
Selang beberapa menit berlalu, mobil yang mereka tumpangi kini sudah sampai rumah sakit tempat Ghina dirawat.
"Aruni, Arga, mama duluan ya, mama khawatir banget sama kondisi Ghina. Nanti mama suruh suster untuk anterin kursi roda buat Aruni..." Ucap mama Ghina kemudian setelah memarkirkan mobilnya.
"Iya ma" Jawab Arga yang setuju dengan usul mama bahwa Aruni harus menggunakan kursi roda.
"Enggak per-"
"Bisa enggak jangan ngebantah?" Tanya Arga dengan menekan kata-katanya dan sedikit meninggikan suara. Dia sangat tidak suka jika hal yang dilakukan untuk kebaikan justru ditolak.
Aruni tidak bisa dibentak. Dia kini hanya diam saja tidak berani menjawab lagi. Kelemahan wanita itu adalah dibentak oleh orang yang paling dia sayang.
Mama Reni yang tau bahwa anaknya itu sudah melukai Aruni segera bertindak. "Arga, kamu bisa enggak kalo nasehatin Aruni jangan ada bentakan?"
"Arga enggak bentak" Ucap Arga yang memang merasa biasa saja berbicaranya
"Mama yang denger, awas berani ngomong gitu lagi sama Aruni! Inget kondisi janin anak kamu!" Ancam mama Reni. "Kalo sampe Arga bicara kasar Aruni bilang sama mama ya..." Sambung mama Reni kemudian.
Aruni hanya mengangguk kecil.
Melihat kepergian mama Reni, Arga lalu langsung menatap tajam Aruni yang masih diam dengan menundukkan kepalanya. "Caper banget si sama mama" Tukas Arga. Sebenarnya sudah sedari dulu Aruni selalu dibela oleh mamanya. Arga kadang bingung, apakah dia anak pungut?
"Aku enggak caper" Elak Aruni yang merasa tidak caper sama sekali.
"Enggak caper tapi dibilang gitu doang udah ditekuk. Apa namanya kalo Lo enggak caper?" Ucap Arga nyolot.
"Terserah!" Mata Aruni yang sudah berkaca-kaca itu lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya pada yang lain supaya Arga tidak tau bahwa dirinya sedang menangis.
Arga tidak peduli sama sekali, ia lebih memilih untuk melihat ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.
^^^Ada yang tau Malik kemana? Seminggu ini dia enggak aktif^^^
Gtau Ga, seminggu ini dia juga enggak pernah ke markas lagi. ~ Gala
^^^Kemana kira-kira?^^^
__ADS_1
Udah gue cek di rumahnya, tapi satpam bilang si Malik enggak ada ~ Langit
Kayaknya dibawa sama nyokap and bokap yang ada dikota D, ~ Gala
^^^Jam delapan malem kita ketemu di markas!^^^
Tok
Tok
Tok
"Permisi tuan, nona" Panggil suster yang mengetuk jendela mobil dengan membawa kursi roda.
Arga mengakhiri chettingan nya dan segera membuka pintu mobil lalu berjalan menuju pintu dimana Aruni berada. "Suster boleh pergi" Perintah Arga. Ia akan membawa Aruni sendiri saja.
Suster segera mengangguk "Baik tu-"
"Tunggu! Jangan pergi sus" Ucap Aruni yang baru saja membuka pintu mobil. "Aku maunya di dorong sama suster" Lanjut Aruni kemudian.
Suster tersebut jadi bingung harus pilih yang mana. Ia harus pergi atau tetap disini.
"Aku gak mau! Bayinya mau sama suster aja" Elak Aruni yang mengatasnamakan bayinya sebagai alasan. Padahal alasan utamanya adalah dia malas dan masih sakit hati dengan ucapan Arga yang menganggapnya perempuan caper. "Suster, ayo bantu saya buat naik ke kursi rodanya. Saya pusing berat!"
Suster nya mengangguk, karena dia sebagai seorang perawat merasa jiwa penolongnya muncul tiba-tiba.
"Seratus ribu dan tinggalin kita berdua" Timpal Arga yang kemudian segera mengeluarkan uang cash seratus ribu dan memberikannya pada suster.
"Amin, makasih tuan baik! Saya pamit," Ucap sang suster yang segera pergi meninggalkan dia insan dengan memegang uang satu lembar berwarna merah muda.
"Eh suster!" Teriak Aruni namun malah kepalanya jadi sakit karena berteriak.
Arga mengulurkan tangannya agar Aruni bisa berdiri dan duduk dikursi roda.
Aruni tidak langsung menimpalinya. Dia justru terdiam beberapa saat dengan matanya yang memandangi tangan Arga.
__ADS_1
" Lo mau buat mama nunggu? Gue juga pengen liat kondisi Ghina" Ucap Arga yang dimana membuat hati seorang Aruni jadi sakit dan cemburu berat.
"Kenapa Arga seperhatian itu? Apa dia juga akan kaya gitu kalo aku pendarahan? Kenapa sikapnya seolah-olah dia mencintai istrinya? Ah..ngomong apa si Run, pasti sebenernya juga mereka saling mencintai, tapi karena aku ketauan isi aja jadi kebahagiaan mereka tertunda. Gak! Kamu enggak boleh cemburu! Gimanapun Ghina adalah istri pertama, yang dimana-mana harus diutamakan"
Aruni pun akhirnya menerima uluran tangan dari Arga untuk membantunya duduk dikursi roda.
Selesai nya, Arga pun perlahan mendorong kursi roda itu kedalam memasuki rumah sakitnya menuju rangan dimana Ghina dirawat.
"Ruang rawat lantai dua no 24"
Sesampainya di lift, Arga pun memencet angka dimana lantai ruangan Ghina berada. Suasana hening seketika.
"Kenapa diem? Lo masih marah karena gue bilang caper? Lebay banget si"
"Bisa enggak sih kalo ngomong jangan buat orang jadi sakit hati?" Tanya Vio kemudian dengan mata yang berkaca-kaca. Wajar saja dia gampang cengeng, karena sedang hamil juga. "Sebenarnya apa sih tujuan kamu maksa untuk nikahin aku? Supaya bisa bebas dari ayah gitu?"
"Salah satunya itu" Jawab Arga dingin.
Sakit memang saat orang yang kita cintai ternyata menikahi hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Aruni pikir, ada sedikit rasa cinta padanya, walaupun hanya seujung kuku saja. "Yang lainnya?"
"Enggak usah gue sebutin, gue takut Lo akan semakin sakit!"
Berbarengan dengan itu, lift pun juga terbuka, Arga kembali mendorong kursi rodanya hingga sampai pada ruangan dimana Ghina berada. Diluar ruangan, Arga juga sudah mendengar Isak tangis dari Ghina yang sedang mengobrol dengan mamanya.
Ceklek!
Ghina segera mengusap air matanya yang masih basah dan membanjiri pipinya saat mendengar pintu dibuka. Ia tersenyum tipis melihat kedatangan kak Arga dan juga kak Aruni? Ya ampun, Ghina tidak menyangka jika kak Aruni begitu cantik, dia tidak terlalu memperhatikan saat kejadian dimana dirinya menuduh kak Arga yang padahal bukan kesalahannya.
"Gimana kabar kamu?" Tanya Arga dengan sedikit lembut sembari terus mendorong kursi roda yang ditumpangi Aruni menuju branker.
Didalam hati Aruni tentu saja terbesit rasa cemburu saat Arga yang berbicara dengan istri pertamanya secara lembut, dan? Arga juga berbicara pada Ghina dengan panggilan kamu? Itu artinya Arga memanggil dirinya sendiri aku?
Ingin sekali Aruni menangis, kenapa dengan dirinya Arga justru tetap memanggilnya dengan Lo dan Gue, kenapa sangat sakit ya? Padahal ini hanya masalah sepele tentang panggilan. Tapi sekuat tenaga ia akan menahannya. Sangat memalukan jika didepan istri pertama dan mertuanya dia menangis secara tiba-tiba hanya karena cemburu pada istri pertama Arga yang sedang sakit.
"Baik kak, makasih udah peduli" Jawab Ghina dengan senyuman manisnya. Ia juga sesekali tersenyum tipis pada Aruni, namun tidak direspon sama sekali oleh Aruni.
__ADS_1
"Enggak masalah. Aku juga khawatir sama keadaan kamu"
"Arga, mama usul supaya Ghina tinggal dirumah gimana? Mama kasian liat dia yang selalu jadi bahan comohan orang-orang, sekalian supaya Runi ada temannya" Mama Reni tersenyum pada sang menantu barunya namun perempuan paling kesayangannya sedari dulu itu.