
Malam harinya. Aruni dengan pakaian serba minim nya menatap tubuhnya di cermin lemari kayu miliknya.
Ia begitu merasa sangat gugup malam ini dikamarnya. Bahkan bulu kuduknya saja sudah berdiri sedari tadi karena menahan dingin luar biasa diudara malam desa ini.
Aruni sekali lagi melihat pintu kamarnya yang masih tetap stay tertutup, karena Arga sedang berada diluar untuk menidurkan Gauni terlebih dahulu.
"Apa aku ganti aja ya?" Gumamnya yang merasa jika waktu sekarang untuk melayani Arga sangat tidak bagus, tidak bagus bagi jantung, otak dan kesehatannya. "Ya...aku harus ganti sekarang sebelum mas Arga masuk kekamar ini"
Dengan cepat, Aruni pun kembali membuka lemarinya dan mencari baju tidur panjang seperti biasanya.
Ceklek!
"Sayang kamu udah tid-" Arga didepan pintu seketika terbengong melihat bagian belakang Aruni yang terlihat pakaian dal_am nya dengan baju super tipis.
Sementara Aruni, mendengar suara Arga seketika menghentikan aktivitasnya yang sedang mencari baju tidur. Ia memutar kepalanya dengan perasaan gugup. "M-mas...?" Panggil Aruni saat melihat wajah Arga yang bengong didepan pintu.
"Sayang kamu...."
"Aku harus apa ya tuhan...!" Batin Aruni yang pusing sendiri. "Tidak ada, aku hanya ingin mencoba bajunya" Jawab Aruni kemudian.
__ADS_1
Arga segera masuk dan menutup pintu kamarnya, tidak lupa ia kunci dengan rapat. "Hayo...buat apa cobain baju kaya gitu?" Tanya Arga yang mulai berjalan mendekati Aruni.
Aruni menunduk dengan meremas bajunya sendiri. Ia kemudian menggeleng cepat, "Enggak papa mas Arga..." Jawab Aruni panjang. Ia semakin mundur saat melihat Arga yang semakin mendekati jaraknya.
"Yakin?" Tanya Arga dengan menyeringai menatap tubuh indah Aruni yang sebenarnya. Walaupun masih tertutup oleh kain, namun Arga dapat melihatnya dengan nyata dan bisa berekspektasi.
Aruni semakin mundur hingga dirinya hampir saja mepet dengan tembok. "Kamu n-ngapain sih..!"
"Mau nerkam kamu" Jawab Arga yang seperti seorang singa yang ingin menerkam mangsanya.
Tidak bisa dibiarkan! Aruni dengan cepat menghindari Arga dengan berlari menaiki kasur.
"Mas...! Jangan ngejar aku!" Ucap Aruni yang kini ketakutan saat Arga juga naik keatas ranjang. Dengan cepat Aruni turun dan berlari menjauh kearah pintu. Lebih baik ia kabur saja sekarang, sangat menyesal Aruni dengan rencananya yang sok-sokan mau memberikan layanan pada Arga.
Arga juga ikut turun dari ranjang dan berjalan mendekati Aruni. Demi apapun sekarang Arga seperti seorang spikopat melihat gayanya yang menyeramkan.
Aruni berusaha untuk membuka pintu itu, namun tetap tidak bisa juga. "Ya tuhan tolong...!" Jerit Aruni dalam hatinya.
Kini jarak mereka sudah sangat dekat tanpa Aruni tau. Tangan Arga bergerak memeluk pinggang ramping milik Aruni.
__ADS_1
Degg!
Arga senderkan dagunya pada pundak Aruni yang dimana itu membuatnya merasa tenang. "Bilang jujur aja apa susahnya"
Aruni bergeming. Tangannya yang semula memegang gagang pintu mulai diturunkan secara perlahan. Tak dapat dipungkiri, bahwa dipeluk seperti ini rasanya begitu sangat nyaman.
Untuk beberapa saat mereka saling menikmati pelukan itu hingga tangan nakal bin jahil Arga naik keatas dan.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat dilengan Arga. Aruni segera menyingkirkan tangan itu. "Kurang ajar!" Tukas Aruni kesal saat tangan Arga memegang bagian dad_anya.
Namun, Aruni tidak dapat melepas pelukannya karena tangan Arga yang begitu sulit untuk dilepaskan.
"Kurang ajar gini juga suami kamu. Dosa tau nolak suami" Jelas Arga yang kemudian membalikkan tubuh Aruni jadi berhadapan dengannya. "Coba bilang dulu sama aku, apa yang ada dalam pikiran kamu waktu kita berci_uman?"
Deggh.
Jantung Aruni berdetak cepat mendengar pertanyaan itu. Ia malas jika harus kembali mengingatnya. Tapi sepertinya jika ia bicara, itu akan mengurangi rasa beban ini. "Aku...
__ADS_1