
Setelah berada ditaman yang cukup sejuk karena ada angin sepoi-sepoi. Kini Aruni dan mama Reni sudah duduk dibangku panjang berwarna putih itu.
"Kenapa Run? Kayaknya kamu lagi mikirin sesuatu yang berat" Tanya mama Reni saat melihat Aruni yang seperti sedang memikirkan sesuatu, dengan tatapan matanya menuju arah bunga-bunga tulip.
Aruni mengehela nafasnya untuk menetralkan segala pikirannya. "Ma...Aruni udah pikirin semaleman. Aku pengen ungkapin ke mama, tapi aku harap mama renggak marah ya sama keputusan yang aku ambil" Pinta Aruni lirih seakan menahan segala kesedihan yang ada. Sudah dua hari ini Aruni terus memikirkan keputusan yang sangat berat dan pastinya butuh effort untuk bisa mengambilnya.
"Kenapa?" Tanya mama Reni yang kian semakin penasaran.
Aruni tidak sanggup melihat atau menatap lagi wajah ibu mertuanya. Ia lebih memilih mengalihkan pandangan matanya kayang lain. "Aku...a-aku memilih untuk menggugat cerai Arga ma"
Degg!
Tentu saja Mama Reni terkejut dengan ucapan Aruni. Ibu mana yang tidak sedih mendengar istri anaknya yang akan menggugat cerai saat sedang koma. Namun sedetiknya, mama Reni yang sebelumnya ingin marah kini diurungkannya. Ia tau sudah sekian lama anaknya tidak juga bangun dari koma, Aruni sang menantu juga pasti butuh kebahagiaan dengan laki-laki lain. Hidup Aruni juga masih muda dan panjang, akan terbuang sia-sia jika harus menunggu Arga yang tidak tau kapan akan bangun.
"Walaupun berat, tapi mama bisa apa? Keputusan ada di kamu sepenuhnya, mama cuman bisa mengiyakan apa yang terbaik. Mama tau kamu butuh kebahagiaan, ceraikan Arga dan cari laki-laki yang mencintai kamu..." Mama Reni mengusap lengan Aruni dengan sayang. Tidak dapat ditahan, air mata itu kini sudah keluar dari kelopak mata mama Reni.
Aruni kini memberanikan diri untuk menatap mama Reni. Dengan penuh kesedihan ia kemudian segera memeluk mama Reni yang sudah dianggapnya sedari dulu seperti ibu keduanya itu. "Aruni minta maaf sebesar-besarnya ma...Ini adalah salah satu keputusan terberat dalam hidup Aruni. Aruni terpaksa harus ambil keputusan ini, Aruni pengen membangun rumah tangga yang sesungguhnya bersama laki-laki yang mencintai Aruni juga. Tapi perlu mama ingat hiks... sampai sekarang cinta Aruni masih sama, perasaan Aruni masih sama kaya dulu ke Arga, anak kesayangan mama satu-satunya..."
Tentu saja Mama Reni semakin menangis mendengar penjelasan dari Aruni lagi. Ibu dengan satu anak itu nangis Samapi sesugukan, ini adalah salah satu yang paling mama Reni takuti ketika Arga tidak bangun-bangun dari komanya lalu Aruni memilih untuk bercerai dan meninggalkan Arga.
__ADS_1
Sekitar setengah jam setengah selesai menumpahkan segala kesedihannya kini Aruni melepas pelukannya dari mama Reni. "Aruni mungkin untuk beberapa hari kemudian berniat untuk pergi ke desa tempat bunda sama Gauni sambil tunggu surat pengadilan. Maaf ma, Aruni malah tinggalin mama disaat mama lagi kaya gini" lirih Aruni. Tapi jujur, ia juga rindu pada bunda dan ayahnya. Terakhir bertemu ya waktu selesai akad nikah dengan Arga dirumah sakit, lalu setelah nya hanya berkomunikasi lewat video call saja.
"Gak salah sayang, mama tau kamu kangen sama bunda sama ayah. Mama selalu dukung keputusan kamu selagi itu baik, maaf kalau Aruni terlalu capek tungguin Arga ya. Huft ... Mama juga kayaknya udah pasrah sama yang diatas kalau misalkan Arga harus pergi, mama enggak tega liat Arga yang selalu berbaring diatas kasur dengan selang-selang kaya gitu" Mama Reni mengusap lagi air mata yang kian menderas.
"Mama jangan bilang gitu. Kita udah sejauh ini, doa yang terbaik, kalau bisa berdoa supaya Arga cepet bangun. Sekali lagi Aruni minta maaf karena harus meneyrah sampai sini untuk menemani Arga.."
Setelah pembicaraan beberapa saat, Aruni dan mama Reni pun memutuskan untuk kembali ke ruangan dimana Arga dirawat.
"Wih, makan apa Gauni?" Tanya Aruni tersenyum saat melihat anaknya sedang memakan sesuatu. Banyak bungkus jajanan juga yang tergeletak dimeja.
"Yupi!" Jawab Gauni gemas.
"Itu Gava kenapa berdiri dipojokkan? Kebelet buang air apa gimana?" Tanya Aruni heran melihat Gava yang menunduk dan berdiri dipojokan tembok berchat putih itu.
Ghina menatap malas anak kucing itu. "Kesel kak. Aku baru tau ternyata Gava seorang pemain disekolah" Gerutu Ghina yang kemudian menyuapkannya permen yupi pada Gauni.
"Kenapa kesel? Bagus dong, gurunya pasti bangga kalau Gava bisa main" Yang Aruni maksud dari perkataan Ghina adalah dia mengira bahwa Gava seorang pemain sepak bola, atau badminton, atau bulu tangkis dan mungkin basket.
"Bukan itu kak, dia itu main perempuan masalahnya. Untuk anak kakak cerita kalau Gava itu buaya, coba kalau enggak? Aku pasti enggak bakalan tau kelakuan dia dibelakang" Jelas Ghina yang masih sedikit kesal dan sedikit kecewa pada sang anak. "Mana kata Gauni anak kucing itu pernah mau ci um cewek, kan makin kesell!!" Geram Ghina.
__ADS_1
"Ma itu cuman hoks" Jawab Gava yang kini membuka suaranya.
"Diam anak kucing!! Hadap tembok lagi sampai mama bilang berhenti!" Perintah Ghina dengan nada emak-emak.
"Jangan begitu Ghin. Kasian Gava, namanya anak kecil ya gak papa lah nakal dikit. Lagian, memang perempuan mana yang mau dici um sama Gava sayang?" Pandangan Aruni kini beralih pada sang putrinya.
Gauni melirik Gava, anak kecil itu sedikit ragu untuk mengucapkannya. Sementara Gava, dipojok dinding itu terus menggelengkan kepalanya berdoa agar Gauni tidak membocorkan rahasianya.
"I'm!" Jawab Gauni jujur.
"Ayam? Namanya ayam?" Tanya Aruni dengan wajah bingung.
Gauni menggeleng. "No buna, tapi i'm! Aku yang mau dici um sama Gava"
Duarrr!!!
Tentu saja baik Aruni maupun Ghina serta mama Reni juga ikut terkejut.
"Oh no...!" Batin Gava yang panik lagi.
__ADS_1