Cinta Perempuan Terabaikan

Cinta Perempuan Terabaikan
Episode 22. Ingin menghilang


__ADS_3

Arga melihat jam yang melingkar di tangannya. Ia segera mematikan rokoknya setalah dirasa sudah larut malam.


Ia kemudian masuk kedalam kamarnya. Arga dapat melihat Aruni yang sudah tertidur diranjang miliknya. Dengan wajah yang mengantuk, Arga pun juga menaiki ranjang miliknya yang saat ini sudah bukan ranjangnya sendiri, melainkan ranjangnya dan ranjang Aruni.


Entah reflek atau bagaimana, namun Arga menggeser tubuhnya mendekat ke Aruni yang sedang memunggunginya dan memeluknya dengan erat.


Aruni yang merasakan rasa nyaman itu dengan mata yang masih tertutup segera berbalik dan tidur dipelukan Arga malam itu.


*


*


Pagi harinya, Aruni membuka matanya dengan perlahan.


"Kamu mau kemana?" Tanya Aruni dengan suara khas bangun tidur. Ia melihat Arga yang baru selesai mandi dan sedang memakai bajunya.


"Mama bilang Ghina masuk rumah sakit. Dia pendarahan, aku khawatir dan pengen keruang sakit" Jelas Arga yang dengan cepat mengancingkan bajunya.

__ADS_1


Mendengar itu mata Aruni melihat kebawah. Ada sedikit rasa nyeri melihat Arga yang begitu sangat khawatir dengan istri pertama nya, walaupun dia tau dalam pernikahan ini harus adil, tapi tetap saja rasanya tidak rela jika Arga mau melihat istri pertama dirumah sakit.


"Lo mau ikut?" Tawar Arga yang melihat wajah Aruni sedang bersedih.


Dengan ragu-ragu Aruni mengangguk "kalo boleh". Walaupun dia cemburu, tapi tetap terbesit rasa khawatir juga dengan Ghina, perempuan yang jauh lebih muda darinya itu.


"Kalo gitu kamu ganti baju aja enggak usah mandi. Bajunya udah aku taro dilemari tadi pagi beberapa, sisanya biar nanti aja" Ucap Arga.


Vio segera turun dari ranjangnya. Namun hal yang tak terduga saat tiba-tiba kepalanya terasa sakit, mungkin efek kecelakaan kemarin.


Dengan cepat Arga memapah Aruni saat ingin jatuh, "Lo baik-baik aja enggak, biar gue bantu"


Melihat wajah pucat istrinya, Arga segera mengangkat tubuh Aruni "Lo masih sakit, biar gue bantu gantiin aja" Pinta Arga yang membuat Aruni melototkan matanya.


"Apa?! Enggak perlu" Tolak Aruni. Gila aja jika Arga bisa melihat tubuhnya lagi.


"Kenapa? Kalo enggak Lo jangan ikut" Ucap Arga dengan dingin, lalu berniat untuk pergi meninggalkan Aruni.

__ADS_1


Aruni pun segera mencekal tangan Arga. Sudahlah, daripada dia ditinggal dan tidak ada siapa-siapa ia lebih baik menerima tawaran Arga. "Iya, oke" Jawab Aruni segera.


*


*


Arga dengan menggendong tubuh Aruni berjalan menuruni tangga menuju keluar, yang dimana mamanya sudah menunggu sedari tadi.


"Loh, Aruni ikut?" Tanya mama Reni saat melihat Aruni yang sudah didudukan oleh Arga di belakang.


"Iya, Aruni pengen ikut" Jawab Arga yang ikut duduk disampingnya Aruni. "Mama aja yang nyetir ya"


Mama Reni mengangguk dan berpindah tempat duduk ke kursi kemudi, ia tau jika Arga ingin menjaga Aruni dibelakang.


Dibelakang selama perjalanan, Aruni duduk canggung disamping Arga. Apalagi saat mengingat kejadian tadi yang dimana membuatnya menjadi salah tingkah dan malu jika diingat. "Apa benar tadi Arga?!" Bati Aruni yang seorang tak percaya. Ia bahkan sampai ingin menghilang dari bumi ini sekarang..


Arga pun juga begitu, ia merasa canggung sekarang melihat Aruni yang juga canggung. Arga lebih memilih untuk memandangi jendela saat merasakan tubuhnya yang kembali memanas akibat kejadian tadi.

__ADS_1


Saat Arga sudah berhasil membuka baju milik Aruni, entah kenapa tiba-tiba Arga lepas kontrol dan malah wajahnya semakin dekat dengan Aruni. Tanpa ia sadari dia telah mencium Aruni dengan tidak tau malu, bukan bukan pipi ataupun kening yang dia cium, melainkan dua bongkahan gunung milik Aruni yang ternyata begitu besar dan menggoda baginya.


Mengingat itu lagi jadi membuat Arga ingin segera menghilang saja untuk beberapa tahun ini. Sungguh, ini adalah kejadian pertama paling memalukan seumur hidupnya karena telah menjadi laki-laki yang berfikiran kotor dan tidak terkontrol.


__ADS_2