
"Aku..." Aruni menunduk. Menyembunyikan sesuatu yang begitu mengganjal selama ini, namun harus ia paksaan untuk sembuh.
"Aku apa? Jangan di pendem sendiri bisa kan? Kalo kamu enggak ngomong, aku enggak akan ngerti..." Sambung Arga kemudian.
"Kamu yakin mau tau mas?"
"Iya, yakin"
"Aku takut kamu marah"
"Enggak akan"
Aruni menghela nafasnya, kemudian menatap kembali Arga dengan bibir yang dimanyunkan bagai bebek. "Aku takut... Takut kalau kamu akan kembali menyebut namanya dalam rasa nikmat mu"
Arga terbelak. "Maksudnya? Rasa nikmat bagaimana?"
"Ya begitu. Dulu, saat kamu memaksaku untuk melakukan itu di club', kamu justru menyebut nama wanita yang masih kamu cintai. Hatiku sakit dan nyeri mas jika mengingatnya lagi, aku menangis saat kembali mengingat suara nikmat. Kamu melakukannya dengan ku, namun menyebut nama perempuan lain. Memang bolah?" Air mata Aruni yang sebelumnya sudah kering, kini kembali menangis dengan isakan.
Arga lemas, tidak bisa untuk membela diri. Karena mungkin saja apa yang Aruni katakan benar. Karena dulu saat melakukan itu, dirinya sedang dalam keadaan mabuk tidak sadar. Lagi dan lagi, semua kesalahannya harus diselesaikan dengan cara 'meminta maaf'. Mau bagaimana lagi? Diputar rasanya tidak ada gunanya, karena kalau iya Arga bisa memutar waktu, ia tidak akan mau melakukan itu diluar nikah bersama Aruni.
"Maaf... Hanya itu yang bisa aku lakukan lagi." Titah Arga play memeluk Aruni erat. Mereka sama-sama menangis karena masa lalu yang begitu buruk. Terutama Arga, dimasa lalu dia begitu sangat jahat pada wanita yang benar-benar tulus mencintainya.
__ADS_1
Udara dingin malam di desa, telah menjadi saksi bisu perjalan cinta Arga dan Aruni untuk saling memaafkan dan menyelesaikan apa yang seharusnya diselesaikan. Mengasingkan ego dan memilih untuk meminta maaf dan mengakuinya adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Pilihan terbaik adalah, saat dimana kita mengikuti apa kata hati kita, bukan amarah kita.
"Sekarang, apa kamu siap?" Tanya Arga yang melepaskan pelukannya dan menatap Aruni lagi.
Dengan penuh ragu, Aruni mengangguk pelan. "I-iya, karena aku tau kamu butuh kan?"
"Bukan cuman aku, tapi kita berdua. Aku akan buat kamu terbang malam ini dan menghilangkan semua rasa trauma itu menjadi rasa nikmat yang tiada tara" Senyuman Arga yang mengembang ternyata ia juga menyembunyikan sebuah rencana licik untuk balas dendamnya yang belum terpenuhi karena Aruni waktu itu sudah berani mau menceraikannya.
Ia pun menggendong tubuh Aruni bak bridal style hingga Aruni sedikit menjerit.
"Mas...! Aku berat loh" Ucap Aruni yang tidak enak, namun justru walau tidak enak, tapi Aruni tetap mengalungkan tangannya pada leher Arga.
"Aku enggak nyangka kamu mesyum mas!"
"Ck... katanya cinta dari lama, tapi suaminya suka mesyum aja kamu enggak tau"
"Memang harus tau?"
"Harus lah. Aku mesyum mah cuman sama wanita yang aku cintai aja" Arga lalu perlahan membawa Aruni keranjang empuk mereka.
"Berarti..."
__ADS_1
"Shttt...! Masa lalu! pamali dibahas. Kamu tiduran dulu deh" Perintah Arga yang masih berdiri dan Aruni sudah duduk berhadapan dengan Arga.
Aruni menatap curiga pada Arga. Terlebih sekarang ia sedang menggunakan pakaian dinas super sexy. "Buat apa?"
"Udah, dengerin aja apa kaya bojo"
"Dih sejak kapan kamu tau Jawa?"
"Lama!" Arga lalu mendorong pelan Aruni hingga Aruni tertidur. Perlahan Arga menyibak baju tipis yang Aruni pakai sampai keatas perut.
"Ga mau apa?" Tanya Aruni panik. Ia ingin duduk lagi, tapi justru ditahan oleh Arga.
"Shtt!!! Udah, nikmati aja"
Dengan deru nafas yang naik turun, Aruni akhirnya mengikuti perintah Arga untuk menikmati.
Glek....
Reflek Arga menelan ludahnya kasar melihat CD yang Aruni pakai. Belum dibuka saja sudah begitu menggoda, apalagi dibuka. Ah..... Akan Arga pastikan malam ini tidak akan gagal lagi.
...Lanjut nanti malam.......
__ADS_1