Cinta Perempuan Terabaikan

Cinta Perempuan Terabaikan
Episode 27. Bukan robot


__ADS_3

Aruni langsung saja melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Ya, Aruni memutuskan untuk tinggal dirumah bunda saja daripada tinggal dirumah Arga, ia tidak memiliki cukup mental jika berada disana.


Rumah Aruni terlihat sangat sepi, padahal rumahnya bertingkat dan lumayan besar. Bunda sengaja tidak memperkerjakan Art dirumah, karena biasanya dirinya dan bunda lah yang membersihkannya bersama-sama, alasan bunda karena tidak baik jika manusia memperbudak sesama manusia, padahal alasan paling simpel ya karena pengen hemat saja.


Baru juga beberapa langkah Aruni menuju rumahnya. Namun tiba-tiba ia menghela nafasnya saat baru teringat bahwa kunci rumahnya bukan dirinya yang pegang melainkan Arga.


Dengan wajah kesal nan murung akhirnya mau tidak mau Aruni harus kembali kerumah Arga dan menunggu laki-laki jahat itu pulang.


_


Sementara itu ditempat yang berbeda, Arga melajukan mobilnya dengan kecepatan normal saja karena dia sedang membawa Ghina dan takut jika terjadi sesuatu. Padahal dalam hatinya dia juga benar-benar khawatir dicampur marah pada Aruni yang sama sekali tidak izin jika ingin pulang lebih dulu.


"Kak, sepertinya seharusnya kakak menjelaskan pada kak Aruni bahwa pernikahan kita kemarin itu batal agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi" Ucap Ghina yang duduknya disebelah Arga.


Arga tak menjawabnya, dia hanya berfokus pada jalanan dan berusaha untuk tetap tenang. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam Arga terus memikirkan apakah anaknya baik-baik saja? Apa Aruni sudah pulang?


"Kak?" Panggil Ghina saat ucapannya tidak dibalas.


Arga langsung melihat Ghina sesaat "Hmm?"


"Apa kak Arga dengerin aku tadi?"


"Iya denger, aku bakal jelasin ke Aruni nanti" Jawabnya. "Oh iya, soal Malik aku udah tau dimana dia sekarang, kalau ketemu, kamu maunya dia tanggung jawab atau masuk kantor polisi?" Sambung Arga yang kini beralih topik pada permasalahan Ghina.


Ghina menunduk, dia tidak tau mau apa dan bagaimana jika bertemu dengan laki-laki yang sudah membuat hidupnya menjadi sangat hancur dan kacau itu. "A-aku belum mikirin itu kak" Ghina mengelus perutnya sayang. Ghina bahkan sulit untuk membayangkan jika dirinya benar-benar akan bertemu dengan pria bernama Malik itu akan bagaimana dan bersikap apa.


"Oke, pikirin lagi ya baik-baik. Aku harap keputusan kamu itu tepat dan enggak akan menimbulkan konflik dikemudian hari" Pinta Arga.

__ADS_1


Ghina hanya bisa mengangguk.


Sekitar lima belas menit kemudian, mobil yang ditumpangi oleh Arga dan Ghina kini telah sampai dipekarangan rumahnya.


Arga segera mematikan mesin mobilnya dan turun dari mobil. Ia juga tidak lupa membantu Ghina untuk turun dengan cara yang sama seperti tadi, yaitu menggendongnya.


Setelah, Arga pun membawa Ghina kekamar tamu dan menyuruhnya untuk beristirahat lebih dulu. "Kalo ada apapun jangan lupa telepon" Ucap Arga setelah selesai membaringkan Ghina dikasur.


Ghina mengangguk "oke kak",


Arga pun segera keluar dari kamar Ghina dan berniat untuk ke atas, yaitu kamarnya dan juga kamar Aruni. Dalam menaiki tapak kakinya ditangga, Arga tak hentinya mengepalkan tangannya, emosinya kembali meluap sekarang.


"Awas kalo sampe Lo ada disini" Batinnya.


Ceklek!


Brak!


Arga menutup pintu kamarnya dengan cukup keras hingga membuat Aruni terperanjat kaget dan berhenti ditempat.


"Maksut Lo apa pulang duluan kaya tadi hah?!" Tanya Arga dengan setengah membentak. "Mau Lo apa sih? Gue udah nurutin kemauan Lo yang pengen kalo susternya yang dorong, terus sekarang? Maksut Lo apa kaya gitu gue tanya?" Langkah Arga semakin mendekati Aruni.


Melihat tatapan tajam dari suaminya, Aruni mundur perlahan dengan takut. Ia bahkan tidak berani lagi menatap mata suaminya yang sudah sangat memerah itu.


"Kalo gue tanya dijawab ARUNI AISHA..." Ucap Arga yang semakin mendekat.


"Ak_aku...hiks..." Aruni kembali menangis dan takut dengan situasi ini. Dia takut akan sikap Arga yang ingin membunuhnya itu.

__ADS_1


"Nangis lagi? Astaga!" Arga menghentikan langkahnya lalu kemudian menarik rambutnya frustasi mendengar Aruni yang menangis lagi.


Mendengarnya justru Aruni semakin dibuat menangis tersedu-sedu. Dadanya sudah sesak akan perkataan singkat namun menyakitkan. "Hiks...hiks..hiks.."


"Bisa enggak sih jangan cengeng jadi cewek!" Bentak Arga yang justru melihat Aruni semakin menangis.


Aruni seketika memegangi perutnya yang terasa sakit setelah bentakan Arga yang cukup membuat hatinya kembali tersayat bagai ribuan silet yang menyayat nya. "Egh..J-jahat kamu Ga... Aku juga istri kamu, aku juga perempuan yang punya hati...aku bukan robot yang enggak punya perasaan sakit saat pria yang sangat dicintainya membentak..."


Arga diam setelah Aruni mengucapkan itu.


Perlahan dengan perkataan itu, tiba-tiba darah keluar dari rahimnya mengaliri kaki putih milik Aruni.


"Apa salah kalau aku mencintaimu Ga? Sebenci itulah kamu sama aku? Serendah itulah perempuan yang mencintai prianya dimata kamu Ga? Sshh..!" Aruni meringis saat merasakan perutnya yang sangat sakit.


Arga melihat wajah Aruni yang seperti sedang menahan rasa sakit. Perlahan kemudian tatapannya beralih pada kaki Aruni yang ...Berdarah?


Dengan wajah paniknya karena takut terjadi sesuatu pada sang jabang bayi, Arga secara reflek ingin memegangi tangan Aruni.


Aruni seketika mundur dan mengisyaratkan tangannya untuk Arga jangan mendekati nya. "Mundur Ga! Aku baik-baik aja... Jangan pernah peduli sama aku hiks..."


"Lo gila?! Ayo kita kerumah sakit sekarang. Liat darah kamu dibawah...!"


Aruni menggeleng "Aku enggak peduli. Kalaupun anak ini memang udah saatnya mat~ Arghhhhh... LEPAS!!!" Pekik Aruni saat tubuhnya dengan paksa digendong ala bridal style.


"Kalo gue turutin kemauan Lo, yang ada gue akan kehilangan anak ini!" Ucap Arga dingin. Dengan cepat Arga berjalan menuruni tangga dengan tangannya yang sedang menggendong tubuh Aruni.


Keringat terus membasahi seluruh wajah Arga karena tubuh Aruni juga yang lumayan berisi, namun Arga tidak pernah peduli dengan itu. Tidak ada yang tau bahwa laki-laki yang usianya hampir 28 tahun itu meneteskan air matanya saat melihat wajah pucat Aruni yang terus meringis kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2