
Hari itu, suasana rumah terlihat sepi. Sudah seminggu Arya mengambil cuti dan hari itu dia harus kembali bekerja seperti biasa. Wicaksana pun tak tampak. Lelaki paruh baya itu sudah keluar sedari pagi karena harus melakukan cek up di salah satu dokter kepercayaannya.
"Surti, aku minta tolong untuk jaga Tania sebentar. Aku harus pergi ke suatu tempat. Bisa, kan?" Gadis muda itu mengangguk menyanggupi permintaan majikannya itu. "Baik, Nyonya. Pergilah, aku akan menjaga Nona."
Kania lantas bergegas. Setelah menjelaskan pada Tania, Kania akhirnya pergi. Dengan mobil taxi, Kania meninggalkan pelataran rumah mewah itu.
Tanpa sepengetahuannya, Ryan diam-diam mengikutinya. Dengan mengendarai sepeda motor dan wajah yang ditutupi helm, Ryan bergegas mengikuti Kania yang perlahan memasuki area pemakaman.
"Dia mau ke mana?" Ryan terus memperhatikan hingga Kania berhenti di salah satu makam yang terlihat masih baru.
Di depan gundukan tanah yang masih basah, Kania duduk dan membelai batu nisan yang bertuliskan sebuah nama. Nama yang begitu melekat di hatinya. "Ibu, aku datang." Kania menunduk dan tak terasa, dia menitikkan air mata.
"Aku merindukanmu, Bu. Aku ingin memelukmu." Tangisnya tak lagi bisa dia tahan hingga membuatnya menangis. Di depan makam, Kania menangis sesenggukan karena rasa rindu yang begitu membuncah di hatinya. Hari ini, adalah hari ulang tahunnya dan biasanya ibunya akan membuat kue kesukaannya. Namun, itu tak pernah lagi dia rasakan sejak 5 tahun lalu, sejak ibunya di vonis masuk penjara.
Di seberang jalan, Ryan masih memperhatikannya. Dia begitu penasaran dengan makam yang dikunjungi oleh Kania, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mendekati gadis itu.
Ryan lantas berjalan melewati beberapa makam dan kini, dia sudah berdiri di belakang Kania. Dengan jelas, dia bisa mendengar suara tangisan Kania hingga akhirnya dia memutuskan untuk menyapa gadis itu. "Apa yang kamu lakukan di sini? Makam siapa yang kamu kunjungi?" Kania terkejut saat melihat Ryan berdiri di belakangnya.
"Kenapa kamu bisa ada di sini? Apa kamu diam-diam mengikutiku?" Kania menghapus sisa air mata di pipinya dan menatap Ryan yang kini berdiri di depannya.
"Ya, aku sengaja mengikutimu karena aku ingin mencari tahu tentangmu. Kenapa? Apa kamu takut jika aku tahu keburukan dan kemunafikanmu itu?"
"Terserah padamu. Aku takkan peduli." Kania lantas bergegas meninggalkan makam itu, tapi tangannya tiba-tiba diraih oleh Ryan.
"Apalagi yang kamu inginkan dariku, apa??!!" Kania menghempaskan tangan pemuda itu dan menatap Ryan dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. "Bukankah, aku sudah meminta maaf, tapi kenapa kamu selalu saja menggangguku?" Kania terisak. Tatapan matanya penuh kesedihan. Ryan perlahan melepaskan tangannya dan kini, Kania terduduk sambil menangis.
Ryan mengarahkan pandangannya ke arah pusara makam dan melihat nama yang terpampang di pusara itu. "Itu kan nama ibunya?" Ryan mengernyitkan keningnya dan kembali menatap Kania. "Apa ini makam ibumu?" tanya Ryan yang terlihat begitu penasaran. Kania tidak menjawab, yang terdengar hanya isakan tangisnya.
"Kania, jawab aku. Apa ini makam ibumu?" Kania mengangkat wajahnya dan menatap Ryan yang kini menatapnya. "Kenapa? Jika iya, memangnya kenapa?"
__ADS_1
Ryan terhenyak. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja diakui oleh Kania. "Kamu bohong, kan?"
"Apapun yang aku katakan adalah kebohongan bagimu. Jika kamu tidak percaya, untuk apa kamu bertanya?" Kania bangkit dan berjalan meninggalkannya, namun pemuda itu segera mengejarnya. "Kania!!" Ryan menarik tangan gadis itu dan menatapnya tajam. "Aku akan percaya jika kamu berterus terang padaku. Aku akan menerima semuanya jika dari awal kamu tidak mengkhianatiku. Apa kamu pikir, aku senang dengan apa yang aku lakukan padamu? Apa kamu tahu seberapa sakitnya hatiku saat melihatmu bersama kakakku?" Kania terkejut mendengar ucapan pemuda itu. Dia tidak menyangka, Ryan akan mengucapkan kata-kata itu.
"Aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi, tapi biarkan aku mendengar alasanmu mengapa dulu kamu tega mengkhianatiku. Setelah itu, aku akan pergi dan membiarkanmu bahagia dengan kakakku." Ryan terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya itu.
"Sudahlah, tidak ada yang perlu aku jelaskan." Kania melepaskan tangan pemuda itu dan berjalan meninggalkan area pemakaman. Ryan lantas mengejarnya dan meraih tubuh gadis itu dalam pelukannya. "Aku akan memaafkanmu walau kamu tak ingin menjelaskan padaku. Aku ingin membencimu, tapi aku tak bisa. Aku sadar, aku sudah terlambat untuk bersamamu, tapi aku mohon, biarkan aku menghabiskan hari ini bersamamu. 4 tahun aku merayakan ulang tahunmu seorang diri, karena itu, untuk hari ini saja, izinkan aku untuk merayakan ulang tahunmu sama seperti dulu. Setelah itu, aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi." Ryan menitikkan air mata. Begitupun dengan Kania. Air matanya jatuh saat mendengar ungkapan hati pemuda itu yang ternyata tak benar-benar membencinya.
Walau di mulut Ryan mengatakann benci pada Kania, tapi jauh di dasar hatinya, rasa benci itu hanya bagaikan sebuah titik hitam di antara rasa cinta yang begitu besar. Sebenci dan semarah apapun Ryan pada Kania, namun tak sebesar rasa cinta yang dia rasakan untuk gadis itu. Melihat Kania, kebenciannya perlahan surut. Entah mengapa, hatinya luluh saat melihat wanita yang pernah membuatnya jatuh cinta itu berada di depan matanya. Seketika, rasa yang dulu pernah ada kembali mengusik hatinya.
"Kania, aku mohon, bantu aku agar tidak lagi membencimu karena aku tidak bisa membencimu. Aku tahu aku tak lagi pantas untuk memilikimu karena kamu adalah istri dari kakakku, tapi sekali saja izinkan aku merasakan kembali cintamu walau tak seperti dulu." Ryan masih mengeratkan pelukannya hingga Kania melepaskan diri dari pelukan pemuda itu.
"Ryan, maafkan aku karena aku tidak bisa melakukannya. Sekarang, aku adalah istri kakakmu dan aku tidak ingin mengkhianatinya. Maafkan aku jika aku kembali membuatmu kecewa, tapi aku tidak ingin membuat kakakmu kecewa karena bagaimanapun juga dia adalah suamiku." Walau kecewa, Ryan mengerti itu. Dia tahu, permintaannya itu mustahil dikabulkan oleh Kania. Dan itu membuat dia semakin yakin tentang pengkhianatan Kania yang baginya itu mungkin satu kesengajaan.
"Apa dulu kamu sengaja ingin menjauh dariku?" Sontak, Kania terkejut.
Ryan tersenyum dan menatap tajam ke arah gadis itu. "Karena aku tahu kamu wanita yang setia. Kamu tidak mudah tergoda dan kamu tidak mungkin bisa menyakiti perasaan pasanganmu. Itu benar, kan?"
Kania mengalihkan wajahnya agar tidak ditatap oleh pemuda itu, tapi terlambat, Ryan dengan jelas melihat mimik wajah Kania yang perlahan mulai berubah. "Ah, ternyata aku memang benar. Walau aku tidak tahu apa alasanmu, setidaknya aku tahu kalau kamu tidak sungguh-sungguh mengkhianatiku." Ryan melepaskan senyum seakan dia merasa lega, setidaknya dia tidak akan membenci gadis itu lagi.
"Ayo, aku ingin hari ini kita bersama. Aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu dan jangan menolak karena jika kamu menolak, aku tidak akan kembali ke Amerika dan itu artinya aku bisa saja merebutmu dari kakakku." Ryan terlihat sungguh-sungguh dengan ucapannya itu hingga Kania tidak bisa berkutik. Ryan lantas meraih tangan Kania dan menggenggamnya erat. "Ayo, kita pergi."
"Pergi kemana? Ryan, jangan lakukan ini, aku tidak ingin orang melihat kita seperti ini." Kania berusaha menolak, tapi pemuda itu tak peduli. Tangan Kania tak dilepaskan, malah genggamannya semakin di eratkan.
Dengan tangan yang digenggam Ryan, Kania berjalan mengikuti pemuda itu. Hatinya berdebar kencang saat tangan pemuda itu menggenggam tangannya. Walau enggan, tapi Kania tidak bisa mengelak perasaan cinta yang sebenarnya masih tersisa. Ya, Kania tidak bisa membohongi hatinya kalau sebenarnya dia masih mencintai pemuda itu.
Dengan mengendarai sepeda motor, mereka pergi dan Kania tidak tahu Ryan akan membawanya ke mana, hingga motor itu tiba-tiba berhenti di salah satu resort yang tak asing bagi Kania.
Resort yang berdiri tak jauh dari bibir pantai itu adalah tempat Kania merayakan ulang tahunnya bersama Ryan di saat dulu. Dan kenangan itu, kini kembali hadir di ingatannya. Di mana, Ryan begitu romantis saat merayakan ulang tahunnya dengan memberikannya sebuah cincin tanda ikatan cintanya pada Kania.
__ADS_1
"Apa kamu masih ingat dengan tempat ini?" Ryan tersenyum sambil menatap ke arah sekitar resort.
"Untuk apa kamu mengajakku ke sini? Sudahlah, jangan coba untuk mengungkit masa lalu kita. Itu semua sudah berlalu." Kania berusaha menepis kenangannya di tempat itu, tapi tidak dengan Ryan yang ingin mengulang kembali kenangan manisnya bersama Kania.
Sambil menggenggam tangan Kania, Ryan berjalan menuju pesisir pantai yang ditumbuhi pohon kelapa dan pohon ketapang yang berjejer rapi. Suasana di tempat itu sangat nyaman dengan semilir angin laut yang berembus membawa aroma laut yang menggelitik hidung Kania. Tiba-tiba, bayangan wajah Arya melintas di ingatannya. Entah mengapa, wajah pemuda itu tiba-tiba hadir di saat dia sedang bersama Ryan. Sontak, Kania melepaskan tangannya dari genggaman tangan Ryan yang dari tadi belum dilepaskan oleh pemuda itu, namun Ryan menolak dan tetap menggenggam tangannya dengan erat. "Jangan lepaskan tanganmu dan biarkan aku menggenggam tanganmu. Bisa, kan?" pinta pemuda itu pada Kania.
"Ryan, jangan lakukan ini. Aku mohon." Kania memohon agar Ryan melepaskan tangannya dan dengan terpaksa, Ryan menuruti permintaan gadis itu.
"Baiklah, aku akan turuti permintaanmu." Ryan tersenyum sambil melepaskan genggaman tangannya itu.
Tak lama, seorang pelayan datang membawa sekotak kue yang sudah dipesan oleh Ryan. Kue dengan ukuran yang tidak terlalu besar itu kemudian diletakkan di atas dipan. Sebuah ruangan berupa bilik bambu tanpa sekat menjadi tempat bagi keduanya untuk berteduh.
Ryan kemudian membuka kotak kue itu dan menyalakan sebuah lilin yang berdiri tegak di tengah kue. "Tiuplah dan mintalah keinginanmu." Ryan tersenyum seakan tanpa beban.
"Ryan, kamu kenapa seperti ini? Apa yang ingin kamu lakukan?" Ryan hanya tersenyum, walau hatinya sakit melakukannya karena dia tahu ini adalah kebersamaan terakhir baginya. Setelah itu, dia akan pergi dan membuang semua kenangan tentang gadis itu dan melupakan semua perlakuan Kania yang pernah membuatnya terluka.
"Ayo, tiuplah."
"Ryan ... " Kania memandangi pemuda itu, namun dia segera menundukkan wajahnya dan menahan tangis.
"Kania, angkat kepalamu dan tiuplah. Biarkan aku menghabiskan waktu bersamamu dengan melihat senyumanmu itu. Maafkan aku, jika selama aku di sini, aku telah menyakitimu. Ayo, tiuplah dan aku berjanji akan melupakanmu dan semua tentang kita. Aku akan membiarkanmu bahagia bersama kakakku." Ryan menitikkan air mata saat kata-kata itu terucap dari bibirnya. Walau jauh di lubuk hatinya, dia enggan untuk melupakan dan meninggalkan gadis itu, tapi itu jalan terbaik yang harus dia tempuh.
Kania mengangkat wajahnya dan meniup lilin itu. Seketika Kania terkejut saat Ryan tiba-tiba mengecup dahinya. "Apa yang kamu lakukan?" Kania berusaha menghindar, tapi sekali lagi dia tidak bisa melakukan apa-apa karena Ryan meraih tubuhnya dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu walau kamu telah menyakitiku. Aku ingin melupakanmu, tapi aku tak mampu. Biarkan aku memelukmu untuk terakhir kali, setelah itu aku akan pergi." Ryan mengeratkan pelukannya dan kembali Kania tersentuh. Melihat Ryan yang mengungkapkan perasaannya, Kania seketika luluh. Namun, dia harus menepis rasa itu.
"Maafkan aku, maafkan aku." Batin Kania yang terdiam di dalam pelukan pemuda itu. Di dalam pelukan Ryan, Kania menangis mengingat perlakuannya di masa lalu. Walau telah tersakiti, Ryan masih mencintainya. Walau tanpa penjelasan, Ryan tetap memaafkannya.
Kini, Kania bisa bernafas dengan lega karena Ryan tak lagi membencinya. Bersama desiran angin dan deburan ombak yang memukul, Kania berharap semua akan kembali baik-baik saja. Dia berharap, hatinya tak kan lagi goyah dengan kehadiran pemuda itu walau dia sadar, dia masih menyimpan rasa cinta, tapi sekali lagi dia harus menepis rasa itu karena tak mungkin lagi baginya untuk kembali bersama.
__ADS_1