Cinta Perempuan Terabaikan

Cinta Perempuan Terabaikan
Episode 24. Efek mual-mual


__ADS_3

Entah kenapa Aruni yang mendengarnya merasa kurang setuju jika istri pertama Arga itu tinggal bersamanya. Aruni takut jika sewaktu-waktu dia merasa sangat cemburu dan tidak terkontrol. Aruni takut jika suatu saat melihat suaminya bermesraan dengan istri pertamanya. Aruni takut jika nantinya dia akan melihat Arga dan Ghina satu tempat tidur bersama lalu keluar dari kamar dengan rambut yang sudah basah karena melakukan kewajiban.


Tapi, percuma juga dia menakutkan semuanya didalam fikirannya, toh yang bisa Aruni lakukan hanya diam dan mengiyakan semuanya.


"Arga terserah mama, selagi itu baik Arga dukung." Jawab Arga yang sebenarnya juga merasa kasihan pada Ghina. Dia berjanji dalam hatinya agar mempercepat pencarian Malik, sang laki-laki yang tak bertanggungjawab dan berani menodai seorang gadis SMA yang belum lulus sekolah itu.


"Runi? Kamu diem? Seneng kan ada temennya?" Tanya mama Reni pada menantunya.


Aruni menatap mama, lalu tersenyum tipis. "Aruni terserah mama" Jawab Aruni yang tidak menjawab pertanyaan jika dia senang atau tidaknya, tentu jika Aruni jujur dia akan menjawab tidak senang, memang dia adalah istri kedua yang tidak tau malu.


Tok


Tok


Tok


Suster segera membuka pintunya dengan membawa beberapa bungkus bubur ayam "Permisi semuanya, saya mendapatkan titipan dari ojol jika ada pesanan bubur ayam dengan kamar no 24 sebanyak empat bungkus" Ucap sang suster.


Arga segera mendekati suster dan mengambil pesanannya. Ya, beberapa menit yang lalu Arga sengaja memesan makanan bubur ayam ini sebagai pengganti sarapan tadi pagi yang telah terlewat, dia juga khawatir dengan kondisi bayinya didalam tubuh Aruni.


Arga lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada suster sebagai uang tip. Selang beberapa waktu suster pergi, Arga kembali mendekati mereka bertiga.


"Kamu pesen makanan Ga?" Tanya mama Reni kemudian.


Arga mengangguk, "ini untuk kita berempat Ma, sekalian sebagai pengganti sarapan tadi pagi yang kelewat" Arga lalu menyerahkan dua bungkus bubur ayamnya pada mama, lalu dua bungkus lagi ia pegang untuk makan bersama Aruni.


"Makasih kak" Ucap Ghina dengan tersenyum.


"Sama-sama"


Aruni yang sedari tadi diam saja pun tersentak saat tiba-tiba kursi roda yang ditumpanginya dijalankan oleh Arga menuju sofa yang tak jauh dari tempat tidur Ghina . "Mau apa?" Tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Makan, apa Lo enggak peduli sama sekali dengan bayi kita?" Tanya Arga yang mampu membuat Aruni langsung memegangi perutnya.


Aruni teringat jika pagi tadi belum makan, ya walaupun ini masih terbilang pagi tapi tetap saja telat karena paginya mau siang.


"Maaf ya..."


"Enggak butuh maaf Lo!" Tukas Arga lalu membuka bungkus bubur ayamnya.


"Siapa yang minta maaf sama kamu?! Orang aku minta maafnya sama dede baby!" Gerutu Aruni yang sangat kesal.


"Iya... maksutnya baby enggak butuh maaf mbok nya, dia maunya langsung makan aja" Jelas Arga kemudian.


"Dia panggil aku buna bukan mbok!" Protes Aruni yang tidak terima. Enak saja dipanggil mbok.


"Berisik banget si. Jangan cari kesalahan gue kenapa" Arga lalu menyerahkan buburnya pada Aruni untuk dimakan.


Aruni dengan kesal segera menerimanya dan langsung memakannya dengan lahap bubur itu.


"Tante, ini soswit banget" Ucap Ghina senang sembari terus memakan buburnya.


"Melebihi sinetron ikan terbang" Sambung mama Reni. Entah kenapa mama Reni baru merasa sekarang jika neraka sangat soswit, kenapa tidak dari dulu saja menjodohkan mereka jika ternyata sangat soswit seperti ini?


"Kira-kira kapan ya Tan aku kaya gitu sama Lee Jong-suk?"


"Siapa itu le busuk?"


*


*


Arga yang merasakan tiba-tiba dirinya sangat mual setelah baru menyuapkan sesendok bubur itu segera meletakkan nya dimeja dan berlari kekamar mandi.

__ADS_1


"Huekk...!"


Suara Arga dari dalam kamar mandi.


Aruni tentu saja khawatir melihat Arga yang seperti itu, apa suaminya baik-baik saja? Namun Aruni tidak bisa menyusul karena kakinya masih terasa begitu lemas dan kepalanya sakit.


Mama Reni segera meletakkan buburnya dan berlari ke anaknya. "Arga kenapa? Baik-baik aja kan?" Tanya mama Reni khawatir dengan sang anak.


Arga menggeleng. Ia memegangi perutnya yang merasa tidak enak itu. Memang satu bulan terakhir ini dia sangat sulit makan, padahal Arga suka dengan makanannya namun tubuhnya selalu menolak makanan yang ia makan.


"Sekalian check aja Ga mumpung lagi dirumah sakit" Usul mama Reni. "Mama takut ada penyakit serius lho..udah satu bulan terakhir kamu gini" Lanjutnya kemudian.


Arga menggeleng pertanda ia menolaknya. "Arga baik-"


"Oh atau jangan-jangan efek Aruni hamil?!" Ucap mama Reni heboh sendiri, padahal lagi dikamar mandi.


"Dia yang hamil masa aku yang mual-mual!"


Tuk!


Mama Reni menyentil kening putranya. "Baca artikel supaya paham! Kamu pikir laki-laki enggak bisa ngerasain mual-mual sama ngidam kalo lagi mengandung anaknya? Sekalipun perempuan yang hamil, tapi banyak juga ternyata bapaknya yang ngidam plus mual-mual" Jelas mama Reni yang tingginya hampir melebihi anaknya. Tentu saja Mama Reni tinggi, dulunya dia adalah seorang pemain volly, itu juga salah satu alasan kenapa Papanya Arga terpikat dengan mama Reni.


"Mati dong ma! Masa aku yang mual-mual"


"Ya enggak lah ngapain mati? Tanya lebih jelas sama dokter mangkanya. Mama cuman bisa berucap SYUKURIN!" Sambung mama Reni yang meledek anaknya, dia segera keluar dari kamar mandi dan melanjutkan lagi makan buburnya.


Diluar kamar mandi Aruni sebenarnya juga kepo dan khawatir berat, tapi sekuat tenaga ia harus pura-pura tidak peduli dan melanjutkan lagi makanya.


"Kak Arga kenapa Tan?" Tanya Ghina yang ikut khawatir diatas branker itu.


"Efek hamilin anak orang jadi dia yang mual-mual" Jawab mama Reni dengan menahan tawanya.

__ADS_1


Aruni yang mendengarnya hanya mampu berkerut tidak mengerti. Namun satu yang menjadi pertanyaan nya, "Kenapa Ghina manggil mama dengan sebutan Tante? Bukannya sama kaya aku? Status kita kan sama" Gumam Aruni namun tidak terlalu ia pikirkan, mungkin saja Ghina lupa jika mama Reni adalah mertuanya juga. Tapi kini pikirannya beralih pada Arga yang keluar dari kamar mandi dengan wajah pucatnya, ingin tanya tapi takut jika dikira masih peduli dan sayang, padahal ya memang iya hihi...


__ADS_2