Cinta Perempuan Terabaikan

Cinta Perempuan Terabaikan
Episode 28. Aruni maaf...


__ADS_3

"Bunda...," Lirih Aruni saat sudah memasuki mobil dengan terus memegangi perutnya.


"Run bertahan! Sebentar lagi kita sampe rumah sakit" Ucap Arga yang berusaha menenangkan Aruni. Ia memicu kendaraannya dengan kecepatan penuh karena takut akan terjadi sesuatu pada janin didalam kandungan Aruni.


Lama perjalanan sekitar hampir sepuluh menit dengan rumah sakit yang berbeda. Arga dengan cepat turun dari mobilnya dan berlari kepintu satunya untuk mengangkat tubuh Aruni. "Aruni gue mohon Lo bertahan" Ucapnya lagi sembari berjalan cepat menuju UGD.


"Suster! Tolong istri saya!" Teriak Arga saat baru sampai lobi yang dimana membuat para petugas keluar dan menggiring Arga untuk membawa Aruni ke UGD.


"Maaf pak, bisa tunggu diluar dulu" Ucap sang suster setelah Arga meletakkan Aruni di branker.


Arga mengangguk menurut dan keluar dari ruangannya. Ia mengusap wajahnya kasar dan menyesali segalanya karena terlalu kasar pada Aruni hingga menyebabkan anaknya menjadi korban. "Run gue mohon bertahan, jangan sampe anak gue mati...," Bukan, bukan Aruni sebenarnya yang Arga khawatirkan, melainkan sang anak yang ada dalam kandungan Aruni. Brengsek memang, namun itulah kenyataannya.


Sekitar sepuluh menit kemudian, sang dokter perempuan dengan umur yang sudah cukup menua itu keluar dari UGD.


"Dok apa yang terjadi" Tanya Arga kemudian yang langsung mendekati dokter. "Anak saya baik-baik saja kan?"


Dokter tersenyum. "Bapak muda ini aneh, seharusnya yang ditanyakan terlebih dahulu adalah ibunya."


Srek!


Arga bergeming. Dia baru menyadari jika sikapnya yang khawatir hanya ditunjukkan untuk anaknya saja bukan ibunya.


"Alhamdulillah bayinya baik-baik saja, ini hanya pendarahan biasa namun bisa berakibat fatal jika terus-menerus keluar, beruntung bapak tepat waktu membawanya kemari." Jelas sang dokter.


"Tapi, yang menjadi inti permasalahannya adalah kondisi ibunya" Sambung dokter itu.


"Apa yang terjadi?" Tanya Arga penasaran.

__ADS_1


"Ibunya terlalu banyak fikiran dan tekanan batin hingga membuatnya seperti ini. Saran saja, seharusnya di kehamilannya ini bapak sebagai suaminya terus memberi kebahagiaan dan jangan sampai beliau dibuat sedih dan banyak pikiran"


Setelah dokter tersebut memberikan saran dan pergi. Arga menatap pintu UGD yang tertutup. Dengan gerakan lamban Arga pun membukanya.


"Bunda hiks.." Lirih Aruni yang berbaring diatas branker itu. Ia ingin bertemu bunda dan memeluk bunda sekarang.


"Run" Panggil Arga pelan saat memasuki ruangan nya.


Aruni melihat sejenak, lalu tatapannya kembali kosong menatap dinding rumah sakit itu. "Runi pengen sama bunda hiks..." Ucap Aruni dengan suara lirihnya.


"Aruni gue minta maaf" Pinta Arga setelah kini sudah berada disamping istrinya.


Aruni memalingkan wajahnya melihat Arga yang sedang disampingnya. Hatinya sakit, hancur dan kecewa, ia seharusnya mati saja kalau perlu. "Pergi Ga kalau memang kedatangan kamu kesini buat salahin aku lagi" Titah Aruni pada Arga dengan belinang air mata. "Harusnya kamu enggak usah bawa aku kesini, kalau bisa supaya aku dan bayi ini mati juga"


"Lo ngomong apa? Kenapa bicara gitu? Gue salah, gue minta maaf sama Lo..."


"Gue.."


"Kita pisah aja ya...kamu masih punya satu istri lagi kan? Aku enggak mau lagi sakit hati karena harapan ku" Ucap Aruni yang menyela Arga untuk berbicara.


"Istri? Istri gue cuman Lo, gimana ceritanya punya istri satunya lagi!" Timpal Arga kemudian.


"Ga usah bohong" Aruni sama sekali tidak percaya dengan ucapan Arga barusan.


"Kenapa harus bohong? Lo pikir gue apa yang mau punya dua istri? Lo pikir gue laki-laki sintting dan gila."


"Ghina?"

__ADS_1


"Udah gue bilang kalo Ghina itu bukan gue yang ngelakuin tapi Malik, perlu gue telepon mama supaya Lo percaya sama semuanya?"


"Ya udah boleh" Ucap Aruni yang memang belum percaya.


"Gak usah, mama pasti marah karena Lo masuk rumah sakit karena gue," Tolak Arga. Padahal dia sendiri yang menawarkan tapi dia sendiri yang menolak. "Gue beneran minta maaf sama Lo, gue berusaha untuk berubah demi bayi ini" Arga kini menunjuk perut Aruni yang belum buncit itu.


"Jadi pernikahan kamu sama Ghina batal?" Tanya Aruni lagi yang seolah masih tidak percaya dengan lontarkan Arga.


Arga menghela nafasnya "Astaga iya Aruni Aisha..." Jawab Arga dengan nada panjang.


"Tapi kenapa kamu romantisme sama dia? Kenapa kamu panggil dia aku dan kamu? Kenapa kamu lebih memilih dia? Apa kamu suka sama dia? Kalo iya aku ikhlas kamu perg-"


Arga meletakkan jadi telunjuk nya di bibir ranum milik Aruni. Hal itu tentu saja menimbulkan percikan-percikan keromantisan.


"Lo cemburu? Masih suka sama gue? Masih cinta?" Tanya Arga dengan mengangkat satu alisnya dan sedikit senyuman tipis yang hanya bisa dilihat oleh Allah saja.


Mendengarnya Aruni segera menepis kasar tangan Arga. "Pisah aja Ga sekarang!" Walaupun ada sedikit rasa lega karena ternyata dirinya bukanlah menjadi madu, melainkan istri satu-satunya namun tetap saja Aruni cemburu melihat kedekatan antara Ghina dengan Arga.


"Kenapa? Gue rasa udah mulai tertarik deh sama cewek kaya Lo" Arga menaik turunkan alisnya dengan tatapan menggoda.


Aruni diam, aneh memang, bukannya dia baper tapi justru Aruni malah waspada dengan perasaannya sendiri."Ingat Aruni, jangan jadikan tatapan sebagai harapan. Ingat! Dia hanya menatapmu bukan menyukai mu, siapa tau dibalik dia berbicara seperti itu ada sesuatu tersembunyi yang tidak diketahui."


"Gue boleh elus perut Lo?" Tanya Arga kemudian saat melihat Aruni yang justru diam saja. Arga yakin Aruni masih was-was padanya karena perubahan drastisnya barusan.


Tidak bisa menolak, karena ini adalah anaknya Arga juga, Aruni pun mengangguk mengizinkan. "Boleh, tapi jangan lama-lama" Ucap Aruni yang kemudian membuka sedikit bajunya.


Arga mengarahkan tangannya diatas perut Aruni dan mengelusnya pelan. "Maaf" Hanya kata singkat itulah yang Arga ucapkan dimulutnya. "Ayah akan lakukan apapun asal kamu selamat anak ayah...Aruni maafin gue..." Batin Arga yang merasa sangat keterlaluan pada Aruni dengan ide yang terfikir dikepalanya tadi.

__ADS_1


__ADS_2