
"Suster boleh pergi, aku akan memesan taxi saja" Ucap Aruni setelah berada diparkiran.
"Tapi buk, apa tidak sebaiknya menunggu bapak yang tadi bersama ibu?"
Aruni menggeleng "Aku lelah sus dan pengen cepet pulang" Aruni kemudian memaksakan dirinya untuk berdiri dari kursi rodanya.
Sang suster segera membantu memegangi lengan Aruni agar tidak terjatuh. "Hati-hati buk, saya takut kenapa-kenapa jika meninggalkan ibu"
Aruni tersenyum. "Aku udah pesen taxi, sebentar lagi akan sampai. Suster tolong bawakan kursi rodanya ya, makasih udah bantu aku" Walaupun kepalanya masih terasa pusing karena lukanya masih Basar dikepala, namun berusaha sekuatnya agar Aruni bisa.
Mau tidak mau suster pun menuruti, "Ya sudah, tapi hati-hati ya, jika saya hari ini tidak ada jadwal mengurus pasien lain, mungkin saya akan menemani anda sampai taxi itu datang"
"Enggak apa-apa sus, makasih udah peduli"
"Sama-sama "
Setelah melihat kepergian suster, Aruni pun berjalan secara perlahan menuju tempat taxi nya setelah mendapatkan pesan bahwa taxi sudah berada ditempat.
Aruni lalu segera menaiki taxi tersebut dan meninggalkan rumah sakit itu.
*
*
__ADS_1
*
"Kak, kenapa kak Aruni belum muncul juga?" Tanya Ghina saat sudah lima menitan menunggu didepan ruangan pemeriksaan yang akan dilakukan oleh Arga.
Arga mengepalkan tangannya. Ia yakin jika Aruni sudah pulang sekarang, tidak mungkin jika suster tersebut mendorong kursi rodanya begitu lama.
"Gimana kak?"
"Kita langsung pulang" Jawabnya datar lalu segera mendorong kursi roda yang Ghina tumpangi. Beberapa saat, Arga berpapasan dengan suster yang tadi "Sus, dimana istri saya?"
Suster tersebut berhenti dan berkerut "Istri? Jadi yang tadi adalah istri anda? Saya pikir yang ini istri anda. " Yang suster maksut adalah Ghina. "Kalau ibu yang tadi sudah pulang, dia-"
"Sial!" Arga benar-benar dibuat marah dengan sikap Aruni yang dengan lancangnya pulang lebih dulu. Dengan berjalan cepat Arga pun segera menuju lift.
Arga berfikir sejenak. Apa mungkin benar? Tapi apapun itu tetap saja perbuatan Aruni benar-benar membuatnya marah, apalagi Aruni pergi dengan membawa anaknya, dia takut jika terjadi sesuatu pada janin yang ada didalam perut Aruni itu.
*
*
Selama perjalanan pulang, yang Aruni pikirkan hanya anak yang ada dalam kandungannya. Aruni mengelus perutnya, dia juga terkadang masih teringat dengan perkataan pedas yang Arga berikan.
"Apa aku terlalu berharap padamu Ga? Apa harapanku ini terlalu tinggi saat aku meminta supaya kamu bisa mencintai aku? Kenapa dengan wanita lain kamu begitu lembut dan romantis. Kenapa saat bersama denganku kamu begitu kasar dengan perkataan mu? Apa kamu tidak berfikir bahwa hatiku ini sakit?" Aruni terisak.
__ADS_1
Dia tidak punya siapapun untuk menjadi sandarannya sekarang. Bahkan bunda, orang yang paling Aruni harapkan kehadirannya untuk menguatkan jika Aruni terpuruk malah pergi karena terlanjur kecewa.
Sopir taxi muda berwajah seperti orang cindo dengan usia 25 tahun tahun itu melihat kaca dimana penumpangnya sedang menangis. Ini bukan pertama kalinya sopir itu menemukan penumpang yang sedang menangis. Biasanya kalau bukan masalah percintaan pasti masalah keluarga.
"Tisu?" Tawarnya pada sang penumpang. Sopir itu lupa-lipa ingat dengan nama penumpangnya, kemudian membuka kembali ponselnya sembari terus berfokus pada jalanan.
Aruni menatap kotak tisu yang disuguhkan oleh sang sopir. Karena memang dia butuh untuk mengelap ingus, Aruni pun mengambil beberapa lembar tisu. "Makasih"
"Kalau ada masalah bisa cerita dengan saya nona Aruni" Ucap sang sopir setelah melihat lewat aplikasi jika namanya adalah Aruni.
"Saya enggak yakin kalau kamu bakal ngedengerin. Pengen cerita tapi- Ssrrott...tapi males" Aruni merasa lega saat baru saja mengeluarkan lendir yang membuatnya sulit bernapas itu. "Namamu siapa?"
"Aiko" Jawab sopirnya.
"Aiko? Terimakasih udah peduli sama saya. Apa kamu tau? Kamu adalah orang pertama yang ingin saya cerita dengan masalah kehidupan saya, terimakasih sudah peduli walaupun saya belum sempat cerita" Pinta Aruni yang kini sudah bisa sedikit tersenyum. Ia tidak menyangka ternyata sopir taxi dengan nama Aiko itu peduli dengannya. "Namamu juga unik, kenapa enggak kiko saja? Kiko enak tau"
"Sama-sama, saya hanya seorang sopir yang menginginkan kenyamanan untuk penumpang. Nama saya Aiko karena pemberian dari orang tua"
"Saya jadi penasaran dengan wajahmu, apa kamu ganteng?" Konyol memang, tapi Aruni penasaran, siapa tau jika suatu saat dia sudah benar-benar tidak mencintai Arga Aruni bisa mendekati sang sopir ini.
Namun, belum sempat Aruni melihat wajah Aiko ternyata dia sudah sampai didepan rumahnya. Aruni tidak dapat melihat Aiko karena Aiko sedang menggunakan hodie dan menutupi wajahnya menggunakan teropong baju.
"Baiklah, kapan-kapan semoga kita bisa bertemu. Terimakasih sudah menghiburku, aku akan membalasnya dengan memberikan bintang lima karena telah bersikap baik!" Tukas Aruni yang langsung turun dari mobil taxi itu.
__ADS_1