang. Ayo, silakan duduk." Arya berusaha terlihat santai, walau sebenarnya hatinya kini sedang dipenuhi rasa rindu yang memuncak. Ingin rasanya dia memeluk Kania dan memintanya untuk tetap tinggal, tapi itu tak mungkin untuk dia lakukan.
Mendengar suara yang tak asing di telinganya, Tania bergegas lari dan mendapati Kania yang duduk di depan ayahnya. Sontak, gadis kecil itu berlari dan memeluk Kania dan menangis di dalam pelukan Kania. "Mama ... " Tania memeluk Kania dengan tangis, begitupun dengan Kania yang memeluk tubuh mungil itu hingga membuatnya menitikan air mata.
"Tania sehat, kan? Tania tidak nakal, kan? Tania jaga Papa, kan?" Pertanyaan yang Kania lontarkan membuat Arya ikut menitikkan air mata.
"Iya, Ma. Tania tidak nakal sama Papa dan Tania jaga Papa. Tania akan ikuti apa kata Mama, tapi Mama jangan pergi lagi meninggalkan Tania dan Papa." Wajah gadis kecil itu memohon agar tidak lagi ditinggalkan oleh Kania.
"Hari ini, Mama ingin bermain bersama Tania. Kita akan menghabiskan hari bersama, Tania mau, kan?" Gadis itu mengangguk dan menatap ke arah ayahnya.
"Papa juga akan ikut bersama kita. Tania ingin kita pergi ke taman bermain bersama. Boleh, ya, Pa?" Tania memohon pada ayahnya dan Arya mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah, hari ini kita akan pergi ke taman bermain bersama." Mendengar ucapan ayahnya, Tania kembali tersenyum.
"Paman, hari ini Paman di rumah dulu, ya. Tania sama Mama dan Papa mau pergi. Kalau Paman ikut, nanti Paman akan membawa Mama lagi. Tania tidak mau Mama pergi."
Ryan mengangguk di depan keponakannya itu. "Baiklah, Paman tidak akan ikut dan bersenang-senanglah nanti di sana." Ryan membelai lembut puncak kepala keponakannya itu. "Aku akan menunggumu di sini, setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ucap Ryan yang menatap ke arah Kania. Kania mengangguk. Ryan kemudian pergi bersama Tania, meninggalkan Kania dan kakaknya agar mereka bisa menyelesaikan urusan mereka.
Kania masih terdiam saat mereka duduk berdua. Arya masih menatap Kania yang kini menundukan wajahnya. "Apa kamu sehat?" tanya Arya yang membuat Kania mengangkat wajahnya.
"Aku sehat, kamu juga sehat, kan? Apa kamu sering minum air madu buatan Bi Suri? Kamu tidak begadang lagi, kan?" tanya Kania bertubi-tubi hingga membuat Arya tersenyum.
"Jangan khawatir, aku selalu meminumnya dan aku tidak begadang lagi." Arya tersenyum kecut karena telah membohongi Kania dan juga dirinya sendiri. Sejak kepergian Kania, rasanya separuh jiwanya telah pergi. Kebiasaan Kania yang selalu memperhatikan kesehatannya, mengingatkannya untuk tidak lagi begadang, tidak akan lagi dia rasakan dan kini, kebiasaan buruknya kembali lagi. Seakan Kania, bagaikan candu yang telah habis hingga membuatnya kembali seperti dulu, terdiam dalam keheningan malam dengan kopi sebagai teman.
Kembali suasana menjadi hening. Rasanya, mereka begitu canggung untuk saling menatap, walau ada rasa kerinduan di hati keduanya yang membuncah. Namun, kerinduan itu harus mereka tepis dan menampakkan kekuatan hati yang nyatanya begitu rapuh.
"Tunggu di sini, aku akan mengambil surat perceraiannya." Arya kemudian bangkit dan pergi ke kamarnya dan tak lama dia kembali dengan sebuah map di tangannya.
Map itu lantas diletakkan di atas meja dan menyodorkannya perlahan ke arah Kania. "Aku sudah menandatanganinya, sekarang giliran kamu untuk tanda tangan."
"Aku rasa, ini lebih baik dan aku harap kamu bahagia bersama Ryan." Arya mengambil kembali kertas putih itu dan memasukannya ke dalam map.
"Apa kamu juga bahagia? Apa kamu senang dengan perceraian ini? Apa tidak sedikitpun kamu merasa tersiksa? Apa itu yang kamu rasakan?" Pertanyaan Kania bagaikan sembilu yang mengiris hatinya secara perlahan.
Bagaimana mungkin dia akan bahagia melepaskan cintanya. Bagaimana mungkin dia merasa senang dengan perpisahan yang nyatanya begitu menyakitkan baginya. Bagaimana mungkin dia tidak tersiksa dengan kerinduan yang setiap hari mengganggunya, karena semua itu yang kini dia rasakan.
"Sudahlah, Kania. Semuanya sudah terjadi dan aku tidak bisa merubah keputusan yang dari awal sudah kita sepakati bersama."
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan, tapi aku juga akan mengambil keputusanku sendiri dan aku harap keputusanku ini lebih baik bagi kita. Ah, sudahlah, sekarang izinkan aku ada di rumah ini untuk yang terakhir kali. Aku akan melakukan tugas terakhirku sebagai istri dan juga ibu bagi Tania. Aku harap kamu bisa mengizinkanku," ucap Kania yang berusaha tersenyum di antara tangis yang coba dia tahan.
"Lakukanlah, aku akan mengizinkanmu." Arya kemudian masuk ke kamarnya dan di sana dia meluapkan tangisnya. Air mata yang coba dia tahan sedari tadi, kini tumpah dan membasahi wajahnya. Ditatapnya foto pernikahannya dengan Kania yang terpampang di atas mejanya. Rasanya terlalu sulit untuk melepaskan perasaan cinta yang sudah tertanam di dalam jiwanya. "Aku harus kuat. Dia bukan di takdirkan untukku, tapi Tuhan, jika saja ada keajaiban yang bisa mengubah takdirku ini, aku mohon tunjukanlah karena aku terlalu pengecut untuk menahannya. Aku akan menunggu hingga takdir tak lagi memihak padaku. Aku akan ikhlas jika akhirnya, takdir kami harus berpisah." Air matanya jatuh seiring doa yang dia panjatkan karena hanya itu jalan yang masih tersisa. Keajaiban Tuhan.
Bersama Bi Suri dan Surti, Kania memasak di dapur. Seakan tanpa beban, mereka bercanda dan tertawa. "Nyonya, Bibi berharap masih ada kesempatan untuk Nyonya dan Tuan kembali. Bibi kasihan sama Non Tania karena selalu menangis memanggil Nyonya. Sementara Tuan, tidak pernah menyentuh teh madu yang Bibi berikan, katanya rasanya tidak sama padahal Bibi membuatnya seperti yang Nyonya ajarkan. Dan juga, Tuan mulai lagi dengan kebiasaan buruknya yang selalu terjaga hingga menjelang pagi. Nyonya, rumah ini seakan tak ada lagi kebahagiaan. Rumah ini terasa hampa tanpa kehadiran Nyonya di rumah ini." Wanita paruh baya itu menangis mengingat kesedihan yang dirasakan majikannya. Betapa dia terharu saat melihat majikannya yang selalu menatap wajah Kania di layar ponselnya.
__ADS_1
Kania ikut menitikan air mata saat mendengar ungkapan wanita itu. "Bi, aku mohon, tolong jaga mereka. Aku tahu, ini keputusan sulit bagi kami, tapi ini sudah jalan yang harus kami tempuh. Aku hanya bisa melihat mereka dari jauh dan berdoa semoga mereka selalu bahagia."
Bi Suri lantas memeluk Kania sambil mengelus punggung gadis itu. "Bersabarlah, Nak. Bibi yakin, pasti kebahagiaan akan menghampirimu." Kania mengangguk sembari menghapus air matanya.
Hari itu, Kania menghabiskan waktu bersama Arya dan Tania di taman hiburan. Melihat mereka, orang akan berpikir kalau mereka adalah kelurga kecil yang harmonis dan bahagia, tapi siapa sangka, mereka hanyalah keluarga yang berpura-pura bahagia dan tersenyum di antara luka dan penyesalan.
"Arya, apa aku bisa meminta sesuatu darimu?" tanya Kania saat mereka sedang duduk bersama di bangku taman dan memperhatikan Tania yang sementara bermain peresotan.
"Katakanlah, kalau aku mampu, aku akan memberikan apa yang kamu minta."
"Menikahlah kembali dan bahagialah. Aku tahu, kamu membohongiku dan mengatakan kalau kamu meminum air madu buatan Bi Suri dan bahkan kamu masih begadang hingga pagi. Arya, jangan menyiksa dirimu. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sementara kamu hidup seperti ini. Berjanjilah padaku, tinggalkanlah kebiasaan burukmu itu dan berusahalah untuk bahagia. Aku juga akan bahagia walau aku tahu itu mungkin terasa sulit." Kania memandangi ke arah Tania yang tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Sambil tersenyum, Kania membalas melambaikan tangannya.
"Aku tidak bisa berjanji, tapi aku hanya ingin memastikan kalau aku dan Tania pasti akan bahagia. Kania, maafkan aku atas keputusanku yang membuat kita terluka, tapi aku tidak bisa bahagia jika Ryan ikut terluka. Aku tahu, kamu pasti bisa membahagiakannya karena kamu pernah mencintainya. Cintailah dia seperti dulu dan bahagialah, maka aku juga pasti akan bahagia."
Kania terdiam dan hanya memandangi Tania yang masih asyik bermain. Ah, rasanya sulit baginya untuk mengambil keputusan, tapi sesulit apapun itu, dia sudah bertekad untuk mengubah takdirnya. "Baiklah, sebaiknya aku harus pergi sebelum Tania menyadari ketiadaanku di sini. Aku tidak ingin melihat dia menangis. Aku harap, kamu dan juga Tania akan menemukan kebahagiaan." Kania lantas bangkit dan masih menatap Tania. "Aku pergi." Kania lantas berjalan meninggalkan Arya yang masih terdiam, namun perlahan lelaki itu berlari mengejar Kania dan memeluknya.
"Izinkan aku memelukmu untuk yang terakhir kali." Arya memeluk Kania hingga membuatnya menitikan air mata.
"Kembalilah." Kania melepaskan diri dari pelukan Arya dan meninggalkan tempat itu. Tania yang menyadari kalau Kania telah pergi hanya bisa menangis dan merengek di depan ayahnya. Dari tempat tersembunyi, Kania masih memandangi mereka dan ikut menitikan air mata saat melihat putri kecilnya itu menangis dan memanggilnya.
Dengan berat hati, Kania lantas meninggalkan tempat itu dan pergi ke tempat kostnya. Tas hitam miliknya kini ada di tentengannya.
"Kania, apa kamu yakin ingin pergi dari sini?" tanya wanita pemilik kost yang menatap sedih ke arah Kania.
"Aku yakin, Bu. Terima kasih karena beberapa hari ini aku bisa istrirahat di sini. Jika ada yang datang menanyakanku, katakan saja kalau aku sudah pergi. Sebaiknya, aku harus cepat pergi sebelum ada yang datang mencariku." Kania lantas memeluk wanita itu dan pamit padanya. Sambil menenteng tasnya, Kania meninggalkan tempat itu.
Di depan jalan, sebuah mobil sudah menunggunya. Sambil menghapus air matanya, Kania menemui seorang lelaki yang berdiri menatapnya. "Apa kamu sudah siap?" tanya lelaki itu.
Kania mengangguk dan masuk ke dalam mobil setelah lelaki itu membukakan pintu mobil untuknya. "Apa kamu yakin untuk mengubah takdirmu?" tanya lelaki yang kini duduk di bangku kemudi.
"Aku siap dan aku mohon, bawa aku pergi jauh dari sini. Aku tidak ingin mereka menemukanku." Kania kembali menghapus air matanya. Lelaki itu kemudian menjalankan mobilnya dan membawa Kania ke suatu tempat. Tempat di mana Ryan dan Arya tidak akan pernah menemukannya.
__ADS_1