
Sampai di pinggir sawah Arg pun memberhentikan sepedanya Setelah Aruni memberitahu dimana letak ladang milik Ayah..
Arga berhenti dipinggir Jalan raya. Karena memang letak sawahnya dipinggir jalan, ia dapat melihat beberapa petani yang berpakaian sama sepertinya dari kejauhan.
Beberapa menit berlalu.
Aruni tertawa Herpingkal -pingkal dengan duduk di pinggir sawah melihat cara menanamnya Arga. Ia memegang perutnya yang terasa cram karena tertawa berlebihan.
Arya menatap kesal istrinya yang justru malah menetertawakannya. Sudah panas ditambah padi yang ia tanam beberapa malah terinjak kakinya dan rusak
"My wife, aku lempar pake lumpur kalo masih ketawa! kamu mau aku dihukum Ayah karena bibit nya pada rusak! " pekik Arga tertahan.
Aruni kini mengurangi tertawanya dan melihat wajah Arga yang sudah dipenuhi keringat. "Haha... maaf mas. Aku kasih tau ya, yang namanya petani ya pasti pekerjaannya enggak akan maju!'
"Hah?!" Sambung Arga tidak mengerti. Kalau enggak pernah maju berarti miskuen terus dong? terus kenapa mau jadi petani?
"Iya nanemnya mundur, jangan maju. Kalo maju ya ke injek nanti padinya" Jelas Aruni kemudian.
Arga pun kini mengerti dengan penjelasan yang Aruni berikan. Ia pun kini mengganti gayanya jadi tanam mundur.
Beberapa menit kemudian. Benar saja jika menanam padi mundur maka tanaman yang la tanam sebelumnya tidak kembali terinjak oleh kakinya. Pantas Aruni bilang jika petani parerjaannya tidak akan pernah maju.
"Buna !!!" panggil Gauni dengan terpekik.
__ADS_1
Aruni dan Arga secara bersamaan menatap sumber suara itu.
Deggh!
Arga seketika menjatuhkan bibit padi yang sebelumnya la pegang kebawah saat melihat anak kecil perempuan yang muncul. "Apa dia anakku?" Tanya Arga pada dirinya sendiri sembari menatap gadis kecil yang sedang berada dipelukan Aruni saat ini.
"Aya Ganteng bangun...?" tanya Gauni gemas namun dengan ekspresi heran. Karena ini adalah yang pertamanya kalinya Gauni bertemu Aya dengan versi sudah sadar.
Arum tersenyum dengan menatap putrinya. Kemudian beralih menatap suaminya yang masih seolah tidak Percaya bahwa ini adalah putri kecilnya. "Mas Arga, Ini Gauni Mahasura, putri kita!"
Arga tergugah ditempatnya. Seluruh tubuhnya Searah kaku untuk digerakken. Ingin tidak percaya bahwa itu adalah putrinya, namun semua sudah ada didepan matanya.
Tubuh yang sebelumnya terasa sangat kaku kini Parga paksakan untuk mendekat pada Aruni dan putrinya. Matanya sudah berkaca-kaca menatap wajah polos dan cantik anaknya itu. Rasa rindu yang menggebu serta rasa bersalah selama enam tahun ini aeakan tercampur Jadi satu dalam hati dan diri sebagai seorang suami dan Ayah yang hampir gagal diperankannya.
Aruni menggendong anaknya dan menjauhi Arga "mas, kalu mau peluk nanti aja!" larang Aruni keras.
"Astaga Aruni! Aku kangen sama anak aku Gauni tolong...!!" lirih Arga dengan air mata yang sudah mengalir deras bercampur dengan keringat.
"Iya aku tau kamu kangen sama Gauni. " tapi coba liat diri kamu,"
Arga kini menatap tubuhnya sendiri. Dimana bajunya sudah dipenuhi oleh lumpur, tidak cupa tangannya juga yang dipenuhi lumpur.
"Ehihik... Aya kangen cama Uni? bersinin dulu diri Aya supaya higenis" Sambung Gauni lucu dan menggemaskan ·
__ADS_1
"Apa Gauni kenal dengan ayah?"
Gauni mengangguk. "Iya dong. Ini kenal dengan aya, Buna bilang ayah tidur waktu itu. Gauni sayang ayah, tapi ayah lama sekali tidurnya... Apa doa Gauni terkabul? Aya sangat ganteng" Ucap Gauni berbinar. Ia benar-benar sangat tidak menyangka bisa bertemu aya nya yang sudah bangun.
Arga dari atas lumpur itu menatap penuh haru anaknya serta istrinya. Ternyata Aruni mengenalkannya pada sang anak. Ternyata anaknya juga sangat pintar dan cantik sekarang.
Drttt!!!
Drttt!!!
Arga menatap ponselnya yang ia letakkan tak jauh dari wajah bekalnya. ia pun dengan tangan kotornya mengangkat ponsel dari ayah. "Assalamualaikum..."
"Hmm... Waalaikum salam. Arga, ayah minta jangan berhenti tanam padinya ya! harus cepat selesai itu! nanti aja kangen-kangenan nya dirumah"
Tut!
Telepon itu dimatikan secara sepihak oleh ayah mertuanya. Ia menatap ponselnya. Kenapa ayah bisa tau bahwa dirinya sedang berhenti menanam? Arghh...
"Semangat Aya!!" Pekik Gauni dan Ghina secara bersamaan untuk menyemangati Arga.
Arga pun tersenyum salah tingkah disemangati seperti itu. Hari ini adalah hari paling bahagia dan melelahkan juga baginya. Namun lebih banyak bahagianya. "Iya, aku semangat banget karena disemangati sama kalian bidadariku..."
"Buna kayaknya kita harus terbang deh. Soalnya ternyata Aya jago gombal" Sambung Gauni, gadis kecil berusia lima tahun itu.
__ADS_1
Arga pun kemudian melanjutkan pekerjaannya. Karena sebelumnya sudah disemangati, ia pun semakin semangat bekerjanya sampai selesai.