
Bunda Irana dan ayah Damar segera berjalan cepat menuju ruangan UGD. Orang tua Aruni itu begitu khawatir akan nyawa keselamatan anaknya.
Mereka menunggu dikursi tunggu yang ada diluar ruangan UGD. Karena mereka tau jika anaknya sedang ditangani.
"Maaf pak, buk" Sopir truk yang tadi membawa Aruni kemari itu mendatangi orang tua Aruni untuk meminta maaf.
Bunda Irana dan ayah Damar melihat.
"Ini barang milik anaknya" Ucap Sapri yang tadi menyetir mobilnya. "Sekali lagi saya minta maaf ya, ... Tolong jangan penjara kan saya nggeh...saya hanyalah sopir truk dari desa yang sedang menjalankan pekerjaan. Saya beneran enggak tau ada mobil anak ibu yang tiba-tiba salah alur sampe anaknya banting stir" Sopir truk itu sampai menggenggam kedua tangannya didepan wajahnya karena takut jika dilaporkan. Bagaimana dengan anak dan istrinya di desa jika dirinya dilaporkan ke polisi.
Ayah Damar yang tau bahwa ini semua bukanlah kesalahan sopir tersebut pun berdiri dan menepuk pundak sang sopir, lalu segera mengangguk. Ayah Damar adalah seorang yang tau isi pikiran seseorang, namun tidak dapat melihat pikiran anak dan istrinya sendiri. Jadi otomatis ayah Damar tau mana yang bohong dan mana yang tidak hanya dengan menepuk bagian tertentu dari seseorang. "Ini bukan kesalahan amang. Sudah jangan dipikirkan, saya dan istri memaafkan...amang boleh pulang kalo mau"
Mendengarnya tentu membuat Sapri tersenyum lega. "Alhamdulillah... Makasih mang... Saya do'akan semoga anaknya baik-baik saja dan masih dalam lindungan Allah taala"
"Amin.."
Selang beberapa menit sopir truk itu pergi, dokter yang menangani Aruni pun keluar dari ruangan. Bunda Irana dan ayah Damar segera berdiri.
"Gimana anak saya dok" Tanya bunda Irana dengan khawatir. Sedari tadi pikirannya hanya pada anak sulungnya.
Ayah Damar merangkul sang istri dan mengelus pundak istrinya agar tenang dan tidak down.
"Pasien baik-baik saya buk, pak. Hanya beberapa luka ringan dibagian kepalanya namun tidak terlalu parah juga" Jelas sang dokter.
"Anu..tapi anak saya enggak amnesia kan dok?" Tanya bunda Irana yang semakin khawatir saat mendengar luka dibagian kepala anaknya. Ia pernah membaca suatu artikel di FB, bisa jadi amnesia disebabkan oleh benturan dikepalanya.
__ADS_1
"Huss..bunda kenapa bilang begitu" Sambung ayah Damar yang tidak mengira istrinya bertanya seperti itu.
"Bunda khawatir Yah, kaya di pelem-pelem ikan terbang itu loh" Jawab bunda Irana lima puluh persen jujur.
"Anak ibu tidak amnesia. Tapi beruntung, benturan yang cukup keras diperut anak kalian tidak terjadi apa-apa dan bayi tetap sehat" Jelas sang dokter kemudian yang dimana bunda Irana dan ayah Damar saling memandang.
"Bayi?" Tanya bunda Irana yang saat ini tubuhnya sudah mulai kembali lemas.
Dokter mengangguk. "Benar buk, pak. Anaknya tengah hamil dan memasuki kandungan sekitar hampir 8 Minggu"
Mendengarnya, ayah Damar melepaskan rangkulannya dan memegangi dadanya yang terasa nyeri.
"Ayah!" Pekik bunda Irana melihat suaminya yang sekarat.
"La ilaha IllaAllah... Allahuakbar...putriku... astaghfirullah" Ayah Damar memegangi dadanya yang semakin sulit bernafas dan terasa sakit.
Ayah Damar pun dibawa keruangan lain untuk dilakukan pengobatan lebih lanjut. Kini disitu hanya tinggal bunda Irana sendirian, ia tidak ikut suaminya karena tangan ayah Damar melambai tanda bahwa dia tidak mau disusul.
Bunda Irana sebelum memasuki ruangan Aruni menangis lebih dahulu mendengar anak yang dibanggakannya tengah hamil diluar nikah. Tidak pernah terbayangkan bahwa nasib anaknya adalah nasib yang paling bunda Irana takuti selama ini.
Setelah jauh lebih tenang. Bunda Irana pun menarik nafasnya dalam-dalam sebelum memasuki ruangan UGD, yang didalamnya terdapat putrinya. Dia sudah berfikir tenang, dia tidak moleh tersulut emosi lebih dulu dan mendengarkan penjelasan dari sang putri.
Aruni memegangi perutnya dengan tatapan kosong. Sedari tadi sebenarnya ia sudah sadarkan diri. Ia begitu shok mendengar dirinya tengah hamil. Memikirkan bagaimana reaksi ayah dan bunda mendengar kabar ini.
Aruni mengalihkan pandangannya ke pintu. Yang dimana bunda sedang berjalan menuju arahnya dengan tatapan kesedihan.
__ADS_1
"Bu...bun...nda.." Panggil Aruni dengan terbata. Ia tau pasti bunda sudah tau tentang kehamilannya.
Bunda Irana berusaha untuk menahan air matanya agar tidak luruh. Ia memandang yang lain, tidak sanggup untuk menatap anaknya sendiri. "Bicara sekarang!" Sarkas bunda Irana tegas.
Aruni menunduk. Dia takut, ini adalah yang pertama kalinya bunda sangat kasar berbicara pada Aruni. Air mata wanita berusia 27 tahun itu luruh seketika melihat bundanya yang begitu kecewa. "Ayah dimana.. hiks.."
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Jangan sampai ayahmu datang kemari dan langsung menangkismu! Jelaskan sebelum ayahmu kemari!" Bentak bunda Irana namun tetap tidak mau menatap anak perempuannya.
Aruni terisak-isak dalam kesedihannya. Dia tidak menyangka kejadian malam itu bisa membuahkan hasil didalam rahimnya. "Aku..."
"Siapa ayah nya?! Dipaksa atau sukarela melakukan hal zina seperti itu?!"
Aruni diam. Dia tidak bisa menjawabnya, apalagi tentang pertanyaan bunda yang menanyakan siapa ayah dari bayi ini. Tidak mungkin Aruni bilang bahwa ayahnya adalah Arga Mahasura. Aruni yakin ijab qobul itu sudah dilaksanakan dan Arga sudah menjadi suami orang. Aruni tidak mau merusak rumah tangganya .
"ARUNI AISHA!! APA KAMU DENGAR!" Bentak bunda Irana yang tidak menjawab pertanyaannya. Nyatanya, sekuat tenaga bunda Irana menahan emosi, tapi tetap saja sulit jika dipendam. Yang ada malah dadanya semakin sesak dan sulit bernafas.
Aruni terperanjat kaget mendengar bentakan bunda. "Hiks..hiks..Aku...aku enggak bisa...hiks..."
"Enggak bisa apa?" Kini bunda Irana menatap putrinya. "Kamu mau bunda buang sekarang? Kamu mau bunda berucap agar jangan menjadi anak bunda lagi?!"
Aruni menangis lalu menggelengkan kepalanya. Namun mulutnya tetap tidak mau terbuka.
Melihat anaknya yang hanya diam. Ibu dengan dua anak itupun justru semakin emosi, "Iya berarti kalo kamu mau bunda buang? Kalo gitu jang-"
"Bunda, dia anak aku"
__ADS_1
Aruni dan bunda Irana menatap diambang pintu.