
Setelahnya, dokter pun kembali masuk kedalam ruangan untuk memeriksa lagi kondisi Aruni.
"Bagaimana dok?" Tanya Arga yang ikut melihat dokter memeriksa.
"Untuk saat ini kondisinya lumayan membaik. Boleh dibawa pulang, namun harus benar-benar diperhatikan ya pak, saya akan beri resep obatnya untuk diminum agar mencegah terjadinya pendarrahan lagi" Jelas sang dokter.
Arga mengangguk mengerti.
Setelah kepergian dokter, Arga pun kembali mendekati Aruni dan berdiri disampingnya. "Pulang?"
"Iya, kan kata dokter boleh pulang" Sambung Aruni yang kemudian dia berusaha untuk duduk.
Dengan segera Arga pun membantunya.
"Enggak perlu! Aku takut kamu nanti bilang aku cewek manja" Aruni menepis tangan Arga yang memegangi lengannya.
Arga menghela nafasnya "Iya maaf...gue enggak akan bilang kaya gitu" Arga akhirnya mengalah dan memilih untuk meminta maaf, ini semua demi anaknya agar kejadian ini tidak terulang lagi.
"Biar gue bantu" Ucapnya kemudian yang kembali memegangi lengan Aruni.
Aruni tidak lagi menolak, jujur dia juga masih merasa sakit. "Aku jalan sendiri aja" Pinta Aruni saat dirinya sudah gendongan Arga dan tangannya melingkari leher milik Arga.
__ADS_1
"Biar aku gendong"
"Aku? K-kamu enggak salah kan?" Tanya Aruni yang menyadarkan Arga. Takut jika Arga salah bicara.
"Enggak, mulai sekarang aku akan bilang aku dan kamu supaya enggak cemburu lagi sama Ghina" Arga tersenyum memandangi wajah Aruni.
Tiidaaaakkkkk.....!, Ternyata sesakit dan sekecewa apapun pada seseorang yang benar-benar kita cintai, tetap saja melihat ucapan dan tatapan manisnya membuat hati Aruni kembali meleleh. Memang Aruni bisa dibilang perempuan yang sangat boddoh karena begitu mudahnya terhasut akan senyuman, tatapan, dan ucapan Arga.
"Apa aku boleh berharap lagi? Tapi, aku udah banyak berharap dengan kamu Ga..aku takut akan kecewa sama diri sendiri" Batin Aruni dengan memandangi terus wajah Arga yang juga sedang menatapnya.
"Lagi mikirin apa?" Tanya Arga dengan menatap wajah Aruni dalam.
Aruni menggeleng "Aku cuman mikirin, apakah aku boleh berharap lagi sama kamu" Ucap Aruni yang mampu membuat Arga berpaling.
"Benar, aku enggak boleh berharap lebih sama kamu. Makasih udah ngingetin" Lirih Aruni.
Arga pun kemudian berjalan keluar menuju parkiran mobilnya. Setelah ini dia tidak akan melupakan janjinya untuk pergi ke tempat markas Pemuda Tikus.
*
*
__ADS_1
"Mau makan dulu?" Jujur sebenarnya Arga sudah lapar sejak kemarin, namun karena dirinya yang entah kenapa kalau makan selalu mual-mual jadi terpaksa Arga selalu tahan rasa lapar.
"Boleh" Aruni mengangguk mengiyakan.
Arga kemudian membelokkan mobilnya menuju restoran yang tidak terlalu mewah namun rasanya cukup wahh. Arga sengaja mengajak Aruni makan, karena takut jika bayinya itu terjadi apa-apa jika belum dikasih nutrisi omega tiga.
"Aku jalan sendiri aja" Ucap Aruni kemudian, sangat memalukan jika masuk restoran yang ramai orang lalu dirinya digendong.
"Yakin enggak papa? Aku takut kamu kenapa-kenapa" Tukas Arga yang khawatir akan kondisinya.
Aruni menggeleng "Enggak papa, aku malu banyak orang."
"Ya udah, aku bantu pegangin tangan kamu nanti" Setelahnya Arga pun membuka pintu mobilnya.
Tidak menunggu Arga, Aruni pun juga membuka pintu mobil dan keluar dengan perlahan.
Dengan gerakan cepat Arga pun segera menggandeng tangan mungil Aruni, ia tersenyum lalu mengusap kepala Aruni yang masih dilingkari perban itu dengan pelan.
Salah tingkah? Tentu saja iya. Aruni jadi senyum-senyum malu dengan yang Arga lakukan barusan. Ia tidak tau apakah ini real Arga atau hanya berpura-pura saja, yang jelas Aruni sekarang telah menjadi perempuan paling boddoh sedunia karena memainkan perasannya sendiri.
Tidak dapat dipungkiri jika senyuman Aruni sangat manis saat Arga perhatian. "Ternyata senyumannya cukup mengalihkan duniaku, Aruni Aisha... Apa mungkin aku setega itu jika harus memainkan perasaan mu lagi hanya demi keselamatan bayi kita? Sekali lagi aku minta maaf Aruni Aisha..."
__ADS_1
"Ayo, kamu pasti laper" Ajak Arga yang kemudian menarik tangan Aruni pelan.