Cinta Perempuan Terabaikan

Cinta Perempuan Terabaikan
Episode 46. Mas


__ADS_3

Arga pun akhirnya lebih memilih untuk tidur juga disamping Aruni.


Sepanjang malam, tidur Arga tidak tenang karena terus memikirkan apa yang terjadi pada Aruni, kenapa tiba-tiba jadi seperti itu. Walaupun tidurpun paling hanya sepuluh menit saja, lali setelahnya bangun lagi.


Tidak tau saja jika Aruni saat ini sedang kesulitan juga untuk tertidur. Namun walaupun sulit untuk terpejam, ia tidak seperti Arga yang selalu molak-malik tidak jelas, mengahadap sana dan sini hingga menyebabkan dirinya terganggu, Aruni justru hanya diam saja dan berpura-pura tidur memejamkan matanya.


Aruni tau Arga sulit tidur mungkin sedang memikirkan tentang dirinya yang tiba-tiba berubah seperti ini. "Ga...aku minta maaf, tunggu aku sampai aku siap melayani kamu. Tunggu sampai trauma ini hilang. Aku akan berusaha buat ilangin rasa trauma ini, lalu setelah itu aku janji akan memenuhi kewajiban aku sebagai seorang istri..." Batin Aruni dengan rasa bersalah pada Arga, karena Aruni telah menjadi istri yang durhaka pada suaminya.


.


.


Mentari pagi kini sudsh menampakkan sinarnya. Suara burung kini berkicauan dibagi hari, tidak lupa dengan suara ayam berkokok yang menambah kebisingan sebagai pengganti alarm dipagi hari. Sungguh sangat berbeda jika di desa...


Arga terbangun karena merasa terganggu dengan suara-suara hewan diluar sana. Matanya mulai terbuka sedikit, ia menutupi wajahnya dengan satu tangannya karena wajahnya terkena sinar matahari dari celah-celah jendela yang sedikit terbuka.


Tatapannya kini beralih disampingnya. Mencari sosok perempuan yang tadi malam tidur bersamanya itu.

__ADS_1


Arga bangkit, ia kemudiam mengambil ponselnya untuk melihat jam. Matanya melotot saat ia melihat ini sudah jam delapan pagi. "Astaga, mana ini tinggal dirumah bunda sama ayah" Gumam Arga panik. Dengan terburu-buru ia pun segera keluar dari ranjang dan segera keluar dari kamar.


Rumah terasa sangat sepi sekali, Arga terus mencari ke setia sudut dan ruangan rumah untuk mencari penghuni yang ada dirumah ini.


"Mas"


"Astaga!" Pekik Arga kaget, saat tiba-tiba Aruni muncul didepannya. Arga pun mengelus dadanya untuk menetralkan jantunya yang berdebar karena terkejut. "K-kamu tadi bipang apa?" Tanya Arga sekali lagi guna memastikan pendengarannya yang salah dengar atau tidak.


"Mas?" Ucap Aruni sekali lagi mengulangi perkataannya.


Aruni menggeleng. "Enggak salah kok" Jawab Aruni dengan ekspresi bingung. "Ada masalah mas?" Tanya Aruni dengan menaikkan satu alisnya.


Arga kemudian menggeleng heran. "Enggak, bener kok bener..." Sambung Arga dengan mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.


Aruni tersenyum manis. Yang dimana senyuman Aruni mampu membuag Arga jadi salah tingkah. Sumpah, sungguh senyumannya manis sekali seperti gula jawa ehehe...manis dan cantik...


"Aku udah masakin sarapan buat kamu...mau sarapan sekarang? Soalnya ayah bilang bibit padinya ada disana, dan kamu harus nanam padinya" Titah Aruni.

__ADS_1


Arga mengangguk. "Iya, makan sekarang aja" Jawab Arga kemudian. "Oh iya, mama, ayah sama bunda kemana?" Tanya Arga yang kini mencari mereka para orang tua.


"Oh, mereka lagi jalan-jalan sekalian kerumah bude, mama bilang dia pengen liat pemandangan dan kangen juga sama cucu-cucunya."


"Cucu-cucunya?" Tanya Arga heran. Bukankah cucu mama hanya satu, yaitu anaknya saja, tidak mungkin kan jika anaknya kembar?.


"iya, mama juga anggep anaknya ghina sebagai cucunya"


Arga pun mengangguk mengerti. Ia juga sebenarnya ingin menanyakan kondisi Ghina dan keberadaan Malik saat ini dimana. Sangat merasa bersalah juga karena Malik belum mau tanggung jawab, karena dirinya kan pernah berjanji untuk menemuka keberadaan Malik dan menyuruhnya untuk taggung jawab, tapi sekarang justru dirinya koma selama enam tahun. Namun sekarang, keadaan tidak memungkinkan dan kurang tepat untuk menanyakan itu, jadi biar nanti saja tanya nya.


"Ya udah, ayo sarapan bareng" Ajak Arga yang ingin sarapannya ditemani.


"E-em...Aku udah sarapan mas. Kamu sendiri dulu aja ya sarapannya, aku mau siapin buat persiapan kesawah nanti"


Arga menarik nafasnya. "Iya" Arga lemas, lalu berjalan kedapur.


Aruni hanya bisa sedikit tertawa melihat kelakuan Arga. Kemudian ia pun segera menyiapkan keperluan untuk dibawa nanti keladang sawah.

__ADS_1


__ADS_2