
Arga membuka lemari milik Aruni dengan cara memilih random. Ya mau bagaimana lagi, lemari dikamar Aruni ada empat pasang dan masing-masing sama bentuknya.
Lemari pertama, Arga memang hoki, dia langsung menemukan banyak baju tidur yang tersusun rapi milik Aruni. Dengan random juga Arga mengambil baju itu dengan gambar Doraemon. Namun, niat arah terurung saat melihat baju tidur yang membuat pandangannya beralih.
Entahlah, tiba-tiba senyuman Arga jadi mengerikan memandangi baju tidur milik Aruni. Baju kimono model talian dipinggang dengan motif polos berwarna merah maroon yang sedikit terbuka dibagian atasnya. Arga pun tidak jadi mengambil yang sebelumnya, dia lebih suka model yang merah maroon berani ini.
Setelahnya, lemari pun Arga tutup. Sekarang tinggal cari yang dalamnya saja xixi..
Lemari kedua Arga buka, namun ternyata isinya adalah dress bukan anu. Arga pun beralih pada lemari ketiga, tapi ternyata dia tidak hoki, karena isinya adalah golongan celana levis dan baju kaos. Kini tinggal lemari ke empat yang belum Arga buka.
Srek!
Mata Arga terbelak dibuatnya saat baru membuka lemari terakhir ini "Glek" ia bahkan sampai menelan ludahnya kasar. Baju tidur yang sebelumnya ia pegang kini telah jatuh ke lantai marmer. Arga tidak tau harus Alhamdulillah atau astaghfirullah melihatnya. Ini surga atau neraka ya?
Dimana itu adalah yang isinya pakaian dal am milik Aruni semuanya. Bahkan Samapi tersusul rapi dilemari jumbo ini. Dengan tangan yang bergemetar Arga pun mengambil salah satu B H dan C D milik Aruni asal.
Lalu setelah segera menutup lemari itu dengan kasar. "Huf..." Arga bernafas lega saat matanya kembali suci lagi.
"Tiga delapan" Gumam Arga saat membaca ukuran B H milik Aruni. Ia baru menyadari jika perempuan itu ternyata memiliki ukuran gunung yang lumayan, cocok untuk dire mas. "Astaghfirullah!" Arga baru menyadari jika dia sedang sesad, ia bahkan sempat membayangkan bongkahan gunung itu sebesar apa, karena Arga memang lupa tentang malam itu.
Tapi tiba-tiba ekspresi nya jadi menyesal. Menyesal kenapa malam dimana keperjakaan nya hilang dia tidak ingat apapun, bahkan rasanya pun tidak ingat nya sama sekali. Ingin sekali Arga ulang kejadian yang itunya, tapi tidak mungkin juga.
__ADS_1
Kemudian Arga pun segera mengambil baju yang tadi ia jatuhkan dan keluar dari kamar Aruni yang bersih dan wangi itu.
*
*
"Ini" Arga menyerahkan baju tidur dan yang lainnya pada Aruni.
Aruni menatap baju tidur kimono yang Arga ambil. "Kenapa yang ini? Ini kebuka bagian atasnya!" Protes Aruni yang tidak ingin jika bagian tubuhnya terlihat. "Sengaja ya?" Tuduh Aruni kemudian.
Arga yang dituduh seperti itu pun tidak terima. "Enak aja Lo nuduh gue! Gue ambil asal, yakali gue sengaja. Sorry enggak akan tertarik gue sama Lo!" Timpal Arga bohong.
"Biar aku gendong" Arga menahan tubuh Aruni yang ingin turun dari ranjang.
Dengan kasar Aruni mendorong tubuh Arga. "Yang sakit kepala aku, bukan kaki! Buat jalan masih bisa, aku bukan nenek jompo!" Tukas Aruni dengan ketus, lalu kemudian ia berjalan perlahan menuju kamar mandi Arga, tidak lupa juga membawa handuk yang sebelumnya mama berikan padanya beberapa menit yang lalu.
Didalam kamar mandi Aruni tidak berhenti menggerutu kesal. Habis Aruni sangat jengkel dengan ucapan Arga yang bilang tidak akan tertarik dengan dirinya. "Cihh! Awas aja kalo sampe telen ludah sendiri!"
"Bayi, kita lihat nanti apakah aya mu tidak akan tertarik dengan buna?" Ya, Aruni memutuskan untuk dipanggil dengan 'Buna' dan 'Aya' oleh anaknya kelak jika sudah lahir.
Beberapa menit berlalu, Aruni pun selesai dengan mandinya. Ia tidak keramas karena luka dikepalanya masih basah, jadi Aruni hanya membersihkan yang dibawahnya saja. Ia juga sudah selesai memakai pakaian yang diambilkan oleh Arga tadi. Memang menyebalkan dan merasa tidak nyaman sekali jika seperti ini, tapi sudah terlanjur dipakai juga, toh Aruni juga ingin melihat bagaimana reaksi Arga nanti.
__ADS_1
Ceklek!
Suara pintu kamar mandi itu dibuka.
Arga yang sedang bermain dengan ponselnya seketika mengalihkan pandangannya pada Aruni yang keluar dengan menggunakan pakaian yang dia ambil tadi, kemudian sejurusnya Arga kembali dengan ponselnya.
Aruni menatap kesal saat Arga hanya melihatnya sekilas, sepuluh detik saja pun tidak ada. Aruni kini berjalan mendekati ranjang dan duduk.
Berbarengan dengan itu, Arga segera menutup ponselnya dan berdiri "Mama kirim pesan bahwa Lo harus makan malam. Biar gue ambil dibawah" Ucap Arga dingin, lalu segera berjalan keluar kamar. Oh iya, Arga sebelumnya sudah mandi dikamar tamu saat Aruni sedang mandi dikamar mandinya.
Aruni hanya diam menatap kepergian Arga. Kemudian matanya melihat kebawah, dengan terkejut Aruni segera menutupi bagian atasnya. Ia tidak menyangka jika baju tidur ini sangat rendah sekali, karena Aruni tidak pernah sama sekali memakainya walaupun didalam rumah. "Ya ampun, kenapa aku malu..." Teriak Aruni kecil dengan memegangi kedua pipinya yang terasa panas secara tiba-tiba.
*
*
Sementara itu dimeja makan, Arga sedari tadi terus memikirkan Aruni yang keluar dengan begitu sexy dimatanya, terlebih saat melihat belahan da da yang terpampang jelas dipenglihatannya. Astaga, bahkan Arga sulit untuk melupakannya. Tidak tau saja sedari tadi didalam kamar tubuhnya sudah terasa panas dan anunya hampir berdiri kalau tidak dengan cepat Arga keluar dari kamar itu.
Dia rasa jika terus dibiarkan akan berbahaya. Saat sedang mengambil nasi untuk Aruni, Arga mendengar suara mamanya yang sedang mengaji. Mama Reni memang sedari dulu jika sehabis magrib sampai jam sembilan akan terus dikamar dan mengaji. Arga berharap dengan mendengar suara ngaji mamanya, otaknya jadi bersih kembali.
"Gatot, jangan rewel ya... Jangan gampang berdiri kalo liat sesuatu yang indah. Inget, jangan sentuh sebelum cinta!" Ucapnya pada sang adik kecil. Ya, Arga menamai adiknya adalah Gatot alias gagah berotot, ia ambil nama itu dari kisah nyata. Bukti nyatanya adalah, setiap Arga bangun pasti adiknya bangun, dan saat Arga lihat ternyata miliknya gagah dan beroto sekali.
__ADS_1