Cinta Perempuan Terabaikan

Cinta Perempuan Terabaikan
Episode 39. Arga dan Flashback


__ADS_3

Langit kini telah menampakkan senjanya. Angin sore kini kian berhembus dipipi mulus Aruni. Ia yang sudah sedari tadi duduk dipinggir sawah kini memutuskan untuk bangkit dan pulang.


Dalam perjalanan pulang yang hanya menggunakan kedua kakinya saja karena jarak yang tidak terlalu jauh, entah kenapa pikiran Aruni kini jadi tertuju pada Arga lagi selama satu bulan ini. Ya, sudah satu bulan Aruni tinggal didesa milik bunda dan ayahnya. Ia bahagia dan betah, namun kebahagiaan itu rasanya ada yang kurang saja menurut Aruni.


Jika kalian pikir perceraian itu dilanjutkan oleh Aruni maka jawabannya salah besar!. Tiga Minggu yang lalu pengacaranya yang dari kota menelepon bahwa berkas untuk mendaftar di pengadilan agama sudah siap hanya tinggal diberikan saja.


Tapi entah kenapa saat Aruni ingin mengucapkan dan melanjutkan prosesnya, justru ucapannya tercekat di tenggorokan seakan-akan ada yang menghalangi dan membisikkan bahwa perceraian bukanlah hal terbaik. Ia justru malah menjawab "Mungkin aku akan memikirkannya dua kali dulu. "


Karena tidak ingin tangisannya dilihat oleh orang-orang Aruni justru membelokkan tubuhnya ke taman dan duduk dibangku kosong seorang diri. Ia kemudian kembali melanjutkan kesedihannya lagi. "Susah banget sih untuk lupain kamu!" Aruni benar-benar benci pada dirinya yang terus memikirkan Arga disana. Ia dari beberapa Minggu yang lalu sempat menelepon mama Reni, namun bukannya dijawab justru ditolak panggilan itu.


Lagi dan lagi, pasti jika sedang sendirian Aruni selalu terbayang-bayang akan keputusannya satu bulan yang lalu bahwa dia akan menceraikan Arga demi mencari laki-laki lain. "Ya tuhan hiks...istri macam apa aku ini? Disaat suami lagi koma justru kamu malah memutuskan untuk bercerai? Aruni bodoh! " Aruni terus memaki dirinya sendiri karena telah salah mengambil keputusan. Ia berfikir mungkin selama tiga Minggu ini mama Reni tidak mengangkat teleponnya karena sebenarnya juga kecewa pada dirinya.


Setelah dirasa sudah cukup tenang dan tidak lagi terlalu mengingat akan bayang-bayang Arga serta rasa bersalah, Aruni kemudian pulang karena langit yang sudah semakin gelap.


Kening Aruni berkerut saat melihat rumah bunda dan ayahnya yang sepertinya ada tamu. Dengan ragu-ragu Aruni pun melangkahkan kakinya lewat pintu depan. Namun baru sampai pintu dan akan mengucapkan salam, tiba-tiba tubuh Aruni terasa kaku dengan mata yang sedikit melotot karena terkejut melihat seseorang yang sangat dia kenal.


"Aruni" Panggil pria itu yang begitu familiar di indra pendengaran Aruni.


Aruni melototkan matanya. Panggilannya jadi terdengar jelas ditelinga nya. Tidak, ini pasti hanya mimpi.


Ia melihat seseorang yang sedang duduk diatas sofa. Tapi justru secara perlahan ia mulai mundur untuk kembali keluar dari rumahnya. "Enggak, itu enggak mungkin kamu Ga...!" Lirih Aruni seolah tak percaya. Bagaimana bisa?

__ADS_1


Melihat istrinya yang justru berjalan lagi keluar, Arga pun berdiri dan mulai berjalan mendekati Aruni secara perlahan. "Aruni.."


Degg!


Aruni yang saat ini posisinya sedang membelakangi Arga kini tak berani untuk berbalik sama sekali.


"Kenapa kamu lebih memilih untuk bercerai?" Tanya Arga lirih. "Padahal aku udah berjuang didalam tidurku supaya tetap bisa bertahan dan ketemu sama kamu buat menuhin janji" Sambung Arga kemudian dengan mata yang berkaca-kaca.


#Flashback tiga Minggu sebelumnya.


Suatu keajaiban saat dimana mama Reni yang sudah putus asa dan lebih memilih untuk melepaskan semua alat yang terpasang ditubuh Arga, justru tuhan berkehendak lain.


Tiba-tiba Mama Reni ditelepon oleh pihak rumah sakit saat sedang melakukan meeting bahwa Arga sudah tersadar dari komanya.


"Benar-benar suatu keajaiban" Ucap sang dokter dengan tersenyum. "Pak Arga sekarang sedang berada didalam, dia bilang ingin menunggu seseorang"


Setelah dokter itu pergi, mama Reni pun masuk. Tak dapat dipungkiri, sudah pasti seorang ibu akan sangat bahagia melihat anaknya yang sudah tersadar dari koma. "Arga"


Arga dengan susah payah bangun dari tidurnya. Mungkin karena sudah terlalu lama tidak digerakkan hingga beberapa otot-ototnya banyak yang kaku.


Mama Reni dengan haru memeluk tubuh putranya. "Arga, mama kangen hiks.." Ucap mama Reni yang benar-benar snaagt rindu pada putranya. Ia masih tidak percaya, setelah enam tahun Arga terbangun. Ia pikir anaknya tidak akan pernah bangun hingga mama Reni terpaksa memilih untuk ikhlas akan kepergian Arga.

__ADS_1


Arga membalas pelukan mamanya dengan sayang. "Ma, kenapa nangis? Kenapa sikap mama kaya baru liat Arga yang udah lama enggak ketemu" Tanya Arga bingung. Ia belum mengerti dengan keadaan dirinya yang sebenarnya.


"Ya pasti iya. Gimana mama enggak sedih? Enam tahun kamu koma hiks.."


Deggh!


Apa? Enam tahun? Arga melirik kalender yang terpasang disamping dinding. Ia kemudian membaca tulisannya dimana tertera tahun yang sekarang.


Arga sedikit terkejut dan percaya jika dia akan selama ini tertidur.


Entah kenapa tiba-tiba kepala Arga menjadi pusing dan ada sesuatu yang memaksakan Arga untuk mengingat . Ia pun memejamkan matanya. Pikirannya kini jadi kembali terulang pada kejadian masa lalu dimana sebelum ini semua terjadi.


"Kamu mau kemana?" Tanya Aruni yang dimana Arga melihat wajah khawatirnya.


"Aku mau ke markas"


"kamu percaya sama aku bahwa aku akan baik-baik aja..."


"Percaya, aku akan pulang dengan selamat kesini, aku cuman pengen nolong Ghina..."


Kepala Arga semakin berputar-putar saat sepenggal kejadian dimasa lalu yang kini sedang berjalan diisi kepalanya.

__ADS_1


Ia kemudian kembali teringat saat dimana kecelakaan itu terjadi.


__ADS_2