
Satu bulan...
Dua bulan...
Tiga bulan....
Hingga kini tengah menginjak sampai pada ke enam bulan. Arga Mahasura belum juga bangun dari komanya.
Seperti saat ini, dihari yang ke tujuh bulannya Aruni. Hari dimana seharusnya ia merayakan tasyakuran atas kehamilannya, justru Aruni memilih untuk tidak merayakannya, karena ia tidak sanggup jika tanpa Arga nanti.
Aruni mengusap tangan suaminya dengan handuk kecil. Inilah yang ia lakukan setiap harinya, yaitu membersihkan tubuh suaminya yang masih terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit, dibarengi dengan lilitan kabel-kabel yang menghubungkan dengan tubuh Arga.
"Ga...ayo cepet bangun, kamu jangan lama-lama. Anak kita beberapa bulan lagi mau lahir, apa kamu enggak mau lihat aku melahirkan buah hati kita?" Lirih Aruni yang kini bergantian untuk membersihkan wajah tampan Arga.
Namun, semua itu hanyalah sebuah doa yang selalu Aruni panjatkan. Hingga pada kenyataannya, secarik harapan hanya tinggal harapan, bagaikan tai letong yang perlahan menghilang karena diinjak oleh sebuah ciptaan tuhan yang diciptakan ada dua, maafatnya untuk berjalan yang dimana manusia menyebutnya dengan kaki.....
Sampai pada dimana Aruni sudhs sangat lelah dan pasrah dengan semuanya.
Lima tahun, kini tengah berlalu begitu lama bagi Aruni untuk menunggu bangunnya sang raja. Jika biasanya ada cerita dimana Cinderella tertidur hampir seribu abad, kini bagi Aruni jadi dibalik, yaitu sang pangeran yang tertidur, sang Cinderella yang senantiasa menunggu sang pangeran untuk bangun.
Hingga suara seorang anak kecil yang tiba-tiba mampu mengalihkan lamunannya yang sedang menatap Arga yang masih berbaring ditempat yang sama.
"Buna!" Panggil seorang anak perempuan yang sangat menggemaskan. Usianya yang hampir lima tahun itu berlari menghampiri sang Buna. "Buna, kapan Aya bangun? Kenapa sangat lama sekali" Tanya anak perempuan itu dengan wajahnya yang cemong akibat bedak my baby yang dioleskan oleh sang Oma.
Aruni mengusap pipinya yang sebelumnya terdapat air mata kesedihan itu. "Jika sudah saatnya pasti Aya akan bangun Gauni" Jawab Aruni. Padahal kerap kali ia juga menanyakan pada Arga yang masih berbaring untuk kapan bangunnya.
__ADS_1
Ya, anak dari Arga Mahasura dan Aruni Aisha itu bernama Gauni Mahasura. Sengaja Aruni beri nama itu, nama Gauni adalah gabungan antara Arga dan juga Aruni.
Gauni cemberut seperti seekor bebek. "Tapi ini lama banget Buna...Uni capek, Aya ganteng belum juga bangun" Gauni kemudian bergelayutan manja pada sang Buna yang sedang berdiri.
Aruni menghela nafasnya. Ia kemudian mengusap pelan kepala sang anak dengan penuh kesedihan. "Mama, Aruni mau bicara" Ucap Aruni saat melihat kedatangan mama Reni.
Ghina yang juga ikut datang bersama dengan anaknya yang usianya tak jauh berbeda dengan Gauni masuk kedalam ruangan. "Kalian bicara aja, biar Gauni sama aku aja kak."
Aruni tersenyum menatap Ghina. Wanita yang usianya jauh berbeda dan lebih muda darinya. Ia kemudian mengangguk, karena Aruni sudah sangat percaya pada Ghina yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri itu. "Kakak titip Gauni sebentar ya,"
Ghina mengangguk. "SIAP kak! Tapi, kalau Malik kesini bilang aku enggak ada ya" Pinta Ghina dengan wajah memohon.
Aruni menahan senyumannya. "Insyaallah ya kalau kakak enggak lupa" Jawab Aruni.
Mendengarnya Ghina jadi mendengus kesal pada kak Aruni. "Awas sampe lupa!" Ancam Ghina .
"Lagi asyik ma..." Jawab Gava yang kemudian melanjutkan lagi memaju mundurkan pinggangnya, atau orang menyebutnya dengan pargoy.
Ghina tidak bisa ber word-word lagi melihat kelakuan sang anak. "Masuk Gava! Nanti Papa kamu tiba-tiba dateng terus culik kamu gimana"
Gava, sang bocah cerdas itu menghentikan aksinya. Ia kemudian mengambil Hp nya yang sebelumnya ia singgahi dikursi dan langsung masuk kedalam ruangan mengikuti sang Mama. Ia memang takut pada sang Papa yang setiap kali datang, karena mama nya itu selalu bilang bahwa Papanya adalah seorang psikopat yang doyan menculik anak, meskipun anaknya sendiri. Padahal alasan itu hanya Ghina lakukan agar anaknya tidak mau bertemu dengan Papanya.
"Gauni, sini mendekat sama Uniya, Uniya bawa permen yupi" Ucap Ghina yang kini sudah duduk disofa yang tak jauh dari tempat berbaring pria koma itu. "Gava mau?" Tanya Ghina kemudian pada sang anak.
Gava menggeleng "Beliin kuota aja Ma yang sebulan 100 GB itu"
__ADS_1
"Anak kucing!" Gerutu Ghina. Ia sengaja menyebutkan anaknya dengan hewan yang lucu-lucu, seperti anak kucing, itu berarti kucingnya adalah dia xixi.
Gauni segera mendekati Uniya dan menaiki sofa lalu duduk disamping Uniya. "Mau dong yupinya Uniya, yang bentuk lope ya!"
"Adanya tirex zyeng" Ghina kemudian mengeluarkan semua yupi yang ia punya didalam tasnya. Itu semua hasil dari kembalian setiap ia belanja di minimarket atau swalayan.
"Ya udah deh. Gauni syuka semua, kecuali yang yupi bentuk buaya" Gauni kemudian mengambil satu bungkus yupinya dan memakannya setelah sebelumnya Uniya membuka bungkusnya.
"Kenapa enggak mau yang buaya, Gauni?" Tanya Ghina yang kini juga memakan yupi.
"Ya Gauni takut nanti jadi cewek enggak bener kaya Gava yang suka tebar pesona sama cewek-cewek disekolah"
Gava seketika menghentikan aktivitas pargoy nya. Ia jadi gugup mihat tatapan tajam yang ditunjukkan oleh sang Mama. "Gaunii...! Kenapa harus jujur!" Batin Gava panik.
"Gava?" Tatapan Ghina kini semakin menajam pada sang anak.
"Yes Mama..." Jawab Gava panjang.
"Bener kamu jadi playboy?" Tanya Ghina dengan memakan setiap Kata-katanya.
"Benar Uniya!" Jawab Gauni bersemangat. Ia suka sekali melihat wajah Gava yang sangat ketakutan.
"Enggak Ma...! Itu cuman temen aja" Ucap Gava beralasan.
"Gava tebar pesona sama cewek-cewek Uniya!" Ucap Gauni bersemangat. Semakin memanas lah kali ini Ghina pada anaknya.
__ADS_1
"Gauni bohong!" Potong Gava dengan ketakutan.
"Bohong itu dosa kata buna, jadi Gauni enggak mungkin bohong" Setelah mengucapkannya Gauni kini dengan sembunyi menjulurkan lidahnya pada Gava yang pasti sebentar lagi akan diomeli oleh Uniya Ghina.