
Walau pernikahan mereka hanya pernikahan kontrak, tapi Arya tetap menceritakan tentang kehidupan Kania pada ayahnya itu. Walau tidak semua tentang kehidupan Kania dia utarakan dengan jujur, tapi setidaknya dia ingin ayahnya mengetahui wanita yang sudah menjadi istrinya itu.
Dan kini, Ryan begitu terkejut saat mendengar tentang Kania 4 tahun yang lalu. Di mana, dia pernah di sakiti oleh gadis itu. Dia pernah dibuat kecewa dengan perselingkuhan Kania hingga membuatnya memutuskan meninggalkan Indonesia. Namun, semua peristiwa itu kembali mengusik ingatannya hingga dia memutuskan untuk meminta penjelasan dari Kania. "Kania, apa yang terjadi pada keluargamu 4 tahun yang lalu. Jawab aku jujur, Kania." Ryan menatap gadis itu yang kini menundukkan wajahnya. Kania terdiam, entah dia harus menjelaskan apa pada pemuda itu.
Melihat Kania yang hanya diam, Ryan semakin penasaran hingga membuatnya meraih dagu gadis itu dan mengangkat wajahnya. Sontak, Ryan terkejut saat melihat air mata yang sudah membasahi wajah gadis itu.
"Kania, tolong jelaskan padaku agar aku tidak merasa bersalah padamu. Aku mohon, jujurlah padaku." Ryan mengiba di depan gadis itu. Hingga Kania akhirnya memutuskan untuk berterus terang padanya.
"Apa yang sudah kamu ketahui itu adalah benar. Aku sengaja menjauh darimu karena aku tahu aku sudah tidak lagi pantas bersama denganmu. Keluargaku hancur. Ayahku mati dan ibuku di penjara. Aku bukan lagi Kania yang selalu ada saat kamu butuh karena aku harus menghabiskan waktuku untuk bekerja dan aku tidak ingin kamu tahu tentang itu semua. Aku sengaja membuatmu terluka agar kamu menjauh dariku dan aku berhasil membuatmu pergi dariku." Kania menghapus air matanya yang perlahan jatuh. Mengingat semuanya, Kania kembali merasakan sakit di hatinya.
Mendengar penuturan Kania, Ryan hanya terdiam, tapi jauh di lubuk hatinya dia begitu terluka karena ternyata dia bukanlah seorang kekasih yang baik. Kania ternyata tidak mempercayainya hingga tega melukai hatinya. Kania lebih memilih kehilangan dirinya daripada harus mengetahui kondisi keluarganya. Dia begitu egois karena selalu mengharapkan Kania ada saat dia butuh, tapi sebagai kekasih dia tak bisa ada di sisi Kania di saat gadis itu sangat membutuhkannya.
"Maafkan aku karena waktu itu aku tidak bisa ada di sampingmu. Jujur, aku tidak tahu apa yang aku lakukan jika saat itu aku tahu tentang keluargamu. Mungkin, aku bisa saja meninggalkanmu atau aku bisa saja berpaling darimu, tapi kamu lebih memilih meninggalkan aku hingga membuatku membencimu. Kania, maafkan aku." Ryan menitikkan air mata hingga perlahan tangannya meraih tubuh gadis itu dan memeluknya dengan erat. "Maafkan aku, Kania."
Di dalam pelukan pemuda itu, Kania menangis. Dia ingin menumpahkan rasa yang selama ini mengganggu di hatinya. Rasa cinta yang mulai meresahkan hatinya, mungkin akan tersimpan dan tidak akan pernah kembali dia ungkapkan karena kini, dia tidak sendiri lagi.
Kania perlahan melepaskan pelukannya dan menatap pemuda itu yang juga menatap ke arahnya. "Sekarang, kamu sudah tahu alasan aku meninggalkanmu dulu, karena itu jangan lagi ada rasa benci di hatimu untukku. Aku tahu, sulit bagimu untuk melihat aku ada di sini, tapi kita harus bisa membiasakan diri. Aku kini adalah istri dari kakakmu dan biarkan kisah kita di masa lalu hanya kita yang tahu. Aku mohon, simpanlah semua kisah itu menjadi kenangan kita saja dan mulailah untuk menjalani kisah cintamu yang baru. Lupakan tentang aku yang dulu pernah mengisi hatimu karena aku sudah tidak bisa lagi ada di hatimu." Kania mengucapkan semua itu dengan deraian air mata yang membasahi wajahnya. Walau dia tahu, rasa itu belum benar-benar pergi, tapi dia harus bisa mengambil keputusan karena dia tidak ingin Arya kecewa padanya.
Kania kemudian pergi meninggalkan Ryan yang masih berdiri memandangi kepergiannya, hingga tiba-tiba saja dia terkejut saat pemuda itu meraih tangannya dan membawanya ke dalam kamarnya. "Ryan, apa yang kamu lakukan?" Kania berusaha melepaskan tangannya, tapi Ryan tidak peduli. Wajah pemuda itu memerah menahan marah dan juga air mata.
"Ryan, aku mohon, tolong lepaskan tanganku!!" Kania memohon sambil berusaha melepaskan tangannya, hingga tiba di depan pintu kamarnya, Ryan melepaskan tangannya.
"Apa kamu sudah gila??!!"
"Ya, aku sudah gila. Apa kamu tahu apa yang selama ini aku rasakan? Aku marah dan benci padamu, tapi aku tidak bisa membencimu. Apa kamu tahu kalau selama ini aku cemburu? Seharusnya, kamu saat ini yang menjadi istriku bukan kakakku!!" Ryan terlihat begitu emosi saat meluapkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya itu. Dia begitu kecewa dan juga marah karena bukan dia yang kini ada di hati gadis itu lagi. Dia marah karena dengan mudahnya Kania memintanya untuk meluoakan kisah kasih mereka di masa lalu.
"Apa semudah itu kamu bisa melupakan aku? Walau aku marah dan benci, tapi aku tidak semudah itu bisa melupakanmu. Apa kamu pikir, aku dengan mudahnya bisa melupakanmu? Aku tak peduli walau kamu adalah istri dari kakakku, karena aku yang lebih dulu mencintaimu. Aku yang lebih dulu mengisi hatimu. Kamu tahu itu, kan?"
"Apa yang kamu bicarakan? Diamlah, kamu bisa membuat seisi rumah mendengar ucapanmu itu." Kania lantas bergegas meninggalkannya, tapi kembali Ryan mengikutinya hingga langkah mereka terhenti saat Tania berdiri di depan mereka. "Mama." Gadis kecil terbangun dan berjalan menuju ke arah Kania. Dengan lembut, Kania meraih tubuh gadis kecil ke dalam gendongannya.
"Mama dan Paman kenapa bertengkar?" tanya Tania sambil memandangi Ryan yang masih berdiri di samping Kania.
"Paman dan Mama tidak bertengkar, kok. Kami cuma sedang membicarakan untuk membelikan Tania boneka lagi. Paman mau membelikan boneka beruang, tapi Mama mau membelikanmu boneka panda."
"Tidak usah beli aku boneka lagi karena boneka aku sudah banyak, Paman." Gadis itu tersenyum sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Kania. "Ma, temani aku di kamar, aku masih mengantuk." Tania menyandarkan kepalanya di bahu kiri ibunya itu.
__ADS_1
"Baiklah." Kania mengangguk dan melangkah pergi meninggalkan Ryan yang masih memandangi mereka hingga hilang di balik pintu kamar.
Di tempat tidur, Kania membaringkan tubuh gadis kecil itu. Di sampingnya, Kania berbaring sambil mengelus punggungnya dengan lembut. Perlahan, mata gadis kecil itu terpejam, tapi Kania tak sedetikpun bisa memejamkan matanya. Ingatannya kembali tertuju pada Ryan. "Aku harap kamu bisa menerima semuanya. Sudah takdir kita untuk berpisah dan aku tidak mungkin bisa bersama denganmu lagi karena itu akan menyakitimu dan juga kakakmu," batik Kania dengan bulir air mata yang perlaham jatuh di sudut matanya.
Di dalam kamarnya, Ryan menatap selembar foto yang masih dia simpan. Foto di mana dia sedang merangkul seorang gadis yang sedang tersenyum padanya. Itu adalah foto kebersamaannya bersama Kania di masa lalu. Foto yang selalu dibawanya dan selalu ditatapnya di saat kerinduan mengganggu hatinya. Kerinduan akan seorang gadis yang tak bisa dengan mudah bisa dilupakan olehnya. Dan kembali, dia merasakan kerinduan itu walau nyatanya gadis itu telah menjadi milik kakaknya sendiri.
Suara deru mobil baru saja terdengar di halaman rumah. Tania bergegas keluar saat mendengar deru mobil yang sudah di hafalnya itu, karena deru mobil itu adalah mobil milik ayahnya. Sambil tersenyum, Arya meraih tubuh putrinya itu dan menggendongnya. "Putri Papa sudah cantik dan harum. Mana Mama?" tanya lelaki itu hingga membuat putrinya itu tersenyum.
"Papa rindu sama mama, ya?" tanya gadis kecil itu sambil berbisik di telinga ayahnya hingga membuat lelaki itu tersenyum.
"Tidak apa-apa, kok, Pa. Tania mengerti, kok." Kembali Arya dibuatnya tertawa hingga membuat Kania yang berjalan ke arah mereka ikut tersenyum. "Kalian berdua sedang menertawakan apa?" tanya Kania yang penasaran dengan tingkah anak dan suaminya itu.
"Rahasia, Ma." Tania kemudian turun dari gendongan ayahnya dan berlari masuk ke kamarnya.
"Tania kenapa?" tanya Kania sambil meraih tas yang dibawa oleh suaminya itu.
Arya hanya tersenyum. "Sebentar malam aku ingin mengajakmu keluar. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Arya yang berjalan di sisi Kania.
Kania mengangguk dan tersenyum padanya. "Baiklah," jawab Kania singkat. Kania tidak pernah sakalipun menolak permintaan Arya padanya. Apa yang diperintahkan lelaki itu, selalu dia kerjakan. Entah mengapa, baginya Arya terlihat lebih dewasa dan lembut di matanya hingga membuatnya menuruti permintaannya itu.
"Minumlah selagi masih hangat." Kania meletakkan gelas itu di atas meja dengan beberapa camilan yang baru saja dibuatnya.
Arya tersenyum dan mengangguk. Gelas itu lantas diraihnya dan meneguk isi di dalam gelas itu hingga sisa setengahnya. "Terima kasih." Mendengar ucapan lelaki itu, Kania tersenyum dan bergegas menuju tempat tidurnya.
"Arya, sepertinya ayah sedang sakit. Tadi waktu ayah pulang, wajahnya tampak pucat. Aku hanya khawatir jika ayah benar-benar sakit dan dia tidak ingin kita mengetahui penyakitnya itu," ujar Kania hingga membuat Arya menutup laptopnya.
"Apa kamu yakin?" Kania mengangguk.
Arya lantas bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari kamar. Langkahnya kini tertuju ke arah kamar ayahnya. Setelah mengetuk pintu, pintu kamar itupun terbuka.
"Ayah sakit?" tanya Arya saat masuk ke dalam kamar ayahnya itu.
"Apa Kania yang sudah memberitahukanmu?" tanya Wicaksana sambil duduk di tempat tidurnya.
"Iya, Yah."
__ADS_1
Wicaksana tersenyum dan menepuk pundak putranya itu. "Istrimu itu terlalu berlebihan. Ayah tahu dia khawatir, tapi Ayahmu ini baik-baik saja. Tadi Ayah memang sedikit merasa pusing, itu mungkin karena Ayah kelelahan setelah hampir seharian di rumah sahabat Ayah." Wicaksana tersenyum di balik kebohongannya itu.
"Ayah, aku tahu Ayah kangen dengan sahabat-sahabat Ayah, tapi Ayah juga harus memikirkan kesehatan Ayah. Jika Ayah lelah, Ayah bisa saja sakit. Apa tidak bisa jika sahabat-sahabat Ayah datang mengunjungi Ayah di rumah saja?"
"Iya, Ayah minta maaf, nanti Ayah bilang sama mereka untuk bertemu di rumah ini saja. Sudahlah, jangan terlalu mengkhawatirkan Ayah." Wicaksana kemudian bangkit dari tempat tidurnya. "Ayo, temani Ayah main catur." Arya tersenyum dan mengiyakan permintaan ayahnya itu.
Arya memang teman yang asyik untuk diajak main catur. Wawasannya yang luas, pembawaannya yang sabar dan tentu saja dengan sikapnya yang lembut membuat Wicaksana lebih memilihnya untuk menjadi lawan main catur di bandingkan dengan Ryan yang selalu tidak sabar dan pemarah.
Di ruang tengah, ayah dan anak itu tampak serius memperhatikan papan catur yang sudah terisi dengan pion-pion berwarna hitam dan putih. Melihat mereka, Kania hanya tersenyum lega karena Arya ternyata mampu membuat ayahnya bersemangat kembali. Di atas meja, Kania meletakkan dua gelas teh madu hangat dengan sepiring camilan. Gadis itu lantas duduk di samping Wicaksana dan memperhatikan papan catur itu dengan seksama.
"Kamu juga mau main?" tanya Wicaksana saat melihat menantunya itu duduk di sampingnya.
"Aku tidak tahu main catur. Aku hanya ingin duduk di sini menemani Ayah."
"Oh, begitu. Baiklah, Ayah pasti bisa mengalahkan suamimu itu." Wicaksana tampak bersemangat hingga membuat Arya tersenyum walau dia tahu, ayahnya tak pernah menang darinya, tapi untuk kali ini dia akan mengalah.
"Baiklah, aku mengaku kalah." Arya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Ayahnya terlihat tersenyum bangga di hadapan Kania dan gadis itupun tersenyum dan melihat ke arah suaminya.
"Aku tahu kamu sengaja mengalah. Iya, kan?" tanya Kania saat mereka berdua ada di dalam kamar.
Arya mengangguk dan tersenyum pada gadis itu. "Aku bahagia karena ayah bisa tersenyum seperti itu. Untuk ayah, aku akan melakukan apa saja karena hanya dia orang tua yang aku miliki saat ini. Di usia senjanya, aku ingin membuatnya bahagia dan aku ingin kamu bisa membantuku untuk membuatnya bahagia."
Kania tersenyum dan menggangguk perlahan. "Aku akan membantumu untuk membahagiakan ayahmu. Bukankah, aku sudah pernah bilang kalau ayahmu adalah ayahku juga?"
Kania lantas bergegas menuju kamar mandi dan tak lama dia sudah keluar dengan menggunakan sebuah gaun panjang berwarna peach.
"Bergegaslah, bukannya kamu ingin mengajakku makan di luar?"
Arya menatapnya heran. Kania hanya tersenyum melihat ekspresi wajah lelaki itu. "Bukankah, kamu ingin mengajakku makan di luar?"
"Kenapa kamu bisa tahu?"
"Karena sekarang aku adalah istrimu dan setiap ulang tahun seorang istri, suaminya pasti mengajaknya makan di luar. Benar, kan?"
Arya terkejut mendengar ucapan Kania hingga membuatnya mengangguk tanpa kata. "Ya, kamu memang sekarang istriku, tapi apa selamanya kamu tetap ingin menjadi istriku?" batin Arya sambil bergegas menuju kamar mandi.
__ADS_1