
Arga berjalan dengan menahan semua rasa pusing dan sedikit mualnya. Ia duduk di sofa dan sampingan dengan Aruni yang duduk dikursi rodanya.
Aruni hanya melirik sejenak, lalu kembali memakan buburnya untuk berpura-pura seolah tidak peduli.
"Kak Arga baik-baik aja?" Tanya Ghina khawatir, padahal sebelumnya dia juga sedikit ngakak dan ingin mengatakan syukur karena jarang sekali jika laki-laki yang merasakan mual-mual.
Dari kejauhan Arga mengangguk, "Cuman mual-mual" Jawab Arga yang kemudian tatapannya beralih pada Aruni yang justru tetap makan disaat dirinya sedang sakit. Arga jadi berfikir, apa Aruni tidak khawatir padanya?
"Ehem.."
Mendengar Arga yang berdehem, Aruni hanya melirik sejenak lalu kembali lagi makan, yang terpenting dia kenyang dan tetap berusaha tidak peduli.
"Nanti kita periksa dulu" Ucap Arga kemudian saat dirinya diabaikan.
"Untuk apa? Aku kan enggak sakit" Jawab Aruni.
"Kan Lo istri gue, jadi harus tau gue ini sakit apa"
"Kenapa aku harus tau? Kan ada istri satunya" Ucap Aruni kemudian.
Arga sebelumnya tidak terlalu mendengarkan karena sedang melihat pesan masuk, ia lalu menatap Aruni "Tadi Lo ngomong apa?" Tanya Arga yang tidak terlalu mendengar .
Aruni segera menggleng "Enggak papa" Jawabnya singkat lalu kembali menghabiskan bubur ayam yang hanya tinggal sedikit lagi.
*
*
__ADS_1
Selang beberapa waktu kemudian, Arga kembali mendorong kursi roda yang Aruni naiki dan mendekat kearah Ghina dan mama Reni.
"Ma, Arga pamit pulang sekalian mau check kondisi Arga yang sering mual-mual"
Mama Reni menatap anak dan menantunya, "Arga, bisa enggak Ghina sekalian dibawa aja. Dikantor ada kedatangan klien dari luar negeri" Tanya mama Reni yang baru saja menerima telepon dari sang sekretaris pribadinya.
Arga dengan segera mengangguk mengiyakan "Enggak masalah, mobil masih muat untuk Ghina"
Aruni kembali memasang wajah datar dengan hati yang sebenarnya sangat tidak mau jika harus satu mobil dengan Ghina. Dia tidak masalah sebenarnya jika kapan saja Arga mau berdua atau bertemu dengan Ghina, tapi yang dia mau jika Arga bertemu jangan sampai dirinya tau supaya Aruni tidak terlalu sakit melihatnya. Dia juga ikhlas jika Arga mau bermesraan dengan istri pertamanya, tapi asalkan Aruni tidak melihatnya dan tidak tau.
Tapi Ghina justru menggleng menolak, "Aku ngerepotin kak, lebih baik pulang aja naik taxi, aku takut kak Aruni enggak suka sama aku" Pintanya setelah melihat wajah kak Aruni yang seperti kurang suka jika dia ikut pulang bersama kak Arga.
Mendengar itu Aruni jadi menatap Ghina dengan senyuman tipisnya saat melihat mama Reni yang menatapnya dengan tanda tanya seolah mencari mana wajah tidak sukanya.
"Runi?"
"Aruni sama sekali enggak keberatan ma..." Jawab Aruni, ia takut jika Arga dibelakangnya akan marah padanya. Aruni tersenyum pada Ghina "Aku baik-baik aja, justru seneng karena ada temen dirumah. Jangan berfikir kalau aku enggak suka sama kamu" Ucap Aruni pada Ghina dengan nada lembut dan senyuman paksaan.
Ghina yang mendengarnya jadi tersenyum lebar, ia pikir kak Aruni tidak suka dengan kehadirannya. Ghina juga sebelumnya berfikir jika kehadirannya akan membuat selisih antara kak Aruni dan kak Arga. "Makasih kak"
Aruni hanya mengangguk.
Setelahnya, mama Reni pamit pergi sekarang untuk ke kantornya karena takut jika klien terlalu lama menunggu.
"Biar aku panggil suster untuk ambil kursi roda untuk kamu" Pinta Arga yang kemudian segera bergerak menuju telepon kabel disamping branker. Arga lalu memencet tombol untuk menghubungkannya.
Beberapa menit kemudian, suster pun segera masuk keruangan dan membawa kursi rodanya.
__ADS_1
Arga mengucapkan terima kasih pada sang suster,
Ghina pun kemudian berusaha untuk bangun dan turun dari branker.
"Bisa enggak?" Tanya Arga saat melihat Ghina yang kesulitan untuk turun. Arga kemudian berniat untuk membantu dengan cara menggendong Ghina untuk duduk dikursi roda. "Biar aku gendong"
"Eh, enggak usah kak" Tolak Ghina namun tubuhnya sudah diangkat oleh Arga. Mata Ghina tak hentinya menatap wajah kak Aruni yang justru memalingkan wajahnya, Ghina takut jika kak Aruni akan cemburu padanya.
"Sus, tolong bantu dorong ya" Arga beralih lagi memegang kursi roda milik Aruni.
No Aruni.... Jangan cemburu, ini cuman gendongan aja. Tapi...kenapa hatiku rasanya sakit? Aku pikir Arga menggendong ku karena aku adalah orang spesial, nyatanya Arga hanya berusaha agar berbuat adil pada istri-istrinya
Suster dengan senang hati pun mengangguk mengiyakan, kemudian mengikuti arah Arga yang sudah mulai berjalan.
"Ga, biar aku yang sama suster" Pinta Aruni kemudian.
Arga berhenti, "Lo tu kenapa sih banyak maunya? Udah gue yang ngedorong sekarang maunya sama suster. Ribet banget jadi cewek" Ucap Arga yang dimana mampu membuat luka baru lagi dihati Aruni.
Aruni menggigit bibirnya saat ia merasakan nyeri yang luar biasa. Boleh tidak jika ia iri pada Ghina? Aruni iri saat Arga berbicara dengan lembut pada Ghina, Aruni iri saat Arga memanggil aku dan kamu dengan Ghina. Apa sebenarnya salahnya?
"Sus, kita tukeran, dia ingin dengan suster" Ucap Arga dingin lalu segera melepas genggaman dikursi rodanya, dan beralih pada Ghina. Tanpa melihat Aruni yang saat ini sedang susah payah menahan air matanya, Arga lalu pergi begitu saja dengan Ghina tanpa menoleh sedikitpun.
Sang suster kini beralih juga pada pegangan belakang kursi roda Aruni dan mulai menjalankannya mengikuti Arga dibelakang.
"Sus, kita langsung kebawah aja" Ucap Aruni dengan nada lirih. Biarlah dia meninggalkan sepasang suami istri itu berdua, Aruni benar-benar sudah lelah hari ini. Aruni tidak mau menjadi penghalang untuk kemesraan mereka, ia akan pulang dan beristirahat.
"Tapi buk, suaminya -"
__ADS_1
"Dia sedang bersama istrinya sus. Aku takut akan menggangu mereka, biarlah mereka bersenang-senang" Potong Aruni dengan tatapan kosong.
Sang suster hanya bisa menuruti apa mau Aruni. Yang dia tau saat ini perempuan yang duduk dikursi roda ini sedang sedih. "Baiklah kita akan turun" Suster pun mendorong kursi rodanya menuju lift, tidak lupa memencet tombol untuk kelantai dasarnya.