
Dua hari kini tengah berlalu begitu saja. Setelah selesai mengurus surat kepindahan sekolah Gauni, Aruni kini juga sudah siap untuk menuju terminal. Tak banyak ia membawa barang-barang, mungkin hanya empat koper saja.
(Sorry, empat koper itu terlalu sedikit Aruniš«)
"Kak aku juga siap!" Tukas Ghina yang kini sudah menggunakan jaket bulu. Ya, Ghina dan Gava memutuskan untuk ikut juga kedesa tempat ayah dan ibu Aruni tinggal. Simple saja alasannya, Ghina tidak ingin bertemu dengan Malik, sang lelaki pemaksa nan kejam yang selalu mengancamnya jika dia tidak mau menikah dengan Malik.
"Bude, Gava juga sudah siap" Ucap Gava. Sang anak laki-laki dengan julukan anak kucing itu kini sudah siap juga dengan jaket tebalnya.
"Gauni pun siap buna" Pekik Gauni yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia berlari menuju buna setelah selesai dipakaikan jaket oleh sang Oma.
Aruni tersenyum melihat semuanya. Kemudian tatapannya beralih pada sang ibu mertuanya. Aruni tau, ada tatapan kesedihan tengah terpancar diwajah mama Reni melihat semuanya pergi. "Ma-"
"Mama baik-baik aja Run. Ayo sekarang mama antar ke terminalnya"
Para anak-anak pun loncat kegirangan karena mau keterminal. Pasalnya ini adalah pertama kalinya mereka pergi jauh, jadi mereka sangat penasaran apa itu terminal.
"Buna apa terminal itu besar?" Tanya Gauni saat sudah berada digendongan Buna nya.
Aruni tersenyum mengangguk. "Besar dong. Gauni penasaran?"
Gauni mengangguk.
"Lanjut part dua" Jawab Aruni bercanda.
"Buna nyebelin!" Sambung Gauni yang merasa kesal pada Buna. Padahal dia sangat penasaran bagaimana bentukan terminal. Apakah kotak? Segitiga atau segilima, atau bahkan kesukaannya yaitu bentuk lope.
__ADS_1
Selesai semua masuk kedalam bagasi mobil setelah sebelumnya dibantu oleh abang-abang komplek kini satu mobil berjenis Alphard itu mulai melaju menuju terminal yang tak jauh dari rumahnya dengan mama Reni yang menyetir.
Tentu saja tidak sepi didalam mobil itu, karena Gava yang selalu bermain gadget dan melihat aplikasi tok tok jadi ramai.
"Gav, liat dong videonya" Ucap Gauni penasaran yang kini duduk disebelah Gava.
"Ciu m dulu" Sambung Gava yang jiwa playboy nya mulai keluar.
"Gava!" Ghina melotot pada anaknya.
Mendengar ucapan sang Mama Gava pun nyengir kuda dan segera membagi dua ponselnya dengan Gauni. "Cuman bercanda" Ucap Gava kemudian.
Gauni tersenyum senang melihat video yang sedang ditonton oleh Gava. "Gava, kenapa pria ini enggak pake baju? Terus kenapa badannya ada rotinya?" Tanya Gauni penasaran.
"Oh, ini namanya sixpack Gauni. Aku kalo besar bakal punya tubuh kaya gini, biar semua cewek terpesona, termasuk kamu" Jawab Gava dengan menaik turunkan alisnya pada Gauni untuk tebar pesona.
Sementara Ghina dan Aruni hanya menggeleng mendengar pembicaraan anak-anak mereka.
Apalagi Ghina yang kadang pusing memikirkan sikap Gava. Semakin heran kenapa Gava tidak cool? Padahal wajah Gava yang ganteng akan lebih ganteng jika dingin dan datar. Singkatnya padahal Ghina memang lebih suka laki-laki cool.
"Gava, Ghina cepat ganti videonya! Jangan liatin video laki-laki kotak, nanti otak kalian jadi kotor" Perintah Ghina saat melirik anaknya yang masih saja memutar video tadi. Padahal sebenarnya jika dia melihat video juga sukanya melihat yang seperti itu, mata jadi lebih frees...plong..enak banget rasanya, kaya ada manis-manisnya gitu.
Aruni yang duduk disamping Mama Reni yang sedang menyetir sedikit melirik. Biasanya mama Reni ikut mengomel dan menimbrung, tapi kali ini mama Reni hanya diam saja sembari matanya terus menatap jalan raya.
"Ma ..." Panggil Aruni yang kini memegangi pundak mama Reni.
__ADS_1
Mama Reni menatap sejenak Aruni, lalu kembali melihat jalan. "Hmm..."
"Mama mikirin apa?" Tanya Aruni.
Mama Reni menggeleng pelan. "Biasalah. Apa lagi yang mama pikirkan kalo bukan Arga? Kapan Arga bangun? Mama berharap Arga bangun segera supaya perceraian kalian dibatalkan"
Aruni tidak lagi menjawab. Ia juga pastinya selalu berharap agar Arga cepat bangun. Arga adalah cinta pertamanya, walau tak berbalas atau terbalaskan namun entah kenapa sampai sekarang ia masih mencintai Arga.
Beberapa menit kemudian, mobil itu telah sampai di terminal. Sebelumnya benar-benar waktunya untuk berangkat, mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk mengobrol dan berfoto bersama. Baik Aruni maupun Ghina tentu sama-sama sedih jika harus berpisah.
Saat lima menit lagi akan jadwal mereka yang berangkat, Aruni dan Ghina sama-sama memeluk mama Reni dengan menangis sesugukan.
"Kalian baik-baik ya" Ucap mama Reni pelan.
Aruni dan Ghina mengangguk. Setelahnya mereka pun mengajak Gauni dan Gava untuk segera berjalan memasuki bus sesuai dengan tujuan.
"Cucu Oma hati-hati" Sambung mama Reni saat melihat anak cucunya sudah memasuki bus. Tidak pernah tinggal pastinya dengan air mata yang terus mengalir menganak sungai.
"Dada Omaaa!!!!" Pekik Gauni dan Gava berbarengan dari jendela mobil dengan melambaikan tangannya.
Mama Reni juga ikut melambaikan tangannya pada sang cucu-cucunya. Hari ini juga, terminal menurut mama Reni adalah salah satu tempat perpisahan untuknya. Terminal adalah tempat untuk bertemu namun juga tempatnya untuk berpisah bersama keluarga yang paling disayangi.
Tidak ingin bersedih dengan kepergian anak dan cucunya, mama Reni pun memilih untuk pulang. Tidak lupa ia akan pergi kerumah sakit untuk melihat anaknya terlebih dahulu.
Bersambung_
__ADS_1
pesan penting: Mimin tetap dukung Arga x Aruniš¤ kalo iya Arga malah sama Ghina biar tokoh Arga aku jeburin ke comberanš„° Aruni biar aku pasangin sama Aliando aja.