
"Mana-mana fotonya Na." Sepagi ini ketiga sahabatnya sudah heboh ingin tahu seperti apa sosok Hisyam karena malam nya mereka berempat vidio call bareng. Aina menceritakan pertemuan pertamanya dengan Hisyam.
"Ih, nggak ada foto aku sama dia, kerajinan amat foto sama si Om Turki itu." Ketiga sahabatnya tampak kecewa. Aina tersenyum jahil.
Mereka bertiga merebut ponsel Aina dengan paksa lalu membuka galerinya. Ada foto kedua keluarga di sana. Sheila, Febri dan Ayu langsung mencari sosok yang paling muda di sana. Tapi tidak terlihat, yang muda ya mamas Aina semua. Mereka lalu menscrol lagi. Ternyata ada foto Aina saat berdiskusi dengan Hisyam.
Aina terkejut kenapa ada foto itu diponselnya. Wah pasti ini kerjaan Mas Ardan nih, main foto sembarangan aja nih. Aina hendak merebut ponselnya tapi Febri langsung mencegahnya.
"Ini Na? Ini cowo nya Na?" Tanya Ayu semakin kepo.
Aina mau tidak mau mengangguk, wajah Febri dan Ayu langsung berseri-seri.
"Ujubuneng Na, ini tuh ganteng banget, ini sih blasteran Indonesia-syurga ini," celetuk Ayu. Selera Ayu memang selama ini nggak kaleng-kaleng, ia begitu faham standard laki-laki ganteng yang ada di muka bumi ini.š
"Ganteng sih, tapi rese, nyebelin, hih pokoknya ngeselin,"ucap Aina, ia mengambil lalu ponselnya dan menghapus foto Hisyam dan dirinya.
"Iye, sekarang aja bilang gitu, tapi nanti kalau kamu sudah dikasih jaran goyang pasti luluh juga," ledek Febri, ketiga sahabatnya lalu tergelak.
"Apaan jaran goyang?" Aina pura-pura polos. Ayu langsung menonyornya. "Nggak usah sok polos." Kampret emang si Ayu.
"Nggak akan ada ***-*** diantara kita, kita sama-sama nggak sudi, dia bukan type aku, aku juga bukan type dia."Ā
"Ih Na, masa sih bukan type kamu, ini sih sama Rasyid aja lewat Na, aku nih kalau dijodohinnya sama cewe gini sih aku mau banget Na, nggak apa-apa deh aku mesti putusin si Dewa," ucap Sheila. Aina memicingkan matanya.
"Aku aduin nanti ke Mas Dewa yah,"ledek Aina.Ā
"Eh Na, ini tuh nggak kelihatan tua kok, ini tuh dibilang 27 tahun juga masih pantes, mana keker begini, nggak bisa bayangin kalau di atas ...."Ā
"Stop, jangan jorok ih." Aina sengaja menyela perkataan Ayu, karena pasti Ayu akan berkata yang tidak-tidak tentang ***-*** sebagai suami istri.
"Aku sama dia cuma sementara aja ngejalanin pernikahan demi keluarga kita, aku juga mau Abi bahagia, ah kadang suka sedih, kenapa sih takdir ku gini banget." Raut wajah Aina tampak sendu. Ia benar-benar sedih. Apalagi saat ini ada Kak Rasyid sedang berjalan melewatinya sambil meliriknya dengan kerinduan yang tidak bisa diungkapkan.
__ADS_1
"Sabar ya Na, kok aku jadi sedih sih, lihat Kak Rasyid natap Aina juga aku ikut sedih. Kalian kan pasangan paling serasi di kampus ini,"ucap Febri. Aina menunduk. Dibilang sedih ya sedih banget tapi mau bagaimana lagi, arus takdir sudah seperti ini.
...oOo...
Aina ke perpustakaan mencari buku referensi untuk mengerjakan tugas dari dosennya. Aina berpapasan dengan Kak Rasyid yang sepertinya tengah mencari buku juga. Aina tidak berani menyapanya. Namun tidak dengan Kak Rasyid, ia basa basi menyapa Aina. Kak Rasyid malah sengaja menghampiri Aina.
"Na, cari buku?" Tanya Kak Rasyid yang langsung dijawab Aina dengan anggukan. Kini Kak Rasyid dan Aina jadi canggung.
"Na, kakak mau bicara sama kamu, boleh, kita duduk di sana sebentar yuk." Aina menurut. Cintanya yang membuat ia menurut hingga lupa jika ia sudah memiliki calon suami. Ah calon hanya suami ada dan tiada.
Rasyid dan Aina duduk, Rasyid mengutarakan hatinya jika dirinya tidak ingin menjadi canggung seperti ini. Rasyid ingin Aina kembali ramah padanya. Rasyid juga meminta maaf lagi atas kejadian malam itu.
"Kak, kemarin aku sudah bertemu dengan laki-laki yang ingin Abi jodohkan denganku." Wajah Rasyid mendadak sedih. Sedih karena wanita yang ia cintai sebentar lagi akan menjadi milik laki-laki lain. Rasyid tidak bisa berbuat banyak. Ia juga ingin membuat bangga Ibunya dengan meraih prestasi selama kuliah. Rasyid bukanlah dari keluarga berada, tapi kecerdasan mampu menghantarkannya dibangku kuliah sekarang ini. Ia juga seorang yatim. Cita-citanya adalah membahagiakan Ibu dan Aina, tapi sepertinya salah satunya harus kandas.
Aina lalu menceritakan lagi kesepakatan nya dengan Hisyam masalah pernikahannya. Kali ini Rasyid tersenyum sumringah. Seperti ada kesempatan dibalik kesempitan yang ada.
"Kakak mau nunggu kamu, kakak akan nunggu kamu Na,"ucap Rasyid begitu antusias.
Rasyid menggeleng, "Nggak masalah Na, nanti kakak akan rayu Ibu, Kakak tunggu janda kamu Na." Aina tersenyum, seorang Rasyid laki-laki populer di kampus ini bahkan rela menunggu Aina menjanda. Aina rupanya sudah masuk terlalu dalam di hati Rasyid.
"Kak, tau nggak, aku bahagia banget, aku janji bakal jaga diri aku, kakak harus percaya sama aku." Rasyid mengangguk, "Kakak juga bakal jaga hati kakak buat kamu." Mereka berdua tersenyum bahagia, Aina sejenak lupa jika minggu depan dirinya sudah akan berstatus istri Hisyam Arrasyid.
...oOo...
Jam kuliah hari ini akhirnya selesai juga, Aina keluar bersama ketiga sahabatnya. Ponsel Aina berdering, ada panggilan masuk dengan nomor baru, Aina mengernyitkan dahinya.
"Siapa sih, pasti orang iseng nih." Aina mengabaikannya, namun ponselnya terus saja berdering, akhirnya Aina mengangkatnya.
(Assalamualaikum)
(Waalaikumsallam, Na ini aku Hisyam)
__ADS_1
(Oh, ada apa Mas?) Aina mulai membiasakan diri memanggil Mas, walaupun Hisyam menyebalkan, takut Amih marah kalau salah panggil.
(Aku sudah ada di depan kampus kamu, tadi Amih sama Umi telfon, kita suruh fitting baju kebaya buat akad)
(Oke, aku ke depan, ya udah ya, Assalamualaikum)
(Waalaikumsallam)
"Om Turki jemput, mau fitting baju,"ucap Aina memberi tahu ketiga sahabatnya.
"Sekarang di mana dia? Pengen liat yang asli nih." Febri terlihat begitu girang saat mendengar Aina akan dijemput Hisyam.
"Di depan."Ā
Mereka lalu berbondong-bondong ke depan kampus. Sesampainya di depan kampus, Aina terlihat bingung, ia lupa menanyakan Hisyam memakai mobil apa. Aina lalu menelfon Hisyam dan menyuruhnya untuk mendekat ke gerbang. Hisyam menuruti Aina. Hisyam menjalankan mobilnya mendekati gerbang.
Ketiga sahabatnya sudah heboh. Hisyam membuka kaca mobilnya, lalu membuka kacamata hitamnya. Ampyun gantengnya nggak ada tandingannya nih kalau sama mahasiswa kampus Aina.
"Njirr, Ganteng banget Na, ngiler ih,"celetuk Ayu. Aina langsung mengusap Bibir Ayu.
"Tuh ilernya ngeces beneran," ledek Aina.
Eh si ganteng malah turun dari mobil lalu menghampiri Aina.Ā
"Assalamualaikum," sapanya sambil menangkupkan kedua tangannya. Ketiga sahabatnya Aina seketika melongo. Tjakep plus soleh. Aina amalan apa yang sudah kami perbuat, bisa-bisanya dijodohin sama cowo blasteran syurga begini.
āļøBersambungāļø
(Emak san orangnya pelupa, pokoke pelupa bgt lah, kadang lagi nulis jg lupa nama tokohnya 𤣠eh tadi baca baca lagi part ini, malah ngekek sendiri. Aneh sendiri, tulisan sendiri ketawa sendiriš¤£)
__ADS_1