
Rasyid yang baru saja sampai pintu gerbang kampus mendadak menghentikan sepeda motornya. Rasyid melihat dari kejauhan mobil suami Aina yang baru saja berhenti. Hisyam melihat ke arah depan, Ia tersenyum melihat ada laki-laki yang disukai Aina terdiam di motor sambil memandangi mobilnya. Aina tengah sibuk membuka seat belt lalu merapikan bajunya.
"Makasih ya Mas,"ucap Aina sambil tersenyum pada suaminya. Saat ia ingin membuka pintu mobil, Hisyam menarik lengan Aina lalu mengecup kening Aina. Aina membelalakkan matanya. Rasyid melihatnya, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu bergegas menuju parkiran kampus.
"Mas ih, jangan mulai lagi deh." Aina mengerucutkan bibirnya.
"Mulai lagi gimana sih? mau berangkat kampus kan? mulai sekarang harus cium tangan dan Mas harus cium dahi kamu,"ucap Hisyam. Hisyam memberikan aturan baru pada Aina.
"Ih, kok gitu?" Aina ingin protes.
"Mau ilmunya berkah kan? ya harus ada ridho dari suami dong." Hisyam sengaja memberikan jawaban itu sedikit modus namun ada benarnya juga kan.
"Iya, iya." Aina lalu mengecup punggung tangan Hisyam. Dan Hisyam kembali menarik lengan Aina untuk mengecup dahi Aina untuk yang kedua kali.
"Ih, Mas, tadi kan udah."
Hisyam malah tergelak, "Sudah ah, cuma dahi doang, perhitungan banget sama suami, tadi waktu masak dicium ..."
"Stop ..." Aina menutup mulut suaminya dengan jari telunjuknya. Mas Hisyam malah tambah tergelak. Aina lalu bergegas keluar dari mobil suaminya.
Hisyam memandangi Aina sampai Aina masuk ke dalam kampus. Hisyam mengusap bibirnya lalu menepuknya perlahan.
"Jangan nakal dong bir, nyosor mulu ih, nggak ada akhlak, kenapa sih? keenakan ya, ternyata bibir Aina enak ya, makanya nyosor mulu. Ini otak juga, kenapa biarin bibir ini nyosor sih, di rem dong di rem tak otak, haduh,"omel Hisyam pada dirinya sendiri.
Hisyam bertanya-tanya pada dirinya apakah sudah mulai nyaman dengan istri mungilnya. Sejak bersama dengan Aina, dunianya menjadi penuh warna. Hisyam begitu menikmatinya.
Kata orang jatuh cinta itu tidak mudah, tapi Aina sangat baik, sangat cantik. Hisyam yang iman nya pas-pasan tidak bisa menolak pesona istrinya, bahkan mulai melupakan cinta pertamanya yang selalu ia cari namun tak kunjung ada kabar keberadaannya dimana. Apakah ini sudah takdir Hisyam untuk menerima Aina dan menjadi suami istri seutuhnya? Hisyam masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang hal ini.
Setelah Aina sudah masuk ke dalam kampus, Hisyam bergegas menuju kantornya.
Saat berjalan menuju kelasnya, Aina berpapasan dengan Kak Rasyid. Aina mengangguk sambil tersenyum.
"Na, berhenti, kita perlu bicara,"ucap Kak Rasyid. Aina lalu berhenti, ia dan Kak Rasyid menuju kelas Aina lalu duduk di depan kelas. Kebetulan Pagi itu belum begitu ramai.
__ADS_1
"Ada apa kak?"
"Kakak bingung, sepertinya semakin kesini kamu makin beda Na, kamu dan suami kamu kaya bukan nikah terpaksa, kalian seperti sudah menerima satu sama lain, apa aku salah Na, kalau aku mundur saja." Rasyid akhirnya memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya di depan Aina.
Aina terkejut, ia melirik Rasyid, "Kenapa kamu bilang gitu Kak?"
"Tadi pagi saja aku lihat suaminya cium kening kamu, dan kamu nggak nolak, kamu sepertinya perlahan mulai menerima dia Na." Aina terdiam, Aina malah jadi berfikir, apa benar ia mulai menerima Mas Hisyam sebagai suaminya.
"Aku yakin di dalam rumah pasti sudah melakukan yang lebih, maaf Na, sepertinya aku mundur." Kak Rasyid lalu meninggalkan Aina dengan hati terluka.
Aina terdiam, matanya mulai berkaca-kaca, Kak Rasyid sudah mundur, sedangkan Mas Hisyam belum tentu menerimanya, kenapa asmaranya begitu mengenaskan. Aina lalu masuk ke dalam kelasnya. Ia duduk di tempat biasanya lalu membuka tasnya, mengeluarkan bukunya, membukanya lembaran demi lembaran, namun mata dan fikirannya menerawang jauh entah kemana.
Lamunannya seketika buyar ketika ketiga sahabatnya mengejutkannya.
"Aina ... serius banget baca bukunya, kaya mau ujian aja." Suara cempreng Febri membuat telinga Aina sakit.
Aina memukul lengan Febri, "Astagfirullah, habis sarapan toa mushola yah, sakit telinga nih." Febri tergelak.
"Pagi-pagi ngelamun, ngelamunin yang semalam yah,"tanya Ayu. Mulai deh mulai, mereka mulai kepo dengan masalah per ewitaan Aina dan Hisyam.
"Sebelum tidur?" tanya Ayu sambil terkikik.
"Belajar lah," jawab Aina singkat. Memang benar kan belajar, tidak aneh-aneh.
"Jangan bilang kamu masih perawan Na," celetuk Sheila yang mendadak curiga pada Aina. Aina melotot, lalu menggeleng.
"Makanya nikah sana ih, biar nggak kepo terus." Aina sengaja selalu menjawab seperti itu agar sahabat nya berhenti menanyakan hal tentang ewita.
"Eh, eh, eh Bu Rita udah dateng," ucap Sheila. Mereka segera duduk di bangku masing-masing.
***
Hisyam yang tengah sibuk bekerja, ponselnya berdering, Hisyam melirik ponselnya, ternyata dari Bayu. Teman Hisyam yang ia mintai tolong untuk mencari gadis kecilnya.
__ADS_1
Hisyam segera mengangkatnya panggilan masuk di ponselnya. Di sebrang sana bayu memberitahu kabar baik jika dirinya sudah menemukan gadis kecil yang dulu bertemu Hisyam di Jabal Rahmah. Bayu akan mengirimkan data-data gadis itu lewat pesan WhatsApp. Hisyam pun mengucapkan terimakasih pada Bayu. Ia lalu menutup telfonnya.
Hisyam memijat pelipisnya, "Kok aku kaya biasa aja ya, perasaan ku udah nggak menggebu kaya dulu, " celetuk Hisyam. Adrian melirik bosnya.
"Maksudnya apa bos? lagi ngomong sama aku kan?" tanya Adrian, karena Adrian bingung juga, bosnya tiba-tiba berbicara seperti itu.
"Bayu tadi nelfon, katanya udah nemu identitas gadis itu yang aku cari, tapi kok aku kurang antusias, apa karena perasaan ku udah kebagi buat Aina juga ya," jawab Hisyam.
Adrian menghembuskan nafasnya dengan kasar,"Bagus lah kalau kamu punya perasaan gitu Bos, udahlah, kan udah punya istri, istri cantik, baik, kurang apa coba, jangan nurutin nafsu setan Bos."
"Tapi Aina juga punya tambatan hati yang lain, aku nggak yakin bisa rebut hatinya dari laki-laki itu." Hisyam merebahkan tubuhnya di kursi kebesarannya lalu menatap langit-langit ruangannya.
Adrian terkekeh, "Seorang Hisyam menyerah? bukan kamu banget Bos, naklukin cewe itu gampang Bos, apalagi kalau sudah jadi istri, lebih enak lagi naklukinnya."
Hisyam beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Adrian.
"Gimana caranya?" Adrian menepuk dahinya, Bosnya ini memang sangat minim pengetahuan perihal wanita.
Adrian tersenyum lalu menjelaskan satu persatu, "Menularkan perasaan, jadi kamu harus sayang dulu ke Aina, nanti Aina pasti ketularan, terus jadi teman mengobrol yang asyik. Kasih tuh pujian yang tulus, bukan sekadar menggombal. Tunjukkan rasa hormat dan bersikap sopan. Berikan perhatian lebih dan sabarlah dalam menghadapinya.Sesekali beri dia kejutan. Jangan lupa tunjukkan kelebihanmu."
Hisyam mengangguk, ia akan berusaha melakukan apa yang Adrian sarankan.
"Kamu nggak usah khawatir sama cowo yang suka Aina di kampusnya itu, soalnya yang selalu ada kadang kalah sama yang selalu bayarin," celetuk Adrian sambil terkekeh.
☘️ Bersambung☘️
.
.
.
Intermezzoo :
__ADS_1
Kalau naklukin hati emak san sih gampang, pke duit duit dan duit, langsung luluh dah🤣✌️
Tapi bener kata Adrian, yang selalu ada kalah sama yang selalu bayarin. Haduh, cinta tetap butuh makan, bukan makan angin tentunya🤣 dengerin apa kata emak yg masih jomblo 🤭🤭