Cinta Perempuan Terabaikan

Cinta Perempuan Terabaikan
Episode 42. Ngapa-ngapain


__ADS_3

"Anak kita?" Tanya Aruni yang seolah tak mengerti.


Arga yang mendengar Aruni bertanya lagi jadi ikut bingung. "Iya, dia baik-baik aja kan? Jangan buat aku ngerasa gagal sekarang Run, apa dia enggak bisa bertahan?" Sambung Arga yang mengira bahwa anaknya sudah pergi karenanya. Ia juga sebelumnya karena terlalu fokus untuk tujuannya bertemu Aruni jadi lupa menanyakan soal anaknya pada mama. "Kalo gitu kita bisa bikin lagi aja"


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di lengan Arga, itu semua karena Aruni merasa tidak suka dengan ucapan Arga yang seperti itu. "Ngaco!" Tukas Aruni dengan pipi yang bersemu merah. Mendengar Arga yang ngomong seperti itu saja sudah membuatnya nano-nano.


"Lho kenapa? bener kan? Sebagai pengganti anak kita ya-"


"Anak kita ada Ga...!" Potong Aruni kesal. "Dia lagi nginep sama Ghina dan anaknya dirumah bude ku, kalo mau ketemu besok aja dia pulang kok, dia juga pasti seneng Aya nya udah bangun"


Mendengar itu Arga jadi menerbitkan senyumannya. "Jadi anak kita ada? Alhamdulillah... Apa dia cowok?" Dalam hati Arga dia menembak bahwa anaknya pasti cowok.


Aruni menggeleng pelan. "Cewek"


"Tuh kan bener tebakan aku kalo anak kita cewek" Sambung Arga lagi yang kini jadi plin plan pada tebakan yang sebelumnya. "Pasti dia cantik kaya ibunya"

__ADS_1


Mendengarnya Aruni jadi menatap Arga seolah tidak percaya bahwa Arga baru saja memujanya. "Kamu bilang apa Ga? Aku cantik?" Tanya Aruni sekali lagi untuk memastikan.


Arga menggeleng. "Lupain. Sekarang ajarin aku cara nanam padi" Ucapan Arga kini beralih pada benih padi yang tergeletak didepan rumah dan siap untuk besok ditanam.


"Tinggal ditanam aja, lagian bukan bibit yang itu yang kamu tanam nantinya, nanti disawah bakal dibawain sama orang bibitnya, terus kamu tinggal tancep, gampang!" Jelas Aruni.


Arga menghela nafasnya berat.


"Kenapa, kamu menyerah?" Tanya Aruni saat melihat wajah Arga yang seperti keberatan.


Aruni sedikit tertawa, namun kemudian ia hentikan saat tiba-tiba tatapan dingin itu mengarah padanya. Aruni jadi kepikiran lagi dengan penderitaan apa yang akan Arga lakukan padanya?


Setelahnya karena waktu sudah magrib Aruni dan Arga pun langsung saja masuk kerumah dan bergabung mengobrol dengan yang lainnya, tidak lupa melakukan kewajiban mereka sebagai umat muslim terlebih dahulu.


"Menantu, kok bisa sih koma? Kenapa enggak titik aja" Tanya bunda Irana yang sedikit bercanda.


Tentu saja pertanyaan bunda Irana mampu membuat seisi ruangan tertawa. Mereka saat ini sedang melakukan makan malam dengan lauk seadanya, yaitu ayam goreng, sayur kangkung, sambal terasi dan kentang sambal.

__ADS_1


"Ya kalau titik dia mati dong Bun" Sambung ayah Damar.


Mereka kemudian segera menghabiskan makan malamnya dengan penuh candaan. Arga baru merasakan jika makan dibawah lantai ternyata seenak ini, apalagi makan dengan banyak keluarga, ia jadi teringat almarhum papa, sudah lama tidak kesana karena dirinya koma.


Setelah makan malam, karena waktu sudah menunjukkan malam hari semuanya pun masuk kekamar masing-masing. Mama Reni juga sudah masuk kedalam kamar tamu dan bunda serta ayah yang sudah masuk kamar juga, ya pasti Arga dan Aruni pun masuk kamar juga.


"Run, ini kedap suara kan?" Tanya Arga sembari memperhatikan seisi kamar Aruni yang lumayan luas dan rapi.


Aruni yang sedang mengambil selimut dilemari kini menatap Arga. "Ya enggak lah Ga... Ngapain dikasih kedap suara, kalo aku kenapa-kenapa nanti enggak ada yang nolongin"


"Justru itu, aku pengen ngapa-ngapain kamu" Titah Arga dengan senyuman menyeringai.


*


Bersambung_


wah kira-kira Arga pengen ngapain Aruni? 🥺

__ADS_1


__ADS_2