Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Abi Sakit


__ADS_3

Aku memaku, perkataan mas Hisyam benar-benar menyakiti hatiku. Bahkan mas Hisyam tidak mau mendengarkan ceritaku. Mas Adrian langsung berlari menghampiriku, lalu mengajakku keluar dari ruangan. Mas Adrian menasehatiku agar aku tidak ambil hati atas perkataan mas Hisyam.


Oh tidak bisa mas, itu sangat menyakitkan.


"Na, maafkan Hisyam, dia sedang banyak masalah akhir-akhir ini," ucap mas Adrian. Entahlah kenapa harus mas Adrian yang meminta maaf. Seharusnya itu tugas mas Hisyam. Tapi ya sudahlah, Aina tidak ingin berlama-lama di kantor suaminya.


Aina mengangguk dan pura-pura menerima dan memaafkan perlakuan suaminya. Aina lalu berpamitan ke mas Adrian dan berpesan agar menjaga mas Hisyam disaat sedang seperti ini. Aina lalu bergegas pergi dengan hati terluka.


Adrian masuk ke dalam ruang kerjanya, ia menghampiri Hisyam dengan tatapan kecewa.


"Kenapa sih mesti bentak-bentak Aina begitu. Sebaik-baik kalian (yaitu) yang paling baik pada istrinya. Perasaan wanita itu sangat lembut dan penuh kasih sayang tentunya akan merasa sakit hati dan patah hati jika dibentak seperti itu, apalagi diusir kaya tadi, ingat Syam, dia istrimu." Adrian lalu berjalan menuju meja kerjanya.


"Tapi dia sudah keterlaluan, menuduh tanpa bukti, aku sedang pusing, malah menambah pusing." Hisyam mengusap wajahnya dengan kasar.


"Yang aku lihat istrimu wanita baik, dia tidak mungkin bicara itu tanpa sebab, lalu kenapa kamu tidak mencari tahu dulu apa yang ia tuduhkan jika memang kamu ingin membuktikan bahwa istrimu hanya menuduh."


"Ya nantilah, sekarang aku harus menyelesaikan masalah sedikit demi sedikit." Hisyam kembali menatap layar pipih yang ada di depannya.


***


Aina kini sudah berada di dalam taxi, tujuannya saat ini adalah pulang ke rumah, mengistirahatkan tubuhnya juga fikirannya.


Ponsel Aina berdering, ada panggilan masuk dari mas Ardan. Aina langsung mengangkatnya. Tanpa basa basi mas Ardan langsung memberi kabar jika Abi kini sedang dirawat di rumah sakit. Aina begitu terkejut. Aina akhirnya meminta tolong pada supir taxi agar mengantarkannya ke rumah sakit.


Dalam berjalanan Aina tiada hentinya merapalkan doa untuk Abinya agar Abinya diberikan kesembuhan.


Sesampainya di rumah sakit, Aina langsung menuju ruangan tempat Abinya di rawat. Hatinya sudah tidak karuan, dua orang yang ia cintai membuat ia menangis hari ini, namun dengan permasalahan yang berbeda.


Aina masuk ke dalam ruang rawat inap, di sana sudah berkumpul semua kakak-kakaknya. Aina terkejut melihat Abinya sudah tak sadarkan diri. Ada beberapa selang yang terpasang di tubuh Abi.


Aina langsung menghampiri Amihnya, memeluknya dengan erat lalu menangis di pelukan Amih. Amih mengelus punggung Aina dengan lembut. Aina merasa justru Amih itu begitu kuat dibandingkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Bagi Aina,  Abi adalah lelaki pertama yang ia temui dalam hidupnya, bahkan mungkin cinta pertama Aina. Apa yang Abi lakukan, bagaimana Abi melakukannya, perilakunya kepada keluarga, dan semua hal kecil yang dia lakukan memengaruhi pola pikir Aina.


Aina sangat mengagumi Abi atas segala hal yang Abi lakukan, bahkan mulai bermimpi untuk bisa menikah dengan orang seperti abinya. Atau setidaknya, memiliki setengah kebaikan yang dimiliki Abi.


"Abi kenapa Mih?" tanya Aina dengan suaranya yang sedikit parau.


"Abi terkena serangan jantung Na," jawab Amih. Aina kembali memeluk Amihnya, keduanya menumpahkan air mata.


Mas Ardan dan mas Arkan mengelus pundak Aina dan Amih agar kuat menghadapi cobaan ini. Mas Ardan lalu menuntun Amih dan Aina agar duduk di sofa.


Setelah duduk, Aina langsung menanyakan perihal Abi pada mas Ardan, Aina tidak tega jika harus bertanya pada Amih, pasti Amih akan menjawab dengan penuh kesedihan.


"Abi kenapa Mas?" tanya Aina.


"Abi tadi tiba-tiba jatuh, terus langsung Amih bawa ke rumah sakit, Abi di diagnosa sakit jantung Na," jawab mas Ardan. Aina begitu terkejut mendengar jawaban dari mas Ardan. Aina merasa hari ini begitu penuh kejutan. Tapi kejutan yang tidak menyenangkan.


"Ya Allah Abi." Aina menutup wajahnya untuk menyembunyikan air matanya. Rasanya hatinya sakit sekali melihat Abi tertidur lelap bukan di tempat biasanya.


Aina, anak perempuan satu-satunya yang begitu dekat dengan Abi, yang selalu nurut apapun yang Abi perintahkan. Aina begitu mencintai Abinya.


"Amih, Mas, aku ke mushola dulu yah," ucap Aina pada Amih dan kakaknya. Mereka mengangguk. Aina lalu bergegas menuju mushola rumah sakit.


Sesampainya di sana, Aina langsung mengambil air wudlu. Aina lalu melaksanakan salat hajat. Ibadah ini merupakan satu bentuk ikhtiar agar keinginannya dikabulkan oleh Allah SWT. Aina ingin Abi segera sadar dan pulih kembali.


Aina menumpahkan segala isi hatinya, tentang Abi dan juga tentang mas Hisyam, ia berharap semuanya baik-baik saja. Selesai salat tidak lupa Aina berdzikir terlebih dahulu, setelah itu berdoa untuk kesembuhan Abinya.


"Allāhumma rabban nāsi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syāfi. Lā syāfiya illā anta syifā’an lā yughādiru saqaman. Ya Tuhanku, Tuhan manusia, hilangkanlah penyakit. Berikanlah kesembuhan karena Kau adalah penyembuh. Tiada yang dapat menyembuhkan penyakit kecuali Kau dengan kesembuhan yang tidak menyisakan  rasa nyeri, Aamiin.”


Selesai salat Aina masih berdiam diri di mushola. Takdir manusia memang tidak ada yang tahu, kemarin Abi masih menelfon Aina berbincang dan bercanda dengan Aina, sekarang Abi t terbaring di ranjang rumah sakit.


Memori otak Aina tiba-tiba terputar sejuta kenangan dengan Abinya, dari masa kecil hingga kini. Sepertinya baru saja kemarin Abi begitu sehat, menjabat tangan mas Hisyam untuk melafazkan ijab kabul.

__ADS_1


Sepertinya baru saja kemarin Abi mengajari Aina bermain sepeda. Kenangan masa kecil yang penuh kebahagiaan, terkadang membuat Aina ingin kembali lagi ke masa kanak-kanak, terutama saat dihadapkan dengan persoalan hidup yang rumit.


Indah sekali, saat mengingat masa kecil. Aina ingin kembali ke masa lalu, di mana sakit yang dirasakan ketika jatuh dari sepeda jauh lebih menyenangkan daripada ketika jatuh cinta lalu disia-siakan begitu saja.


Aina rindu pada masa kecil semua begitu sederhana. Saat terjatuh hanya kaki dan lutut yang terluka. Bukan hati. Aina Rindu. Tanpa terasa air mata Aina semakin deras membasahi pipi dan mukenah yang ia pakai.


Puas menangis, kini saatnya Aina harus bangkit, menghadapi takdir yang ada di depan mata. Aina percaya Allah tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuan hamba-nya.


Aina membuka mukenahnya, ia merapikannya kembali lalu ia letakan di lemari tempat penyimpanan mukenah. Aina lalu mengambil ponselnya, ia lupa belum memberi kabar pada suaminya. Walau bagaimanapun mas Hisyam harus tahu keadaan Abinya.


Aina mengetik pesan untuk mas Hisyam jika dirinya tidak pulang ke rumah, Aina memberi tahu jika kini ia sedang bersama keluarganya menemani Abi yang sedang sakit.


Tidak berapa lama kemudian, Aina mendapat balasan pesan dari mas Hisyam.


[Jangan dijadikan kebiasaan kalau sedang ada konflik lantas pulang ke rumah. Abi jangan di jadikan alasan, tolong dewasa sedikit, kita sedang membina rumah tangga, bukan sedang main-main. Mas minta sekarang juga kamu pulang ke rumah]


Ada hati yang begitu nyeri saat membaca balasan pesan dari mas Hisyam. Aina menghembuskan nafasnya perlahan, ia lalu beristighfar. Mas Hisyam sedang emosi, Aina tidak boleh terbawa emosi juga. Aina tidak membalas pesan mas Hisyam lagi, ia memilih menonaktifkan ponselnya. Aina lalu kembali lagi ke ruangan Abinya di rawat.


☘️ Bersambung ☘️


.


.


.


.


Intermezzoo:


Eits, dijaga esmosinya pemirsah🤣 mohon mangap lagi nih, emaksan baru up lg, kemarin giliran emak yg sakit, masuk angin bertubi-tubi, ya elah, mending masuk duit ya kan, ini masuk angin, tapi tenang, sudah di kerok+num tolak ang*n, obat zaman nenek moyang.

__ADS_1


☘️Begitulah pernikahan, yang komunikasi lancar pun belum tentu bisa memahami, terkadang ada ego dan prinsip masing-masing yang sulit dikendalikan, tapi ya memang begitulah seni nya berumah tangga.


Terkadang rumah tangga 11 12 sama rumah duka 🤣🤣🤣✌️✌️✌️


__ADS_2