Cinta Perempuan Terabaikan

Cinta Perempuan Terabaikan
Episode 34. Koma


__ADS_3

Aruni, mama Reni serta Ghina yang baru saja mengetahui bahwa kak Arga kecelakaan juga saat ini tengah ikut untuk pergi kerumah sakit.


Ditengah keseriusan Aruni yang sedang menyetir mobil, Ghina justru hanya bisa menangis dikursi belakang dengan memegang erat tangan mama Reni.


"Kak Aruni, aku minta maaf hiks... karena aku kak Arga menjadi seperti ini hiks..." Lirih Ghina dengan penyesalan nya.


Mama Reni hanya bisa mengusap lembut tangan Ghina untuk menenangkannya.


"Jangan ada yang menyalahkan, ini terjadi karena takdir, jadi kamu tenang." Ucap Aruni, padahal dalam hatinya sangat khawatir akan kondisi suaminya.


Ghina akhirnya mengangguk dan sedikit tenang setelah mendengar jawaban dari kak Aruni.


Lama waktu sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya sampai juga dirumah sakit yang dimana ada Arga didalamnya.


Aruni, mama Reni serta Ghina langsung saja pergi keruangan ICU setelah resepsionis memberitahu. Baru sampai, dengan sangat kebetulan salah satu dokter laki-laki yang tak lagi muda itu keluar dari ruangan.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saja hiks.." Mata Aruni kini sudah tak dapat membendung air matanya lagi, ia tumpahkan semuanya karena tubuhnya juga sudah bergemetar takut.

__ADS_1


"Sshhht...Aruni tenang" Mama Reni kini berganti memberi ketenangan pada Aruni.


"Apakah anda istri pak Arga?"


Aruni dengan segera mengangguk.


"Pak Arga baru saja selesai melakukan operasi karena luka pada kepala serta tangan dan kaki yang cukup parah. Operasi nya Alhamdulillah berhasil, namun..." Sang dokter kini menjadi sedikit ragu untuk mengucapkannya.


"Tapi kenapa dok" Tanya Aruni yang semakin khawatir.


"Sepertinya pak Arga akan mengalami koma dalam waktu yang tidak menentu. Beberapa saraf dalam kepalanya ada yang tidak berfungsi dengan baik. Saya sebagai dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk pasiennya, tapi dengan sangat memohon saya menyarankan juga untuk berdoa dan berikhtiar pada sang pencipta untuk keselamatan pak Arga, karena hidup dan mati hanya tuhan yang menentukan. "


Mama Reni pun sama, ia terpukul dengan penjelasan sang dokter. Rasa ketakutan akan kehilangan Arga begitu besar tertanam didalam hati ibu kandung dari Arga itu. "Arga, jangan tinggalin mama hiks.." Lirih mama Reni dengan tubuhnya yang masih memeluk Aruni. Ia tau, Aruni juga pastinya lebih terpukul atas komanya Arga.


Sementara Ghina. Ia berdiri dibelakang dan hanya bisa mendengarkan sembari menangis juga. Rasa bersalah semakin besar dalam hatinya. Seandainya dia menolak agar keluarga kak Arga untuk ikut campur urusannya, semuanya pasti tidak akan seperti ini. "Ya tuhan, aku bersalah, aku berdosa udah buat keluarga kak Aruni jadi kaya gini, maafin aku kak hiks...aku tau disini yang paling bersalah adalah aku, seandainya sedari awal aku nolak kak Arga yang pengen cari laki-laki itu, pasti enggak akan kaya gini..." Batin Ghina saat melihat kak Aruni dan tante Reni yang sangat terpukul dengan keadaan kak Arga. "Egh..!" Ghina meringis saat merasakan perutnya sedikit sakit.


Nittt!!...

__ADS_1


Nitttt!...


Nittttt!...


Suara dari dalam ruangan ICU itu terdengar sampai luar ruangan. Suster yang berjaga didalam keluar secara terburu-buru.


"Dokter! Pasien atas nama Malik kondisinya semakin kritis, operasi yang sebelumnya seperti nya gagal, kini semakin kondisinya semakin patah karena banyak mengeluarkan darah dibagian kepalanya!" Ucap sang suster.


Dokter laki-laki dengan usia yang tak lagi muda itu segera berjalan masuk kembali kedalam untuk menangani kondisi Malik.


"Pantas saja perut aku sakit, ternyata Papa kamu kritis baby..." Batin Ghina yang kini mengelus perutnya yang membuncit dengan rasa sayang untuk menenangkan sang jabang bayi.


Sementara Aruni, kini ia berjalan perlahan dibangku rumah rumah sakit yang disediakan tak jauh darinya. Sementara mama Reni yang tetap ingin menunggu didepan pintu ICU dan Ghina yang tetap berdiri ditempatnya yang tadi.


Pikiran Aruni kini menjadi kusut setelah mendengar kondisi Arga yang koma. Ia pernah membaca suatu artikel jika seseorang yang komanya tidak menentu bisa melebihi diatas rata-rata, ada yang berbulan-bulan, ada yang setahun, lima tahun bahkan sampai sepuluh dan dua puluh tahun, bahkan hal yang paling Aruni takutkan jika sampai meninggal.


"Kenapa kamu bohong sama aku Ga...kamu bilang bahwa kamu akan pulang dengan selamat kerumah, kamu bilang kamu akan baik-baik aja, tapi nyatanya apa? Kenapa kamu harus koma hiks...gimana sama bayi kita Ga...Aku enggak sanggup kalo harus sendiri, sekarang bunda sama ayah mau menetap didesa yang ninggalin aku sendiri disini. Aku cuman punya kamu....hiks.." Aruni terus mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang, sesekali ia berdoa agar Arga cepat disadarkan dan kembali berkumpul bersamanya.

__ADS_1


..._Bersambung_...


__ADS_2