
Video rekaman CCTV itu diputar. Mama Reni dapat melihat dan mendengar dengan jelas bahwa ada seorang yang memerintahkan anaknya untuk menculik gadis dengan nama Ghina.
"Lo liat kan perempuan ini? Nanti jam dua siang kalian pokoknya harus culik gadis SMA ini dan bawa dia ketempat yang sepi sama gelap. Gue udah incer dia dari dulu" Ucap seorang yang bernama Malik didalam video itu.
"Sorry, gue enggak ikut-ikutan Lik" Timpal Arga yang tidak mau ikut dalam skandal penculikan seorang perempuan.
Brak!
Laki-laki berusia 30 tahun itu menggebrak meja saat mendengar Arga berani membantahnya. "Lo berani sama gue?!" Teriak Malik yang kemudian menarik kerah baju Arga.
Arga memegangi tangan Malik yang telah berani menarik kerah baju miliknya. "Lo pikir gue budak Lo? Inget kan kalo gue masuk ke Pemuda Tikus ya karena gue mau aja! Tapi bukan berarti Lo bisa perbudak gue!" Tukas Arga yang kemudian dengan cepat memelintir tangan Malik, sang ketua geng Pemuda Tikus itu.
"Arghh!" Erang Malik yang merasakan tangannya sakit karena dipelintir.
Semua tidak ada yang berani menolong. Mereka justru hanya bengong melihat ketuanya disakiti oleh Arga.
"Lo boleh perk*sa cewek mana aja, asal jangan pernah Lo ajak gue dalam ngelakuin hal rendahan!" Arga segera melepaskan tangannya yang sudah memelintir milik Malik. Dia pun kemudian pergi dari markas.
Tanpa Arga ketahui bahwa kalung miliknya yang berwarna silver dengan bentuk bintang dan terukir inisial A serta sedikit foto kecil terselip dikalung Arga telah jatuh kelantai. Malik dengan segera mengambilnya dan memasukkan nya didalam kantong celana nya.
"Liat apa yang bakal gue lakuin ke Lo!" Ucap Malik dengan tatapan mata bak iblis jahat.
*
Rekaman CCTV itu berakhir. Mama Reni menutup ponselnya. Kini dia tau bahwa apa yang dikatakan oleh anaknya benar. Dia merasa bersalah kepada Arga, namun disisi lain mama Reni juga memikirkan kondisi Ghina yang sedang terpuruk itu.
__ADS_1
Mama Reni pun memutuskan untuk menemui keluarga Ghina terlebih dahulu dan meminta maaf atas semuanya. Ia akan menunjukkan rekaman ini pada Ghina bahwa bukan anaknya lah yang telah memperk*sanya, tapi melainkan seorang ketua geng bernama Malik. Setelah itu dia akan menyusul anaknya keruang sakit untuk melihat kondisi Aruni yang sudah dianggap anak olehnya.
*
"Bikin malu keluarga ini kamu Ghina! Sebenernya siapa laki-laki yang telah membuat kamu seperti ini!" Bentak bibi Raos yang sedari dulu tidak suka dengan kehadiran Ghina. Namun karena sang suami yang terus memohon agar Ghina tinggal disini, maka dengan terpaksa menurutinya.
Ghina menundukkan wajahnya. Air matanya luruh kebawah. Dia juga sebenarnya bimbang dan kurang yakin jika Arga adalah laki-laki yang telah membuatnya seperti ini. Tapi kalung yang ia temukan di rumah itu membuatnya akhirnya berfikir bahwa itu adalah Arga. Walaupun saat melihat seorang Arga yang sangat berbeda posturnya dengan seorang yang telah memperk*sanya.
"Jawab!" Teriak bibi Raos yang sudah sangat emosi. Terlebih saat tadi mendengar ucapan negatif dari para warga.
"Buk, jangan dibentak" Ucap paman Wil. Di adalah paman dari Ghina.
"Jangan dibentak gimana?! Dia udah bikin malu kita Pak! Liat kan tadi warga bilang apa tentang Ghina?!"
Bibi Ros melirik pedas mama Reni yang masuk kedalam kamar. "Buk, pokoknya Ghina harus tetap menikah dengan putra ibu. Lihat kan? Warga sudah sangat membenci dia" Ucap bibi Ros dengan judes.
Mama Reni menghela nafasnya, lalu melihat Ghina yang sedang menangis. "Maaf buk, tapi pernikahan ini saya rasa tidak perlu dilanjutkan. Anak saya tidak bersalah dalam hal ini" Pinta mama Reni dengan jujur. Walaupun sebenarnya dia merasa kasihan pada Ghina.
"Man-"
"Bu! Ayo kita keluar" Ucap paman Wil yang benar-benar sudah habis kesabaran melihat istrinya yang tidak bisa menjaga tutur kata.
Setelah melihat hanya tinggal dirinya dan Ghina, mama Reni pun mendekati Ghina "Ghina, Tante minta maaf ya sayang...kamu liat rekaman ini" Mama Reni menunjukkan rekaman CCTV diponselnya.
Dengan terpaksa Ghina pun melihatnya.
__ADS_1
"Laki-laki yang ini adalah seorang yang telah membuat kamu seperti ini" Ucap Mama Reni yang menunjuk Malik, laki-laki dengan postur lebih tinggi dari Arga, lalu wajahnya juga lebih ke barat-baratan seperti orang luar.
"Tante akan bantu kamu untuk cari pelakunya lalu meminta pertanggung jawaban kepada dia"
"Hiks..hiks.." Ghina terisak saat mengetahui siapa yang telah melakukan itu padanya.
Mama Reni pun duduk disamping Ghina dan menangkannya dengan mengusap lembut kepala Ghina "Tante tau ini pasti berat untukmu. Tapi tolong bertahan demi buah hati yang ada disinil" mama Reni menunjuk perut buncit Ghina lalu mengelusnya. "Dia tidak bersalah sayang...dia juga ingin hidup dan dicintai oleh ibunya. Jangan benci anak ini yah..."
Tidak tahan, Ghina pun segera memeluk tubuh Tante Reni "Makasih Tan...maaf kalo aku udah menuduh anak Tante yang udah ngelakuin itu. Aku malu hiks...hiks..."
"No problem sayang...Tante tau perasaan kamu. Tante tau kamu wanita kuat, Tante akan cari pelakunya sampai ketemu" Ucap mama Reni meyakinkan Ghina. Walaupun dia bukanlah siapa-siapa, tapi entah kenapa mama Reni sangat sayang pada gadis SMA yang malang ini.
Begitupun dengan Ghina yang juga merasakan akan kasih sayang dari Tante Reni. Dia merasa seperti disayang oleh ibu kandungnya. Ghina tidak pernah tau bagaimana rasanya akan kasih dan sayang dari ayah dan ibu, dia lupa dengan itu, bahkan mengingat suara ayah dan ibunya saja Ghina sudah lupa.
Selang dua puluh menit kemudian, mama Reni pun berpamitan dengan Ghina dan memberikan penjelasan bahwa dirinya harus kerumah sakit untuk melihat kondisi Aruni. "Tante pamit ya sayang. Kalau bibi kamu jahat dan apa-apakan kamu, telepon Tante langsung. Atau kalo ada warga yang berani membully kamu langsung lapor oke.."
Ghina mengangguk tersenyum, "makasih ya Tan.."
"Sama-sama sayang..." Mama Reni kembali mengelus kepala Ghina.
"Aku rasa anak tante suka sama Aruni" Ucapan Ghina mampu membuat alis mama Reni mengkerut.
"Maksutnya?"
"Arga tadi keliatan sangat khawatir banget waktu denger perempuan yang bernama Aruni kecelakaan. Aruni pasti baik dan cantik"
__ADS_1