
Melihat orang yang kini berdiri dan tersenyum kepadanya, Ryan terperanjat. Tak hanya orang itu yang memandanginya, tapi ayah dan juga kakaknya kini menatap ke arahnya. "Ryan, kenapa berdiri di situ? Ayo masuk, bukankah dia adalah wanita yang ingin kamu kenalkan pada Ayah?"
Orang itu adalah Dafina. Gadis manis dan cantik yang rela datang dari Amerika hanya untuk bertemu dengan kekasih yang sudah hampir sebulan tak ditemuinya. "Maaf, jika kedatanganku mengejutkanmu." Dafina tersenyum saat memandangi Ryan yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.
Perlahan, Kania muncul dan berjalan di samping Ryan yang masih belum beranjak. Melihat Kania, sontak senyuman di wajah Dafina memudar. "Gadis itu kan ... " Dafina membatin dengan gemuruh yang merasuk di dadanya. Sejurus, pandangannya terpaku pada Arya yang berjalan mendekati Kania.
"Sini, aku bantu." Arya mengambil barang yang dibawa oleh Kania dengan tatapan penuh cinta. Melihat mereka, Dafina menjadi bingung hingga dia di kejutkan dengan sapaan Wicaksana yang mempersilakannya untuk duduk.
"Duduklah, kamu pasti lelah karena baru melakukan perjalanan jauh. Kalau tidak keberatan, apa boleh kita berbincang sebentar?" Dafina tersenyum kemudian duduk.
"Ryan, ayo, sini duduk." Wicaksana memanggil putranya itu. Ryan lantas meletakkan barang bawaannya dan duduk di samping ayahnya.
Tak lama, Kania datang sambil membawa beberapa cangkir teh dan diletakkan di atas meja. Melihat Kania secara dekat, Dafina tertegun dengan wajah cantik yang kini mengusik hatinya. "Kenapa gadis ini bisa serumah dengan keluarga Ryan? Apa jangan-jangan ... "
"Maaf, apakah kamu adalah kekasih putraku?" tanya Wicaksana yang mengalihkan perhatian Dafina. Mendengar pertanyaan Wicaksana, Dafina tersenyum malu.
"Ah, jadi benar. Syukurlah, akhirnya aku bisa bertemu dengan kekasih putraku." Wicaksana tersenyum sambil menyeruput teh yang baru saja dihidangkan oleh Kania.
"Oh, iya, siapa namamu, Nak?"
"Namaku Dafina Saraswati, Om."
Wicaksana kembali tersenyum dan memandangi Ryan yang sedari tadi terdiam. "Ryan, kenapa kamu hanya diam? Apa kamu malu karena ada Ayah di sini?"
"Tidak, Ayah. Aku hanya terkejut karena Dafina datang tanpa memberitahuku." Ryan berusaha menutupi rasa keterkejutannya di balik senyum yang nyatanya begitu dipaksakan.
Tak lama, Arya datang bersama Kania sambil menggendong Tania. Dafina memandangi mereka dengan rasa penasaran yang begitu mengganggunya.
"Ini putra sulungku, Arya bersama istrinya, Kania dan ini keponakan Ryan, Tania." Wicaksana memperkenalkan anak, menantu dan cucunya itu.
Dafina mengangguk sembari memperkenalkan diri. Di samping Arya, Kania duduk sambil memangku Tania yang kini memeluknya.
Melihat mereka, Dafina mengembuskan nafas lega seakan melepas beban yang sedari tadi mengganjal hatinya. Wajah Kania bukanlah baru pertama kali dilihat olehnya. Dafina tahu siapa Kania dan dia terkejut saat melihat Kania.
__ADS_1
Awalnya, dia berpikir kalau dia sudah terlambat karena mengira kekasih yang baru dipacarinya setahun lalu itu telah meninggalkannya dan kembali pada Kania, namun nyatanya dia salah karena gadis itu justru menikah dengan kakak kekasihnya itu.
"Kalian berbincanglah, kami tidak ingin mengganggu. Lebih baik kita tinggalkan mereka." Wicaksana lantas berdiri dan diikuti oleh Arya dan Kania. Wicaksana masuk ke dalam kamarnya, begitupun dengan Arya dan Kania yang bergegas masuk ke kamar Tania. Putri mereka rupanya sangat merindukan mereka hingga meminta kedua orang tuanya menemaninya di kamar.
"Itu pacar paman, ya, Ma?" tanya Tania saat mereka baru saja masuk ke dalam kamar.
"Kenapa? Bukankah, dia sangat cantik?"
"Iya, Ma, tapi Mama lebih cantik, kok." Mendengar ucapan putrinya, Arya tersenyum dan mengecup pipi sang buah hati.
"Iya, Mamanya Tania yang paling cantik. Iya, kan, istriku?" Arya memandangi Kania yang kini tersenyum padanya. Melihat senyuman di wajah Kania, Arya tertegun.
Tania lantas duduk di kursi kecil yang biasa dipakainya saat bermain sambil memegang sebuah buku dongeng yang sering dibacakan Kania padanya. Sambil mengeja huruf demi huruf, Tania membaca tulisan di buku itu. Melihat putrinya yang sudah mulai belajar membaca, Arya tersenyum dan duduk di atas tempat tidur di samping Kania yang juga duduk di sampingnya.
"Apa kamu yang mengajarinya membaca?" Kania mengangguk sambil memperhatikan Tania yang lantang mengeja huruf.
"Ternyata usahamu berhasil. Dia sudah pandai mengenal huruf dan juga mengeja. Tidak sia-sia aku menikah denganmu." Arya lantas berbaring sambil memandangi Kania sambil tersenyum.
"Tidak perlu, temani aku saja. Melihatmu, aku sudah senang, kok." Kania tersenyum dan mengambil sebuah bantal dan diletakkan di bawah kepala suaminya. "Istrirahatlah."
Sambil berbaring, Arya menggenggam tangan Kania. Bahkan, sesekali dia mengecup punggung tangan istrinya itu dengan senyum di wajahnya. Melihatnya, Kania merasa tidak tega karena belum bisa untuk berterus terang tentang masa lalunya bersama Ryan. Jika terus dibiarkan, dia takut jika Arya akan membencinya bahkan meninggalkannya.
"Kamu kenapa gelisah?" tanya Arya yang perlahan membuka matanya yang sedari tadi terpejam.
"Kamu belum tidur?"
Arya menggeleng. "Bagaimana aku bisa tidur jika istriku sedang gelisah. Apa yang sedang kamu pikirkan?" Arya lantas meletakkan kepalanya di atas pangkuan Kania. Tanpa ragu sedikitpun, Arya mulai bersikap layaknya seorang suami yang bermanja pada istrinya. Melihat sikap Arya padanya, Kania hanya tersenyum.
"Aku tidak memikirkan apa-apa. Tidurlah." Tangan kanan Kania digenggam oleh Arya sambil sesekali dikecupnya. Melihat wajah suaminya di pangkuannya, Kania tersenyum. Mata lelaki itu terpejam dan Kania bisa dengan leluasa melihat seraut wajah tampan dan penuh kelembutan yang kini terdiam di depan matanya. Tanpa ragu, Kania mengelus lembut kepala suaminya itu sambil sesekali mengelus kening yang tebal dan hitam yang terukir rapi. Hidung mancung lelaki itu tampak selaras dengan kulit putihnya hingga tercipta seraut wajah yang begitu menawan.
"Aku mencintaimu." Arya berucap tanpa membuka matanya seakan dia ingin mengungkapkan perasaannya kini. Tangan Kania yang tadi sempat mengelus kepala Arya, sejenak terhenti. Merasa belaian lembut itu terhenti, Arya lantas meraih tangan Kania dan menggenggamnya dengan erat. "Aku mencintaimu dan aku ingin selamanya kita tetap bersama. Aku sangat mencintaimu."
Mendengar ungkapan hati lelaki itu, Kania menitikan air mata. Betapa dia sangat bahagia karena lelaki yang sudah merebut hatinya itu ternyata sangat mencintainya. Namun entah mengapa, Kania merasa bagaikan ada tembok penghalang yang sangat besar berada di antara mereka.
__ADS_1
Melihat Kania yang hanya diam membuat Arya membuka matanya dan betapa dia terkejut saat melihat air mata yang menggantung di pelupuk mata istrinya itu. Dengan segera, Arya bangkit dan duduk di depan Kania. "Kamu kenapa menangis? Apa ucapanku sudah menyakitimu?" Arya merasa bersalah hingga membuatnya menghapus air mata di pipi Kania.
Kania menggeleng dan memandangi Arya yang terlihat mencemaskannya. Perlahan, Arya memeluknya dan membelai lembut pucuk kepala Kania. "Maafkan aku jika sudah membuatmu menangis. Aku janji, tidak akan pernah membuatmu menangis lagi." Ucapan Arya terasa begitu menyentuh hingga membuat Kania membalas pelukannya. Kania menenggelamkan diri dalam pelukan Arya dan dia menangis di sana. Dia menangisi kisah cintanya yang entah akan berakhir pada siapa. Dia menangis karena cintanya kini sedang dipertaruhkan karena keegoisan cinta yang mulai ditunjukan sang mantan kekasih yang masih mengharapkannya. Dan dia menangis karena menangisi ketidak jujurannya yang belum berani untuk dia utarakan.
Sementara di luar sana, Ryan tampak duduk di halaman bersama Dafina yang masih terdiam di sampingnya. Hingga Ryan dengan spontan mengucapkan sesuatu yang membuat Dafina merasa tak percaya. "Maaf, sebaiknya kita akhiri saja hubungan kita." Benar saja, Dafina terkejut hingga gadis itu menatap Ryan seakan tak percaya.
"Apa maksudmu? Ryan, kamu bercanda, kan?" Dafina masih menganggap jika ucapan kekasihnya itu hanya gurauan, tapi tidak bagi Ryan yang sudah bulat dengan keputusannya.
"Maafkan aku karena aku tidak bercanda. Aku rasa kamu tahu alasan aku meminta mengakhiri hubungan ini. Aku sudah menemukan kebahagiaanku dan itu ada padanya." Ryan menatap lurus ke depan seakan ingin menghindar dari tatapan Dafina yang mulai basah dengan air mata.
"Apa karena wanita itu?" Dafina yang tahu masa lalu Ryan rupanya paham jika kekasihnya itu memang tidak akan pernah bisa untuk melupakan cinta pertamanya. Ya, Kania adalah cinta pertama Ryan dan Dafina hanyalah tempat pelarian. Dafina yang menyadari posisinya kini, hanya bisa tersenyum getir saat tahu kekasihnya itu nyatanya ingin mengakhiri hubungan yang memang baginya sudah tak bisa untuk dia pertahankan.
Dafina sangat paham dengan sikap Ryan yang tidak bisa begitu saja melupakan kisah cintanya di masa lalu. Dafina sadar, di mata Ryan dia hanyalah sahabat karena cinta yang ditawarkan olehnya ternyata tak mampu menghilangkan rasa cinta yang teramat besar pada Kania. Walau marah dan juga kecewa, Dafina tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia sadar bukan dirinya yang diinginkan oleh Ryan, melainkan wanita yang kini sudah menikah dengan kakaknya sendiri.
"Ryan, bagaimana bisa kamu akan bersamanya jika dia sudah menikah dengan kakakmu. Apa kamu tega merebutnya dari kakakmu sendiri?"
"Aku tidak merebutnya, aku hanya ingin mengambil milikku yang di pinjam olehnya. Dia hanya menikah karena perjanjian bukan karena cinta." Dafina masih tidak mengerti dengan ucapan Ryan, walau begitu dia memilih untuk diam.
"Maafkan aku karena dari awal tidak memberitahukannya padamu. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, hanya saja kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku harap kamu bisa mengerti." Ryan mengalihkan pandangannya pada Dafina yang kini menahan tangis dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya. Walau begitu, Dafina masih bisa tersenyum di antara air matanya hingga membuat Ryan memeluknya. "Maafkan aku, aku tahu aku salah, tapi aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku salah karena dulu tidak mencari tahu tentangnya malah aku pergi tanpa tahu masalah yang tengah dia hadapi. Aku hanya ingin menebus kesalahanku selama ini yang begitu membencinya, ternyata benci itu membuatku semakin mencintainya. Maafkan aku, Dafina."
Gadis itu mengangguk dan berusaha menerima kenyataan yang rasanya begitu menyesakkan dadanya. Rasa cinta yang dia rasakan pada pemuda itu, nyatanya tak bisa membuat dia diterima di hatinya. Cinta yang sudah tersimpan selama setahun, akhirnya menguap dan menghilang karena cinta yang Ryan simpan bertahun-tahun ternyata untuk wanita lain yang tidak bisa hilang dari hati dan pikiran pemuda itu.
Dafina menghapus air matanya dan berusaha tersenyum di depan Ryan. "Jika itu keputusanmu, aku akan terima karena aku tahu seperti apa besarnya cintamu padanya. Aku tidak akan menahanmu karena itu hanya akan membuatku semakin terluka. Aku harap, apa yang kamu idam-idamkan bersamanya bisa terwujud. Aku doakan semoga kamu bahagia bersamanya. " Titik air mata perlahan jatuh saat Dafina mengucapkan itu semua. Kembali Ryan memeluknya dan mengucapkan beribu kata maaf.
Dafina kemudian bangkit dan pamit undur diri. Rasanya, dia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dibahas bersama Ryan. Dengan hati kecewa, Dafina meninggalkan Ryan yang menatap kepergiannya.
Dengan langkah kaki yang dipaksakan, Ryan masuk ke dalam kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di atas pembaringan. Rasanya, dia begitu kejam pada Dafina. Wanita yang sudah mengisi kekosongan hatinya hampir setahun belakangan. Namun, dia harus bisa mengambil keputusan karena keputusannya untuk bersama Kania adalah keputusan terakhirnya walau dia tahu, keputusannya itu tidaklah mudah diterima oleh keluarganya. "Aku harus bisa bersabar. Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Kak Arya dan juga Ayah. Aku harap mereka akan mengerti dengan keputusanku." Ryan memejamkan matanya dan hanya bayangan wajah Kania yang bermain dalam ingatannya. Sekilas, Ryan tersenyum saat membayangkan wajah Kania yang tersenyum manja padanya hingga dia terlelap dalam buaian mimpi indahnya.
Sementara di dalam kamarnya, Wicaksana tampak menitikkan air mata saat pandangannya terarah pada selembar foto usang dalam genggaman tangannya. Wajah rentanya tersenyum saat melihat seraut wajah cantik yang tengah tersenyum di dalam foto itu. "Istriku, aku sangat merindukanmu. Apakah, kamu juga merindukanku? Ah, aku tahu itu karena kamu sering datang dalam mimpiku. Apakah itu artinya, kita akan segera bertemu?"
Sudah beberapa hari ini, Wicaksana sering bermimpi bertemu dengan sang istri. Di dalam mimpinya, istrinya datang sambil melayangkan senyum padanya. Sambil berpegangan tangan, mereka berjalan menyusuri sebuah padang hijau yang sangat luas. Cahaya putih terlihat memancar seakan menerangi langkah mereka. Sesaat, Wicaksana tersenyum saat mengingat senyuman istrinya itu. "Aku sudah lelah. Aku ingin segera bertemu denganmu, tapi bagaimana aku bisa pergi sementara aku belum bisa membahagiakan putra kita. Ah, semoga saja kehadiran Dafina bisa mengubah pendirian putra kita agar aku bisa secepatnya menemuimu." Terbesit secercah harapan agar putra bungsunya itu bisa segera menikah, namun harapannya itu hanyalah harapan yang semu karena Ryan telah melepas harapan itu.
Kini, perasaan mereka bagaikan sedang dipermainkan oleh takdir. Harapan untuk bisa bersama orang yang terkasih, rupanya tak selamanya bisa terwujud karena mereka harus bisa memilih pada siapa harapan itu akan berakhir. Mungkinkah, ada yang harus kembali menanggung kecewa ataukah harus mempertahankan walau terpaksa harus membuat orang lain kecewa?
__ADS_1